
Waktu terus bergulir tak terasa hampir sore, Sonya yang sedari tadi menekuk wajahnya amat sangat lega karena keluarga Isco berpamitan.
"Ini waktunya aku ngomong sama dia," batin Sonya.
Saat mereka telah di luar, Sonya bicara, "Pak Isco boleh kita bicara?"
Semua mata tertuju padanya saat mengucapkan hal itu, namun Pak Hadijaya segera mencairkan suasana, "tentu saja boleh, calon manten puas-puasin aja sekarang, besok-besok udah gak boleh ketemu lagi."
Setelah itu Isco mengajak Sonya naik mobilnya.
"Kemana kita?" Di tengah perjalanan Isco bertanya.
"Gak kemana-mana, di sini saja tolong tepikan mobilnya Pak." Ujar Sonya.
Isco mengernyitkan keningnya, "ko tengah jalan?"
Sonya tak menjawab membuat Isco menyerah dan menepikan mobilnya di jalanan yang cukup sepi.
Setelah mobil benar-benar berhenti barulah Sonya meluapkan kemarahannya yang sedari tadi terpendam.
__ADS_1
"Sandiwara macam apa yang sedang bapak mainkan?" Ucapnya.
Isco menoleh, sebelum akhirnya Sonya melanjutkan ucapannya, "jika anda fikir ini sandiwara komedi, sungguh tidak lucu.. Apa anda tahu??" Sonya mengatur nafasnya dengan susah payah.
"Sudah selesai??" Tanya Isco,
Mendapat respon tatapan tajam dari Sonya.
"Kamu lupa, kamu punya hutang sama saya?" Tanya Isco.
"Hah? Hutang?" Kata Sonya.
Sonya yang mulai mengerti situasi pun akhirnya tak dapat membendung air matanya, "oooh jadi selama ini, itu adalah hutang, maaf saya terlalu bodoh untuk memahami.. Tapi pasti saya bayar, asal tolong hentikan lelucon pernikahan ini."
" Saya tidak bisa." Ucap Isco mengalihkan pandangannya ke depan.
Sonya tak habis fikir ternyata orang yang dianggapnya baik hanyalah seorang yang tak punya hati.
" Kenapa gak bisa heuhhh, apakah karena hutang itu belum terbayar?" Kini Sonya telah berteriak.
__ADS_1
"Dasar bodoh, gak lihat tadi ibu kamu sampai menangis seperti itu.. Kamu mau ibumu meninggal karena syok?" Ucap Isco membungkam semua perlawanan Sonya.
Sesaat kemudian Sonya menghapus air matanya kasar penuh amarah, lalu membuka pintu mobil Isco dan keluar dari sana, membanting pintu sekerasnya lalu berjalan menjauh.
Sementara Isco memejamkan matanya berat, "maaf.. Maaf.. Bukan maksudku seperti ini, tapi aku gak punya cara lain untuk mendapatkanmu."
Sonya berjalan tak tentu arah saat mulai tenang dan tersadar dia berhenti kemudian mencari dompet di sakunya namun nihil tadi dirinya tak sempat mengambilnya, "naik angkot gak punya ongkos, pesen ojek online hp gak bawa... Aaaaaarrrrgghh," kata Sonya putus asa, saat sadar kesalahannya tak membawa dua benda penting miliknya itu.
"Aku nunggu taksi aja disini," ucapnya lagi.
Setelah hampir dua jam Sonya berdiri menunggu taksi yang tak kunjung datang, akhirnya Sonya menyerah dan memilih ke tempatnya tadi bersama Isco walau kakinya terasa sakit akibat berjalan jauh ia tak hiraukan yang ada difikirannya hanyalah semoga Isco masih disana menunggunya.
Sesampainya di jalanan yang sepi itu Sonya tak mendapati mobil Isco bahkan tak ada kendaraan apapun yang melewati jalan itu, seketika itu Sonya merasa hancur karena Isco benar-benar meninggalkannya, tubuhnya melemah kakinya seakan tak sanggup menopang berat tubuhnya dan dia ambruk terduduk begitu saja di tepi jalan, Sonya menangis sejadi-jadinya karena rasa kecewa dan takut karena keadaan yang mulai gelap.
"Pak Isco kamu keterlaluan.. Hikss," racau Sonya.
Tiba-tiba sorot lampu mobil terpancar jelas dihadapannya, Sonya pun mendongakkan kepalanya......
bersambung....
__ADS_1