Bukan Mauku

Bukan Mauku
Sudah berakhir


__ADS_3

"Tadi jawabnya pelan zak, dan yang nanya tadi itu kan aku" bisik Naya pada David yang masih melirik.


Mereka berbincang-bincang, bercanda dll, hingga adzan magrib pun tiba berkumandang.


Selesai sholat magrib, mereka semua berkumpul kembali, kini duduk ruang tengah, sambil nonton tv."Sebaiknya kita makan dulu" kata Pak Nanang melirik istrinya agar menyiapkan makan, bu Nina pun segera beranjak dari duduknya dan pergi ke dapur, membawakan sebakul nasi, piring kosong dan juga lauk pauknya, ke ruang yang sedang di tempati tuk berkumpul.


Tanpa nunggu lama merekapun makan bersama, dengan seadanya.


Selesai makan, bu Nina dan Lely membereskan kembali ke dapur, yang kini tersisa di sana hanya minuman teh, dan kue di toples.


Situasi memang riuh karena ada beberapa anak kecil di sana, Pak Nanang membuka pembicaraan.


"Mau sekarang berangkatnya Vid.?" Pak Nanang menatap David dengan rokok di tangan.


"Boleh, gimana uwa aja." jawab David melirik sekilas.


"Ayok berangkat atuh.?" Pak Nanang beranjak pergi keluar di ikuti David di belakang. sebelum nya dia pamit dulu pada Naya yang tengah duduk memainkan hpnya.


"Aku pergi dulu teh.?" kata David sambil berdiri.


"Oh ya." Naya melirik kepergian David dan Bapaknya, mereka berdua mau ke tempat Pak haji, kawan Pak Nanang, dengan niat mau minta di doakan agar David segera dapat jodoh katanya, dan itu atas rekomendasi orang tuanya David di Kalimantan.


Orang tua David merasa kasian pada putranya yang selalu di tinggal nikah sama ceweknya, bukan sekali dua kali terjadi di tinggal nikah mulu, makanya siapa tahu dengan ikhtiar ini dia akan segera dapat jodoh yang baik.


Karena merasa bosan dan ngantuk Naya pun pergi ke kamarnya.


Di ruang tengah hanya tersisa Bu Nina dan adik Naya yang lain, Lely sudah tiduran sekalian menidurkan putri kecilnya.


Tak lama ngantuk pun menyerang Naya, akhirnya ia terlelap, sehingga ia tak tau kapan David dan Bapaknya pulang.


******


Siang hari, Naya duduk di teras, berdua dengan David, "Semalam pulang jam berapa zak.?" Naya melirik David yang duduk di sampingnya.


"Jam berapa.? sekitar jam satu teh." kata David dengan rokok di tangannya.


"Och, malam banget zak, apa katanya.?" tanya Naya menyelidik.


"Apanya teh.? oya teh semalam kami ngobrolin tentang kamu." tatapan David mengarah jelas ke wajah kakak sepupunya itu.


Naya pun menatap lekat wajah David dengan rasa penasaran. "Emang kenapa membicarakan aku.? terus apa katanya.? baik apa buruk.?" penuh selidik.

__ADS_1


"Woy...,biasa aja kali ach, usah menatap seperti itu, hi..hi..hi.." David menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, sembari menyeringai.


"Hmm," Naya mendelik dan manyun.


David pun melihat ekspresi wajah Naya seperti itu tambah tertawa memperlihatkan gigi putihnya, kemudian ia mengubah duduknya agar terlihat lebih serius "Iya..iya, kata ehh..pak haji, suamimu itu kadang ingat dan mau pulang, tapi dia lupa jalan pulang nah, jalan pulang baginya itu seolah gelap gitu, begitu katanya, jelas bu.?" ucap David sesekali melirik, dan Naya begitu serius mendengar David bicara.


Naya mengernyitkan dahinya lalu berkata. "Begitu.?" pandangannya menyapu ke lain tempat.


"Hmm," David singkat dan padat.


"Ya sudah lah, gak usah di omongin lagi, percuma, toh semuanya sudah berakhir," kata Naya pada David.


David menoleh penuh selidik menatap wajah Naya yang memalingkan muka darinya. "Kenapa.?"


helaan napas terdengar dari hidung Naya yang ia hembuskan, lalu ia menatap kembali David.


"Aku dan dia sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi zak, sekarang aku sudah merasa lega zak," Naya menundukkan kepalanya.


David hanya terdiam, sesekali mengisap rokok yang ada di jarinya.


"Sejak kapan teh.?" tanya David menunduk.


"Kemarin sore, aku telepon dia dan meminta keputusan, karena aku gak mau di gantung lagi, aku dah capek zak." keluh Naya.


"Belum, aku belum cerita, nanti aja lah." sahut Naya dengan pandangan yang jauh entah kemana.


"Kenapa gak bicara sama uwa dulu.?" David heran.


"Dia gak mau zak, yang penting secara lisan sudah jelas aku bukan istrinya lagi zak," lirih Naya.


"Hmm, ya sudah kalau begitu, tapi bagai mana dengan surat cerai.?" tanya David lagi.


Naya menggeleng, "Gak tau zak."


"Semoga kamu nanti akan dpat pengganti yang lebih baik," David menatap kearah langit.


"Aamiin zak, makasih banyak." ucap Naya sekilas melirik David yang kebetulan melirik juga, dan menyeringai.


"Sekarang gak akan ada lagi air mata, tangis-tangisan hanya kerena dia lagi, gak akan ada lagi keluh kesah atau semacamnya lah, atau apa itu namanya tentang dia.?" tersenyum.


Helaan napas yang kasar, namun rona wajah yang lebih ceria sekarang terlihat dari wajah Naya, David tersenyum turut bahagia mendengar, dan melihat kakaknya terlepas dari kemelut rumah tangganya selama ini.

__ADS_1


David tahu betul gimana kakaknya selama tujuh bulan ini melewati hari-hari yang penuh dengan duka, luka ,kecewa, kini setidaknya ia lepas dari status bersuami, meski akan masih menyisakan luka bahkan mungkin trauma, yang entah sampai kapan akan membayang di hidupnya.


"Hei...,kenapa bengong.?" Naya mengibaskan tangan tepat di depan wajahnya David yang terdiam.


"Sapa yang bengong.?" David tersungging sembari membuang puntung di jarinya.


"Kamu lah, masa aku.? herman...,deh." kata Naya memalingkan mukanya dari David.


"Nggak sih, cuma aku ikut bahagia aja, akhirnya kakak aku bisa lepas juga dari masalahnya." David senyum bahagia.


Naya membuang napas sambil berkata. "Iya zak, oya kamu gimana dengan si Melia.?" ia mengedipkan sebelah matanya.


David menyeringai sekilas melirik dan berpaling lagi, "Apanya.? gak ada apa-apa kok"


"Ah....,bohong, aku gak percaya tuh." Naya menyandarkan bahunya di dinding, dengan tangan melipat di dada.


"Ya terserah, mau percaya apa tidak" David tersenyum turun dari teras meregangkan tubuhnya.


Naya manyun, awas kalau nanti dia ngomong gak akan aku dengarkan" gerutu Naya.


"Ngomong apa.?" dia masih menyeringai sambil berdiri.


"Ya awas aja kalau suatu saat dia cerita gak mau aku dengarkan." tambah Naya memalingkan mukanya.


"Ah, lagian siapa juga yang mau cerita sama dia wew, hi..hi..hi.." cibir David.


Naya terdiam sembari berpikir.


"Kenapa.?" tanya David dengan tatapan tajamnya dan duduk di tepi teras.


"Nggak." jawabnya singkat.


"Ya udah, sudah siang juga aku pulang dulu ya.? lain kali kesini lagi." David beranjak pergi, "Oya bilang sama Uwa aku pulang dulu ya.?" tambah David mengusap kepala Naya.


"Ok, lain kali kesini lagi ya zak.?" harap Naya pada David yang sudah berapa langkah dari tempat itu.


Tanpa menoleh lagi David, hanya berkata "Iya pasti lah,"


Naya menatap kepergian David sampai ia hilang dari matanya.


,,,,

__ADS_1


Hi....,aku kembali lagi nih, apa ada yang kangen dengan cerita aku apa tidak ya..,? apa ada yang menunggu kelanjutan kisah ini...,?


Aku cuma ucapkan makasih banyak pada yang masih sudi mampir di novel recehan aku ini.🙏🙏


__ADS_2