Bukan Mauku

Bukan Mauku
Terimakasih sayang


__ADS_3

Beberapa menit kemudian Naya sudah masuk kamar dan tak lupa menutup pintu, melirik sang suami tengah tengkurep dengan mata terpejam, Naya memakai mukena, mengelar sejadah lalu melaksanakan sholat isya, tak terlewat berdoa dan mengucap syukur, impiannya menikahi pria yang ia cinta yang ia tunggu selama ini terlaksana, ijab kabul berjalan dengan sangat lancar, "Semoga ini awal yang baik untuk kedepannya." gumam Naya dalam doa.


Naya melipat mukenanya, menatap Suami tertidur pulas, ia membuka lipatan selimut, dan menutupi tubuh suaminya menjadi satu selimut dengan dirinya, yang juga membaringkan diri, sebelumnya mematikan lampu, karena sudah terbiasa bila tidur dengan keadaan gelap.


"Lama sekali yang..,?" tiba-tiba terdengar suara Dimas, dari sampingnya.


"Aku, dari tadi kok, cuma kau aja yang ketiduran," sahut Naya dalam gelap, Dimas mendekati Naya dan merangkulnya dengan erat, "Kenapa nggak bangunin aku sayang.?" Dimas mengecup kening Naya.


"Kau pasti capek jadi aku biarkan aja, lagian kenapa sekarang bangun.?" lirih Naya dan merasakan nyamannya dalam pelukan sang suami.


"Hah, rugi dong saya kalau melewati malam pertama cuma tidur saja, tanpa macam-macam, mengobrol, tanpa memeluk, mencium istri, rugi lah saya, kalau cuma di lewati dengan tidur, saja." ucap Dimas, pelukannya semakin erat seolah tak ingin lepas sedikitpun.


"Yang..,aku sesak, gak bisakah melonggarkan pelukanmu.?" saran Naya memegang tangan Dimas, yang kuat memeluknya.


"Nggak bisa, takut lepas, nanti di ambil orang," ucap Dimas senyum penuh kemenangan,


"Apaan sih.? mana ada di ambil orang yang.? kan sudah jadi istri kamu yang.?"


Naya mengusap tangan Dimas lembut.


"Iya sih," Dimas melepas pelukannya, dan ganti posisi mejadi tubuh Dimas di atas tubuh Naya, "Yang aku sangat mencintaimu, mau kan ikut aku.? karena kau harus berada di manapun aku berada."


Naya terdiam saja, hanya tangannya mengalungi leher sang suami, Dimas mendekatkan wajahnya, dan menyatukannya, malam ini begitu sangat mereka nikmati, sepanjang malam, tak terlewatkan begitu saja, dangan memadu kasih, melepas hasrat berdua, terlena dalam buayan malam, menjadikan sebuah pelepasan sesuatu yang selama ini di jaga, kini di lepaskan begitu saja setelah, marasa punya hak masing-masing.


"Terimakasih sayang sudah menyerahkannya untuk diriku.? beruntungnya aku sudah mendapatkan dirimu, yang katanya janda tapi..,masih pera***," Naya membulatkan matanya pada Dimas yang tambah gemas. "Betapa bodohnya pria yang sudah meninggalkan bunda, akhirnya aku lah yang sangat beruntung," dengan senyuman yang amat penuh kemenangan. "Bodohnya dia" tangan memeluk kepala Naya di dada Dimas, agar tertidur di dadanya.

__ADS_1


Pukul 03.30 pagi, Naya sudah bangun, sebelum orang bangun ia bangun duluan, ketika mau turun dari tempat tidur ia merasa sakit di bagian intimnya, yang baru ia rasakan kali ini, "AW.., sakit." pekik Naya, dan Dimas yang membuka mata mendengar pekikan istrinya, "Kenapa sayang.?" dengan suara berat, bangun dan mendekati sang istri, Naya menggigit bibir bawahnya menahan sakit,


"Sayang kenapa.?" Dimas nampak cemas sekali, memeluk bahu Naya, "Sakit yang..,!" Naya pelan seakan berbisik.


"Mau kemana yang.?" Dimas pun berbisik di telinga Naya.


"Mau mandi, bersih-bersih, bentar lagi subuh, nanti keburu orang-orang bangun." Naya berusaha berjalan namun tetap terasa sakit, Dimas mengerutkan keningnya, "Emangnya kenapa kalau orang-orang sudah bangun.?"


"Malu..,! iih..,lagian kalau orang dah pada bangun, kamar mandi sibuk yang..,kan cuma satu kamar mandinya," Naya memberi pengertian, "Satu kamar mandi untuk dua rumah yang, siang dikit pasti rebutan."


Dimas menyeringai. "Oh," Dimas mengenakan kaosnya dan menggendong Naya keluar kamar, menuju kamar mandi. "Jangan berisik nanti membangunkan orang yang lagi tidur." bisik Naya sembari menyusupkan kepala ke dada sang suami.


Kini mereka berdua sudah selesai mandi sudah pada segar dan wangi, terus Naya melaksanakan sholat subuh, berzikir sebentar, sementara Dimas tiduran kembali membalut dirinya dengan selimut, "Dingin banget yang, kayanya enak nih jam segini kalau kita bulan ma--!" ucapan Dimas terpotong oleh cubitan kecil Naya di tangan Dimas membuatnya meringis.


"Sakit yang, tahu gak.? ini kekerasan dalam rumah tangga dan bisa aku adukan kepada kak Seto nih," menyeringai menggoda.


"Aku mau ke dapur dulu ya.?" kata Naya membalikkan badannya.


"Ngapain yang.?" tanya Dimas membuka selimutnya,


"Ha..ha..ha..! aku mau tidur di sana, ya memasak lah, apa lagi.?" sahut Naya melipat selimut, "Bawel." Dimas menjepit hidung Naya, sembari membantu melipatkan selimut.


Naya berjalan keluar kamar satu langkah saja sudah ada di dapur yang sudah ada yang lain, kebetulan hari ini akan ada masak memasak buat syukuran, jadi sebagian saudara Naya nginep dan yang pulang pun akan kembali, Dimas menghampiri Bapak-bapak dan om Fadil yang tengah ngobrol di teras, Lely menyiapkan kopi buat mereka.


"Tumben pake kerudung.?" ucap bu Nina pada Naya yang tidak seperti biasanya, kini lebih rapi memakai kerudung, yang lainpun mengamati Naya, Naya tersipu malu, "Baguslah." kata Lely sambil mengaduk kopi di beberapa gelas.

__ADS_1


"Aku sudah bernazar kalau sudah menikah dengannya, insyaalah akan belajar memakai kerudung," ucap Naya membenarkan kerudungnya.


"Bagus-bagus itu.!" sahut seseorang di situ, setelah siap mereka semua sarapan, tapi tidak dengan Naya dengan alasan belum lapar.


"Yang makan dong, nanti sakit sayang.?" Dimas duduk menghadap Naya sambil memegang piring, sesekali ingin menyuapi sang istri dengan sendok, namun Naya menolak, "Nggak mau ih." sembari menggeleng pelan, malah dia mengambil sendok dari tangan Dimas dan Naya menyuapi sang suami, Dimas justru merasa sangat senang di suapi sang istri.


"Haduh..., ini pengantin baru membuat baper orang saja ah.?" celetuk Suami Lely, yang berdiri depan pintu,


Dimas menoleh dan tertawa di sela mengunyahnya, "Ayok dong makan.?" ajak Dimas.


"Sudah Bang, barusan," dia menyeringai dan berlalu dari tempat tersebut, di rumah pak Nanang mulai ramai kembali, dangan acara memasak untuk syukuran yang akan di laksanakan nanti sore.


******


Di sebuah bus, Yuda tengah duduk bersama Pamannya, mereka ingin menemui Kanaya untuk meminta maaf atas semua yang telah Yuda lakukan pada Naya, ia sudah menyianyiakan dan menggantung Naya tanpa nafkah apa pun, Yuda sangat menyesal dan ingin meminta maaf yang sebesar-besarnya, atas semua yang telah ia lakukan,


"Om, bantu gua ya bicara.? sama orang tua si Naya, takut gua gak bisa ngomong," elo takut gak bisa ngomong, apa lagi gua.!" sahut Paman Yuda sembari melihat jalan dari balik jendela Bus.


"Jangan gitu om, om kan sebagai orang tua gua, kepada siapa lagi gua minta tolong kalau bukan sama om.?" memelas, menghiba.


"Iya..,iya.! akan gua coba nanti," sahutnya.


Yuda merasa tenang, mengisap rokoknya dan membuang ke sembarang tempat.


Sepanjang jalan, tiada lagi debat diantara mereka, hanya obrolan orang lain yang terdengar begitu riuh, Yuda asik dengan rokok di jarinya, pria itu tak perduli dengan ocehan ibu-ibu muda, yang terganggu dengan asap rokoknya Yuda, hanya dengan lirikan tajam dan samasekali tidak perduli pada yang ngoceh.

__ADS_1


,,,,


Terimakasih banyak reader ku yang masih berkenan mampir di novel ini, terus dukung aku ya.? agar aku tambah semangat belajar menulisnya, ok, jangan lupa lake, komen yang membangun agar aku mampu lebih baik, dll lah yang kalian ebih mengerti gimana caranya untuk mendukung author yang satu ini hi..hi..hi..!


__ADS_2