Bukan Mauku

Bukan Mauku
Manja yang direncanakan


__ADS_3

Dimas menggigit kecil bahu istrinya. "AW.., sakit, kenapa sih,? tidur ah.., ngantuk," dengan suara manjanya, memeluk seimut menikmati posisi wenaknya, Dimas merasa kesal namun tak ingin memaksa istrinya, ia hanya memeluk erat sang istri hingga kantuk menyerang dan memasuki alam bawah sadar.


Kini Dimas dan Naya tengah mengemas barang, di kamar. "Yang jangan bawa baju banyak, nanti aja di sana kita beli."


"Iya, lagian aku gak punya baju banyak kok, bawa dua potong aja, masukan ke koper kamu aja ya.?" tanya Naya menatap sang suami yang duduk di sampingnya.


"Iya sayang, besok kita berangkat, akhirnya aku akan membawa istri tercinta bersamaku." tersenyum bahagia.


Naya merasa mencelos hatinya, galau takut membuat repot suaminya, Dimas memandang wajah istrinya yang nampak murung, ia mengangkat dagu sang istri agar dapat memandang matanya. "Kenapa yang.? gak mau kah ikut denganku.? gak bahagia kah akan hidup bersamaku.?" mereka bersitatap, Naya menggeleng pelan. "Bukan begitu yang." sahut Naya.


"Terus kenapa hem.?" kening Naya di kecup lembut. "Terus kenapa sayang.? apa yang mengganjal pikiranmu hem.? katakan padaku.?" menangkupkan kedua tangannya di pipi sang istri.


"Aku minta maaf bila aku akan merepotkan dirimu yang.? dan aku takut--!" Naya tak meneruskan ucapannya.


"Sutt..,yang, kau adalah tanggung jawabku, bukan tanggung jawab keluargamu lagi sekarang, paham.? dan apa lagi yang takutkan yang.?" dengan lembut.


"Aku takut orang tuamu tak merestui kita, karena bukankah benar mereka tak mau mempunyai menantu sepertiku.?"


"Sayang, sayang..,dengar aku, kamu tau mereka juga orang tuamu.? mereka gak seperti itu, dan bila iya juga gak akan selamanya seperti itu, aku yakin yang." Dimas meraih tubuh istrinya ke dalam pelukannya. "Jangan punya pikiran yang macam-macam sayang, bukan kah ucapan adalah doa.?" dengan mengecup kepala sang istri.


"Tapi.., yang..?"


"Tak ada tapi-tapian yang." beberapa waktu mereka berpelukan, "Aku ingin setiap saat kita bersama, berpelukan seperti ini, melepas rindu, saling sayang, bahagianya hati ini yang.!" lirih Dimas.


"Jadi kau tak bekerja.? aku gak boleh ngapa-ngapain.? pelukan terus gitu.?" Tanya Naya menaikan alisnya.


"Hem..!"


"Kalo kita bermesraan turus, berarti gak kerja.? lalu kita mau makan apa? kalau kamu gak kerja.?" Naya melepaskan diri dari pelukan Dimas.


Dimas nyengir kuda. "Hem, kalau waktunya kerja ya kerja dong sayang, tapi..,ketika di rumah aku akan selalu memeluk dirimu."


"Alahh.., paling sekarang aja ngomongnya gitu, nanti juga lupa.?" ucap Naya menyandarkan kepala di bahu suaminya.

__ADS_1


Suasana sore begitu indah, mata hari sebentar lagi mulai terbenam, Dimas membonceng sang istri jalan-jalan sore, melintasi jalan raya di perkampungan tersebut, "Yang pengen makan bakso yang itu.?" Naya menunjuk gerobak bakso di sebelah.


"Yang jangan banyak makan bakso nanti makin bulat tuh badan, ha..ha..ha..!" sambil menepi.


"Ya udah gak usah." sahut Naya sedikit cemberut.


Dimas menggendong sang istri ke tempat duduk tukang bakso. "Gak jadi..! pulang aja." pinta Naya, namun Dimas tak perduli dan melanjutkan langkahnya.


Naya kesal. "Aku pengen pulang, dengar gak sih.?" Naya mengalungkan kedua tangannya di leher suami takut jatuh.


"Jangan ngambek, katanya tadi mau makan bakso." mendudukkan Naya di sebuah bangku, kemudian Dimas memesan kan bakso 1 porsi aja.


Tak ada kata yang terucap, pandangan mereka terpusat pada orang yang disekitar, bakso pun datang siap di makan oleng sang pemesan. "Makan yang, nanti keburu dingin." kata Dimas menyodorkan mangkuk bakso.


Naya masih kesal. "Aku mau pulang aja, gak mau makan, nanti tambah gemuk." dengan pandangan kesembarang tempat.


Dimas tersenyum tipis. "Sayang, jangan marah, aku suka kok kamu gemuk, jadi aku makin berasa memeluknya." goda Dimas sambil mengedipkan matanya. "Lagi pula Kanaya yang aku kenal sangat gak suka membazirkan makanan."


Memang benar, menurutnya kita harus bersyukur dengan apa yang di dapat, jangan membuang-buang makanan, masih banyak orang yang kelaparan, Naya baksonya perlahan ia memakannya sesekali ia suapi ke mulut Dimas biar cepat abis katanya. "Sudah sore yang bentar lagi magrib." di sela mengunyah makanan kesukaannya.


Naya mendelik pada Dimas, kalau sekarang mau subuh berarti kita jalan di pagi buta dong, bukan jalan sore.?"


"Ha..ha..ha.." Dimas terkekeh sendiri. "Udah ah ayok makan.


Selesai makan bakso, Dimas mengendong Naya ke atas motor, kemudian Dimas melajukan motornya untuk pulang.


Habis magrib Dimas belajar sholat dengan mertuanya, lanjut belajar mengaji dengan istrinya, selesai isya Naya melipat mukena dan sejadahnya, "Sejadah ini mau aku bawa yan.!"


"Kenapa yang.? kan di sana bosa beli juga." kata Dinas menutup iqro nya.


"iya sih, tapi ini aku beli belasan tahun lalu di mana aku membelinya dangan hasil aku bekerja memetik sayuran di tetangga aku, aku masih ingat 5 hari aku bantu beliau di kebun kacang, aku da bayar dua lima ribu, aku belikan sejadah ini." kenang Naya dengan seutas senyumnya.


"Ya sudah bawa aja sayang." Dimas merengkuh tubuh sang istri, ke dalam pelukannya.

__ADS_1


"Yang.?" panggil Dimas menatap wajah istrinya.


"Hem.?" Naya mendongakkan kepalanya.


"Nanti kalau sudah di rumah kita berdua, aku hanya akan makan bila kamu suapi." ucap Dimas, sembari mengelus rambut istrinya.


"Kenapa.?" Naya mengerutkan keningnya, dengan heran.


"Karena kalau di suapi istri..,tingkat kenimatannya sangat berbeda." ucap Dimas senyum renyah.


"Ah, bilang aja manja.?" ketus Naya membalikkan kepalanya ke posisi semula.


"Bukan manja yang..,!" sahut Dimas mengulum senyumnya.


"Kalau bukan manja apa namanya.? tanganmu sehat wal'afiat." kata Naya memeluk pinggang sang suami.


"Emang gak boleh bermanja sama istri sendiri gitu.?" Dimas menatap sayu wajah sang istri yang nyaman berada di dada suami.


Naya mencebikkan bibirnya. "Manja yang di rencanakan."


"Tapi manja-manja juga suamimu sayang," Dimas menangkupkan tangan di pipi istrinya, mereka bersitatap dua pasang mata mereka bertemu.


Deg.


Jantung Naya berdebar tak menentu kalau saling pandang seperti ini, Dimas mendekatkan wajahnya, Naya un memejamkan matanya. namun Naya terkejut mendengar bisikan di telinganya. "Aku gak akan menyentuhmu meski cuma mengecup bibirmu, karena aku takut tak bisa mengendalikan junior milikku, kalau aku mengecup bibirmu, nanti pasti meminta lebih dari itu."


Naya tersipu malu, dan membuka mata ada rasa kecewa di hatinya, ia hanya mengangguk pelan. "Biar nanti aja kalau sudah di rumah kita, aku akan pastikan minta beberap ronde setiap malamnya, sampai bunda kecapean." Bisik Dimas lagi membuat Naya merinding, melototkan mata pada Dimas, sementara Dimas malah terkekeh melihat ekspresi wajah sang istri.


"Bobo yuk.?" ia membaringkan tubuhnya di kasur, Naya masih duduk termangu di sampingnya, dengan sekilat Dimas meraih tubuh sang istri agar berbaring dalam pelukannya, tak ada lagi yang bersuara hanya suara napas yang teratur, Dimas sudah terpejam, sementara Naya memandangi wajah suaminya, "Tampan juga kamu yang.!" gumam Naya pelan dwngan seulas senyum di dbibirnya.


"Baru tahu kah kalau suamimu ini memang tampan.?" sahut Dimas tanpa membuka mata. Naya segera membenamkan wajahnya di dada suami nya.


,,,,

__ADS_1


Hi....,reader ku.? acung jempol deh kalau suka, dengan novel recehan ini yuk lake komen sebanyak-banyaknya. tapi kalau gak suka gak apa-apa kok.


Terimakasih kepada yang masih setia menunggu author up..! 🙏🙏


__ADS_2