Bukan Mauku

Bukan Mauku
Imajinasi liar


__ADS_3

Naya melahap mienya selagi hangat, bersama bi Taty yang sarapan nasi goreng, mereka berdua asik mengobrol, tentang keluarga dll nya.


Usai makan mie dan mengobrol seperti biasa Naya naik ke kamar untuk sholat duha, selesai sholat Naya merasa ngantuk, dan membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Baru bangun pukul dzuhur, "Ya ampun, dzuhur, nyenyak banget tidurku,?" gumam Naya dan langsung ke kamar mandi, lanjut sholat dzuhur, "Oh iya, sore ini ada perawatan."


Naya keluar kamar menuruni anak tangga, menuju dapur dan di sana tak ada siapa-siapa, bi Taty tak ada di situ, Naya langsung mencari buah muda yang kebetulan sudah di buat rujak di lemari pendingin.


Setelah mendapatkannya, Naya melahap sebagian dan sisanya buat Dimas lalu di simpan kembali di tempat semula, "Bibi kemana ya,?" Naya celingukan, "Bi.., di mana,?" panggil Naya wajahnya ke arah pintu kamar bi Taty.


"Iya Bu,?" bi Taty nongol dari balik pintu masih mengenakan mukena.


"Oh, aku kira ke mana, gak ada apa-apa kok," Naya lirih.


"Sudah selesai Bu," sahut bi Taty sambil kembali ke kamar sebentar lalu ke luar.


"Aku kira gak ada Bi, makanya aku panggil, Bibi sudah makan,?" tanya Naya memandangi bi Taty.


"Oh, Bibi mah kalau soal makan mah jangan di tanya, pasti duluan," sambil nyengir memperlihatkan barisan gigi yang masih utuh dan putih.


"Bagus lah Bi, kalau lapar ya makan, gak usah sungkan apa lagi Bibi sendiri yang masak, jangan sampai di sini Bibi kelaparan, nanti di kira kami menyiksa art,?" ujar Naya dengan seulas senyum.


"Tidak Bu, malah Bibi merasa di sini Bibi sangat sejahtera, di perlakukan dengan sangat baik, gak di beda-bedakan, Bibi di anggap keluarga bukan sebagai art," bi Taty mengusap air mata yang menetes tanpa di undang.


"Em.., Bibi kok nangis sih,? jangan nangis dong, aku kan jadi syedih..,?" Naya memeluk bi Taty yang duduk di sebelahnya.


"Terimakasih Bu,? Ibu juga Tuan baik sama Bibi,?" bi Taty membalas pelukan Naya.


"Sudahlah Bi,?" Naya pun mengusap air mata di pipinya.

__ADS_1


Mereka berpelukan sementara waktu, " Aku di sini jauh dari keluarga Bi, jauh dari orang tuaku,"


"Sabar Bu, meski jauh.., yang penting komunikasi lancar, dan semoga Ibu bisa bertemu sama keluarga, ada rejeki yang banyak agar bisa saling mengunjungi," ujar bi Taty.


"Iya Bi," Naya melepaskan pelukannya, "Oya Bi mungkin di waktu yang dekat, suami aku akan tugas ke luar, jadi aku akan di ajak, dan Bibi baik-baik di sini, jangan ke mana-mana juga" ujar Naya.


"Hah.., di sini Bibi sendiri,? gak ada kawan sama sekali Bu,?" tanya bi Taty cemas.


Naya tersenyum, "Iya Bi, tapi.., itupun kalau jadi, kalau gak jadi ya kita gak ke mana-mana," sahut Naya.


Terdengar suara motor Dimas di luar rumah masuk garasi, tak lama Dimas pun masuk.


"Assalamu'alaikum..,?" Dimas nyamperin Naya Dengan langkah gontai, dan langsung Naya meraih tangan Dimas serta menciumnya, begitupun Dimas mendaratkan kecupannya di kening sang istri, lalu duduk dekat Naya.


"Aku buatkan jus ya,?" Naya hendak berdiri, namun di cegah bi Taty.


"Bu, ibu duduk saja, biar Bibi yang bikinkan jus buat Tuan," bi Taty mendahului.


Sesaat kemudian Naya baru bersuara, "Yang.., mau makan dulu apa mau--!?"


"Makan dulu, letih, ingin cepat istirahat," sahut Dimas menegakkan duduknya, segelas jus sudah tersedia di meja.


"Ya udah, ini jusnya minum dulu," Naya menyodorkan pada Dimas yang langsung di teguk nya sampai tandas.


Naya menyiapkan buat makan siang, lantas menyuapi Dimas, beberapa menit makan pun selesai di akhiri dengan meneguk segelas air putih.


"Ya udah aku naik dulu ya,? mau mandi sholat, terus tidur," ucap Dimas.


"Iya yang..,?" Naya menatap punggung Dimas yang menaiki tangga, tiba-tiba Dimas membalikan tubuhnya, memandangi Naya beberapa saat merekapun bersitatap dari kejauhan, setelah itu Dimas melanjutkan langkahnya.

__ADS_1


Akhirnya Naya mengalihkan pandangan pada bekas makannya namun sudah tiada, menoleh bi Taty tengah mencucinya, Naya menarik napas dalam-dalam.


"Sudah Bu, piringnya sama Bibi cuci, Ibu ikuti saja Tuan, sepertinya Tuan sangat leleh sekali hari ini, sana Ibu samperin,?" titah bi Taty sembari tersenyum.


Naya hanya memandangi bi Taty, namun pandangannya seolah menerawang entah kemana, Namun Naya beranjak dari duduknya, "Ya sudah Bi makasih,? aku ke atas dulu," Naya melangkahkan kakinya menuju tangga, mendongak ke atas tangga, kemudian menaiki anak tangga satu demi satu.


Kini Naya sudah berada dalam kamar, terdengar suara air mengucur di kamar mandi, Naya mendekati lemari pakaian Dimas, untuk menyiapkan pakaian Dimas, Dimas keluar kamar mengenakan handuk di bawah perut, Naya memandangi tanpa suara dari sofa, melihat Dimas habis mandi membuat Naya menelan Saliva nya, pikiran sedikit berimajinasi liar, namun segera dia tepis, dengan cara segera mengalihkan pandangannya ke lain arah.


Dimas pun melirik, mengenakan pakaiannya lalu menunaikan sholat dzuhur, usai sholat Dimas menghampiri Naya di sofa, "Tumben istriku tidak bawel hem..,?" Dimas duduk di samping sang istri, dan mengarahkan wajahnya pada istrinya, cup mencium pipi kanan dan kiri, di akhiri mendaratkannya di benda kenyal yang merah jambu, lama.., mendarat di sana, setelah puas Dimas baru melepaskan, dan mengusap lembut bibir Naya dengan jarinya.


Naya sedikit senang imajinasi liarnya sedikit tersalurkan, dengan pandangan sayu, "Aku lihat kamu tampak capek sekali, sibuk kah,?" tanya Naya.


"Iya sayang, aku sibuk, kita akan berangkat besok lusa pagi, besok sayang terapi lagi, sebelum berangkat," ucap Dimas meraih kepala Naya agar bersandar di bahunya.


Naya menghela napas, sebenarnya dia berharap keberangkatan itu tidak terjadi, rasanya malas untuk pergi, namun apa daya, tidak bisa apa-apa juga, membiarkan Dimas pergi sendiri juga kasian, takut, macam-macam di luar, "Ah, punya pikiran apa sih aku,?" batin Naya, di pelukan suaminya.


"Hari ini sayang ada perawatan,?" tanya Dimas mengelus kepala sang istri.


"Iya, tapi aku batalkan,"


"Kenapa sayang,?" Dimas melirik wajah Naya.


"Aku lagi malas yang, lain kali aja lah," Naya lirih, dan menegakkan tubuhnya duduk di sofa, sekarang malah Dimas merebahkan tubuhnya di sofa dengan melipat tangan di dada, sementara kepala di pangkuan Naya, tangan Naya membelai rambut Dimas penuh kasih, membuat Dimas memejamkan mata.


Naya bicara namun Dimas terdiam, hanya gumaman, "Hem..,?" dari Dimas, Naya sedikit memutar wajah Dimas yang tertidur, "Eh.., aku bicara sendiri, dia enak tidur," pelan, Naya menyandarkan punggungnya ke bahu sofa dan memposisikan kepalanya agar enak tidur, pengen pindah, gak enak kalau harus bangunkan Dimas kasian.


Akhirnya Naya pun tertidur dalam keadaan duduk bersandar di sofa, sementara Dimas begitu nyamannya berbantal kan paha sang istri, di hiasi suara sholawat yang Naya putar dari ponsel dan angin yang berhembus dari kipas angin yang tertuju kepada mereka.


,,,,

__ADS_1


Terimakasih reader ku, masih mengikuti cerita ini, dan semoga kabar kalian selalu berada dalam lindungan Allah yang maha kuasa, Aamiin.., ok, jangan lupa selalu lake, komen, rating dan vote nya dong๐Ÿ™๐Ÿ™


__ADS_2