
Naya menatap kepergian suaminya di dalam mobil kesayangan nya, sebelum akhirnya masuk ke dalam rumah untuk siap-siap ke konter, Lisa sudah memberi tahu kalau besok akan ada kawan nya yang bersedia kerja di konter.
"Naya, apa kau mau ke konter,?" sapa Bu Hesa yang duduk di sofa depan televisi.
Naya menoleh kebelakang, kearah Ibu mertuanya, "Iya Mak mau siap-siap dulu, lagian nunggu Lisa dulu, dia belum datang nih," sambil melirik jam yang melingkar di tangannya.
"Saya ikut ya,? suntuk di rumah terus, eh mau gak temani saya jalan-jalan ke mal gitu, atau ke swalayan mau gak,?" ajak Bu Hesa pada Naya.
"Em.., kapan,?" tanya Naya menatap Bu Hesa.
"Hari ini, mobil ada mobil suami saya, sesekali yuk, kita ajak Maria biar ketemuan nya di mal saja, gimana.?"
"Tapi aku mau buka konter, lagian belum ijin sama Abang," Naya malas, malas harus keluar sama orang tanpa suami, selama ini belum pernah juga keluar sama Ibu mertua.
"Sudah, gak usah buka konter kan bisa lewat online juga kalau ada yang butuh kan,? mending kita jalan, telepon dulu Abang tuk minta ijin ok," Bu Hesa menuntun Naya agar duduk di sofa bersamanya.
Naya jadi bingung, dia hanya terdiam sambil berpikir, "Emang siapa yang akan bawa mobil nya Mak,? Pak Mad kan gak ada, Ngantar Abang."
"Saya sedang pikirkan itu."
Bu Hesa mengeluarkan ponsel dari sakunya lalu mencari kontak putra sulungnya, tuut tuut tuut panggilan di abaikan.
"Nggak di angkat sama Dimas, coba di telepon lagi," gumam Bu Hesa.
"Hadeh.., coba aku pergi ke konter aja," batin Naya.
Lagi-lagi Bu Hesa menelpon putra sulungnya, dan akhirnya panggilan telepon di angkat dan angkat juga sama Dimas.
"Halo..,? Dimas Ibu mau pinjem istrimu sebentar ya,? mau Mama ajak jalan-jalan ke mal terdekat, boleh ya,?"
"Halo.., juga Ma, Apa Ma, mau di ajak jalan, sekarang.?"
"Ya sekarang, masa tahun depan," sahut Bu Hesa.
"Kan mobil nya saya bawa kerja," sahut Dimas lagi, ia sedikit bingung tumben Ibunya mau ngajak jalan istrinya.
"Mobil ada, cuman supirnya gak ada, apa naik taksi aja ya.?"
"Mak.., kenapa sekarang sih besok aja biar Dimas yang antar, jangan sekarang bah..," Dimas kurang mengijinkan kepergian mereka.
"Mama pengennya sekarang."
"Tapi Mak.., Naya kan takut mabuk di jalan, besok aja ya, saya antar."
"Nggak mau, mau sekarang aja, kirimkan supir aja ya Dimas," ucap Bu Hesa memelas.
"Mak, saya lagi jalan ke luar kota, tidak mungkin lah Pak Mad saya kirim ke rumah," terdengar kesal.
"Ya sudah, Mama mau cari taksi aja lah."
"Mak-Mak.., tunggu, baiklah saya akan pikirkan dulu, mencarikan supir, cuman dengan satu sarat, titip istri saya jangan sampai dia kecapean, sebentar nanti saya telepon lagi."
"Baiklah, tentu saya jaga mantu dan cucu saya, itu kan kewajiban saya," ucap Bu Hesa, Naya menoleh kearah Ibu mertuanya.
Panggilan pun terputus, Bu hesa menghela napas dan tersenyum riang, "Kata putra saya sebentar lagi akan mengirimkan supir ke sini."
"Oh, ya udah aku ma sholat duha dulu lah," Naya beranjak dari duduknya.
"Baik, pergilah"
__ADS_1
"Permisi.., selamat pagi Ibu dan Nyonya," sapa Lisa yang baru datang dan melempar senyumnya.
"Pagi juga, apa kabar pagi ini Lisa, kebetulan kerjaan sudah menunggu 'mu," sahut Naya tertawa kecil sambil berjalan menaiki anak tangga dan Lisa mengekor di belakang.
"Kemarin ada yang memesan beberapa dress dan kebetulan audah habis stoknya, apa sudah di siapkan Bu," ucap Lisa sambil berjalan.
"Iya, sudah aku siapkan kamu tinggal kerjain aja, yang rapi ya,? oya jadi gak besok kawan kamu datang,?" Naya menghentikan langkahnya dan menghadap kearah Lisa.
"Jadi Bu, besok Lisa antar dulu kesini," kebetulan kalau Lisa tiap hari Minggu libur kecuali kalau ada tugas tambahan baru masuk, mau di konter atau pun di busana.
Naya mengangguk, "Bagus lah makasih ya 'ku tunggu besok, sepertinya hari ini aku gak buka konter," Naya kembali melanjutkan langkahnya.
"Kenapa Bu,?" tanya Lisa yang terus mengekor Naya.
"Ibu Mertua mau mengajak jalan ke mal, sekalian lah aku cari bahan yang bagus, atau aksesoris gitu," Naya lirih.
Mereka sudah sampai di ruangan kerja, Lisa membuka lebar jendela agar sinar matahari masuk ke dalam ruangan tersebut.
Naya menunjukkan beberapa lembar gambar, sebagai pekerjaan buat Lisa, dan ada beberapa pakaian yang Naya perlukan gambar setelah jadinya, Lisa mengenakan beberapa pakaian tersebut untuk sebagai model, sebagai kameramen ya itu Naya sendiri.
Usai mendapat beberapa gambar terbaik Naya, duduk di sofa ngecek poto-poto yang bagus lantas di pos di akun pribadinay, Lisa membuka kembali dan menggantikan dengan pakaian miliknya yang tadi, setelah itu Naya berdiriberjalan menuju ke kamarnya untuk Melaksanakan duha terlebih dahulu, sebelum Bu Hesa memanggilnya untuk pergi.
Terdengar suara nada dering dari ponsel Naya dan setelah Naya ambil nampak kontak suaminya yang memanggil.
"Halo.., Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam, yang lagi apa,?" suara Dimas dari sebrang.
"Selesai sholat, ada apa.?"
"Bener mau ikut Mama,?" tanya Dimas.
"Sebenarnya Ayah gak ngijinin sih, aku bilang besok aja biar aku yang antar, tapi Mama-!"
"Iya"
"Iya tapi Mama kekeh, oya aku gak mungkin mengirimkan Pak Mad pulang hanya untuk mengantar kalian jalan, sebab kami ke luar kota makanya pulang agak telat, tapi gak akan menggau rencana kita kok."
"Em.., hati-hati aja, cepat pulang, Terus maksudnya telepon ada apa,?" tanya Naya lagi.
"Oh iya, di karenakan Pak Mas gak bisa mengantar, dan mebetula Dery belum mulai kerja, jadi yang antar Bunda dan Mama Dery aja."
"Dery, kan tangan dan pelipisnya terluka.?"
"Ah cuma luka kecil, sudah mendingan kok, sebentar lagi dia sampai di situ, hati-hati ya, jaga diri baik-baik, jangan sampai kecapean, ok I Love You sayang."
"Iya, I love too," panggilan pun terputus.
Naya bersiap untuk pergi, mengganti pakaian dengan setelan celana longgar warna hitam, kerudung wara krim, lalu menutup pintu dan mendekati ruangan kerja dan berdiri di pintu, "Lisa, mau nitip apa,?" pekik Naya menatap Lisa yang sedang bekerja.
Lisa menoleh kearah Naya, "Apa aja Bu, makanan boleh," sambil nyengir kuda.
"Baiklah."
Naya memutar badannya hendak turun namun Bu Hesa sudah berdiri diujung tangga, "Ada apa Mak,?" menatap kearah Ibu mertuanya.
"Kata Dimas dia akan mengirimkan orang untuk mengantar kita."
"Iya Mak, bentar lagi Dery akan datang kemari."
__ADS_1
"Siapa.?"
"Dery, yang kamarin itu."
"Oh, si pria bertopi itu, ganteng n qul, coba saya masih punya anak cewe yang belum menikah pasti akan saya jodohkan sama si Dery," ucap Bu Hesa menerawang.
"Mama.., kenyataan kan gak punya lagi, gimana sih," sambung Naya menggeleng.
"Makanya."
Keduanya berjalan menuju teras, sebelum sampai Bi Meri menghampiri, "Bu diluar ada Pak Dery menunggu."
"Oh iya makasih Bi, oya Rita mana,? ikut yuk jalan-jalan," ajak Naya pada Bi Mery.
"Ada di belakang, sedang bermain di taman Bu," sahut Bi Meri yang berdiri dan menunduk.
Naya melirik Ibu mertuanya agar mengajak asistennya itu, Bu Hesa juga melirik sekilas menantunya.
"Ya sudah kau ikut bawa putri 'mu, kita berangkat sekarang, di tungu di mobil, oya jangn lama-lama," tegas Bu Hesa menyoren tasnya dan berjalan keluar.
Naya kembali menoleh Bi Mery, "Siap-siap dulu sana Bi,?" titah Naya sambil neloyor ke dapur ingin menemui Bi Taty.
Setelah itu Bi Meri kebelakang untuk memanggil putrinya Rita agar bersiap-siap, dan ikut jalan-jalan.
"Bibi, aku nemenin Mama dulu ya, baik-baik di rumah," ucap Naya setelah berhadapan dengan wanita paruh baya tersebut.
"Loh Ibu tidak ke konter,? tumben Nyonya ngajak Ibu jalan?" dengan nada herannya.
"Tidak, sekalian mau belanja pakaian, sudah pada sempit, ini kali pertama aku keluar sama Ibu mertua," Naya tersenyum tipis.
"Ciritany jalan sama mertua nih, pake taksi ya Bu, Nyonya serius mau mengajak Ibu.?"
"Iya lah Bi serius, nggak pake taksi, kan ada mobil Bapak."
"Loh, supirnya siapa.?"
"Ada Dery, baru datang," ucap Naya menunjukkan keluar dengan wajahnya.
"Bu, Tuan sudah gak cemburu ya sama Pak Dery,? dulu waktu dia kerja di rumah ini, Tuan Dimas cemburu, sampai-sampai Ibu tidak boleh keluar segala,?" jelas Bibi sambil tertawa.
"Tidak Bi, dia baik kok, lagian kan sekarang dia mau kerja di klinik, Dimas yang nyuruh dia untuk mengantar kami, ya udah kita pergi dulu ya,?" Naya berdiri setelah melihat Bi Meri dan Rita sudah siap pergi.
"Iya Bu Hati-hati, Bi Meri jagain Ibu ya,?" Bi Tati melirik Naya dan Bi Meri juga.
"Baik Bi."
"Ya Bi, Asslamu'alaikum.."
"Wa'alaikum salam.."
Naya berjalan beriringan dengan Bi Meri dan tidak lupa menutup pintu yang sebelumnya mereka lintasi, Rita jalan di depan dengan sangat riangnya, "Hore.., jalan, hore jalan,
Mereka sampailah di mobil, di depan sudah ada Dery menunggu depan setir, ketika melihat Naya Dery pun mengangguk hormat, yang balas dengan sebuah senyuman oleh Kanaya,
"Haduh lama banget sih,?" suara Bu Hesa dari dalam mobil, Naya duduk di jok belakang bersama sang mertua, Bi Meri di depan bersama Rita dan Dery, setelah melihat Naya sudah duduk dengan baik barulah Dery memutar kemudi, melaju dengan kecepatan sedang.
,,,,
Apa kabar reader 'ku, yang masih mengikuti kisah recehan ini, semoga kabar kalian selalu ada dalam lindungan Allah SWT.., aku mohon dukungannya, dan terimakasih sebanyak-banyak nya, karena kalianlah ada aku yang di kenal sebagai penulis recehan ini, tidak akan ada aku yang sekarang tanpa ada kalian semua🙏🙏🙏
__ADS_1