
"Saya gak tau yang jelas tuk sementara ini nama mu aman," Naya beranjak dari duduknya, "Kau lanjutkan pekerjaan mu, aku mau pulang sudah siang nih, kemudian Naya bergegas meninggalkan tempat tersebut.
Lisa menjatuhkan tubuhnya lemas, khawatir satu saat nanti dia masuk penjara, gimana bila itu terjadi? "Nggak mau, aku gak mau masuk penjara, ya Tuhan.., aku gak mau masuk penjara," gumamnya Lisa mendongak ke langit.
Naya sudah berada di Rumahnya, mengambil air minum lalu meneguknya, "Bi anak-anak bobo kah,?" tanya Naya melirik Bi Meri yang sedang menyuapi putrinya Rita.
"Iya Bu, tadi bermain terus, makanya capek kali sekarang bobo mereka."
"Oh, maaf ya Bi, Bibi jadi lebih repot deh," ucap Naya menatap kearah Bibi.
Bi Meri tersenyum, "Ya tidak apa Bu kan sudah kewajiban Bibi."
"Aduh capek, Bi bisa tolong ambil kan dompet di atas, dalam laci kalau gak salah," Naya menyandarkan bahunya ke kursi.
"Di kamar Bu,?" tanya Bi Meri ingin lebih jelas lagi sambil menyimpan bekas makan Rita.
"Iya Bi," Naya mengangguk, kemudian memejamkan mata.
Bibi bergegas naik ke kamar majikannya, sesaat kemudian kembali membawa sebuah dompet dan diberikan pada Naya, "Ini Bu."
Naya membuka mata dan menegakkan tubuhnya, "Makasih Bi," kemudian membuka dompet tersebut mengambil lembaran uang buat gaji asistennya.
"Ini buat gaji Bibi pasti butuh buat ngirimin anak-anak kan,? oya Bi Taty mana,?" Naya mencari keberadaan Bi Taty yang sedari tadi tidak kelihatan.
"Oh makasih Bu, Bibi sedang di kamarnya sholat mungkin."
"Em.., gitu," Naya mau beranjak tampak Bi Taty menghampiri, "Bi ini gaji Bibi, sudah lama Bibi gak pulang, gak nengok anak cucu, kalau Bibi mau boleh lah Bibi pulang dulu hari ini," Naya menatap Bi Taty yang tersenyum dan menerima pemberian dari majikannya.
"Makasih Bu, iya sebenarnya Bibi sudah kangen.., banget sama cucu cuma Bibi gak berani minta ijin sebab Ibu kelihatannya sibuk, lagian di Rumah kasian Bibi Meri ngurusin baby," ujar Bi Taty yang duduk di sebelah Naya.
"Hem.., kenapa Bibi gak ngomong, lagian kan paling sebentar Bibi pulangnya," Naya mengusap punggung tangan wanita paruh baya itu.
"Sebenarnya Bibi nunggu waktu yang tepat," sembari memperlihatkan gigi yang masih utuh dan bersih.
"Ya sudah, boleh kok tapi jangan lama-lama juga," tukas Naya lagi, kemudian Naya naik mau bersih-bersih, sesaat kemudian Naya sampai di kamar, menghampiri baby twins, yang masih pulas bobo.
Naya bergegas ke kamar mandi bersih-bersih dan sebagainya, dua puluh menit kemudian Naya keluar dengan handuk mandi mengambil pakaian nya di lemari, lalu menyegerakan menunaikan kewajibannya sebagai muslim.
Oa..,oa..,oa.., baby twins bangun, namun nangisnya ada jeda gitu, Naya yang baru selesai mengucap salam menoleh, "Ya sayang sabar ya? Bunda beres-beres dulu," Naya melipat bekas sholatnya.
"Sudah bangun sayang hem haus ya,?" Naya memberikan asi pada keduanya.
Dia membelai rambut tipis keduanya, pipi yang gembul, Naya tatap penuh kasih sayang, "Dulu Bunda gak pernah membayangkan mempunyai keturunan, karena Bunda takut tidak bisa mampu menjaga dan mengurus nya, Bunda takut tak bisa mendidiknya, tapi setelah adanya kalian, Bunda akan berusaha untuk menjadi Ibu yang terbaik untuk kalian, Bantu Bunda sayang agar menjadi Ibu yang kuat, Bunda menyayangi kalian."
Tok..,tok..,tok.., terdengar suara ketukan pintu dari luar, "Siapa,?" pekik Naya.
"Bibi Bu, boleh Bibi masuk,?" suara Bi Taty dari balik pintu.
"Masuk," pekik Naya lagi.
Bibi masuk dan menutup kembali, menghampiri Naya dan baby twins nya, "Maaf Bibi ganggu, eh dan Arif dan Non kayla sedang mimi ya,?" suara Bibi lirih mengelus pipi gembul baby twins.
"Ada apa Bi,?" Naya menoleh dan menatap wajah wanita paruh baya itu.
__ADS_1
"Iya Bu, Bibi mau pamit, kalau bisa ijinkan Bibi nginap semalam saja," ucap Bibi sedikit memelas, sudah lama tidak bertemu keluarganya, yang biasanya sebulan sekali pulang sekarang sudah beberapa bulan tidak pulang kampung.
"Oh kalau semalam boleh Bi, rapi usahakan besok balik lagi ke sini, Bi Meri sendiri sama Rita aja, insya Allah kan besok aku mau ke rumah Mama, Pak Mad pasti di ajak juga," lirih Naya.
"Oh iya besok jadi ke sana.?"
"Jadi," Naya mengangguk pelan.
"Pak Mad di ajak,?" tanya Bibi.
"Iya, tapi.., kalau beliau pulang kampung juga untuk menjenguk dan mengirim uang, gak bisa dong," Naya sedikit.
"Terus giman dong Bu," tanya lagi Bibi sambil memasukan Kayla ke roda biar bermain di sana.
Gak tau gimana suami aku aja, oya tumben belum pulang ya,?" Naya melihat jarum jam yang menunjukan pukul satu lewat.
"Masih di jalan kali Bu, ari Bibi kumaha atuh neng,?" tanya Bibi menatap Naya.
"Oh mangga Bibi pulang, tapi pagi balik lagi," sahut Naya dan mengambil beberapa lembar uang dari sakunya, "Ini buat beli oleh-oleh."
"Jangan atuh neng, kan tadi sudah ngasih uang gaji," Bibi memandangi uang tersebut.
"Yang tadi uang gaji, sekarang mah lain, ini mah buat beli oleh-oleh di jalan, ambil atuh Bi pegel nih tangan," Naya nyengir.
"Aduh, bener ini teh buat Bibi,?" melirik uang dan melirik yang ngasih bergantian.
"Bukan," Naya dengan cepat, "Sok atuh diambil pegel ini tangan, kalau gak mau mah aku simpan lagi aja atuh ya," Naya berpura-pura mau simpan lagi namun Bibi Ambil sambil tertawa.
"Jangan atuh Bu, yang sudah du kasih mah jangan diambil lagi pamali," memasukan kedalam saku gamis nya.
Bi Taty akhirnya keluar kamar dan mau langsung pulang, sudah rindu sama keluarga di kampung, di bawah bercengkrama sebentar dengan Meri yang sedang menyetrika sambil mengasuh putrinya yang bermain.
Di jalanan sebuah mobil Dimas melaju menuju pulang, Dimas duduk bersandar merasakan lelahnya aktifitas hari ini di sebabkan memang tubuh belum benar-benar fit, mata Dimas memandangi jalan yang tidak terlalu ramai, "Motor saya gimana sudah siap di bawa pulang belum.?"
"Kemarin sih sedikit lagi, gak tahu kalau kabar hari ini," sahut Pak Mad sekilas melirik kaca spion yang dia tas kemudi.
Dimas mengangguk, "Oh, sudah lama di perbaiki nya masih juga belum selesai."
"Sabar saja Pak dokter, mungkin orang bengkelnya pada sibuk jadi loading."
Dimas menerima telepon dari seseorang, "Halo..,?"
"Oh masalah itu giman,? bagus beri pelajaran, beri tindakan atau efek jera agar tidak menjadi kebiasaan, saya ingin dia di hukum sesuai kesalahannya," ujar Dimas pada orang yang ada di ujung telepon tersebut.
"Jangan cuma mereka saja tapi juga dengan orang dalam nya sekalian jangan biarkan lolos, ya bagus Pak, dan saya ucapkan sangat-sangat banyak terimakasih atas bantuan anda, oke sampai jumpa nanti."
Dimas menutup telepon nya dan tersenyum puas, Pak Mad hanya melirik kerah majikan nya.
"Enak saja menipu istri saya, dia pikir usaha istri saya tidak pake modal apa? hem dasar pencuri otak udang," gumam Dimas sambil menyungging kan bibirnya.
"Terus gimana, sudah ketemu kah.?"
"Sudah, yang menjual juga yang membeli sama-sama salah, beri tindakan saja yang setimpal itu mau saya," Dimas manggut-manggut dengan bibir masih senyum miring.
__ADS_1
"Hem.., masih ada orang yang licik seperti itu ya," Pak Mad pun manggut-manggut.
"Kalau gak licik bukan penjahat Pak," Dimas tersenyum sambil melihat ke samping jalan dari jendela.
"Oh iya," menggaruk tengkuknya.
Selang beberapa waktu, mobil sampai di halaman Rumah, "Sepertinya mobil gak akan keluar lagi, jadi cuci saja buat besok ke Rumah orang tua saya," ucap Dimas sambil membuka pintu lalu turun.
"Baik," mengangguk dalam.
Dimas menghentikan langkahnya yang sudah beberapa langkah, "Oya, nanti sore tanyakan lagi perihal motor, siapa tahu sudah selesai terus bawa pulang, siapa tahu besok Pak Mad membutuhkan kendaraan, sementara mobil saya bawa, bukankah besok jadwal pulang kampung untuk menengok anak-anak,?" tukas Dimas menatap supirnya yang baru keluar dari mobil.
Pak Mad terdiam sesaat, "Iya nanti saya tanyakan," lagi-lagi mengangguk.
"Kau makan siang dulu sebelum nyuci mobil, sudah siang nih," sembari mengangkat tangan melihat jam yamg melingkar.
Lagi-lagi Pak Mad mengangguk dan masuk lewat belakang, sementara Dimas jalan depan berjalan gontai menaiki anak tangga, melihat Bi Taty sudah siap mau pergi, Dimas berdiri seraya berkata, "Bibi mau ke mana.?"
Bi Taty mendongak, "Oh Tuan Bibi mau pulang dulu sebentar sudah rindu sama keluarga, sudah di ijinkan kok sama Ibu."
"Hem.., mau nginap.?"
"Iya Tuan, semalam saja, karena ijin Ibu cuma semalam."
"Sudah di kasih uang gaji bulan ini,?" tanya Dimas lagi sambil mengernyitkan keningnya.
"Tentu sudah atuh Tuan, ya udah Bibi pamit ya, Assalamu'alaikum..?"
"Wa'alaikum salam.."
Dimas melanjutkan langkahnya yang tertunda, dia membuka pintu sambil mengucap salam tampak istrinya sedang bermain dengan baby twins.
Naya meraih tangan Dimas lalu menciumnya, "Baru pulang.?"
"Iya sayang, capek ih, aku mau mandi dulu ya,?" Dimas buru-buru masuk kamar mandi, kedua pasang mata baby mengikuti langkah Ayah nya sampai hilang di balik pintu.
"Hem.., kangen sama Ayah ya,? sabar ya sayang.., Ayah nya bersih-bersih dulu," Naya berdiri mengambilkan pakaian ganti dan menuangkan air minum buat suaminya nanti.
Selang beberapa menit Dimas kembali dengan handik melilit di pinggang nya, rambut basah sesekali menetes ke lantai, "Rambut nya di keringkan dulu napa, basah ke lantai yang," Naya menunjuk lantai yang kena tetesan air dari rambut Dimas.
Dimas menoleh sambil nyengir, "Nanti Ayah keringkan, tenang saja," mengambil pakain nya.
"Hem..," gumam Naya.
"Ada kabar baik loh buat Bunda," sambil memasukan kaos ke tubuhnya.
"Kabar apa,?" Naya menaikan alisnya penasaran.
"Apa lagi kalau bukan tentang masalah Bunda, nanti yang aku ceritanya mau sholat dulu oke,?" Dimas bergegas memakai sarung untuk menunaikan sholatnya.
Naya berpikir keras, apa yang Dimas maksudkan, tentang masalah itu, "Wah jangan-jangan Lisa dalam bahaya? kalau benar kasian dia," Naya menyangga dagunya lesu.
"Ini minum dulu yang," Naya menyodorkan segelas air putih setelah Dimas duduk di dekatnya, Dimas pun langsung meneguknya sampai tandas.
__ADS_1
****
Bagi reader yang selalu mengikuti novel ini aku ucapkan terimakasih banyak, dan mohon maaf yang sebesar-besarnya bila ada kata yang tidak berkenan, tidak sesuai dengan cerita semata-mata atas kekurangan penulis yang baru belajar menulis, doa terbaik aku panjatkan untuk kalian semua reader 'ku love love love ♥️♥️