Bukan Mauku

Bukan Mauku
Mau pulang


__ADS_3

Setelah menemukan tempat yang cocok, ketiganya turun dan memesan buat sarapan, meski pun repot Dimas dan Naya tetap memakan sarapannya, bukan gak kasian Dery melihat mereka makan sambil menggendong baby namun harus gimana dia juga lapar, lagian masa harus pegang dua sekaligus kan repot.


Baby Arif merengek dan meronta entah maunya apa, kebetulan Dery sudah selesai makannya, dia mengambil Arif dari tangan Naya.


"Aduh, makasih ya Om,? kebetulan tangan aku pegal sekali nih," ucap Naya sambil mengibaskan tangannya, lalu mengambil minum dan di teguk nya.


"Sama-sama," sambil menjauh mengajak Arif bermain melihat-lihat suasana sekitar.


"Yang.?"


"Hem," gumam Dimas sambil melirik.


"Pulang yuk,?" menatap sang suami lekat.


"Pulang,?" Dimas membalas tatapan istrinya.


"Iya, pulang," jelas Naya, ia merasa tak nyaman bila lama-lama tinggal di tempat mertuanya.


"Sayang, sabar ya, kan besok syukuran yang dipersiapkan sama orang tua kita, masa kata pulang hari ini, terus buat apa mereka mengadakan syukuran,? kalau kitanya gak ada."


Naya terdiam dan mengambil Kayla dari Pangkuan Dimas.


"Sabar lah dulu sayang, sampai syukuran nya selesai ya,?" mengusap kepala Naya lembut, Dimas pun mengerti ketidak nyamanan istrinya.


Naya tersenyum dingin lalu menunduk, melirik Arif yang sangat tenang di pangkuan Dery, "Ya udah, kita pulang, sudah siang nih," Naya berdiri.


Dimas pun beranjak menggeser kursinya, kemudian membayar yang sudah dimakan.


Mobil melaju pelan, kini yang nyetir gantian Dimas, Naya dibelakang berasa Kayla, Dery duduk di depan, sesampainya di tempat orang tua Dimas, mereka berbaur bersama orang setempat.


Namun Naya di atas menunggui baby nya yang tidur sambil memantau kedua usahanya, Zidan menghubungi Naya bahwa membutuhkan saldo lebih besar.


Naya pun isikan, sesuai permintaan Zidan, sekalian Naya meminta laporan hari kemarin.


Tok.., tok.., tok.., suara pintu yang di ketuk dari luar, "Iya.., siapa.?"


"Tante, boleh masuk? Tante Lia."


"Oh.., boleh, masuk aja Tante," sahut Naya setelah tahu itu Tante Lia.


Pintu pun terbuka, tampak Tante Lia masuk membawa makanan, "Ini Tante bawakan makanan khas daerah sini, dan Tante sendiri yang buat loh, cicipi deh pasti suka," Tante Lia duduk dekat Naya di sofa panjang.


Naya mengembangkan senyumnya, "Kue apa Tante,? kok repot-repot sih Tante."


"Ini Tante bikin kan khusus buat kamu, kue bingke dan pisang goreng srikaya, pasti suka deh," menyodorkan pada Naya.


"Em.., Naya cicipi ya Tante," Naya mengambil salah satu kue yang Tante Lia sodorkan.


"Iya dong, dimakan, kan Tante bawakan buat kamu," Tante tersenyum senang ia merasa sayang sama Naya dari sejak bertemu kemarin.


"Em.., enak banget Tante beneran, ini kue bingke ya namanya," jelas Naya.


"Iya, coba pisang goreng srikaya nya dimakan," nampak bahagia melihat Naya memakan kue bawaannya.


"Di coba ya,?" Naya memasukan pisang goreng srikaya ke mulutnya, "MasyaAllah enak sekali, aku suka semuanya Tante, makasih ya? Tante baik banget," Naya menatap dengan raut wajah yang sangat ramah, tangannya menyentuh tangan Tante Lia.


"Kau baik, ramah, cantik, beruntung Dimas dapatkan kamu," mengusap kepala Naya lembut.

__ADS_1


"Ah biasa aja Tante, jangan menyanjung 'ku seperti itu, nanti aku besar kepala Tante, oya semalam Tante pulang ke rumah Tante kah,?" tanya Naya dengan senyuman yang manis nya.


"Oh iya Tante semalam pulang, putra Tante baru pulang dari Bandung, jadi Tante pulang," timpal Tante Lia.


"Oh gitu, dari Bandung kuliah atau-!"


"Dia kerja di Bandung, sekarang lagi ngambil cuti kan, jadi dia pulang dulu," tambah Tante Lia.


"Em.., gitu."


"Kamu, kapan mau ke tempat Tante,? Tante tunggu loh," tanya Tante Lia lagi.


"Nanti kapan-kapan lah, oya Tante adik Mama asli bukan,?" ucap Naya sambil menutup laptopnya.


"Iya asli, beliau Kakak Tante," jelas Tante Lia kembali.


"Oh..," Naya menoleh si kecil yang bangun, lalu Naya berdiri menghampirinya.


Tante Lia memperhatikan cara Naya berjalan yang tidak normal seperti kebanyakan orang normal lainnya, tiba-tiba merasa getir kasihan juga.


Tante Lia pun menyusul Naya ke tempat tidur, sebab Baby twins bangun, "Kau tidak kerepotan mengurus mereka Naya.?"


Naya menoleh, "Iya Tante, tapi kan ada yang membantu aku, seperti asisten rumah, kemarin-kemarin Mama juga, malahan akhir-akhir ini aku tinggalin mereka sama Bibi, sebab aku ke butik dan konter, memang tidak setiap hari juga sih," ujar Naya sambil menggendong si kecil.


"Oh kamu buka butik,?" tanya Tante Lia antusias.


"Iya Tante, juga konter, kecil-kecilan tapi, oya Tante mau gak baju untuk ke acara gitu, bahan batik Kalimantan dan Sunda, kalau mau nanti aku kirimkan buat Tante."


"Iya kah, suka, emang berapa harganya,?" Tante Lia menatap Naya.


"Beneran,? mau ngasih," Tante Lia ragu.


"Beneran, ini Sempel nya Tante suka yang mana tinggal tunjuk saja, nanti aku suruh pegawai 'ku untuk mengirimnya ke alamat Tante langsung.


"Oya, aduh makasih sayang.., makasih," Tante Lia memeluk Naya dengan penuh kehangatan.


"Sama-sama Tante."


"Kamu tidak melihat atau merayakan acara di bawah sana,?" tanya wanita yang usianya di bawah Mama mertua toh adik nya, namun penampilan nya lebih bersahaja berwibawa dan tutur katanya pun berbeda.


"Tidak, kasian mereka Arif dan Kayla terlalu ramai dan tadi kan bobo, jadi aku tungguin," Naya senyum tipis.


"Kue nya di habiskan, sayang mubazir, Tante sudah khusus buatkan loh."


"Iya Nanti Tante 'ku habiskan, oya Tante juga gak ikutan lomba-lomba,? tanya Naya kembali.


"Sudah tua, capek Nay."


"He..,he..,he.., iya istirahat saja, lihat saja ya,?" ucap Naya lagi.


keduanya terus berbincang sangat akrab, seperti sudah lama kenal sembari mengasuh baby twins, sesekali obrolan mereka menghasilkan tawa yang renyah, apa saja jadi bahan obrolan untuk mereka.


"Saya akan bahagia sekali jika mendapat menantu seperti kamu," lirih Tante Lia.


Naya menoleh, dan akan berkata namun Tante Lia sudah membuka suara kembali.


"Putra saya usianya hampir sama dengan Abang, namun sampai sekarang belum menemukan jodoh," ucapnya dengan nada sedih.

__ADS_1


"Em.., mungkin dia juga punya kekasih, cuman belum siap menikah saja atau ya..mungkin ada sesuatu hal yang jadi penyebabnya Tante," bujuk Naya.


"Nggak tau juga, Tante ingin.., sekali menimbang cucu, tapi ya begitulah," menghela napas panjang dan berat.


"Sabar aja Tante, nanti juga Tante pasti mendapatkan yang Tante mau," Naya menarik sudut bibirnya.


"Gimana Tante gak sedih, putra Tante satu-satunya dia."


Naya mengelus bahu Tante Lia, "Sabar ya Tante," Naya tersenyum getir jadinya melihat wajah sedih Tante Lia, "Jangan sedih Tante, kan ada aku, Abang juga baby twins ini, bukankah cucu Tante juga.?"


Tante Lia tersenyum mendengar ucapan Naya barusan seolah menghibur hatinya yang gundah dan sedih, akhirnya dia tersenyum, "Terimakasih ya Naya."


Naya tersenyum dan mengangguk pelan, "Ya sudah kita turun yuk, biar si kecil Tante yang bawa turun, yuk turun,?" menggendong keduanya, menunggu Naya yang merapikan diri sebentar.


Mereka berjalan beriringan menuruni anak tangga, namun Di tangga bertemu Dimas mau ke kamar menemui sang istri.


"Oh Tante sama istri Abang rupanya, mau kemana,?" tanya Dimas menatap keduanya.


"Iya dari tadi juga Tante sama Naya di atas, sekarang mau keluar melihat acara, Abang mau kemana juga,?" sahut Tante Lia.


"Abang mau ketemu istri dan anak Abang lah Tante," jelas Dimas nyengir.


"Ini sudah ketemu, mau apa,?" tanya Naya menatap sang suami.


"Gak boleh kah sayang,?" mencolek dagu sang istri, "Masa ngobrol di tangga sih, ke dalam dulu yuk,?" tangan Dimas menggenggam pergelangan Naya.


"Kalau gitu, Tante bawa cucu Tante ke bawah ya, kalian kalau mau berduaan silahkan, biar anak-anak Tante yang bawa."


"Makasih Tante, sayang.., Bundanya Ayah culik dulu ya,?" mengecup kening kedua buah hatinya.


Tante Lia membawa mereka ke bawah, sementara Dimas menuntun Naya naik kembali dan di bawanya ke dalam kamar, jepret pintu di kunci.


"Ada apa sih yang,?" tanya Naya setelah duduk di sofa panjang.


Dimas pun duduk di samping Naya, "Nggak, cuman kangen dan pengen ngobrol saja," merangkul bahunya sang istri.


"Ish..,ish..,ish 'kira ada apa,? lebay ah, aku mau nonton, ramai gak.?"


"Ramai," mencium pipi sang istri lembut, bergeser ke bibir dan lama di sana, hembusan napas terdengar dan menyapu kulit wajah Naya, tiada yang bersuara atau pun kata selain hembusan napas.


Desiran yang menjalar keseluruh tubuh membuat aliran darah semakin menghangat panas, tangan Dimas pun mulai aktif tak mau diam terus menjamah ke mana-mana, penutup kepala Naya terjatuh, kancing terbuka sebagian.


Beberapa saat keduanya menikmati aktifitas itu namun tidak ke intinya sebab Naya lagi M, kebetulan naluri Dimas masih berjalan baik, karena kalau saja akal sehatnya tidak berpungsi dengan baik, bisa saja di langgar nya asal sudah mulai hampir selesai, begitulah kalau hasratnya lagi menggebu.


Setelah beberapa saat setengah bertempur, peluh pun bercucuran dari badan Dimas, akhirnya berakhir juga dengan napas yang ngos-ngosan seperti habis berlari maraton, Dimas menjatuhkan tubuhnya di sofa, tak ayal tubuh Naya pun di bawanya dalam pelukan, "Huuh..," sambil membuang napas seraya berkata, "Coba sayang gak halangan pasti lebih nikmat sayang," bisik Dimas ditelinga Naya.


Naya mendongak dengan tatapan sendu sayu merayu, menenggelamkan wajahnya di dada bidang sang suami, betapa nyamannya.


Tok..,tok..,tok.., pintu di ketuk berulang-ulang, membuat Dimas dan Naya saling tatap dan bangun dari baringan nya, "Siapa yang,?" Naya pelan dan segera merapikan pakaiannya dan mengambil kerudung yang tadi terjatuh.


"Nggak tau," dangan santainya, mengecup pipi sang istri rasa belum puas mencumbunya kali ini, mungkin karena suasana dan tempat yang berbeda.


****


Apa kabar semuanya...,? terimakasih masih mengikuti novel recehan ini, semoga Tuhan membalas akan kebaikan kalian, terimakasih yang telah memberikan lake, komen, tapi vot nya mana nih,? hehehe bercanda ! aku gak akan memaksa kalian kok cukup seikhlasnya saja.


NB.... mampir juga di karya aku yang satu lagi ya di SKM ''Surat Kontrak Menikah''semoga berkenan🙏

__ADS_1


__ADS_2