
Naya membalas, meminta dirinya untuk segera pulang, kalau hujan sudah reda, lalu memberi sun jauh, gambar merindu, membuat Dimas tersenyum sendiri dan semakin rindu untuk pulang.
Akhirnya hujan mulai mereda, Dimas pamit pada anak buahnya, setelah mengenakan helm dan jas hujan Dimas melajukan motor menyusuri jalanan yang di bawah rintik nya air hujan.
****
Dari jauh terdengar sahutan suara adzan ashar, Naya mengerjapkan matanya, dengan samar melihat jam yang ada di dinding, "Hem.., sudah sore," kemudian perlahan bangun turun menapakkan kakinya ke lantai, berjalan dengan tujuan kamar mandi, mata masih seppet alias ngantuk berat namun harus di kesampingkan dulu mengingat sudah ashar.
Setelah mengisi bathub memberi aroma terapi, Naya berendam untuk beberapa saat.
Akhirnya mandi dan sholat pun selesai, ia mengecek ponsel yang ada banyak panggilan dari suaminya, dan banyak chat juga, karena suami lebih penting, ia langsung nge chat suaminya.
Kemudian Naya menuruni tangga, pandangannya mengedar ke setiap sudut ruang, terlihat ada anak kecil lari-lari, "Rita..,kapan datang.?"
"Tante, dari mana? Rita dari tadi di sini tante tidak ada," bocah itu nyamperin dengan riang nya.
Naya mengusap kepala dan mencubit pipi bocah itu, "Tante bobo sayang."
Pak Mad dan istri nyamperin Kanaya dan mengangguk dengan hormat, Apa kabar Bu.?
"Baik bi Meri, pak Mad, aku senang kalian sudah datang, dari kapan,?" Naya menatap pak Mad dan istri bergantian.
"Sekitar satu jam tadi Bu, kami tidak ingin menggangu istirahat Ibu, yang Bi Taty bilang sedang beristirahat," sahut pak Mad.
Mereka duduk di sofa ruang televisi, "Iya pak Mad, 'ku baru bangun, apa kalian sudah tau kamar buat kalian.?"
"Sudah, bi Taty sudah menunjukkan kepada kami," sahut bi Meri lalu melengos ke dapur untuk membantu bi Taty memasak.
Suara bel berbunyi pertanda ada tamu yang datang, pak Mad lantas membukakan pintu, rupanya dokter Aldo baru datang untuk terapi.
"Assalamu'alaikum.., sore,?" ucap dokter Aldo sembari tersenyum ramah.
"Wa'alaikum salam dok, silahkan duduk," Naya menyatukan tangan di dada dan memperilahkan duduk pada tamunya.
Aldo duduk di depan Kanaya, melirik pak Mad yang ngeloyor ke dapur setelah menutup pintu, "Siapa dia,? baru saya lihat kali ini."
"Oh, beliau yang menemani kami selama di luar daerah, dan mulai sekarang dia akan tinggal disini bersama kami," Jelas Kanaya semabari menunduk.
"Iya kah"
Naya menoleh bi Meri yang membawakan air minum untuk mereka, "Ini istrinya."
Dokter tampan ini mengagguk, "Semoga betah di sini,?" yang di balas hanya dengan senyuman..
"Dimas belum pulang kah.?"
"Belum katanya malam pulang nya," sahut Naya, hatinya merasa gak enak mau terapi gak ada yang nemenin.
"Gimana nih,? gak ada yang nemenin, masa terapi berdua aja," gumam Naya sembari berpikir.
Akhirnya Naya memutuskan untuk memanggil bi Taty untuk menemani nya, "Bi.., bi Taty.?"
Bi Taty langsung nyamperin majikannya, "Iya Bu aya naon,?" dengan logat sundanya.
"Em.., punten rencangan abdi di didie, biar yang masak bi Meri aja," perintah majikannya.
"Oh.., mangga, Bibi bade ka pengker heula sakedap Bu," membalikkan badan ke belakang menemui bi Meri.
Aldo hanya bengong sembari senyum tipis, kurang ngerti dengan bahasa yang bi Taty dan Naya ucapkan, ia menggeleng-geleng pelan dan meminum air minum yang di suguhkan.
__ADS_1
Tidak lama wanita paruh baya itu datang lagi dan duduk di sofa, "Sudah, Bibi siap menemani Ibu di sini," ujar bi Taty sambil memperlihatkan giginya.
"Makasih Bi, mulai aja dok," Kanaya melirik sekilas dokter Aldo, yang masih mengenakan sarung tangannya.
Dalam pikiran Aldo, "Wanita ini benar-benar menjaga diri dari pitnah sehingga tidak ingin berdua dengan pria selain suaminya, ck ck semakin membuat 'ku kagum."
"Dok..,dokter Aldo,?" panggil Naya sambil mengibaskan tangan, melihat Aldo bengong tatapannya kosong namun bibirnya terlukis senyuman.
"Oh sorry," Aldo mengedipkan matanya sembari tersenyum.
Aldo memulai terapi kaki Naya yang sekarang sudah banyak perubahan, sudah berangsur kuat berjalan, tidak terlalu cepat capek dan tidak terlalu lemah, "Oya, yang nungguin konter siapa,?" tanya Aldo di sela memijat kaki Kanaya.
"Aku, tapi.. sepertinya 'ku butuh orang untuk menggantikan 'ku di sana," sahut Naya sedikit meringis.
"Oh maaf," jelas Aldo setelah melihat Naya meringin dan menurunkan ritme pijatannya, "Bukan kah kemarin ada seorang gadis yang di ajak kerja disini.?"
"Iya, tapi itu untuk menjahit jadi asisten 'ku di bidang pakaian, dan 'ku merasa kelelahan jika harus 'ku hendel keduanya, maklumlah gak ada bakat he..,he..,he..."
"Saya rasa bukan karena gak ada bakat justru kau ada bakat dan kemauan yang besar untuk itu, cuma..,n kondisi tubuhmu kurang memungkinkan, itu aja," ujar Aldo dengan senyumannya.
"Iya sih mungkin juga dok."
Keduanya mengobrol begitu akrab, dan saling suport satu sama lain, bi Taty masih setia menemani sambil menonton televisi, sesekali menoleh keduanya apa yang mereka obrolkan bi Taty mendengarnya.
"Oya, besok lusa saya ada undangan, apa tersedia batik buat kondangan,? yang sekiranya cocok di badan saya."
"Ada, cuman cocok dan nggak nya terserah konsumen sih," sahut Kanaya, "Lagian kalau masih ada waktu 'ku bisa buatkan kok, eh.., emangnya dokter tau pakaian yang aku buat apa,?" Naya merasa penasaran.
"Hahaha..., masa gak tau, tau dong, nanti saya akan lihat-lihat boleh,?" sambung Aldo.
Naya mengangguk, "Tentu"
"Eh.., nak Aldo apa kabar,?" tiba-tiba suara bu Hesa nimrung, beliau baru datang dari rumahnya, di ikuti oleh suaminya dari belakang.
"Mama baru pulang,?" Naya menyambut dengan senyum kecil.
"Iya, oh tante dari rumah, lama gak di tengok," bu Hesa menatap Aldo dan Naya bergantian.
"Om sehat,?" Aldo mengangguk hormat.
"Sehat, seperti yang kau lihat," jawab Bapak nya Dimas.
Bu Hesa celingukan mencari keberadaan Dimas, "Tumben di sini,? biasanya suka di atas, Putra saya mana, tidak kelihatan."
"Dimas ke perkebunan dulu Ma, ada urusan, mungkin malam pulangnya," sahut Kanaya lirih.
Dengan pandangan mata yang sinis, "Kalau putra saya tidak ada, kenapa kalian berdua saja-!"
"Tidak-tidak berdua loh Ma, kan di temani Bibi," ucap Naya memotong perkataan bu Hesa.
"Bibi kenapa di sini, emangnya gak masak,?" tanya bu Hesa pada bi Taty yang duduk santai.
Bi Taty sudah mulutnya sudah menganga siap menjawab namun di dahului Naya, "Aku yang nyuruh tamani aku, dan yang masak ada bi Meri."
Wanita paruh baya itu mengerutkan keningnya, "Siapa Meri itu,?" tanya bu Hesa penasaran.
"Em..,dia yang menjaga 'ku ketika kami di luar daerah itu loh Ma, Pak, mulai sekarang mereka akan tinggal bersama kita,"jelas Naya menatap kedua mertuanya.
"Oh bagus lah jadi di sini bertambah penghuninya," bapak mertua manggut-manggut.
__ADS_1
"Tapi.., kan harus di gaji, bukan cuma-cuma," kata bu Hesa mendelik pada suaminya.
"Ya tak apa, itung-itung kita membantu mereka yang membutuhkan Ma," sambar Naya sembari tersenyum.
"Bener tu Naya," bapak mertua menunjuk Naya.
"Pemborosan," ketus bu Hesa sambil membuang muka.
Sepanjang terapi mereka berbincang, ke sana kemari, Naya merasa tenang di temani banyak orang, dan di luar air hujan mulai turun begitu deras ibarat air yang di tumpahkan saking derasnya.
"Lahamdulillah hujan, tapi...,kasian suami 'ku nanti pulang ujan-ujanan, atau jalannya licin, ya Allah jaga dan lindungi suami 'ku, Aamiin," mengusap wajah dengan kedua telapak tangannya, hati cemas akan suaminya tercinta, ia menatapi air hujan melalui jendela.
"Sudah magrib, untuk kali ini udah dulu lah," ucap Aldo sembari menarik sapu tangannya.
"Ok, terimakasih dok," Naya pun beranjak berjalan menaiki tangga, meninggalkan mereka di ruang televisi.
Aldo menatap langkah Naya yang berjalan gontai menaiki tangga, di pandanginya sampai Kanaya menghilang.
Naya menutup pintu, lalu mengambil air wudu, selepas sholat ada notif ke ponselnya ternyata pesan dari suaminya, Naya mesem-mesem sendiri.
Kemudian ia ke ruangan kerjanya Lisa, kebetulan hari ini belum ia chek kerjaannya, Naya baru mau buka pintu, Aldo nyamperin.
"Saya mau lihat-lihat kemeja, boleh.?"
"Tentu, silahkan masuk," sembari membukakan pintu, nampak Lisa tengah menjahit, dan menoleh ke arah Naya dan Aldo dengan senyuman terbaiknya.
Naya mengambil sebuah batik, dan di berikan pada Aldo, "Mungkin ini pas di badan anda dokter."
Aldo mengambil dan mencobanya, memang benar ukurannya pas buat dirinya, motifnya pun bagus cocok buat Aldo, menambah ketampanannya.
Naya mencoba merapikan belakang dan kerahnya, "Ganteng, gimana suka gak.? apa mau motif lain," Naya melirik Lisa, "Lis.., tolong ambilkan motif lain.?"
"Kalau kamu suka saya juga pasti suka," ucap Aldo asal.
Naya menatap kearah Aldo, "Apa,?"
"Ah.., sorry, maksud saya suka, saya akan ambil ini," sedikit gugup dan memalingkan pandangan ke Lisa yang mengambilkan motif lain.
"Oh"
"Jadi gak yang ini,? Lisa menatap datar kearah Naya.
Naya melirik Aldo, Aldo mengerti dan berkata, "Saya suka yang ini, saya ambil ini aja kok," sembari membuka dan di serahkan pada Naya, dan Naya menyuruh Lisa mengemasnya.
"Lisa, yang itu gak jadi, ini aja kemas yang rapi ya,?" perintah Naya.
"Baik Bu."
"Berapa,?" tanya Aldo pada Naya.
"Em.., kali ini gratis dok, dokter sudah banyak membantu 'ku, jadi kali ini aku gratiskan buat dokter, semoga suka."
Aldo menatap Naya sangat lekat, "Sungguh,? apa kau tidak akan rugi."
"InsyaAllah tidak, ambilah."
Senyum merekah menghiasi bibir Kanaya menandakan rasa ikhlas dari hatinya, Aldo pun melukis senyuman di bibirnya.
,,,,
__ADS_1
Terimakasih reader 'ku, sampai saat ini masih mengikuti cerita ini, dan semoga kabar kalian selalu berada dalam lindungan Allah yang maha kuasa, Aamiin..,
Mana dong komentar nya,? bila suka dengan cerita Dimas&Naya ini🙏 agar author tambah semangat, bantu author dong..,!!