
Naya tersenyum tipis melihat tingkah laku suaminya, "Yang.., kenapa.?" dia membalikkan kepalanya. "Kenapa apanya.?" seusai mencuci piring Dimas mengangkat tubuh mungil, tapi sangat berisi oleh lemak itu, ke dalam kamar pribadinya, Naya mengulum senyumnya, membenamkan wajah di dada suaminya.
"Buka pintunya yang.?" Pinta Dimas berdiri depan pintu, dengan tangan Naya membuka pintu.
Klik.., pintu terbuka, dan di tutup dengan kaki Dimas, sampai timbul suara bruk.., Dimas menidurkan Naya di atas kasur, membuka kerudung yang di kenakan Naya. "Yang.. aku mau ke kamar mandi, belum sholat dzuhur kan.? sholat dulu yuk.?" tapi.., Dimas malah mengungkung tubuh Naya. "Nanti yang sebentar.?"
Ia mendekatkan wajahnya dengan wajah Naya, jantung Naya sudah mulai tak beraturan, berdebar bukan main. "Yang.., kan mau belanja, nanti ke sorean.?" lirih.
Dimas tak menjawab dia tetap melancarkan aksinya, me***** milik sang istri, tangan sang istri menempel di dada suami hingga memberi jarak diantara mereka, Beberapa saat saling menikmati adegan tersebut sampai deru napas pun sudah tak beraturan lagi.
Naya sadar kalau ini di lanjutkan, akan sangat memakan waktu yang cukup lama, itu yang setahu Naya, akan hasrat suaminya. "Yang, sudah, nanti ke bablasan sayang, kita belum sholat dan sayang mau belanja, aku kan mau masak buat makan malam, nanti keburu mereka pulang." dengan lembutnya, Naya mengusap bibir Dimas yang basah, dan dia masih di atas tubuh Naya menatap dengan tatapan nanar.
Baginya menyentuh sang istri merupakan candu yang begitu memabukkan ketimbang minuman arak yang dulu pernah ia teguk, hasratnya sudah memuncak di ubun-ubun, adik kecilnya sudah meronta-ronta ingin keluar, namun Dimas tak tega mendengar perkataan istrinya, ia bergelinjang duduk di tepi tempat tidur.
Naya melihat kecewa di raut wajah sang suami, bukannya tega, tapi toh masih banyak waktu, nanti malam pun bisa, pikirnya, Naya bangun memeluk Dimas dari belakang, menempelkan wajahnya ke punggung Dimas. "Sayang, jangan cemberut, jangan marah ya.? kan masih banyak waktu, aku janji akan menuruti dirimu, nanti malam aja ya.?" dengan lembutnya dan mencium punggung sang suami yang masih terdiam, Naya mengusap dada Dimas. "Jangan marah." berbisik.
Perlahan Dimas melepas pelukan sang istri, beranjak masuk ke kamar mandi tuk bersih-bersih sekaligus menenangkan adik kecil miliknya dengan air dingin, meninggalkan Naya yang merasa sedih menyesali penolakan dirinya, membuat tak terasa ada buliran bening di sudut matanya, ada rasa sakit yang baru kali ini ia rasakan, melihat sikap dingin sang suami, di karenakan ulahnya, Naya segera menyeka dengan jari-jari tangan agar air matanya tak berkelanjutan.
Sekitar lima belas menit kemudian, Dimas keluar dari kamar mandi, berjalan mendekati lemari mengambil baju kaus dan celana pendek, tak lupa dengan **********, setelah Dimas keluar dari kamar mandi, Naya masuk juga tuk bersih-bersih, apa lagi belum sholat.
Usai mengenakan pakaian, Dimas meraih ponsel, dompet, kunci motor, yang berada di atas meja, dan motor tersebut sebelum Dimas sampai dari tempat Naya, sudah di antar Sandy ke rumah tersebut, hingga Dimas sampai rumah, motor kesayangan Dimas sudah siap di garasi yang sebelumnya kosong, mengingat rumah tersebut jang di huni, hanya sekali-kali saja di bersihin.
Dimas sudah berada di atas motornya tak lupa memakai helm, ia melajukan motor dengan kecepatan sedang, tanpa pamit dulu kepada Naya istrinya,
Naya baru keluar dari bersih-bersih, setelah mengenakan baju, langsung mengenakan mukena menghamparkan sejadah lalu sholat, sholat selesai ia baru ingat suaminya tak ada entah kemana, "Apa sudah berangkat belanja.? kok gak pamit dulu sih.? tak bertanya juga apa yang ingin aku beli, apa dia masih marah.? aku minta maaf yang.?" hik..hik..hik..,Naya menangis tersedu, merasa sakit di ulu hati, dengan sikap sang suami,
Beberapa saat Naya menangis, membuat matanya sembab, tangisan penyesalan, yang takningin ia ulangi, kalau bisa, kemudian beranjak, perlahan berjalan mendekati dapur, biar duduk di sana dan menunggu suaminya pulang.
Satu jam kemudian, Dimas pulang dangan belanjaan yang banyak, kemudian menaruhnya di meja makan dan membereskannya, Naya terdiam melihat belanjaan yang begitu banyak, tak ketinggalan bumbu-bumbu yang sangat lengkap, dan Dimas tata di lemari pendingin.
__ADS_1
"Mau mask apa sekarang yang.?" tanya Dimas memecah keheningan, mengusir ke canggung-ngan yang tiba-tiba hadir di antara mereka berdua.
Naya menggeleng pelan. "Masak apa.? aku bingung." dengan suara seraknya, Dimas menoleh menatap intens wajah sang istri matanya sembab seperti habis menangis, Dimas berdiri berjalan mendekati Naya yang tengah duduk tersebut.
Dimas menyentuh wajah istrinya, menatap kedua matanya, Naya mencoba menghindari tatapan sang suami. "Kenapa mata sayang sembab.? tidak ada apa-apa kan di rumah.?" Dimas belum menyadari apa sebab Naya menangis, dan Naya hanya menggeleng.
"Sayang jatuh kah.?" tatapan Dimas semakin intens, lagi lagi Naya menggeleng, Dimas bingung dengan sikap sang istri, Naya kembali meneteskan air matanya hatinya masih rapuh, Dimas melihat itu semakin merasa bingung, "Kenapa yang.? kenapa diam saja.? jangan buat aku bingung.
Naya memeluk Dimas, membenamkan wajah di dada suaminya dan menangis tersedu di situ, Dimas terheran-heran di buatnya, "Sudah sayang jangan menangis, mata sayang sembab tuh." Dimas membelai kepala Naya lembut penuh kasih.
Setelah merasa cukup puas dengan tangisnya Naya berkata walaupun terbata-bata."Yang maafkan aku ya.? aku tak bermaksud kamu marah, dan aku tak ingin membuat kamu kesal padaku, hik..hik.hik.." Naya mendongakkan kepalanya sesaat lalu membenamkan kembali ke tempat semula, Dimas baru sadar akan kejadian tadi yang membuat ia merasa kecewa, kesal, dongkol, menerima penolakan dari sang istri, sampai saat ini pun masih terasa menyesak di dada.
Dimas tersenyum tipis, ia pun tak menyangka Naya akan menangis seperti itu hanya kerena ia marah, di balik kedewasaan Naya ada sisi di mana ia sosok manja, dan haus kasih sayang.
"Aku yang seharusnya minta maaf sayang,? telah membuat dirimu menangis," Dimas menangkupkan kedua tangan di pipi gembul sang istri, memandang manik mata hitamnya. "Jangan menangis lagi yang, nanti matanya besar-besar, nanti bunda sakit kepala, aku tak ingin bunda sakit yang..!"
Dimas mengangguk meyakinkan, "Iya sayang.., aku gak marah lagi kok, aku juga minta maaf telah membuat sayang menangis." cup.., cup.., Dimas mencium kening istrinya lama, membuat Naya memejamkan mata.
"Terimakasih yang.?" Naya membuka matanya, dan melepas pelukan, ia bersiap untuk memasak. "Aku masak dulu ya.? apa mereka Mamak mau balik lagi sore ini.?"
"Em..mungkin iya.?" jawab Dimas mengerenyitkan keningnya.
"Kalo gitu, harus masak banyak kan.?" tatapannya lekat.
"Bisa jadi." sahut Dimas sambil manaikan bahu.
"Ok, aku akan masak lebih banyak, tapi terserah aku mau masak apa kan.?" sambung Naya lagi.
"Terserah kamu sayang, aku pasti makan kok." Dimas memainkan matanya, "Aku bantuin ya.?" sambil menyelesaikan tugas yang tadi tertunda.
__ADS_1
"Kalau sudah beres-beres, kamu istirahat aja, biar aku sendiri aja yang memasak," tanpa menoleh Dimas.
"Nggak perlu bantuan kah.?" alisnya terangkat.
Naya tersenyum samar, "Kalau aku butuh sesuatu, aku pasti panggil kan sayang,"
"Ya sudah aku mau ke kamar dulu ya.? hati-hati, kalau ada apa-apa panggil aku, ok sayang.?" mencium kepala sang istri sembari berjalan meninggalkan ruangan tersebut.
Berselang jam Naya berkutat dengan masakan, hinga akhirnya selesai, semua sudah siap di meja tinggal menatanya saja dengan rapi, abis mencuci perarabotan, langsung menata masakan di meja, merasa cukup tertata Naya melihat waktu di layar ponselnya.
"Sebentar lagi magrib, ya ampun.., gelapnya ini ruangan, Dimas mana sih lampu belum pada di nyalahin." Gumam Naya.
Tring..
Tring.. lampu menyala di setiap ruangan, Naya menoleh ke arah yang berjalan menghampirinya.
"Hem.., sudah siap santap nih, wanginya..?" Dimas mengamati masakan yang sudah tertata di meja.
"Sudah.!" jawab Naya. "Aku kira sayang tidur.?"
"Tidak tadi aku mengerjakan sesuatu di laptop." sahut Dimas. sembari mengambil minum dari dispenser.
"Oh," Naya membulatkan mulutnya, Dimas menyimpan gelas dekat dispenser. "Yang bentar lagi magrib." menoleh kearah sang istri ternyata sudah tidak ada di tempat, ia menggeleng dan menarik sudut bibir tersenyum.
Dimas menaiki anak tangga untuk menyalakan lampu yang di lantai dua.
,,,,
Jangan lupa lake, komen, dll, reader ku, makasih ya.? sudah mampir di karya aku ini. yuk saling mendukung ,🙏
__ADS_1