
Dan semua yang mendengar, saling pandang, mereka menahan tawa, tak ingin menyinggung hati Bu Hesa, namun cerita Maria membuat Bu Hesa malu, "Dasar kau Maria," Bu Hesa beranjak dan pergi entah kemana, semua menjadi bingung melihat Bu Hesa seperti itu.
Naya menjadi tertegun dan melihat Dimas, "Yang kita sholat dulu yu.?"
Dimas mengangguk dan berdiri membopong Naya ke kamar, Maria ke dapur membawa piring kotor bekas kue, dan Bapak Dimas mencari keberadaan sang istri.
Dery di antara tangga, memandangi ke arah Dimas dan Naya yang melintasi tempat tersebut, di pandangnya sampai hilang dari pandangan, "Ada apa dengan saya,? kepikiran istri orang, jangan gila kau Dery,? tapi kan saya cuma mengagumi, hah apa salahnya,?" menggeleng dengan kasar.
Sambil menutup pintu dengan kakinya, "Sayang, aku gak suka si Dery memandangi bunda terus."
"Emangnya kenapa,? hak dia dong mau memandangi siapa,? mata-mata dia yang," Naya masih merangkul leher Dimas yang berdiri samping tempat tidur.
Dimas menatap lekat wajah sang istri, "Memang benar hak dia mau melihat siapa pun, tapi.., bukan istri aku, istri aku hanya milikku," bisik Dimas sambil mengecup bibir sang istri dengan lembut dan lama.
Sebelum memanas, Naya mengelak, "Em.., lepasin aku, mau ke kamar mandi, belum sholat kan,? lagian gak enak, ada keluarga ayah di luar, ingat,? ayah tuh suka kebablasan."
Dimas Sedikit kecewa kalau ada penolakan dari Naya, namun ia mengerti akan alasannya, "Ok, lain kali jangan tolak aku lagi, yuk aku juga mau ke sana," lantas berjalan menuju kamar mandi untuk ambil air wudu, lalu Naya keluar dari kamar mandi, sedangkan Dimas masih di dalam alasan mau buang hajat dulu.
Naya sholat duluan, kemudian bangkit berjalan mau keluar kamar, "Yang aku ke dapur ya,?" pekik Naya.
"Jangan, jangan keluar dulu, nanti aja sama aku," sahut Dimas dari kamar mandi.
"Uh.., harus nunggu lagi," gerutu Naya dan duduk di sofa, akhirnya Dimas keluar dengan wajah basah karena air wudu, lantas ia pun melaksanakan kewajibannya.
"Yuk sayang katanya mau ke dapur,?" Dimas mendekati dan menyentuh kening sang istri, "Kenapa ya yang,? kalau dekat kamu, bawaannya adik kecil aku bangun terus,?" kata Dimas menatap manik-manik mata Naya.
Naya langsung mencubit pinggang Dimas, membuat Dimas meringis kesakitan, "Sakit yang, apa salah diriku,?" mengusap pinggang yang terasa perih akibat cubitan Naya.
Melihat Dimas sangat kesakitan Naya merasa bersalah, "Maaf yang, maaf,? habis sayang mesum terus sih.?"
Dimas merasa semakin gemas ingin rasanya menerkam saat itu juga, sambil menyeringai Dimas mendorong tubuh Naya ke ujung sofa, "Sayang,?" pekik Naya.
"Emangnya kenapa kalau aku mesum,? kan sama istri sendiri, bukan sama cewe lain,?" pelan, wajah Dimas semakin mendekat, membuat dada Naya berdebar kencang, tatapan Dimas begitu tajam dan napasnya berat, satu senti lagi hampir mendarat.
Tiba-tiba suara pintu di ketuk dari luar, "Dimas,?" panggil Bu Hesa.
Dimas bangun menjauhkan dirinya dari Naya, ia menghela napas dalam dan menggaruk kepalanya, "Huuh, menggangu saja."
Naya merasa bebas, lantas mengenakan kerudungnya, dan membantu mengancingkan kemeja Dimas yang beberapa terbuka dan kusut.
"Dimas..,? makan bareng gak,? sudah di tunggu sedari tadi," pekik Bu Hesa lagi kesal.
"Jawab dong yang..,? kasian Mamak, Dimas menatap Naya, kemudian berdiri mendekati pintu dan membukanya, "Iya Mak, duluan aja, aku dan Naya belum lama makan pagi," sahut Dimas berdiri depan sang Ibu, Bu Hesa celingak celinguk ke dalam kamar.
Bu Hesa mengernyitkan keningnya, belum lama makan pagi,? kok Bisa,? jadi sekarang gak makan lagi.?"
"Nggak Mak, duluan aja," jawab Dimas.
"Ya sudah," Bu Hesa pergi meninggalkan tempat tersebut, sebelumnya celingak-celinguk lagi ke dalam kamar.
Dimas menutup pintu berjalan gontai menuju sofa, lalu duduk dengan muka di tekuk, melihat wajah Dimas begitu di tekuk, Naya bergeser dan duduk di samping Dimas, dia menyandarkan punggung di bahu sofa dengan tangan terbuka, Naya menghamburkan kepalanya di dada Dimas memeluk tubuh Dimas sangat erat.
"Kenapa yang,?" Dimas memegang kepala sang istri dan menciumnya, mereka terdiam beberapa saat, lalu Naya beranjak dari pelukan Dimas.
"Yang aku mau bikinkan kue buat Mamak bawa pulang, boleh ya,?" dengan tatapan memohon, Dimas hanya memberikan isyarat dengan matanya, kalau dia mengijinkan Naya pergi.
Naya pergi ke dapur, di sana ada Bibi dan Maria yang tengah membantu mencuci piring, Naya tersenyum melihatnya, "Bi, bantuin aku ya.?"
Bi Taty sangat antusias melihat Naya berdiri dekat meja makan berpangku tangan, "Iya Bu, Bibi harus bantu apa.?"
__ADS_1
Naya mengedarkan pandangannya, "Aku mau bikin kue cake."
"Oh siap Bu, Bibi siapkan dulu bahannya ya Bu,?" bi Taty langsung ke tempat bahan-bahan kue.
"Eh, masih ada gak bahan-bahannya Bi,?" Naya duduk di kursi yang terdekat.
"Kakak mau bikin kue, aku minta ya,?" ucap Maria yang menghampiri Naya dan duduk di sana.
"Iya, kalau masih ada bahannya, gimana Bi,?" Naya melirik bi Taty yang mencari bahan-bahan.
"Kebetulan masih ada Bu, lengkap," sahut bi Taty mengeluarkan satu demi satu, ke depan Naya, tak lupa dengan peralatannya.
Naya mulai mengatur bahan-bahan, dan membuat adonan, sementara Maria hanya duduk memperhatikan, bi Taty ikut sibuk membantu.
"Bi yang kerja sudah makan,?" tanya Naya pada bi Taty sambil fokus ngemix kue.
"Udah atuh Bu, semuanya sudah Bibi perhatikan Bu," jawab bi Taty sembari tersenyum.
Dengan senyum tipis, "Makasih ya Bi,? habis subuh aku ketiduran sampai siang," ucap Naya.
"Tidak apa-apa Bu, Bapak kan sedang libur, jadi wajar jadi sibuk di rumah sama istrinya, he..,he..,he.."
Naya mengernyitkan keningnya, kurang mengerti akan maksud bi Taty.
"Maklumlah pengantin baru," ucap bi Taty menyeringai, barulah Naya mengerti dengan maksud bi Taty membuat, wajah Naya memerah.
Maria tetap fokus dengan apa yang Naya lakukan, "Kak bisa gak pake rasa durian,? kami sangat suka tuh kue yang rasanya durian," ucap Maria.
Naya pandangannya sedikit menerawang, "Em.., kebetulan gak ada rasa duriannya Maria, belum nyetok, lain kali aja aku bikinkan."
"Buat apa repot-repot, gak enak, banyak di toko, beli aja lebih enak," ucap Naya dengan nada sinis.
"Ya terserah, Mamak mau beli yang lebih enak, dari toko jangan Mau ya,?" ujar bu Hesa, Naya hanya mesem sambil menggeleng.
"Idih, tadi aja curi-curi, mau tapi malu, Mamak lucu, ha..,ha..,ha..." Maria terkekeh.
"Maria.., huus..," tutur Naya dengan lirih, khawatir Mamak mertua merajuk seperti tadi, Namun kali ini Bu Hesa berdiam diri, duduk dengan Maria.
"Bi, tolong di panggang ya,?" suruh Naya pada bi Taty.
"Siap Bu, Bibi laksanakan," sahut bi Taty, setelah semua adonan yang satu lagi siap, Naya duduk di sofa dapur, melirik ke arah tangga, di sana Dery tengah sibuk memasang sesuatu di tembok, namun matanya sesekali melihat ke arahnya, mungkin benar kata suaminya, dia suka curi-curi pandang padanya, Naya langsung memalingkan mukanya.
"Sudah matang Bu,? Bibi angkat ya,?" bi Taty membuka oven dan mengambil kue yang baru matang tersebut, di simpan di meja makan.
"Aduh, kayanya enak tuh di makan anget-anget Kak,?" Maria melirik kue yang baru Bibi angkat bergantian melirik Naya.
Naya mengerti maksud Maria, Naya membalik dan mengeluarkannya dari cetakan, "Boleh, buka aja."
Mata Maria tertuju pada Naya dan kue yang masih hangat, "Bener Kak boleh.?"
"Boleh lah," Naya meminta pisau dari Bibi dan memotong-motong kue di masukannya ke dalam piring, "Silahkan di makan,? Mak silahkan di cicipi, dan ini tolong Bi bawakan ke ruang tengah."
"Baik Bu," bi taty membawakan kue ke ruang tengah, di sana ada suami Bu Hesa dan menantunya dan juga si bungsu.
Maria melahap kue walau masih sedikit panas, Bu Hesa bengong, tanpa menyentuh ia beranjak ke ruang tengah dan duduk bersama suaminya.
"Hem.., enak Kak,? enak gratis juga, hi..,hi..,hi..," kata Maria dengan mulut mengunyah.
Naya mesem merasa senang apa yang dia buat bermanfaat, apa yang dia buat di makan sama orang, tidak mubazir.
__ADS_1
Di kamar.
Dimas sedang berkutat dengan laptopnya sedari tadi Naya keluar, yang dia lakukan hanya membuka laptop, kemudian ia turun dari sofa, berjalan mendekati pintu, melihat-lihat suasana di luar kamar dari balik pintu.
Dimas melihat Dery bekerja sambil sesekali melihat ke arah wanita yang mengenakan kerudung cekolate, sedang duduk diantara Mama dan adik perempuannya, "Sial.., dia masih saja melirik-lirik istriku, kalau bukan sedang bekerja, tenaganya tidak aku butuhkan, pasti sudah aku usir dia," dengan mengeratkan giginya.
Dimas menutup kembali pintu kamar, hatinya terasa panas, sesak, baru di pandang orang saja, ia merasa tidak rela, apa lagi lebih dari itu, bisa gila kali si Dimas.
Telapak tangannya sedikit memukul tembok, "AW, sakit," pekik Dimas mengibaskan tangannya yang terasa sakit.
Ia menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur, menatap langit-langit kamar pikirannya menerawang liar, hingga ia menelungkup kan tubuhnya dengan tangan mengganjal kepala, kadang merasa kesal melihat pandangan Dery pada Naya.
Lama-lama kantuk menyerang Dimas, akhirnya tertidur, Naya masuk kamar, menghampiri Dimas yang tengkurep, "Yang..,?" panggil Naya menyentuh kaki Dimas namun tak bergerak, "Hem.., tidur lagi."
Melihat jam sudah masuk waktu ashar, Naya berjalan lagi, ke kamar mandi, Naya masuk ke dalam bathtub merendam dirinya di sana, hari ini terasa panas sekali, sesekali mesem-mesem sendiri, mengingat perkataan bi Taty tadi, dengan kata-kata, libur kerja sibuk dengan istri.
Dimas sedikit membuka matanya serta merubah posisi tidurnya, terdengar di kamar mandi suara air mengalir ia yakin pasti istrinya tengah bersih-bersih, Dimas bangun mendekati pintu kamar mandi, click kenop pintu di buka, kebetulan gak di kunci juga.
Dimas berdiri dan menutup pintu, tampak Naya tengah memejamkan mata, mungkin sedang menikmati segarnya berendam, Dimas mendekati bathtub dan berdiri tepat di depan Naya.
Setelah beberapa saat terpejam, Naya membuka mata ia begitu kaget hingga setengah berteriak, "Sayang, tolong,?" namun segera menutup mulutnya setelah sadar itu adalah suaminya.
"Aku yang, ngapain teriak, aku suamimu yang," kata Dimas duduk sisi bathtub.
"Kan tadi sayang tidur,? lagian kenapa sih tidak mengetuk pintu dulu sebelum masuk,? aku kan gak akan kaget bila sayang mengetuk pintu dulu, jangan main masuk aja," gerutu Naya.
"Sayang apa salahnya aku masuk kamar mandi kita,? karena hanya kita berdua yang memakai kamar mandi kita, kan tidak mungkin orang lain memakinya,?" ucap Dimas menyembur-nyemburkan air ke wajah sang istri.
"Terserah sayang aja lah, malas debat sama kamu, maunya menang sendiri mulu," ucap Naya.
Dimas menyeringai, "Sudah puas,? memperlihatkan diri pada pria lain.?"
Naya tidak mengerti apa yang di maksud Dimas, "Maksudnya apa yang,? aku gak ngerti.?"
"Jangan pura-pura sayang, barusan kan kamu diam di dapur, memperlihatkan dirimu pada pria lain selain aku,? aku tau pria itu terus-terusan melihat dirimu, mengajakmu tersenyum," Dimas sedikit menghardik.
Naya menatap Dimas tak berkedip, "Yang, di sana aku sama Mamak, ada Maria dan juga Bibi, dan aku membuatkan kue buat Mamak, kan tadi aku juga sudah bilang sama kamu, mau bikin kue buat di bawa pulang sama Mamak, sekarang kuenya sudah matang, bahkan sudah di makan sebagian sama mereka, aku senang jika yang aku buat membuat mereka bahagia," ujar Naya lirih, rasanya sulit menelan saliva nya seakan tercekat di tenggorokan, kesal dengan kata-kata Dimas barusan, cemburu yang tak beralasan.
Dimas semakin geram, "Tau gak yang,? kalau saja aku tidak butuh tenaganya sudah aku usir dia dari rumah ini, sayang aja aku masih butuh tenaganya," sambil berdiri dan bertolak pinggang, "Ok lah, masih aku maafkan kalau hanya sebatas memandang, tapi kalau sampai berani menyentuh kulit bunda, tidak akan aku maafkan dia."
Naya masih terdiam di bathtub, sembari menggeleng, "Kenapa sayang bicara seperti itu,? cemburu kamu sangat tak beralasan," Naya memalingkan muka, dan di matanya terlihat buliran bening menetes, sesaat mereka terdiam.
Dimas mendekati Naya duduk di sisi bathtub samping sang istri, "Maaf sayang,? aku sudah bilang, aku takut kehilangan dirimu," menyeka buliran air di mata Naya.
"Tapi cemburu mu itu tak beralasan tau gak,? jelas-jelas aku ini istri kamu, kehilangan yang bagai mana sih yang kamu maksud hah,? kecuali kamu yang ninggalin aku, gak mungkin dia suka sama aku, wanita yang--!, lagian dia kan pasti tau aku adalah istri Tuan rumah, sadar gak sih,?" Naya menjadi sangat kesal dan marah.
"Sudah sayang, aku minta maaf tadi sudah membentak dirimu, aku gak bermaksud membuat dirimu marah padaku," Dimas menatap netra mata Naya, dan menangkupkan kedua pipinya, "Sudah belum mandinya,? aku antar ke kamar ya.?"
"Tidak usah," Naya menepis tangan Dimas dari wajahnya, mencoba beranjak serta memakai handuk Naya turun dari bathtub, lalu kakinya terpeleset, untung dengan sigap Dimas menangkap tubuh Naya hingga tubuhnya tak sampai menyentuh lantai, kalau saja tubuh Naya tidak di raih Dimas, pasti Naya tersungkur serta kepala membentur tembok.
Naya kaget, tubuhnya hilang keseimbangan, hampir saja terjatuh, untungnya Dimas dengan sigap meraih tubuhnya, namun tetap sialnya, setelah tubuh Naya Dimas raih kedalam pelukannya, Dimas masih dalam posisi duduk di tepi bathtub, otomatis tubuh Naya seolah mendorong tubuh Dimas.
Byurrrr..., air bathtub keluar menyembur, karena tubuh dua orang tersebut terhempas ke dalamnya, membuat baju Dimas dan handuk yang di kenakan Naya basah semua.
,,,,
Apa kabar semua reader ku,? semoga kabar baik ya,? semoga selalu dalam lindungan yang maha kuasa, Aamiin.
Setelah mampir di sini, jangan lupa meninggalkan jejak ya,? dengan cara lake, komen, rating dan vote nya, terimakasih sebelumnya,🙏
__ADS_1