Bukan Mauku

Bukan Mauku
Menyusun rencana


__ADS_3

"Ok..,syukurlah kalau seperti itu, sampai jumpa di rumah sayang," muach.., kecupan jauh Dimas berikan pada sang istri, setelah menutup telepon, Naya membuka pintu mobil kemudian turun perlahan, hendak masuk ke dalam rumah, namun sebelum menginjakkan kaki ke dalam rumah tiba-tiba Naya merasa pusing dan lemas, brakk.., punggungnya bersandar di pintu, akibat oleng dan hampir tersungkur.


Pak Mad langsung menghampiri, Kenapa Bu,?" hendak membantu, namun dengan tangan Naya memberi isyarat bahwa dia baik-baik saja.


Bi Meri pun panik melihat Naya nyender di pintu, lalu bi Meri segera membantu Naya agar duduk di sofa, "Bukannya di bantuin malah di lihatin, gimana kalau Ibu kenapa-napa,?" gerutu bi Meri pada suaminya.


"Em..," Pak Mad bingung harus berbuat apa.


"Ibu gak kenapa-napa kan,? apa yang sakit," bi Meri begitu cemas.


Naya memijit kepalanya, "Nggak, aku cuma pusing, mual dan lemes saja, jangan khawatir," sahut Naya.


"Saya ambil minum dulu ya Bu," bi Meri segera ke dapur untuk mengambil minum.


"Apa perlu kasih tau Pak dokter,?" tanya Pak Mad menatap sambil berdiri di tempat semula.


"Tidak Pak, jangan, aku baik-baik saja kok, jangan buat dia khawatir, kasian lagi kerja," lirih Naya.


Bi Meri datang membawakan segelas air minum, "Ini Bu di minum."


Naya mengambil dan meminum sedikit tidak lupa dengan vitaminnya, setelah itu Naya berdiri dan di bantu sama Bibi ke kamarnya untuk beristirahat di sana.


Kini Naya sudah baringan di atas tempat tidur, untuk beristirahat sebentar sebelum dzuhur,


Di Rumah sakit


Tok...


Tok...


Tok.., "Boleh saya masuk dok,? Sonia berdiri depan pintu ruang kerja Dimas.


Dimas menoleh ke arahnya, "Oya, silahkan," sahut Dimas, mengangguk menunjuk tempat duduk.


Sonia masuk dan duduk, "Terimakasih dok."


"Oya ada apa,?" Dimas menatap kerah Sonia.


"Sa-saya..," Sonia menarik napas dalam-dalam terlebih dahulu, "Saya merasa beberapa hari ini kau menghindar dari saya."

__ADS_1


"Oya, gak juga, mungkin itu perasaanmu saja," ucap Dimas dengan nada serius.


"Nggak, itu benar dan aku sadar, tau yang membuat kau menghindari saya, dan.., saya minta maaf atas itu, ketidak nyamanan kau terhadap saya, sekali lagi saya mohon maaf,?" ujar Sonia sembari memandangi wajah Dimas yang menunduk.


"Buat apa minta maaf, anda tidak salah, dan mungkin diantara kita tidak ada yang salah, jadi tak ada yang harus di maafkan," ujar Dimas sembari memainkan ballpoint di jarinya.


"Tapi dok.., jujur saya merasa tidak enak hati," sambung Sonia lagi.


"Sudahlah jangan di bahas lagi, oya sudah waktunya saya pulang," Dimas melihat jam di tangannya.


"Oh, baiklah saya permisi dok," Sonia berdiri dan menggeser kursinya.


"Iya silahkan," sahut Dimas mengangguk, lantas membereskan mejanya, karena sudah waktunya untuk pulang, namun seorang perawat datang menghampiri.


"Siang dok,?"


"Iya siang juga, ada yang bisa saya bantu,?" sahut Dimas menunggu jawaban orang tersebut.


"Dokter di minta menghadap kepala bagian rumah sakit, di tunggu sekarang,?" ucap Suster tersebut.


"Ok, saya akan datang," Dimas mengambil ponsel miliknya, dan di masukan ke saku.


Dimas menghadap atasan di sana, berbincang agak panjang, membahas kepulangan seorang dokter yang di gantikan tugas oleh Dimas.


Setelah perbincangan yang lumayan panjang, akhirnya memutuskan Dimas selesai tugas di sini sampai dua hari ke depan, jadi masa kerja tiga minggu Dimas bertugas di daerah tersebut, menjelang sore hari, Dimas baru pulang, kini Dimas bersiap-siap pulang, duduk di atas motornya, mengenakan helm sembari berpikir menyusun rencana jika pulang tugas dari daerah tersebut.


Dimas menancap gas melarikan motornya di antara kuda-kuda besi yang menghiasi jalan raya yang Dimas lewati, hatinya merasa lega akhirnya bisa segera pulang ke rumah pribadinya, bahkan membawa kabar baik untuk seluruh keluarga besarnya.


Tak selang lama Dimas sampai di halaman tempar tinggalnya, suasana sangat sepi, melirik jam sudah menunjukan pukul tiga sore, kebetulan Dimas tidak memberi kabar sebelumnya akan kepulangan dirinya yang terlambat.


Dimas berjalan menjinjing tas dan juga jaket di tangan, di dalam sepi tak ada satu orang pun, "Pada kemana nih tumben, tidur kali," gumam Dimas sambil terus berjalan menuju kamarnya.


Di dalam kamar kosong, Yang.., di mana,?" Dimas mendekati pintu kamar mandi dan terdengar suara air mengalir dari keran, pintunya pun tidak di kunci, Dimas membuka perlahan terlihat istrinya tengah berendam dalam bathub.


Naya menoleh ke arahnya dengan senyuman, "Kok Baru pulang yang,?" tanya Naya, Dimas mendekati mencium kening sang istri dan duduk di bibir bathub, "Iya sayang, miting dulu."


"Em.., sudah makan siang,?" Tanya Naya lagi. sembari menggosokkan busa ke kulit tangannya.


"Belum," singkat, matanya memperhatikan istrinya yang berada di bathub.

__ADS_1


"Kenapa gak makan dulu sih,?" Naya lirih.


"Malas, nanti aja sama Bunda," Dimas membuka kancing baju di dadanya.


"Ya sudah, oya bantu aku dong,?" Naya dengan nada manja.


"Batu apa sayang..,?" Dimas menyingsingkan lengan bajunya.


"Tolong gosokkan punggung aku, sudah lama tidak perawatan," ucap Naya menyodorkan penggosok mandi.


"Baiklah tuan putri akan hamba laksanakan," Dimas membungkuk dengan hormat, membuat Naya terkekeh.


Dimas menggosok punggung Naya, bahkan anggota yang lain juga, dengan nakalnya Naya menyiramkan air pada Dimas hingga pakaian Dimas basah semua, mereka saling menyiram air, dan akhirnya Dimas mandi bersama sang istri, berendam berdua di satu bathub, saing melempar canda dan tawa.


"Oya, orang-orang ke mana kok sepi di luar,?" tanya Dimas sembari tangannya merangkul pinggang sang istri di dalam air.


"Em.., tidur kali," kepala Naya bersandar di bahu Dimas.


"Gimana hasil tes tadi, baik kan, baby kita sehat-sehat kan,?" Dimas mengecup kepala sang istri, "Aduh.., lupa mengunci pintu," Dimas langsung berdiri karena melihat pintu kamar mandi terbuka, takut ada yang masuk dan melihat mereka berdua di kamar mandi.


Naya menutup matanya dengan kedua telapak tangan, tak kuasa bila harus melihat suaminya berjalan dengan tubuh polos tanpa benang sama sekali.


Dimas mendekati dan masuk kembali ke bathub, melihat sang istri menutup wajahnya dengan dua telapak tangan, "Kenapa sayang,? di tutup segala, bukannya suka ya," Dimas menyeringai dan berendam kembali.


"Takut, hi..,hi..,hi..," Naya membuka dan menyingkirkan tangan dari wajahnya.


"Masa, takut tapi.., suka kan,?" tangan Dimas meraih tangan Naya dan dia tempelkan pada juniornya yang mulai bangun, Naya bergidik dan dengan repleks tangannya di tarik menjauh dari benda itu, Naya terus bergidik geli, membuat Dimas menyeringai, menggeleng pelan, istrinya memang kadang posesif, jarang-jarang agresif, malu-malu bagaikan pengantin baru.


Naya jadi merasa canggung, ingin menyudahi acara berendamnya, namun Dimas menarik dan mencumbunya, Dimas memeluk tubuh istrinya dan mencari posisi duduk senyaman mungkin di tempat itu, napasnya sudah memburu menahan gairah yang mulai memuncah, setelah di posisi yang tepat, Dimas langsung dan tidak membuang waktunya begitu saja, tancap gas pool dengan kecepatan gairah yang di atas normal.


Naya tak menyangka akan mengalami di tempat yang tidak biasanya, namun tetap menikmatinya, ada sensasi yang luar biasa di rasakannya, sensasi yang membawa mereka melayang terbang jauh, mengitari langit ke tujuh, keduanya sangat menikmati aktifitas yang halal bagi mereka, seakan dunia hanya milik mereka berdua, dan yang lain pada ngontrak kali ya, hehehe.


,,,,


Terimakasih reader ku, masih mengikuti cerita ini, dan semoga kabar kalian selalu berada dalam lindungan Allah yang maha kuasa, Aamiin.., ok, jangan lupa selalu lake, komen, rating dan vote nya dong๐Ÿ™๐Ÿ™


Nb..


Para reader yang aku hormati dan aku sayangi, kalau ada tulisan aku yang salah itu di komen dong,,๐Ÿ™ biar aku betulkan atau revisi ulang, agar membangun aku lebih baik lagi๐Ÿ™ dan tidak lupa aku ucapkan selamat menunaikan ibadah puasa, bagi yang menjalankannya.

__ADS_1


__ADS_2