
Dimas dan sang ayah menggeleng pelan, Dimas menoleh Bapak mertua turun dari tangga di ikuti putranya, membuat kedua orang tuanya Dimas pun menoleh dan menghentikan perbincangan tadi.
"Lah pada kemana yang makan nya.? hilang semua ya.?" kata si Aa memegang kursi melihat isi meja lalu duduk membuka piring bersih, dan mengambil nasi juga lauk pauknya.
"Kami sudah makan A.!" sahut Naya melirik sang adik.
"Halaah, jangan memikirkan orang lain, kita makan saja, santap abis.?" sambung suami Lely, Naya hanya senyum,
"Beneran teh.? semua sudah makan.? takut kita abisin he..he..he.." tanya si Aa sambil mengunyah,
"Sudah, makan saja." Naya mengangguk.
"Ok," si Aa langsung melanjutkan makan dengan lahap, begitupun dengan Kakak iparnya.
"Nanti selesai makan cuci piring masing-masing ya.?" pinta Naya pada kedua adiknya.
"Ok, siap.., tenang saja." sahut kedua adik laki-laki Naya bergantian, Naya tersenyum samar lalu kemudian melangkah ke dalam kamar pribadinya.
Kini Naya sudah berada dalam kamar, duduk di tepi tempat tidur membuka kerudungnya, bangkit lagi menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu, belum sholat Isya.
Di luar kamar, ya itu ruang TV Dimas masih mengobrol dengan orang tua dan mertua Dimas, hingga akhirnya bu Hesa berpamitan kerena waktu sudah menunjukkan pukul 09.00 malam.
"Pak, pulang yuk sudah malam.?" ajak bu Hesa pada suaminya, yang hanya melirik sekilas.
"Loh, bukannya mau nginap.? di sini.?" ujar pak Nanang, menatap besannya.
"Lain kali saja besan, kita kan dekat, bisa kapan saja berkunjung kesini.?" jawab suami bu Hesa dengan ramah.
"Em..! padahal nginap saja, agar lebih banyak lagi ngobrol, besok saya pulang." sambung pak Nanang sedikit kecewa.
"Nginep aja ya bu.? besok kita pulang pagi-pagi, kan Bapak ada urusan." berbisik pada istrinya.
"Gak bisa, pulang sekarang." ketus bu Hesa.
"Iya Mak, menginap saja." tambah Dimas menatap kedua orang tuanya.
Bapak Dimas menghembuskan napasnya kasar. "Besok Bapak ada urusan keluar kota Dim, lain kali saja." beranjak dari duduknya, "Besan maaf, besok tidak bisa mengantar ke bandara.? ada urusan soalnya." pandangan beralih ke pak Nanang, pak Nanang berdiri dan berjabat tangan.
"Tidak apa-apa besan, apa lagi ada kesibukan jangan sampai terganggu, dan terimakasih sudah mengajak saya berkunjung ke rumah besan.?" tutur pak Nanang sembari mengangguk.
"Iya sama-sama, Dim kami pulang dulu.?" ujar Bapaknya Dimas, mengikuti langkah sang istri yang lebih dulu keluar menuju mobil.
__ADS_1
Dimas mengikuti sampai pintu kemudian menguncinya, Dimas kembali masuk dan mengedarkan pandangannya ke dapur, tadi kedua adik iparnya tengah mengobrol di meja makan, tapi sekarang tidak ada, mungkin sudah masuk kamar atas.
Kemudian ia mendekati sang mertua. "Bapak mau lanjut nonton TV.?"
"Nggak ah, Bapak mau tidur capek." sahutnya, sambil beranjak berjalan menaiki tangga.
"Baik lah." sahut Dimas mematikan TV dan lampu di ruangan tersebut, lalu melangkah ke kamar miliknya.
Naya sudah lama di kamar menunggu sang suami masuk namun lama tak kunjung datang menampakkan batang hidungnya, ia sibuk dengan benda pintar miliknya, menulis Novel sebagai hobi, siapa tahu jadi penulis terkenal pikirnya.
Bukannya tak ingin gabung sama mereka di ruang TV namun ia sungguh merasa malu, apabila berjalan diperhatikan orang, ya sudah diam di kamar saja adalah pilihan terbaik.
Ceklek..,
Suara kenop pintu di buka oleh Dimas dan masuk, kemudian mengunci pintu tersebut, Naya memandangi langkah Dimas, dengan tatapan interogasi.
"Sudah pada tidur kah.?" tanya Naya pada suaminya yang duduk di sampingnya.
"Bapak dan Mama, sudah pulang yang barusan." sahut Dimas menyandarkan punggung di bahu tempat tidur.
"Loh.., bukannya mau nginap yang.?" dengan tatapan sangat penasaran.
"Tidak sayang, besok Bapak ada urusan ke luar kota." sahut Dimas memegangi bahu sang istri.
"Sayang sudah sholat.?" tanya Dimas mencium pucuk kepala sang istri penuh kasih.
"Aku sudah tadi, udah sana sholat dulu, nanti ngobrol lagi biar tenang." pinta Naya.
"Baiklah sayang." Dimas turun dari tempat tidur berjalan masuk ke dalam kamar mandi, tak lama sudah kembali dengan wajah yang basah. "Yang.., aku kan belum hapal benar bacaan sholat nya.?"
Naya menoleh dan tampak berpikir. "Em.., ya sebisanya aja dulu, tapi gerakannya sudah hapal kan.?"
"Sudah yang, kalau gerakannya sih."
"Ya gak apa-apa. namanya juga belajar kan.?" nanti juga terbiasa." sahut Naya, dan kembali fokus menulis.
"Ok," Dimas menggelar sejadah nya. kemudian mengangkat tangan membaca takbir dan seterusnya.
"Huaam, ngantuk," gumam Naya, menyimpan ponsel di atas meja, kemudian membaringkan tubuhnya dan menarik selimut menutupi tubuh sampai ke leher.
Dimas merapikan sejadah, membuka sarung dan kokoknya yang dari magrib ia kenakan, juga peci yang betah menutup setengah rambutnya di kepala, melihat Naya sudah bersiap tidur.
__ADS_1
Berjalan mendekati tempat tidur, Dimas naik merangkak di tempat tidur ukuran king size nya, masuk ke dalam selimut bersama sang istri, Dimas mencium kening Naya lama..., bibir itu menempel di kening Naya, "Ngantuk yang kenapa ya.? kok mataku rasanya capek, seperti di lem saja." ucap Naya sembari terpejam.
Dimas hanya tersenyum tipis mendengar ucapan sang istri, kemudian bibir Dimas mendekati bibir Naya lantas mengecupnya dengan lembut, seketika Naya ingat kejadian tadi siang, dan dia berjanji tidak akan menolak tuntutan sang suami, deg jantungnya deg-degan berdebar kencang, seakan mau loncat.
Dimas berbisik. "Selamat malam sayang.? met bobo."
Naya merasa lega, ia merasa bebas kali ini, sembari menarik sudut bibinya tersenyum, "Buat apa malam di selamatin.? tidur juga di selamatin.? membaca doa yang.? hi..hi..hi.." kembali memejamkan matanya sangat lelah Naya rasakan, Dimas pun berbaring mendekap tubuh sang istri sangat erat, tak lupa membaca doa sebelum tidur.
"Aku ngantuk banget yang..?" lirih Naya membenamkan wajah di dada Dimas.
"Iya, bobo sayang, pejam matanya, aku juga capek, jadinya gak mut gak pengen bulan madu nih." sahut Dimas ia pun memejamkan matanya, Naya mendengar perkatan Dimas tersenyum licik. "Syikurin, hi..hi..hi.." gumam Naya dalam hati.
Detik-detik waktu berlalu, membawa mereka ke alam bawah sadar, sepoian angin malam membawanya ke dunia tipu-tipu, ya itu alam mimpi.
Tidur yang begitu nikmat di sepanjang malam, membuat tubuh mereka begitu rileks, Naya membuka mata, dan mengucek kedua mata dengan jari, terdengar dari sangat jauh sahutan adzan shubuh, perlahan Naya bangun mengumpulkan semua daya ingatannya, ia turun dari tempat tidur berpegangan berjalan menuju kamar mandi.
Naya membersihkan tubuhnya menyiram tubuh dengan air dari shower, beberapa menit kemudian Naya mengeringkan badannya dengan handuk, ia keluar dari kamar mandi, tampak di tempat tidur Dimas masih terlelap dan memeluk sebuah guling, Naya mendekati lemari mengambil baju dan pakaian dalam miliknya.
Setelah semua rapi, ia duduk di meja rias sebentar, menyisir, lalu beranjak duduk di lantai menggelar sejadah bersiap tuk melaksanakan kewajiban sebagai muslim, usai salam Naya berzikir, berdoa, selesai, membereskan bekas sholatnya.
"Yang bangun, sudah shubuh nih.? lirih Naya di telinga Dimas, Dimas perlahan membuka mata sedikit demi sedikit, sampai membuka dengan sempurna, yang ia lihat pertama kalinya adalah wajah sang istri tengah tersenyum, di balas dengan senyuman dari Dimas.
"Bangun, mandi sana.?"
Alis Dimas tertarik ke atas. "kenapa harus mandi sekarang.? seingat aku.., semalam kita tidak ngapa-ngapain kok.? hanya tidur saja.? jangan-jangan..., sayang memperkosa aku kah.? semalam.?" desak Dimas sambil menyeringai.
"Apaan sih yang.? enak aja aku perkosa kamu mana bisa.?" Naya memukul tangan Dimas sambil senyum samar.
"Ya.., bisa aja kalau bunda lagi--!
"Lagi apa.? sembarangan.?" Naya memotong kalimat dari Dimas, Dimas tersenyum penuh arti. "Iya, baiklah sayangku.., aku mau mandi dulu lah." sambil turun dari tempat tidur, namun ia malah duduk kembali mendekati sang istri.
Naya heran. "Apa lagi.?" dengan sorot mata yang sayu, Dimas meletakkan jari di bibirnya. "Em.., belum kiss paginya sayang.?" penuh harap.
"Ya ampun.., keburu siang yang aku mau ke dapur." elak Naya yang bersiap mau ke dapur tuk membuat sarapan.
"Iya aku tahu sayang, ayok dong sebentar kiss pagi dulu, mending mana.? ngasih kiss di bibir atau aku--! Dimas tak melanjutkan perkataannya melainkan pandangan tertuju pada dada sang istri, membuat Naya bergidik, "Uuh.., dasar mesum.? ada-ada aja." Naya dengan cepat mencium bibir sang suami, hingga Dimas tersenyum penuh kemenangan.
,,,,
Jangan lupa terus dukung aku ya.? dan terimakasih kepada yang sudah sudi mampir di kisah Naya dan Dimas ini,
__ADS_1
Lake, komen dll dari kalian menambah semangat aku tuk belajar menulis, walau masih acak-acakan dalam penulisan, dan dialognya.
Naya