Bukan Mauku

Bukan Mauku
Perbincangan santai


__ADS_3

"Makanan masuk kemana perut kan,? baby kita berada di mana,? di perut juga, ya pasti kepanasan, kasian," Dimas nyengir kuda, membuat Naya menggeleng, namun tak menyurutkan niatnya untuk menghabiskan bakso, makanan kesukaannya.


Makan bakso bersama pun berakhir, Naya dan Dimas masuk ke kamarnya kebetulan sudah magrib, Sehabis sholat magrib berdua, "Puas ya makan baksonya,? baksonya enak, pedagangnya ganteng pula," ucap Dimas sinis sembari melengos ke kamar mandi.


Naya menoleh dengan tatapan tajam, "Apa maksudnya nih.?"


Namun Dimas hilang di balik pintu, tak lama Dimas kembali dan Naya mengulang pertanyaan yang tadi di lontarkan, "Apa maksudnya nih,? bicara seperti itu," Naya memandangi dengan sangat lekat.


"Iya, baksonya enak, pedagangnya pun ganteng, sedap di pandang mata, pernah di bonceng juga kan,?" Dimas manggut-manggut dan mondar mandir mengambil laptop miliknya.


Naya mengernyitkan keningnya, terdiam sejenak, mencerna maksud dari ucapan Dimas yang sesungguhnya, "Emang ganteng iya, terus kenapa.?"


"Nggak, cuman bilang aja," sahut Dimas.


"Tidak usah di bilang, semua orang juga tau kok," sambung Naya, duduk di tempat tidur, sementara Dimas di sofa.


"Sayang cemburu apa.?"


"Hah.., cemburu, tidak lah," Dimas tertegun lalu melanjutkan kesibukannya bersama laptop di pangkuan, Naya pun terdiam dan menyelimuti tubuhnya dengan selimut.


Ke esok harinya, Naya mau periksa kehamilan, kebetulan yang menangani Naya adalah dokter Sonia, Naya berbincang tentang seputar kehamilan, yang alhamdulillah baby di dalam sehat-sehat aja, Naya datang bersama bi Meri, di antar Pak Mad, karena Dimas berangkat pagi sedangkan Naya agak siangan.


"Kenapa dokter Sonia tidak main ke rumah,? sebelum kita pulang lagi loh," ucap Naya dengan ramahnya.


"Eh.., sa-saya sibuk Bu Naya, gak sempat ke mana-mana, di rumah juga kan ada anak-anak yang lebih penting, jadi gak sempat main-main, iya," entah kenapa Sonia sedikit kikuk.


"Aku kagum sama Dokter yang tegar, kuat, bekerja untuk anak-anak, dokter cantik, pinter, aku salut," ucap Naya dengan tulus.


Sonia terdiam mendengar ucapan Naya, lalu berkata, "Tapi.., ada juga gak enaknya jadi janda, selalu di cap janda perebut suami orang," Sonia menunduk.


"Siapa bilang dok,? banyak kok janda yang terhormat, mereka lebih mementingkan keluarga, dan anak adalah segalanya, tak perduli susahnya hidup tanpa suami, tidak mementingkan ego ataupun kepentingan pribadi, memang sih pesona suami orang itu lebih menggoda, apa lagi ketika pria itu sukses bersama istrinya, tapi.., itu tergantung orangnya juga sih, tak sedikit kok wanita terhormat yang menghindari itu, dan bagi aku sih tidak bisa menyalahkan si wanita tersebut jika terjadi perselingkuhan, karena..,tidak mungkin itu terjadi jika si pria tidak memberi jalan atau membuka hati, bahkan aku sangat menyayangkan jika.., ada pria yang meniti dari nol bersama istrinya tapi ketika sudah sukses tergoda oleh wanita lain, walau dengan alasan apa pun, sungguh menyedihkan," ujar Naya,


Ucapan Naya merupakan sebuah tamparan bagi Sonia, dalam hatinya mengakui telah tergoda pesona Dimas yang tak lain suami dari Kanaya wanita yang kini di depannya, perbincangan santai mereka terjadi, di karenakan kebetulan tidak ada pasien lain yang datang, bi Meri pun menunggu di luar.

__ADS_1


"Aku yakin dokter salah satu wanita terhormat, yang berjuang demi anak-anak, jadi janda terkadang adalah pilihan dari pada bersuami, namun menderita, bukan begitu dok,?" Naya lirih.


Sonia mengangguk, "Iya bener Bu Naya, kadang perpisahan bukan keinginan, tapi takdir yang mengharuskan itu terjadi," Sonia melepas pandangan kosong.


Naya menarik napas panjang dan di hembuskan dengan kasar, "Aku tau, dan memahami itu, tapi.., aku tetap yakin bahwa suatu hari akan mendapat yang terbaik, khususnya anda dok, di luar sana akan ada pria yang mencintai dengan tulus dan menerima apa adanya, teruslah berjuang, buktikan pada semua orang bahwa dokter tidak seperti yang mereka pikirkan."


Sonia menoleh, "Makasih Bu Naya, kau begitu baik, pengertian, sungguh beruntung pria yang menjadi suami mu," Sonia tersenyum getir.


"Dokter bisa aja, justru aku cuma wanita begini adanya, jauh dari kata sempurna," sahut Naya sangat merendah, aduh.., aku sudah menyita waktu dokter untuk mengobrol, maaf ya dok,?" Naya beranjak dari duduknya lantas menggeser kursi agar terlihat rapi.


"Oh, gak apa-apa kebetulan lagi sepi juga, senang saya bisa mengobrol dengan Bu Naya," Sonia mengulurkan tangan untuk berjabat tangan, Naya sambut dengan penuh keramahan.


"Sama-sama dok, oya lain kali datang ke rumah ajak anak-anak, kita maka malam di sana," pinta Naya pada Sonia.


"Baiklah, kapan-kapan kami datang," Sonia mengangguk.


Setelah itu Naya permisi dan keluar dari ruangan tersebut, Sonia memandangi punggung wanita yang berpenampilan sederhana jalan tertatih, keluar dari ruangannya, "Wanita yang kuat," gumamnya, "Maaf jika saya tergoda oleh pesona suami mu, namun sekarang saya sadar, saya tidak seharusnya seperti wanita murahan, saya harus menjadi wanita terhormat dengan segala kemampuan, akan menjadi wanita hebat, tangguh, sampai waktunya tiba, semua akan indah pada waktunya."


"Bi.., pulang yuk,?" Naya mengajak Bibi pulang, "Maaf menunggu lama,? tadi aku berbincang sama dokter di dalam."


Naya menoleh kebelakang, "Mau apa ke sana Bi, pulang aja, lagian dia masih lama pulangnya juga," seru Naya, sembari mengusap kepala Rita yang tak berhenti ngemil, "Huuhh.., nih anak gimana gak tambah gembul.., ngemilnya tak mau berhenti," Naya mencubit pipi Rita.


"Baiklah," bi Meri terus mendorong Naya melintasi lorong rumah sakit menuju parkiran, ternyata Pak Mad menjemput dan mengambil alih pegangan kursi roda tersebut.


Tak lama sampailah dekat mobil, Naya berdiri lalu masuk mobil duduk di belakang bersama bi Meri, setelah mengembalikan kursi Pak Mad mengitari mobil untuk duduk belakang kemudi bersama bocah gembul.


Setelah sabuk pengaman masing sudah terpasang, Pak Mad baru melajukan mobilnya, meluncur dari parkiran rumah sakit tempat Dimas bekerja saat ini.


"Pak mampir di swalayan dulu ya,? Bi belikan aku buah manis juga buah muda," Naya bergantian bicara dengan pasangan suami istri itu.


"Baik Bu," jawab Pak Mad juga istrinya berbarengan.


Naya duduk bersandar ke jok belakang punggungnya, angin dari jendela mobil yang terbuka seolah membelai mesra tubuh Naya, sejuk rasanya terkena ace alam seperti ini membuat Naya tertidur.

__ADS_1


Sudah di depan swalayan, mobil menepi, bi Meri turun sendiri untuk membeli buah permintaan Naya, "Rita ikut-ikut,?" rengek Rita namun Pak Mad menenangkan nya, agar tidak ikut.


Setibanya di rumah barulah Naya di bangunkan oleh bi Meri, "Bu bangun sudah sampai di rumah.


Naya melek menggosok matanya, "Sudah sampai kah Bi, aduh.., aku ketiduran di mobil, em.., bi biarkan dulu aku disini sampai kepalaku tidak merasa pusing, Pak Mad dan Bibi masuk aja, nanti kalau ada apa-apa juga aku panggil kalian," titah Naya pada keduanya yang masih berdiri depan pintu lalu mereka masuk.


Naya sejenak duduk di mobil, untuk mengumpulkan tenaga untuk turun dan berjalan di dalam rumah, kebetulan kepala terasa pusing, "Aku harus kuat, jangan lemah, demi diriku, demi suamiku, dan juga anak yang ada dalam perutku," mengusap perutnya.


Tiba-tiba nada dering berbunyi, Naya merogoh sakunya mengambil ponsel, ternyata kontak suaminya yang menelpon, "Iya yang, ada apa.?


"Cuma.., mau tanya, sudah sampai rumah belum beb.?"


"Beb, bebek, sejak kapan kau panggil aku Beb,?" Naya ketus.


"Ok ay.., sudah sampai rumah belum, sedang apa sekarang,?" ucap Dimas dari sebrang sana.


"Ay.., ayam goreng, ayam geprek, ayam..,penyet, ayam kampung, apa..,ayam negeri hem,? hi..,hi..,hi..," sembari terkekeh sendiri.


"Ayam negeri seperti Bunda banyak dagingnya, puas,? serba salah jadinya," Dimas sewot.


"Yey..,sewot, siapa suruh juga panggil seenaknya aja, apa itu beb, apa itu ay..,? sangat tidak enak di dengar," Naya mengibaskan telapak tangannya di atas angin.


"kalau gak enak lah jangan di makan, buang aja," balas Dimas.


"Udah ah, aku sudah sampai dengan sangat,-sangat dan sangat-sangat selamat, tanpa kurang apapun, sudah jelas Pak dokter yang terhormat,?" Naya menarik bibirnya senyum.


"Ok..,syukurlah kalau seperti itu, sampa jumpa di rumah sayang," muach.., kecupan jauh Dimas berikan pada sang istri, setelah menutup telepon, Naya membuka pintu mobil kemudian turun perlahan, hendak masuk ke dalam rumah, namun sebelum menginjakkan kaki ke dalam rumah tiba-tiba Naya....?


,,,,


Terimakasih reader ku, masih mengikuti cerita ini, dan semoga kabar kalian selalu berada dalam lindungan Allah yang maha kuasa, Aamiin.., ok, jangan lupa selalu lake, komen, rating dan vote nya dong๐Ÿ™๐Ÿ™


Nb..

__ADS_1


Para reader yang aku hormati dan aku sayangi, kalau ada tulisan aku yang salah itu di komen dong,,๐Ÿ™ biar aku betulkan atau revisi ulang, agar membangun aku lebih baik lagi๐Ÿ™ dan tidak lupa aku ucapkan selamat menunaikan ibadah puasa, bagi yang menjalankannya.


__ADS_2