
Akhirnya Dimas mengeluarkan adik kecil dari sarangnya setelah benar-benar merasa puas yang tiada tara, dan menjatuhkan tubuh di samping Naya, dengan napas yang masih memburu, tak beraturan, Naya meringsut meletakkan kepala di bahu Dimas, setelah beberapa jam bertempur meraka merasa capek lalu mereka tertidur sangat nyenyak.
Pagi-pagi buta Dimas dan Naya sudah bersih-bersih, sudah rapi, usai sholat mereka duduk di atas tempat tidur, Naya bersandar di bahu Dimas, "Sekarang sudah tidak marah lagi kan,?" Naya mendongak sekilas.
"Siapa yang marah,?"Dimas membelai rambut Naya, dengan sangat mesra.
Naya dengan seulas senyumnya, "Sudah tidak pusing lagi kan.?"
"Tidak, kan sudah di kasih obat semalam,?" cup mendaratkan ciuman di kening sang istri.
"Aku paling gak suka sayang bersikap dingin cuek, ketika ada banyak orang, di rumah, kurang baik yang," Naya mengusap dada Dimas lembut, "Kesannya, itu sama keluarga sayang sendiri begitu, gimana kalau sama keluarga aku.?"
"Keluarga kita yang," sembari memeluk erat Naya, "Aku minta maaf yang,? kan sayang ngerti lah, kepalaku pusing, dari bawah suka naik ke atas pusingnya, tau lah yang.?"
Dengan masih mengusap dada Dimas, "Aku tau, tapi.., tau kan itu sebuah sikap yang kurang baik, di mana suami aku yang penyabar, yang lembut,? yang sangat aku suka, yang selalu meluluhkan ketika aku ego."
"Aku gak tau, aku paling gak bisa nahan kalau sudah punya keinginan itu, apa aku punya kelainan,? tapi.., aku rasa normal aja kok, masih batas wajar," ujar Dimas, menempelkan pipinya di kening Naya.
"Gimana kalau kamu, sedang keluar daerah,? terus kangen sama aku,? gimana coba hem,?" Naya mendongak menatap lekat.
"Jajan di luar," sambil terkekeh, sontak Naya melotot, dan mencubit pinggang Dimas sepuasnya.
Membuat Dimas memekik kesakitan, "Aaaaw.., sakit sayang, ini KDRT yang,?" Dimas mengusap bekas di cubit Naya.
"Biarin, enak saja jajan di luar, lihat aja kalau sampai seperti itu, jangan pernah meminta aku layani,?" ucap Naya penuh penekanan, Naya duduk bersandar ke bahu tempat tidur.
Dimas menatap sambil nyengir kuda, "Bercanda yang, gak mungkin berbuat seperti itu,? enak saja, emangnya istri aku yang cantik ini mau di ke manakan, bohong lah yang, gak mungkin aku seperti itu,?" sembari merangkul Naya, Naya mencoba mengelak dari rangkulan Dimas, namun Dimas semakin erat.
"Aku gak akan melepaskan kalau sayang masih marah,?" semakin mempererat pelukannya.
"Lepas, mau bikin sarapan," Naya semakin tak berdaya dengan rangkulan suaminya.
"Gak mau,? bilang dulu bunda tidak marah sama ayah,?" bisik Naya di telinga Naya.
"Emang siapa yang marah sih,?" dengan nada sedikit tinggi.
__ADS_1
"Nggak marah tapi.., suaranya nada tinggi gitu," ucap Dimas dengan posisi yang sama.
Naya manarik napas dalam dan panjang, memang dia merasa kesal mendengar perkataan sang suami, Naya membalas pelukan Dimas, mengusap punggung Dimas dengan sangat lembut dan menempelkan kepalanya di bahu Dimas.
"Aku takut kehilangan kamu yang,?" Naya lirih, "Aku tidak ingin melakukan sesuatu yang salah, jangan macam-macam.?"
"Percayalah yang, aku gak mungkin macam-macam sayang,? I love you,?" Dimas membingkai wajah Naya setelah melepas pelukannya, "Jangan marah ya, aku sangat mencintaimu.?"
Mereka bersitatap sendu dan sayu, "I love you too,?" Naya merangkul kembali tubuh Dimas.
Beberapa saat kemudian Naya melihat jam pukul 06.15 wib "Yang, sudah siang,? ayah belum sarapan,?" Naya segera melepas pelukannya.
Dimas pun melirik jam di tangannya, "Ya sudah aku mau siap-siap dulu."
Naya turun dari tempat tidur dan berjalan melintasi pintu lebih dulu, menuju dapur, di sana sudah ada bi Taty tengah merapikan meja makan, "Bi.., bikin sarapan apa,? aku gak sempat bikin sarapan.?"
"Oh, Bibi sudah bikinkan nasi goreng seperti yang Ibu suka bikinkan buat Tuan," sahut bi Taty menoleh.
"Makasih ya Bi,?" Naya membuatkan susu coklat hangat, lalu duduk mengambil satu piring lalu di isi nasi goreng buat Dimas
Naya segera menyuapi Dimas makan, agar tidak kesiangan, "Hari ini aku jadwal terapi lagi ya yang,?" Naya melirik Dimas.
"Hem, aku pulang cepat kok," di sela mengunyahnya.
"Nggak ada urusan keluar,?" tanya Naya.
"Nggak, mudah-mudahan nggak," sahut Dimas, selesai makan Dimas beranjak dari duduknya memeluk Naya dari belakang, "Aku berangkat dulu ya,? baik-baik di rumah,?" cup mengecup pucuk kepala Naya.
"Sayang juga hati-hati, yang rajin kerjanya, jaga matanya, jangan jelalatan,?" ucap Naya melirik Dimas.
Dimas tersenyum mendengar ucapan istrinya, "Iya sayang jangan khawatir,?" sembari menjepit hidung sang istri.
"Ya sudah pergi sana,? takut kesiangan," titah Naya.
"Ok," Dimas menyambar piring dan gelas, lantas di cuci nya.
__ADS_1
"Eh, biar aku aja yang nyuci," cegah Naya, namun tak di dengar oleh Dimas, setelah melap tangannya, Dimas mrngecup kening Naya, dan Naya mencium punggung tangan Dimas, "Hati-hati yang.?"
Dimas melangkah pergi untuk bekerja, dan mengendarai motor ke sayangannya, yang sebelumnya mengucap salam pada Naya.
Naya menatap punggung Dimas dari ke jauhan, kemudian Naya menunduk serta menarik napas dan menghembuskan dengan kasar.
"Bi, aku ke atas dulu ya,? oy Bi, bukan kah Bibi mau pulang nganteri boneka buat cucu Bibi,?" Naya menatap wajah bi Taty.
"I-iya Bu, kalau di ijinkan, dan Bibi lupa minta ijin sama Tuan,?" sahut bi Taty.
"Boleh Bi aku ijinkan, gak lama kan,?" tanya Naya.
"Sebentar kok Bu, sebelum dzuhur juga Bubi ingin sudah balik ke sini lagi," harao bi Taty.
"Ok, ini buat ongkosnya,?" Naya mengambil beberapa lembar uang yang biru di berikan pada bi Taty.
"Jangan Bu, Bibi punya kok buat ongkos," bi Taty tidak mau mengambil uang tersebut.
"Bi ambil aja, aku ikhlas kok nih ambil,? jangan menolak rejeki,?" Naya lirih.
"Tapi.., Bu,? beneran Bibi ada kok buat ongkos, tapi ya baiklah Bibi ambil, makasih banyak Bu,?" bi Taty mengambil uang tersebut, Naya tersenyum bahagia.
"Ya udah, nanti cukup di tutup aja pintunya, aku ke atas dulu ya Bi,?" Naya hendak berjalan.
"Bibi pamit dari sekarang ya Bu,? mau pagi ah pulangnya biar cepat balik lagi," ujar bi Taty.
"Baiklah, hati-hati ya Bi,?" Naya menaiki anak tangga menuju kamarnya.
"Baik Bu,?" bi Taty mengemas barang yang mau di bawa pulang.
Naya sudah berada di dalam kamar, usai sholat duha, terus mengaji, Naya merasa capek ngantuk, kemudian ia membereskan bekas sholat di simpan semua ke atas meja, Naya naik merangkak di atas tempat tidur lalu masuk ke dalam selimut untuk tidur, "Tumben banget jam segini ngantuk banget ya Allah."
,,,,
Terimakasih reader ku, masih mengikuti cerita ini, dan semoga kabar kalian selalu berada dalam lindungan Allah yang maha kuasa, Aamiin.., ok, jangan lupa selalu lake, komen, rating dan vote nya dong๐๐
__ADS_1