
"Terus kenapa tidak di makan.?" Naya mengambil sendok dan Naya berusaha menyuapi Dimas, namun Dimas malah bengong, "Ayok makan,?" Naya menyuapi Dimas mie goreng, meski tubuhnya sangat lemah, dia tidak tega jika suaminya tidak sarapan hanya karena bukan dari tangannya.
Akhirnya mie habis, kalau dari tangan Naya, Naya tersenyum, Dimas meneguk air mineral, "Aku akan memberi kabar kehamilan Bunda pada keluarga," Dimas mengambil ponselnya.
"Jangan, jangan dulu yang,?" Naya meraih tangan Dimas.
Dimas menaikan alisnya merasa heran, "Kenapa, kan ini berita baik kita yang.?"
Naya berpikir sejenak, "Aku pikir nanti saja kalau pulang dari sini, bilang-bilangnya, jangan sekarang yang,?" lirih.
"Hem.., baiklah kalau itu maunya bunda," Dimas merangkul kepala Naya di sandarkan ke bahunya.
Di luar terdengar suara motor sepertinya Pak Madun sudah kembali, dari apotek, langsung masuk ke dalam rumah mengetuk pintu kamar Dimas.
"Pak dokter, permisi,? saya sudah bawakan obat-obatan untuk Ibu,?" berdiri depan pintu.
Dimas membuka pintu, dan mengambil kantong obat, "Makasih Pak Mad.?"
"Sama-sama Pak dokter, dan ini kunci motornya,?" Pak Mad panggilan Pak Madun itu, menyerahkan kunci motor pada Dimas.
"Ok," Dimas menerimanya, dan
Pak Mad melengos meninggalkan Dimas.
Dimas memberikan obat untuk Naya minum, namun Naya menolak minum obat kecuali vitamin, "Bagai mana caranya sayang sembuh kalau gak mau minum obat hem...?"
"Tolong yang,? aku gak bisa minum obat bau, kan Ayah tau itu,?" Naya memelas, "Kalau aku minum obat yang ada aku muntah, tapi baiklah akan aku coba."
Naya meneguk obat namun belum sampai ke tenggorokan dia sudah memuntahkannya, Dimas langsung mengambil tong sampah, oek oek oek Naya malah memuntahkan semua isi perutnya, membuat Dimas panik.
"Yang, ini minum air putih," Dimas meminumkan air mineral, "Udah sayang jangan memaksakan diri minum obat kalau begitu caranya," Dimas membaringkan Naya usai memberi minum.
Tubuh Naya semakin panas, Dimas kompres dangan air dingin, seharian ini Dimas tidak jauh dari sang istri, terus menemani hingga tiduran di sampingnya, suara dering ponsel yang masuk, telepon maupun pesan singkat Dimas abaikan saja, tidak ingin terganggu sama sekali.
__ADS_1
Sore-sore panasnya Naya baru turun, dia meraba keningnya yang di kompres, melirik ke samping Dimas tertidur menyamping menghadap pada dirinya, Naya melihat keluar jendela matahari sudah mulai menguning tanda menandakan hari sudah sore.
Naya turun menapakan kakinya ke lantai, mau ke kamar mandi, "Bismillah, harus kuat, kasian suamiku," Naya menatap Dimas yang lagi tidur.
Sampai Naya kembali Dimas masih nyenyak tidur, karena masih ada waktu untuk sholat ashar Naya bersujud bersimpuh dan memanjatkan doa syukur atas apa yang Allah berikan padanya, usai itu Naya mendekati suaminya, "Sayang bangun,? sudah sore."
"Hem..," dengan mata masih terpejam.
"Sayang bangun, sudah sholat ashar belum,?" Naya lirih.
Dimas melek perlahan melihat istrinya sudah memakai mukena, Dimas segera bangun mengucek matanya, "Sayang, sudah bangun dari kapan,? kenapa tidak bangunkan Ayah kalau mau ke kamar mandi,?" Dimas menggaruk kepalanya.
"Aku, dari tadi, sudah ayok bangun dulu sholat dulu yang,? di sini tidak terdengar adzan kecuali dari ponsel aku," Naya mendorong bahu suaminya.
"Iya-iyaa bawel,?" Dimas turun sebelumnya menempelkan telapak tangan pada kening Naya, yang panasnya sudah turun, kemudian berlalu ke kamar mandi.
Naya duduk bersandar di tempat tidur, meminum vitamin, tanpa obat lainnya, karena masih lemah Naya berbaring kembali, belum ingin ke mana-mana selain berbaring.
Selepas menunaikan sholat, Dimas mendekati ikut berbaring miring menghadap ke istrinya, membelai kepala Naya, "Sudah di minum vitaminnya sayang.?"
"Tidak, Bunda lapar kah,?" Dimas membalas tatapan Naya lembut.
"Kenapa,? makan dulu sana,? masak apa kek,?" titah Naya.
"Oh iya, Pak Mad kan masak, Ayah mau lihat dulu ya, nanti aku bawa ke sini,?" Dimas bergegas turun dari tempat tidur keluar dari kamar mereka, melangkahkan kakinya ke dapur, setelah sampai benar saja di meja sudah tersedia nasi, sayur, ikan dan telur tinggal santap, Dimas membawakan sayur dan nasi juga ikan untuk dirinya dan Naya makan.
"Makanan sudah datang..,? siap santap,?" suara Dimas dari pintu, masuk membawa nampan berisi piring dan sayur juga ikan.
Naya bangun dan duduk tegak, menyambut Dimas yang membawa buat makan, "Siapa yang masak yang,?" Naya heran, mengamati masakan yang di atas nampan depan matanya.
"Pak Mad yang masak, coba cicipi dulu yang enak gak,?" sahut Dimas mengambil sayur sedikit tuk di cicipi oleh Naya.
Naya menolak, "Nggak yang, kan lidah aku lagi bermasalah."
__ADS_1
"Ya sudah aku saja, hem.., lumayan enak, makan yuk,?" ajak Dimas, kemudian menyuapi Naya, "Baby ayah, yang sehat ya di dalam perut Bunda, dan jangan buat susah Bunda, kasian Bunda," ucap Dimas sembari mengusap perut Naya yang masih kempes.
Naya menatap sang suami, dengan senyum samar, terharu dan juga geli mendengar perkataannya, "Baby, bunda bisa makan sendiri kok, tapi.., yang tidak bisa makan sendiri itu Ayahmu, dia baru bisa makan banyak kalau Bunda yang nyuapin," sambung Naya, sembari mengambil alih sendok dari tangan Dimas.
"Jangan bilang-bilang dong sayang, Ayah kan malu sama calon Baby kita,?" ucap Dimas sambil terkekeh sendiri.
"Tapi kan iya, yang.., besok Ayah masuk kerja aja, aku tidak apa-apa kok, ya kalau mual dan pusing sedikit wajar lah, cuman aku belum bisa ngapa-ngapain, selain tiduran," Naya lirih sambil terus menyuapi Dimas, biar ia makan setelahnya Dimas makan.
"Beneran Bunda akan baik-baik saja,?" Dimas menaikan alisnya, "Gimana kalau kejadian tadi pagi terjadi lagi.?"
"Sayang doakan aku seperti tadi lagi,?" dengan tatapan tajam.
"Ti-tidak sayang, ih amit-amit, cuma aku gak mau itu terjadi lagi sayang,?" elak Dimas membela diri.
"Doakan aku yang baik-baik dong sayang,?" Naya menyuapkan sendok yang terakhir.
"Tentu sayang, aku doakan yang terbaik buat kita semua,?" jelas Dimas, "Ya sudah sayang makan dulu yang banyak, nanti aku ambilkan lagi, sekarangkan bunda berbadan dua jadi makannya harus lebih banyak," ujar Dimas, dengan senyum bahagianya.
Setelah Naya selesai makan, Dimas membereskan ke dapur tak lupa mencucinya, menyalakan lampu dan menutup semua gorden, Pak Mad sudah pulang, karena dia adanya dari pagi sampai sore saja.
Dimas mengambil ponsel, begitu banyak panggilan juga pesan yang masuk, dari kantor juga dari keluarga yang menanyakan keberadaan mereka sekarang, Dimas membalas pesan yang menurutnya penting-penting saja.
Begitupun benda pipih milik Naya, banyak pesan masuk dari keluarganya di Semi, menanyakan kabar dirinya yang lama tidak memberi kabar, Naya balas dengan pengakuan dia sangat baik, dan sekaran berada di luar daerah, menemani suami tugas.
Soal kehamilan biarlah jadi rahasia dulu, nanti saja kalau sudah membesar kehamilannya baru mau kasih kabar baik itu pada semuanya, Naya jadi ingat sama Ibu mertua yang selalu sinis padanya, apa kah kehamilannya akan di sambut baik,? atau..,biasa aja, entahlah, yang jelas mungkin Naya bukan lah menantu idaman bu Hesa, karena Naya tidak normal di mata mereka.
Sementara waktu mereka berdua sibuk dengan ponselnya masing-masing, sampai suara adzan magrib terdengar dari ponsel Naya, Naya melirik Dimas yang duduk di sofa, begitu fokus pada ponselnya, "Yang magrib, sholat magrib dulu yuk, agar tenang kalau sudah sholat, aku mau tiduran lagi, rasanya pening nih kepalaku."
,,,,
Terimakasih reader ku, masih mengikuti cerita ini, dan semoga kabar kalian selalu berada dalam lindungan Allah yang maha kuasa, Aamiin.., ok, jangan lupa selalu lake, komen, rating dan vote nya dong๐๐
Nb..
__ADS_1
Para reader yang aku hormati dan aku sayangi, kalau ada tulisan aku yang salah itu di komen dong,,๐ biar aku betulkan atau revisi ulang, agar membangun aku lebih baik lagi๐ dan tidak lupa aku ucapkan selamat menunaikan ibadah puasa, bagi yang umat muslim,