Bukan Mauku

Bukan Mauku
Di balkon


__ADS_3

Selepas itu mereka makan malam berdua penuh dengan keromantisan, maklum masih pengantin baru, di hiasi canda dan tawa.


"Gimana kalau kita ke atas sekarang.? lihat-lihat mau gak.?" ajak Dimas pada Naya yang tengah mengelap tangannya.


"Emang ada apa sih di atas yang.?" tanya Naya menoleh suaminya yang berdiri di dekatnya. "Tapi..,bolehlah, kalau tak merepotkan mu.?"


Dimas menempelkan telunjuk di bibir Naya sambil menggeleng pelan. "Jangan suka bilang seperti itu, aku suamimu sayang, aku akan menjadi kakimu di kala kau sulit melangkah, tau itukan hem..,?"


"Tapi..,yang sesungguhnya aku tak ingin selalu merepotkan dirimu," Naya mendongak melihat manik mata Dimas yang penuh ketulusan.


"Sudah, yuk sebelum tidur kita cari angin dulu.?" Dimas menggendong Naya yang berpegangan pada leher Dimas. "Yang buat apa angin di cari.? kan angin di mana-mana juga ada yang.?" sembari tersenyum tipis.


"Nggak, kemarin aku usir anginnya, makanya dia kabur, sekarang aku cari lagi." sambil menaiki tangga satu demi satu.


"Em.., yang mending mana.? pasang lift kotak atau lift kursi.?." tanya Naya memandangi wajah tampan suaminya.


"Emang kenapa.?" Dimas balik bertanya kurang mengerti dengan maksud sang istri.


"kalau lift kotak berarti harus membangun di tempat yang baru, tapi kalau lift berbentuk kursi otomatis masih menggunakan tangga yang sebagai dasarnya ngerti gak.?" ujar Naya sambil mengamati setiap sudut lantai dua.


Mereka sudah sampai di sebuah kamar yang sangat luas, "Ini yang kamar aku kemarin yang.! dan ini balkonnya." Dimas menunjukkan sebuah pintu dan membukanya, yang menghubungkan dengan letak balkon, Mata Naya mengikuti apapun yang Dimas tunjukkan.


Dimas kembali membawa Naya ke balkon dan mendudukkan di sebuah kursi panjang. mata Naya mengedar ke sekitar langit yang indah, "Sungguh malam yang indah." gumam Naya pelan, lampu yang menyala di rumah-rumah, menambah indah suasana luar.


"Aku suka duduk di sini menenangkan diri, dan mencari angin." ucap Dimas sambil memandangi langit.


Naya pun dengan helaan napas yang panjang memandangi langit yang membentang luas. di sana ada satu bintang yang mulai bersinar kerlap-kerlip dengan indah.


Mereka duduk berdua di balkon untuk pertama kalinya. "Yang...?" panggil Naya.


"Hem..? apa yang.?" melirik Naya yang bersandar di bahunya.


"Terasa tenang dan nyaman, adem ya di sini.?" ujar Naya masih memandangi langit.


"Makanya aku lebih suka di sini, di kamar ini." ucap Dimas. sembari memeluk pinggang istrinya yang berisi.


Naya mendongakkan kepala. "Kalau kamu mau di sini ya di sini aja, aku tidak melarang kok, aku kamar bawah dan kamu di kamar atas, simpel kan.?"


Dimas menunduk agar melihat wajah sang istri. "Hah..,mana mungkin aku di kamar ini sendiri.? rugi lah saya, gak ada yang meluk juga, terus kalau istri aku siapa yang meluk.? kasian ia kedinginan."


"Kan aku ada selimut, gampang kok." lirih Naya melihat satu bintang yang terang.


"Nggak mau, rugi dong saya kalau harus tidur sendiri, buat apa punya istri.?" Dimas mencium kening sang istri. "Lagi pula.., kalau adik kecilku bangun minta jatah gimana.? susah kalau harus turus turun dulu."


"Aku kunci pintu, agar kamu gak bisa masuk." Naya menyeringai menang.


Dimas langsung membalikkan badan jadi berhadapan dengan Naya. "Hah.., gak bisa seperti itu yang.? kau tega apa melihat suamimu tersiksa.? pokonya kalau sudah ada lift, kita pindah kamar, jangan membantah.!" tegas Dimas. menatap kedua netra mata Naya.


"Emangnya siapa yang membantah kamu yang.? aku gak membantah, cuma ngasih saran dikit, kan katanya lebih betah di sini, ya silahkan gak larang kok." tambah Naya.


"Nggak mau, mulai besok aku mau cari pekerja untuk memasang lift di rumah kita." jelas Dimas sambil bersandar di kursi.


*****


Pagi-pagi Dimas sudah bersiap untuk berangkat kerja, Naya tengah menyiapkan sarapan. Dimas menghampiri Naya dan duduk di kursi menunggu sarapan siap.


"Yang sarapan dah siap nih, makan dulu lah." melirik sang suami yang sibuk dengan ponselnya,


Dimas mengambil sarapan dari tangan Naya. "Terimakasih sayang.? yuk kita sarapan bersama."


Naya duduk dekat Dimas, dan sarapan bersama, setelah melahap sarapannya, Dimas beranjak dari duduknya.


"Yang hati-hati ya kalau berangkat bekerja, jangan ngebut-ngebut, jangan lupa membaca doa juga.


"Iya sayang.., doakan aku juga ya.?" Dimas menyentuh pucuk kepala Naya, Naya mencium punggung lengan Dimas, dan Dimas mencium kening sang istri.


"Oya, nanti akan ada orang dari yayasan untuk menjadi asisten rumah kita." ujar Dimas sebelum pergi.

__ADS_1


"Ya, baiklah," sahut Naya melukiskan senyuman di bibirnya.


"Assalamu'alaikum.? yang hati-hati ya di rumah.?" menatap lekat wajah sang istri.


"Wa'alaikum salam, iya yang.? hati-hati juga."


"Ya sudah aku berangkat dulu, aku pasti cepat pulang kok." Dimas melangkahkan kaki dengan bismillah, sengaja melintasi pintu dapur, menuju garasi mengambil motornya. usai memakai helm Dimas bergegas melajukan motor dengan cepat. Naya melihat Dimas sampai hilang dari pandangan.


Tak selang lama Dimas sampai di depan sebuah rumah sakit tempatnya bekerja, "Pagi dok.?" Seorang suster mengangguk hormat, begitupun Dimas membalas dengan anggukan.


Dalam ruangan Dimas sudah ada seseorang menunggu, Dimas mengernyitkan keningnya, "Ada apa Citra sudah berada di ruangan ku.?" gumam Dimas.


Citra melihat Dimas masuk, Citra langsung memasang wajah sumringah, penampilan Citra kali ini semakin menarik, rambut bergelombang di biarkan terurai, mengenakan dress sepan polos tak berlengan, sungguh cantik.


"Pagi dok.?" sapa Citra mengulurkan tangan.


"Pagi juga, ada apa ya.?" alis Dimas terangkat, heran. ia duduk di kursi kebesarannya.


"Ini dok, kita sudah di tunggu untuk praktek," sahut Citra sambil sedikit menggoda Dimas, gerakan manja seorang Citra. membuat risih Dimas.


Dimas menggeleng pelan, kemudian beranjak meninggalkan Citra yang masih duduk menyerong, "Dok kemana.?" Citra pun bergegas mengikuti Dimas yang sudah lebih dulu jalan, "Tunggu dok jangan terlalu cepat jalannya.?"


Dimas mempercepat langkahnya, dan Citra sedikit berlari untuk mengejar Dimas, hingga akhirnya jalan berdampingan menuju ruang operasi.


Banyak mata yang tertuju pada Dimas dan dokter magang tersebut, Citra, mereka berbisik tentang Citra yang seolah-olah mepet-mepet terus seorang dokter muda, Dimas.


Endro yang tahu Dimas sudah menikah, merasa heran, "Ini cewek nempel terus pada Dimas, apa dia tidak tahu kabar pernikahan Dimas.?" gumam Endro dalam hati.


Usai praktek Dimas berbincang dengan dokter lain, termasuk Endro, Citra tanpa ragu terus saja menguntit Dimas.


"Dokter gimana kabar istri kau.?" sapa Endro pada Dimas.


"Baik bah, kabar istriku sangat baik, main lah ke rumah.?" sahut Dimas dengan tatapan datar, rupanya Endro masih ingat sama istrinya.


"Kapan-kapan aku pasti berkunjung ke rumah dirimu Dim, kapan-kapan aku kabari." Endro tersenyum ramah. "Tapi ngomong-ngomong Dim, kau itu seperti perangko, hingga membuat tuh cewe nempel terus.?" Endro berbisik di telinga Dimas.


Citra langsung mengekor Dimas namun di cegah oleh seorang dokter senior, dokter wanita memanggil namanya.


Dimas bergegas ke ruangannya, dan menutup pintu tak ingin Citra mengikutinya lagi, ia menjadi ingat sang istri di rumah. "Sedang apa ya Naya sekarang.?" gumam Dimas sambil menerawang.


Tiba-tiba ia merasakan sesuatu, pernah ia mendengar, kalau kau (suami) melihat seorang wanita yang menggoda di luaran, bergegaslah pulang, karena yang wanita itu punya, di miliki juga oleh istrimu di rumah, Dimas merasa rindu, ingin sekali ia bergegas pulang, namun jam pulang masih sekitar tiga puluh menit lagi. "Huuh," membuang napas kasar, "Gak tahan rasanya, sialan, sulit di ajak kompromi." Dimas masuk ke dalam kamar mandi dengan cepat, untuk membujuk adik kecilnya, yang sulit di ajak kompromi.


Di rumah


Selepas melaksanakan duha, Naya ke dapur, untuk menyiapkan makan siang, tiba-tiba suara bel berbunyi.


Tingnong...


Tingnong...


Tingnong...


Naya mendekati jendela, di lihatnya ada dua orang wanita paruh baya yang satu membawa tas lumayan besar, seperti berisi pakaian dan satunya hanya membawa tas soren kecil.


"Maaf mau cari siapa.? pekik Naya dari pintu dapur yang sudah ia buka.


Kedua wanita tersebut menoleh dan menghampiri Naya. "Assalamu'alaikum.?" masing-masing mengangguk hormat pada Naya.


"Wa'alaikum salam..! maaf ibu mau cari siapa.?" tanya Naya dengan rasa penasaran.


"Kenalkan saya dari yayasan penyalur asisten rumah tangga, apa benar ini rumahnya tuan Yusuf.? yang istrinya bernama Kanaya.?" sambil mengulurkan tangan.


"Iya, saya Kanaya.! oh, silahkan masuk.? dan duduk." Naya menyuruh tamunya untuk masuk dan duduk di kursi meja makan.


Kedua tamu pun masuk. "Ini dia namanya bi Taty, dia yang akan bekerja di sini." ujar pihak yayasan, Naya mengalihkan pandangan pada orang yang bernama bi Taty, Naya mengangguk begitupun bi Taty pada Naya.


"Ini data bi Taty." menyodorkan sebuah kertas data-data bi Taty seorang janda usia 48 tahun, namun masih terlihat kuat dan segar.

__ADS_1


"Oh iya, Bi semoga betah di sini ya.?" Naya menatap bi taty,


Bi Taty membuka suaranya. "Kapan Bibi bisa mulai bekerja Bu.?"


"Hari ini aja Bi mulai bekerjanya bisa kan.?" bertanya kesiapan bi Taty.


"Oh, bisa bu, bisa kebetulan Bibi sudah membawa baju ganti." bi Taty mesem.


"Kalau begitu, saya permisi dulu," kata Ibu dari yayasan beranjak dari duduknya.


"Oh, kok buru-buru Bu.? bahkan saya tidak menyuguhkan walau segelas air.?" Naya menyatukan kedua tangannya.


"Tidak apa-apa Bu, lagi pula saya tidak haus kok, mari.?" dia melangkah melintasi pintu di antar oleh bi Taty.


Setelah mengantar Ibu tersebut bi Taty kembali dan menutup pintu. "Bibi orang sunda ya.?" tanya Naya memandangi bi Taty.


"He..he..he..kok Ibu tau.?" bi Taty nyengir kuda.


"Itu namanya sunda banget.? tidak seperti orang Kalimantan." ucap Naya sambil membuka lemari pendingin, bi Taty yang melihat cara berjalan yang gak normal langsung bi Taty menghampiri. "Biar Bibi yang kerjakan Bu, apa yang harus Bibi ambilkan.?" sambil berjongkok depan pintu lemari pendingin.


Naya mundur dan duduk di kursi. "Aku mau bikin tumis kangkung, telur balado, dan tempe bacem Bi."


"Baik Bu, Bibi paham, biar Bibi kerjakan, semuanya, Ibu Istirahat saja, mulai hari ini Bibi yang mengerjakan, Ibu tinggal duduk manis saja, Ibu tidak perlu repot-repot di dapur." celoteh bi Taty dengan sangat bawel, Naya hanya tersenyum mendengar bi Taty sangat bawal.


"Oh iya Bu, Bibi benar orang sunda, Bibi dari garut, suami orang Kal Bar jadinya Bibi menetap di sini Bu, Ibu orang sunda juga ya.? habis nada bicara Ibu seperti orang sunda juga, Naya mengangguk sembari tersenyum,


"Oy bi, tas Bibi bawa dulu ke dalam kamar, sebelah tempat mencuci pakaian." Naya menunjukkan kamar buat asistennya, bi Taty melihat menoleh yang Naya tunjukkan.


"Baik Bu, Bibi bawa masuk dulu ya.?" bi Taty berdiri dan meraih tas pakaian nya. di bawa ke dalam kamar, "Lumayan bersih dan nyaman kamarnya," gumam bi Taty mendudukkan tubuhnya di kasur, "Empuk juga." kemudian kembali ke dapur untik meneruskan tugasnya.


"Kamar nyaman Bu, besar juga, kasurnya juga empuk, hi..hi..hi.." sambil memotong sayuran,


"Bi, kenapa Bibi masih mau bekerja.?" dengan tatapan introgasi.


"Em.., Bibi gak enak berdiam diri dengan anak menantu Bu, cucu Bibi juga sudah pada besar, gak harus di asuh lagi, lagian kan Bibi masih kuat untuk bekerja," sembari malihat-lihat ke sana ke mari. "Oya, anak Ibu ada berapa.? pada sekolah ya.? kok sepi.?"


"Aku belum lama menikah Bi," senyum samar, baru beberapa minggu di sini juga, aku orang Sukabumi." sahut Naya dengan tangan sibuk pada benda pipih miliknya.


"Oh begitu.? ketemu sama pak dokter dimana.?" menatap wajah majikannya.


"Di handphone Bi."


Bi Taty bengong, "Kok bisa ya.?"


"Bisa lah Bi." Naya berdiri, menggeser kursinya pelan-pelan.


"Eeh, Ibu mau kemana.?" bi Taty refleks.


"Mau menanak nasi."


"Nggak usah Bu, biar Bibi saja, yang mengerjakan semuanya," bi Taty berdiri juga.


"Tidak apa-apa Bi, aku akan mengerjakan sesuatu bila aku mau." tak menghiraukan ucapan bi Taty.


"Ooh, baiklah," bi Taty mulai memasak yang yang tadi Naya katakan, namun di sela-sela memasak bila sudah di bumbui bi Taty memberikan sedikit pada Naya untuk di cicipi, takut beda rasa katanya.


"Sudah Dzuhur Bi, aku masuk kamar dulu ya.? oya Bi kalau semua sudah matang dan Bibi lapar makan aja duluan, oya Bibi kalau mau sholat dulu semuanya tinggalin aja," tutur Naya lirih.


"Baik Bu.! Bibi akan ingat pesan Ibu, oya Kamar Ibu di mana ya.? siapa tau ada tamu nanti." tanya bi Inah.


"Tuh.., kamar aku, gak lama lagi suami aku akan pulang, ya sudah Bi aku masuk dulu ya.?" Naya berjalan menuju kamar.


"Hati-hati Bu.? Bibi antar ya.?" bi Taty menatap kepergian majikannya.


Tanpa menoleh. "Tak usah Bi.!" Naya masuk ke dalam kamarnya, duduk di sofa sebentar, lalu ke kamar mandi mau mengambil air wudhu.


,,,,

__ADS_1


Aku tak akan bosan mengucapkan terimakasih banyak pada reader ku yang masih setia mampir di novel ini. jangan lupa selalu lake dan komen, tinggalkan jejak ya jangan lupa.


__ADS_2