Bukan Mauku

Bukan Mauku
Menjelang kepulangan


__ADS_3

Naya berjalan membuka semua gorden, beres-beres di kamar tersebut seperti memungut pakaian kotor dimasukan ketempat nya, sembari menunggu baby nya bangun, Naya mengambil kertas dan pilot untuk menggambar.


Oa.., oa.., baby Arif bangun, suaranya nyaring membuat adik Kayla terbangun juga, "Hem.., kenapa sayang,? masya Allah anak 'ku dah bangun, alhamdulillah masih bisa menikmati indahnya dunia," Naya mengucap syukur.


Naya langsung memberikan ASI-nya pada Arif dan Kayla, setelah mereka kekenyangan Naya memandikan dan mendandaninya, mereka bermain di BOK nya masing-masing, barulah Naya turun untuk mengecek sarapan.


''Bi masak apa nih buat sarapan,?" sapa Naya pada Bibi.


Bibi menoleh, "Oh ini Bu, masak kesukaan Tuan juga ada."


"Oh iya," Naya membuat minuman susu hangat, buat suaminya.


"Bi Aku naik lagi ya, takut anak-anak nangis," sembari mencuci tangan dan mengelapnya, menyeret langkahnya ke tangga, "Oya nanti kami turun untuk makan," Naya menaiki anak tangga.


"Iya Bu."


"Tante, Rita ikut..," Rita mengekor Naya ke atas.


"Awas hati-hati loh naiknya," Naya menuntun Rita yang bergegas naik.


Kini mereka sudah berada di kamar, "Rita belum mandi ya,? Dede bayi udah mandi loh, dah wangi."


Rita mengajak main baby twins, Naya mendekati suaminya yang masih di balik selimut.


"Sayang bangun,? sarapan yuk," Naya menempelkan pipinya di bahu sang suami.


"Em..," gumam Dimas menggeliat, memicingkan matanya melirik sang Istri.


"Iya Bi,? pekik Naya setelah mendengar suara Bi Taty dari balik pintu, "Masuk aja, gak kunci kok."


Kemudian pintu terbuka, nampak Bibi membawa nampan berisi gelas susu punya Dimas yang dibuat Naya tadi.


"Ini susunya, nanti keburu dingin, nggak enak loh," lalu menyimpan di atas meja.


"Kata siapa Bi,? ini punya istri saya biarpun dingin enak-enak saja," jelas Dimas dengan suara parau khas bangun tidur.


Naya melotot dengan sempurna dan bukan cuma itu saja Naya pun mencubit lengan Dimas membuat Dimas meringis kesakitan.


"Aw.., sakit yang," rajuk Dimas pada Naya.


Bibi mesem mendengar perkataan Dimas yang nyeleneh itu, kemudian kembali keluar dan menutup pintu dengan rapat.


"Apaan sih, malu ih bicara gitu," Naya memanyunkan bibirnya.


"Tak apa lah, Bibi juga ngerti kok."


"Aku yang malu," berwajah kesal.


"Aku nggak," sahut Dimas nyengir kuda.


"Iih..," Naya menyatukan giginya bersikap geram akan suaminya yang lantas berpura-pura menarik selimut, "Bangun.., gimana sih.?"


"Nggak mau."


"Bangun yang.., sarapan, kan belum minum obat," mengelus rahangnya dengan halus.


"Iya bentar lagi, hoaam," Dimas menguap.


"Di tutup, nanti masuk syetan," ucap Naya menempelkan bibir di bahu sang suami.


"Iya kah.?"


"Heem.''


"Ayuk bangun..,?" menarik lengan Dimas yang malas-malassan.


"Iya, iya sayang mau cuci muka dulu," sambil bangun dan turun melangkah ke kamar mandi.


Naya merapikan bekas tidur, melirik Rita yang anteng bermain sambil sesekali mencolek pipi baby twins.


"Tante, baby nya mau bobo," Rita menoleh Naya sesaat.


"Oh, iya biar saja, jangan di ganggu ya biar bobo mereka."

__ADS_1


"Iya, Tante, Rita mau pulang ya,?" berdiri mau berjalan menuju pintu, namun di cegah Naya.


"Rita, nanti pulangnya, jangan sendirian takut jatuh," Naya menghampiri Rita lalu menuntunnya, setelah berada di bibir tangga Naya berdiri menengok ke bawah, "Bibi..,? tolong jemput Rita nih," pekik Naya memanggil Bibi.


"Rita tunggu Mama dulu."


Tidak lama Bi Meri alias Mamanya Rita nongol, bergegas naik menjemput putrinya.


"Rita jangan ngerepotin Tante dong," ucap Mamanya. meraih tangan Rita dibawa nya turun.


"Nggak ngerepotin kok Bi, anteng bermain, namun baby mau tidur sekarang," ujar Naya dan memutar badan kembali ke kamar.


Naya mendekati kedua buah hatinya yang sudah terlelap tidur, "Sudah bobo kah,?" tanya Dimas yang baru keluar dari kamar mandi.


Naya menoleh kearah suaminya, "Iya baru saja," Naya mengelus kepala kedua buah hatinya.


"Yuk sarapan dulu," Naya beranjak dari tempat semula, berjalan beriringan dengan Dimas yang berjalan di depan.


"Aku senang, sekarang Bunda sudah bisa jalan jauh tidak seperti dulu lagi," jelas Dimas meraih tangan Naya di gandeng nya.


Naya mesem bahagia, "Iya yang, aku juga bersyukur, sekarang jalan 'ku lebih baik, makasih ya Allah."


Akhirnya mereka sampai di meja makan dan mendudukkan tubuhnya di kursi berdampingan, "Eh yang di atas susu di minum belum,?" melirik suaminya lalu mengambil piring di tuangi nasi goreng dan ayam goreng.


"Sudah," mengangguk.


Bapak dan Ibunya baru datang dan duduk berhadaan dengan mereka berdua, "Sarapan Pak, Mak," Dimas mengangguk.


"Iya, baby kalian sama siapa,?" melihat kedua asistennya Naya yang sibuk masing-masing.


"Mereka baru saja bobo lagi setelah di mandikan," sahut Naya.


Bu Hesa menghela napas lalu berkata, "Kalau seandainya mereka sesekali kami ajak ke Rumah Mama boleh gak,?" menatap tajam kearah Diams dan Naya.


Naya saling pandang dengan Dimas, "Em.., emangnya kenapa Mak,?" tanyanya Naya heran kenapa bertanya seperti itu.


"Nggak, ya kali saja kami ingin membawanya untuk menginap, kemudian diantar lagi kesini, gitu," ujar Bu Hesa hati-hati.


"Oh boleh kalau mereka sudah lepas asi," ucap Dimas cepat, Naya bengong menatap Dimas.


"Kami sudah siap untuk pulang, hari ini juga," ujar Bapak mertua Naya sambil mengunyah.


"Loh kok buru-buru Pak, kenapa mesti hari ini, kenapa gak besok-besok?" Naya menatap mertuanya lekat.


"Kami sudah menghitung-hitung, baiknya hari ini yang bagus," sahut Bapak mertua.


"Oh," Naya ngangguk-ngangguk.


"Kalau gak ada halangan, kan mau mengadakan peresmian klinik," Dimas menatap kedua irang tuanya.


"Ya.., kami pasti datang dong, lagian kan jarak dari sini ke rumah kami kan gak jauh-jauh amat, apa sih yang di khawatirka,?" ucap nya lagi.


Selesai makan Bu Hesa dan suami mengeluarkan barang nya dari kamar di bantu oleh Pak Mad di masukan ke dalam mobil, menjelang kepulangannya, Bu Hesa duluan naik ke kamar Dimas mau menjumpai baby twins.


Mereka masih bobo dengan sangat pulasnya, Bu Hesa mencium keduanya bergantian, tanpa terasa meneteskan air mata, sedih tidak bisa melihat setiap waktu lagi, tak bisa bermain bersama lagi, "Sayang.., oma tinggal ya,? oma akan merindukan kalian, dan oma akan sering-sering datang menjenguk kalian bermain sama kaian."


Bapak mertua pun membelai baby Arif dan Kayla, menatap penuh kasih, menciumnya satu-satu, nampak haru melihat mereka mau berpisah, tampak berat keduanya melangkah.


Bu Hesa mengusap pipinya yang basah, berjalan gontai, "Naya, kami puang dulu ya, jaga baby nya baik-baik," Bu Hesa memeluk Naya, dan Naya pun membalasnya.


"Mama juga hati-hati yang sehat selalu, dan sering-sering lah menjenguk kami, pintu Rumah ini selalu terbuka," lirih Naya di pundak Bu Hesa.


Kemudian Naya mencium tangan kedua mertuanya, di ikuti oleh Dimas, keduanya melangkah keluar dari kamar tersebut.


Bu Hesa dan suami pamit terlebih dahulu pada oara asisteen Rumah, dan menitipkan kedua cucunya agar dijaga baik-baik.


Dimas mengantar sampai teras, "Hati-hati Pak."


"Ya kau juga cepat sembuh, biar segera bisa bekerja lagi," Bapak menepuk-nepuk bahu Dimas.


"Doakan saja Pak, Mak."


Keduanya masuk mobil, wajah Bu Hesa nampak sedih dan bermuram durja, suaminya langsung memutar kemudi melajukan mobilnya keluar dari halaman Rumah Dimas yang selama ini mereka tempati.

__ADS_1


"Jangan bersedih, kita bisa menemuinya kapan saja," ucap lelaki paruh baya itu.


Hik..,hik..,hik.., Bu Hesa malah menangis, tak kuasa menahan sedih, biasanya tiap jari bertemu, melihat tawanya, mendengar tangisnya, kini tidak akan sesering sebelumnya.


"Sudah-sudah, jangan menangis lagi, lain kali kan bisa kesini lagi," bujuk suaminya, Bu Hesa berhenti menagis dan menyeka air matanya.


"Biarkan mereka mengurus Rumah tangga nya tanpa campur tangan kita."


"Emangnya kapan saya mencampuri urusan mereka,? tidak pernah."


"Tapi secara tidak langsung kau sering menyakiti mantu kita yang satu itu, dia begitu baik dan berusaha menjadi istri yang baik buat putra kita, ya sudah lah jangan di bahas lagi," sambil fokus pegang setir menatap kedepan jalanan yang mulai ramai.


****


Di Rumah Dimas, Dimas mempercepat langkahnya menaiki anak tangga dan memasuki kamarnya di mana anak dan istrinya berada.


"Mama sudah berangkat kah,?" Naya menoleh suaminya yang baru masuk, menutup pintu sangat hati-hati.


"Sudah," melangkah maju mendekati istrinya yang duduk di sofa panjang.


"Sepi dong sekarang," Naya menarik napasnya.


"Biar gak di sini pasti sering-sering datang kok," jelas Dimas sambil membaringkan kepalanya di pangkuan sang istri.


Tangan Naya membelai rambut sang suami, "Iya sih, yang selama ini kita gak pernah ke sana."


"Kemana yang,?" tanya Dimas menoleh.


"Rumah Mama," tambah Naya lagi.


"Ya nanti kita ke sana ya, dulu kan Bundanya sakit, sekarang Bunda sudah bisa jalan jauh jadi nanti kalau Ayah sudah benar-benar sehat kita main ke sana, maukah sayang,?" dengan santainya.


"Mau yang mau," Naya mengangguk terlintas rona wajahnya bahagia.


Memang dari sejak menikah belum pernah walau sekali ke Rumah mertuanya, dan setelah ia bisa jalan jauh seperti sekarang Naya pengen main ke sana, sekalian mengajak buah hatinya ini.


Di sebuah ruangan, tepatnya ruangan kerja Lisa menggerutu dengan masalah yang dirinya hadapi, barang yang dirinya kirim hilang tanpa jejak padahal pengiriman jelas-jelas ke alamat yang di tuju, namun barang tidak sampai bahkan hilang dari perusahaan jasa pengirimannya.


Mana barang nya lumayan banyak, konsumen minta ganti rugi, uang minta kembali, kalau gini caranya justru yang rugi adah pihak Kanaya Busana, Lisa nampak frustasi harus gimana cara menyelesaikannya dia bingung sangat dam hal ini, mana uang yang harus di kembalikan lumayan besar.


"Sudah, laporkan saja masalah ini pada Ibu," saran asistennya pada Lisa yang nampak kebingungan.


"Tapi gak segampang itu, kita harus cari tahu di mana barang itu berada dan motifnya apa sampai hilang dari jasa pengiriman."


"Terus giman caranya,? kita cari tahu, itu luar daerah bukan wilayah sini kan,?" debat mereka.


"Haduh.., aku bingung," gerutu Lisa sambil mondar mandir berjalan tanpa arah.


Asistennya pun cuma memandangi ikut pusing, padahal kerjaan numpuk, pesanan banyak.


Karena tidak menemukan jalan keluar dari masalahnya, sementara pihak konsumen terus minta di ganti, akhirnya Lisa memtuskan untuk laporan pada Naya sebagai bosnya.


"Bi, apa Ibu ada,?" tanya Lisa pada Bi Taty.


"Ada Non, ada di kamarnya, temui saja," jawab Bi Taty menunjuk ke lantai dua.


Lisa menoleh ke lantai dua, hatinya gelisah, jantung nya berdebar tak karuan, "Tapi..," sangat ragu-ragu.


"Kenapa Non,? seperti orang baru saja," ucap Bibi menatap heran sikap Lisa.


Lisa nampak lesu, tangannya bertaut keringat pun bercucuran, dia memberanikan diri meniti anak tangga sambil ngechat, memberi tahu bahwa dirinya ada perlu penting dan menunggu di sofa lantai dua.


"Ada apa nih, tumben bilang penting segala,?" Naya membaca chat dari Lisa.


"Ada apa Bun,?" Dimas mendongak.


"Lisa ada di depan katanya ada perlu penting entah ada masalah apa" sembari memasukan ponsel ke sakunya.


"Yang, aku mau menemui Lisa dulu, tolong jaga baby kita, sepertinya ada masalah deh," Naya beranjak setelah Dimas bangun dan duduk.


"Ah, heran ada aja gangguan nya bila ingin manja-manja sama istri," gumam Dimas, membuat Naya tersenyum mengelus pundak suaminya.


****

__ADS_1


Bagi reader yang selalu mengikuti novel ini aku ucapkan terimakasih banyak, dan mohon maaf yang sebesar-besarnya bila ada kata yang tidak berkenan, tidak sesuai dengan cerita semata-mata atas kekurangan penulis yang baru belajar menulis, doa terbaik aku panjatkan untuk kalian semua reader 'ku love love love ♥️♥️


__ADS_2