
Dibelakang mobil Dimas ada sebuah mobil mengikuti dari kejauhan, terus memperhatikan Mobil yang ditumpangi Dimas dan yang lainnya, hem..,kira-kira siapa ya..?
Dery yang dapat mencium pengintaian, melesatkan mobilnya lebih cepat dari sebelumnya, jelas Dery tidak mengetahui mobil siapa itu apa dalam keadaan malam seperti ini.
"Aduh, maaf jangan terlalu cepat jalannya,?" pinta Naya dari belakang.
Sembari menoleh dari kaca spion Dery berkata, "Sepertinya ada mobil yang mengikuti mobil ini."
"Terus gimana dong,?" Dimas menjawab dengan cepat.
"Nggak tau, sebisanya kita harus menghindari nya, " Sahut Dery tetap fokus menatap jalanan.
Naya tampak panik memeluk putrinya erat, namun Dimas mencoba tenangkan, "Tenang sayang semoga tidak terjadi apa-apa."
"Kira-kira siapa mereka, lagian buat apa mengikuti kita,?" tanya Naya menatap suami dan Dery.
"Ntah," sahut Dery dengan cepat.
Hati Naya diselimuti kecemasan namun dia tetap memanjatkan doa agar perjalanannya Allah jaga.
"Kita gak jadi makan dong?" ucap Dimas pada Dery.
"Hem..," gumam Dery singkat.
"Ya udah nanti aja di rumah," sambung Dimas lagi.
Setelah berhasil menjauh, barulah mobil yang dikendarai Dery melaju santai dan sudah lebih dekat ke rumah Dimas.
"Gimana sudah aman belum,?" tanya Naya sambil menengok kebelakang.
"Sudah kayanya yang," sahut Dimas dan ikut melihat kebelakang juga.
"Sudah aman kok, tenang saja," suara Dery dari depan setir.
"Syukurlah," sambung Naya merasa lega apa lagi sudah dekat ke rumah.
"Kalian mau makan dulu gak, itu di depan resto," Naya menunjuk sebuah resto.
"Gimana Dery, mau makan di luar apa makan di rumah saja nih,?" tanya Dimas pada Dery.
"Terserah aja, di rumah juga boleh," sahut Dery.
Mobil terus melaju menuju alamat rumah Dimas yang tinggal beberapa menit lagi, dan akhirnya mobil memasuki halaman di sambut oleh Pak Mad membungkuk hormat, Selamat malam Tuan dan Ibu juga Pak Dery..,? sapa Pak Mad setelah membukakan pintu mobil.
"Malam juga Pak," sahut Naya, yang lain hanya membalas dengan senyuman.
"Hi..,baby twins, ayuk sama Bibi,?" suara Bi Mery dari belakang bergegas memburu baby twins di gendong dua-duanya, Akhirnya kalian kembali pulang juga."
Naya tersenyum mengembang melihat Bi Mery yang menyambut kedatangannya.
"Rita mana Bi,?" tanya Naya sambil turun dari mobil dengan tangan menggenggam tangan Dimas.
"Sudah tidur Bu," sambil segera mambawa beby twins masuk, kasian lama-lama di luar kena angin malam.
Dimas menggandeng tangan Naya, Dery berjalan dibelakang mereka memasuki Rumah yang beberapa hari ini di tinggalkan, sebelumnya Dery menyerahkan kunci pada Pak Mad supaya dimasukan ke garasi.
"Assalamu'alaikum.., Bi aku pulang," Naya menghampiri Bibi yang sibuk menghangatkan masakan.
"Wa'alaikum salam, baru sampai malam gini, Bibi Lagi ngangetin masakan, pasti kalian belum makan ya," ujar Bibi Taty sambil mengaduk tumis terong kecap kesukaan Naya.
"Iya Bi, kami mau makan nih lapar," sahut Dimas sembari duduk di kursi meja makan bersama Dery yang membuka topi nya disimpannya di meja.
__ADS_1
"Masak apa aja Bi,? hem..., wanginya sampai menyeruak begini, bikin lapar," Naya mengambilkan piring untuk mereka bertiga dan menuangkan nasi pada piring masing-masing di tambah lauk pauknya.
"Sengaja Bibi masak kesukaan kalian, termasuk kesukaan Pak Dery ayam kecap," dan menyuguhkan nya pada Dery.
"Makasih Bi," gumam Dery.
"Sama-sama," semoga kalian menikmati masakan Bibi ini, awas kalau gak di makan ya," ketus Bi Taty.
"Iya Bi tenang saja, ayok dong makan bareng," ajak Naya pada Bibi."
"Kami udah tadi, Bibi mau lihat baby twins dulu lah kangen nih," Bibi berlalu ingin bertemu Arif dan Kayla.
Naya tersenyum sambil mengangguk, lalu menyediakan minum untuk suaminya dan Dimas.
Ketiganya makan malam begitu lahap, sesekali Naya menyuapi Dimas.
Dery hanya menunduk jiwa mblo nya meronta melihat pasangan di depannya begitu mesra, walau ada rasa yang tak mudah terlukiskan dengan kata-kata, di selan menelan makanan juga menelan saliva nya sendiri.
Dery menghabiskan makanan nya di piring sampai tandas, kemudian meneguk air putih yang Naya sediakan, membawanya ke wastafel mencuci tangan dan mengelapnya.
"Saya pulang dulu," menatap Dimas dan Naya yang masih menghabiskan makannya.
Dimas meneguk air minum lalu berkata, "Kenapa gak nginap saja capek kan."
"Iya," gumam Naya melirik Dery sekilas.
"Saya mau pulang ke VILA, mau istirahat di sana," sahut Dery menggeser kursi bekasnya duduk.
"Oke lah, makasih ya,"Dimas menepuk bahu Dery.
"Ya sama-sama," timpal Dery.
Dimas memandangi istrinya, sedikit ada kecemburuan bila melihat istrinya bicara ramah pada pria lain, nyeess menusuk ke relung hati.
"Biasa sajalah," sambung Dery sambil mengambil tasnya yang tadi dibawakan sama Pak Mad ke dalam rumah.
Setelah Dery hilang di balik pintu, Naya membereskan bekas makannya, "Ehem..," Dimas berdehem.
Naya menoleh, " Kenapa yang, mandi sana, kita belum menunaikan isya juga."
"Perhatian banget sama Dery," menatap tajam.
Naya menghentikan aktifitasnya memutar tubuhnya, "Maksudnya,? biasa aja kok," mengernyitkan keningnya.
Dimas terdiam dan melamun kan sesuatu yang beberapa hari ini mengganggu pikirannya, namun masih ia simpan rapat sampai waktunya tiba.
"Dia baik banyak menolong kita, wajar dong jika kita bersikap baik juga,? gak nyadar hem,?" sambung Naya.
"Iya-iya sayaang..," Dimas berdiri termangu entah pa yang ia pimirkan, sementara Naya melangkahkan kaki nya menaiki anak tangga, berdiri di anak tangga ke empat melihat suaminya yang nampak melamun Naya menggeleng, "Bukannya bersih-bersih, malah melamun.
Blaakk, pintu kamar terbuka, di dalam nya tak ada yang beda dari sebelumnya, masih tetap bersih dan wangi, Naya melangkah maju ke dalam dan bukannya bersih-bersih masuk kamar mandi melainkan berdiri di balkon menghirup udara malam yang begitu dingin, padahal beberapa waktu lalu dari perjalanan, namun kali ini angin terasa beda, berasa menyejukan.
Melihat langit yang terbentang luas memayungi bumi, bintang yang berkedip nampak indah di pandang mata, sementara Bulan masih enggan menampakkan dirinya, malu-malu berdiam di balik awan.
"Sayang, sedang apa di situ,? bukannya bersih-bersih malah berdiri di sini, angin malam nih yang, kurang baik untuk kulit mu," suara Dimas dari belakang dan langsung memeluk sang istri.
"Kok gak terdengar suara langkah kaki sih," Naya menyeringai.
"Melayang tak menapak, jadi gak terdengar suaranya," sahut Dimas sekenaknya.
"Hem.., ada-ada saja," gumam Naya sambil melihat bintang diatas langit sana.
__ADS_1
"Bintang itu..,walau terlihat jauh dan kecil, namun begitu indah di pandang mata," ucap Naya membuat Dimas mendongak melihat apa yang istrinya lihat.
"Memang benar, kerlipan nya begitu indah, seindah wajah mu dalam pandangan 'ku, sehingga tak rela orang lain melihat mu," timpal Dimas sambil menatap langit.
Naya menaikan sebelah alisnya, "Gombal, ehh pandai juga membuat puisi yang," Naya senyum tipis.
"Hehe, sudah masuk yuk,? nanti masuk angin," melepas pelukan dan menggiring sang istri masuk kamar lantas mengunci pintu yang menghubungkan balkon dan kamar.
"Ya udah aku mau mandi dulu, lihat anak-anak apa mereka tidur bersam Bibi, sudah malam juga."
"Biar saja, Bibi pasti kangen sama baby kita," sahut Dimas sambil menjatuhkan tubuhnya diatas tempat tidur yang empuk itu.
Naya masuk kamar mandi, mengisi bath hub dengan air hangat untuk berendam sebentar, tidak lupa membubuhkan aroma terapi ke dalamnya.
****
Pagi-pagi, Dimas sudah siap tuk berangkat kerja, namun seperti biasa dia mengajak bermain si baby dan menunggu sarapan siap.
Kali ini Naya menyiapkan nasi goreng permintaan Dimas suaminya, Naya berkutat menyiapkan bahan-bahannya.
"Padahal biar Bibi saja Bu yang bikinkan, ibu tinggal suruh saja sambil duduk," ucap Bi Taty sambil memasak masakan yang lain.
"Tak apa Bi, gak tiap hari juga kalau sudah punya baby," sambil mengulas senyumnya.
Bi Mery tengah bersih-bersih rumah sembari mengurus Rita bersiap berangkat ke sekolah, Pak Mad tugas nya menyiapkan mobil, sebelumnya mengurus kolam ikan dan kolam renang.
Setelah nasi goreng ala Naya matang Dimas pun turun langsung membawa tas nya, ia turun sambil melipat lengan kemejanya sampai siku, Naya melihatnya dari dekat meja makan.
"Sudah siap sayang buat sarapannya,?" menghampiri dan sekilas mengecup kening sang istri.
"Sudah, ini susu hangatnya," Naya menyodorkan ke depan Dimas, "Anak-anak bermain kah, apa tidur lagi,? belum di mandiin juga," lirih Naya mendudukkan tubuhnya dekat sang suami.
"Tidur yang, mereka tidur lagi."
"Em..," Naya menyuapi suaminya penuh cinta.
Dimas menatap bahagia, sambil mengunyah tertahan senyumnya, "Makasih sayang,?" mengusap pipinya yang lembut.
Keduanya sarapan bersama, di selangi mengobrol, "Oya, aku ingin menjenguk Lisa yang,?" ucap Naya seakan meminta ijin suaminya untuk menjenguk pegawainya di kantor polisi.
"Sepertinya hari ini Ayah sibuk, gak akan bisa nganterin Bunda, lain kali aja, tapi kalau Dery gak ada kerjaan dan bersedia nganterin Bunda sih boleh saja, tapi pake motor, mobil Ayah bawa," ujar Dimas disela mengunyahnya.
"Pak Mad bersama kamu,?" menatap suaminya.
"Iiya, Pak Mad jadi supir Ayah, tapi gak apa suruh pulang aja dulu sebentar untuk mengantar Bunda ke kantor polisi."
"Aku gimana baiknya saja lah," Naya pasrah.
"Sayang hari ini mau ke butik kan,?" tanya Dimas meneguk susu hangat setelah makanan di piringnya tandas.
"Iya, nanti agak siangan kalau anak-anak sudah mandi," timpal Naya sambil menyuapkan sendok ke mulutnya yang terakhir.
"Em.., jangan terlalu capek."
"Kalau Lisa di kantor polisi lama berarti aku butuh pekerja baru dong,? yang bisa kan kita bebaskan Lisa," menatap sang suami dengan tatapan serius.
,,,,
Apa kabar semuanya...,? terimakasih masih mengikuti novel recehan ini, semoga Tuhan membalas akan kebaikan kalian, terimakasih yang telah memberikan lake, komen, tapi vote nya mana nih,? hehehe bercanda ! aku gak akan memaksa kalian kok cukup seikhlasnya saja.
NB.... mampir juga di karya aku yang satu lagi ya di SKM ''Surat Kontrak Menikah''semoga berkenan🙏
__ADS_1