
"Baik teh, Alhamdulillah sehat semuanya juga." jawab Andi senyum tipis, kemudian Andi mengalihkan pandangan pada pria yang bersamanya tadi.
"Dia lah wanita yang aku ceritakan," kata Andi, pria itu hanya mengangguk dan sesekali melirik kepada Naya.
"Teh, dia teman aku, namanya Erik, dia sedang mencari calon istri, orangnya baik kok dan Andi sangat kenal baik dia," ucap Andi, Naya mendengarkan dan mencerna yang di maksud oleh Andi.
"Andi kan tahu teh Naya sedang singel, jadi Andi ajak dia kesini, dia orangnya baik, pekerja keras, dan sudah punya usaha walaupun kecil-kecilan teh," ujar Andi melirik Naya dan temannya bergantian, Naya hanya diam dan memperhatikan kalimat demi kalimat dari Andi, mendengar kan dengan seksama.
"Cuma---!" Andi menggantung kan ucapannya, bersi tatap dengan Erik, kemudian Andi melanjutkan ucapannya.
"Cuma..,dia gak bisa bicara tapi bisa mendengar, seperti sekarang dia mendengar yang Andi bicarakan, Andi juga sudah ceritakan kondisi teh Naya, " jelas Andi sembari mengisap rokok di jarinya.
Setelah hening beberapa saat, Naya pun bersuara. "Aku pernah menikah om Andi, meskipun cuma sebentar,"
"Andi sudah ceritakan sama dia." kata Andi meyakinkan Naya.
Naya menoleh Bu Nina yang baru datang, kedua pria itu tersenyum dan saling berjabat tangan, kemudian bu Nina masuk membiarkan mereka bertiga melanjutkan ngobrolnya.
"Gimana teh, berminat berumah tangga lagi.?" tanya Andi penasaran akan jawaban Naya.
Naya menghela napas yang panjang kemudian di hembuskan dengan kasar.
"Aku bukannya gak mau tapi..,aku tidak ingin mengalami lagi yang sudah-sudah, beberapa tahun yang lalu, aku menikah dan tiga hari kemudian ditinggalkan, tanpa nafkah apa pun, sampai sekarang, kata cerai pun hanya lewat telepon." dengan tatapan yang nanar. matanya berkaca-berkaca.
Andi pun menarik napas kasar. "Dia pasti akan menjadi seorang suami yang bertanggung jawab buat teh Naya."
"Aku belum siap om Andi." sahut Naya menyeka air matanya yang mengalir di pipi, Andi merasa Haru.
"Jadi intinya teh Naya masih trauma.?" Andi memandang lekat Naya bergantian dengan Erik.
"Iya om Andi, maaf bukannya apa-apa, tapi luka aku masih membekas," Naya beralasan, "Tapi--! Naya menggantung kan kalimatnya.
"Tapi apa teh Naya.?" Andi menatap kearah Naya.
"Biarkan aku berpikir, dan silahkan istikharah dulu, setelah itu..,silahkan datang kembali" tegas Naya bergantian melihat wajah kedua pria di depannya.
__ADS_1
Andi dan Erik bersi tatap sesaat kemudian Andi bersuara, "Baiklah kalau begitu." Andi menyanggupi keputusan Naya, lalu membalikan mukanya pada Erik. "Begitu Rik keputusan teh Naya.?" Erik pun mengangguk tanda mengerti dan setuju.
Karena sudah pukul satu, waktunya sholat dzuhur, Naya beranjak meninggalkan kedua pria dan Bapaknya berbincang.
Setelah sholat Naya membuatkan mie buat tamunya, dan di suguhkan oleh bu Nina, usai makan Andi dan Erik berpamitan untuk pilang,
Setelah mereka tidak ada lagi. bu Nina mendekati Naya "Kenapa gak di terima saja.? buat apa kamu nunggu yang belum pasti.?"
"Aku ada janji." jawab Naya mengalihkan pandangan.
"Janji.? janji apa.? orang yang entah ada di mana-mana berada, yang belum tentu datangnya, orang yang gak pasti namanya," ucap bu Nina ketus.
"Jelas-jelas ada orang yang mau, dekat juga, gak harus jauh-jauh, malah di tolak, cari yang seperti apa sih.? biarlah dia bisu yang penting bertanggung jawab.! kamu juga harus ngaca gimana dirimu.?" tambah bu Nina geram dengan keputusan Naya, yang dia anggap salah telah menolak Erik.
Naya tidak menjawab hanya diam membisu, dalam hati aja yang bergejolak beradu argumen, tanpa mampu mengucapkan dengan kata-kata, Ia beranjak ke toilet mengusap air mata di sana, ia tak ingin orang tau kalau ia menangis.
"Aku sayang sama Dimas." batinnya.
******
"Baring aja." jawab Naya yang duduk di tepi tempat tidur.
"Sudah makan belum sayang.?" Dimas menunjukkan sedikit perhatian.
"Belum.!" singkat.
"Kok belum.? makan dong nanti sakit, aku tidak mau sayang sakit, makan dulu sana..? aku tunggu." kata Dimas sedikit membujuk.
"Gak lapar gimana.? kamu sudah makan juga.?" lirih.
"Sudah.! makan dulu sayang nanti sakit, aku khawatir kalau kau sakit yang..!" balas Dimas merajuk.
"Sudah Ku bilang gak lapar gak lapar, kok maksa sih.?" merasa kesal.
"Yang..., nanti kamu kena lambung, kan sayang sendiri yang bilang, suka perih berarti sakit lambung mag." dengan nada lembut.
__ADS_1
"Tenang saja aku akan baik-baik saja." Naya tersenyum tipis.
"Yang.., aku mau ngomong." Naya ingin bercerita.
"Ngomong aja yang.! mau ngomong apa sih serius kah.?" sahut Dimas.
"Kemarin, ada dua pria yang datang, satunya adalah tetangga aku dulu, yang satunya kawan dia," kata Naya membaringkan tubuhnya.
"Terus.?"
"Nah kawannya itu sedang mencari calon istri--! Dimas langsung memotong kalimat Naya."Jangan bilang pria itu mau melamar kamu.?"
"Emang iya.!" sahut Naya mengerutkan dahinya.
"Jangan pernah mengambil milikku, tak aku ijinkan siapa pun mengambilnya dariku tak akan.!" hati Dimas mulai terbakar cemburu. "kalau saja sayang Nikah sama orang lain lihat saja akan aku santet, gak tau apa karakter orang Kalimantan Barat.?" tambah Dimas kesal.
Naya tertawa terkekeh-kekeh mendengar Dimas menggerutu terdengar lucu baginya, belum selesai bicara sudah menggerutu saja. "Hei.., emang aku sudah selesai ngomong ya.?"
"Serius yang.., aku rela.? aku gak mau nanti setelah menikah sayang di tinggal lagi seperti dulu yang, cuma mengambil perawan kamu lalu pergi.!" ucap Dimas khawatir dan tak rela wanitanya jika di ambil orang.
Naya berpikir sejenak, "Kamu juga belum tentu nikahin aku.?"
"Pasti sayang aku pasti akan nikahin sayang kalau sudah waktunya, maka dari itu aku minta tunggu aku ya.?" bujuk Dimas lirih.
"Ah, buktikan saja gak bisa.! aku akan menerima dia boleh ya.? kan kamu jauh belum tentu ketemu apalagi tuk menikah kayanya tidak mungkin.?" bujuk Naya menyeringai tipis.
"Tidak boleh, enak saja nanti di tinggalkan lagi ujung-ujungnya balik lagi sama aku,? sudah ku bilang coba saja menikah sama orang lain, aku jamin rumah tangga kamu tidak akan bahagia, akan aku buat mati suami kamu biar menjadi janda lagi, kita pasti akan bertemu suatu hari nanti," ucap Dimas berapi-rapi.
"Kalau begitu, berarti kamu gak sayang sama aku.? buktinya tidak membiarkan aku bahagia.? kamu ingin hidup aku menderita, tegak.?" dengan nada kesal.
"Aku sayang sama kamu makanya tidak mau orang mendapatkan kamu, hanya orang bodoh yang mau melepaskan kamu yang.?" balas Dimas berdecak kagum bisa mendapat cinta dari seorang wanita yang bernama Kanaya.
,,,,
Terimakasih pada yang masih berkenan singgah di novel ini, aku doa kan semoga panjang umur sehat selalu dan di mudahkan rejekinya Aamiin.
__ADS_1
Jangan lupa terus dukung aku Dengan cara terus lake, komen yang banyak, rating dan juga vote nya dong๐๐