
"Ya, ampun ... Nyonya, tersedak bukan? Susi ambilkan dulu minum ya." Susi berlari masuk, mau mengambil air minum.
"Ohok-ohok, bisa-bisanya Susi bertanya padaku," gumam Laras sambil menggeleng. Lalu melanjutkan makan as krimnya.
Susi kembali, membawa segelas air. "Ini, Nyonya minumnya."
"Makasih Sus?" Laras mengambil dan meminumnya.
Hening!
Setelah, sekian lama tidak ada yang bersuara dan menikmati as krim sampai tandas. Susi bertanya lagi, ia benar-benar penasaran yang gimana sih yang namanya pisang cinta?
"Nyonya, belum jawab pertanyaan ku. Aku penasaran, gimana rupanya pisang cinta, seperti apa Nyonya!"
Sejenak Laras diam, menatap lekat wajah Susi yang nampak penasaran. "Aku gak tau, Sus ... baiknya kau tanya pada Zayn saja. Em ... gini Sus, jangan nanyain lagi soal itu ya? karena kamu gak akan menemukannya. Itu ... cuma akal-akalan Zayn aja."
Susi termangu mendengar jawaban Laras begitu, tapi ia tetap penasaran sehingga mengajukan lagi sebuah pertanyaan. "Terus Nyonya gemuk bukan karena pisang?"
"Karena aku hamil aja kali Sus, lagian aku sedang bertambah, napsu makannya. Jadinya gemuk." Laras meyakinkan.
"Oh, gitu ya! jadi ... gak ada pisang cinta ya?" tanya Susi lagi.
__ADS_1
Laras menggeleng. "Nggak ada, ada juga pisang rasa penuh cinta kali." Jawab Laras sambil mengedarkan pandangan ke seluruh tempat tersebut.
****
Ibra sudah berada di kantor dan mulai berkutat dengan tugas-tugasnya, berkas yang menumpuk di meja membuat ia menghela napas panjang.
"Gimana malam pertama di rumah barunya. Lancar?" tanya Zayn sambil memeriksa berkas di tangan.
Ibra menatap ke arah Zayn. "Baik." Kemudian fokus kembali pada kerjaannya.
"Saya jadi pengen ketawa, ha ha ha ..." Zayn tertawa terkikik.
"Kenapa?" tanya Ibra melirik.
Ibra menggeleng. "Kau yang ada-ada saja."
"Kebayang, kalau dia menanyakan pisang cinta. Ke manapun gak akan ketemu tuh pisang." Sambung Zayn lagi.
Ibra sekejap melamun mengingat Laras. "Sedang apa sekarang dia?"gumam Ibra dalam hati. Kemudian menggeleng menepis semua pikirannya.
"Siang nih, kita balik ke mension." Ibra melirik jam yang di tangannya itu.
__ADS_1
"Oke." Zayn pun beranjak dari duduknya dan membawa berkas ke ruangannya terlebih dahulu.
Setelah keluar dari gedung pencakar langit itu, keduanya menaiki mobil mewahnya Ibra.
"Oya, setelah makan siang, aku mau ke pengadilan. Untuk menghadiri sidang perceraian mu dengan Yulia. Minggu depan agendanya sidang perceraian mu dengan Mary dan baiknya kamu nanti juga hadir, biar lebih cepat urusannya selesai," ujar Zayn sambil fokus nyetir.
"Oke," gumam Ibra mengangguk.
"Sebenarnya, hari ini juga kamu harus hadir di persidangan dan kehadiran mu akan membawa pengaruh besar. Dalam masalah ini." Sambung Zayn.
"Ck, saya malas dengan cecaran pertanyaan nantinya, saya sibuk. Lagian hari ini meeting, apa kau lupa?"
"Oh, iya-ya ... terus gimana, saya ke pengadilan atau ikut meeting?" tanya Zayn, melirik Ibra dari kaca spion.
"Kamu, ke pengadilan saja, sebagai wakil saya. Biar semuanya cepat selesai, biar yang lain saja yang ngurus meeting." Timpal Ibra.
Selang beberapa waktu. Akhirnya Ibra dan Zayn sampai di mension di sambut oleh bu Rika dan Dian berdiri lobby, dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Sayang, apa kabar?" Ibra langsung merangkul bahu sang istri dan mengecup keningnya.
Kemudian Dian menatap tajam. "Kamu baru ingat pulang? kemana aja, sampai-sampai baru pulang sekarang! kamu tau aku mencari mu. Dia juga kurang ajar banget ya gak mau ngasih tau keberadaan mu, di mana?" ungkap Dian dan melirik kesal pada Zayn yang mesem. Berjalan di belakang Ibra.
__ADS_1
SKM, Surat Kontrak Menikah