
Bibi Taty kembali berkutat di dapur menyiapkan masakan untuk kepulangan majikannya, ya itu Dimas dan Naya yang rencananya sore ini pulang dari acara kerjaan dan juga Honeymoon nya.
Citra nyamperin Endro di dekat kolam renang, "Sedang apa disini.?"
Endro menoleh kearah Citra yang duduk di sampingnya, "Lihatin ikan-ikan, yang montok-montok seperti kamu," sembari mencubit pipi Citra dengan gemasnya.
"Iih.., sakit," elak Citra mengusap-ngusap pipinya, dia memandangi ikan-ikan yang ke sana kemari, "Kenapa gak tanam ikan hias aja sih? biar lebih indah di pandang gitu."
Sembari duduk bersandar tangan bersilang, tatapan ke kolam Endro berkata, "Saya mengikuti instruksi dari yang bersangkutan, nyuruhnya seperti ini ya begini, apa lagi."
"Hem..," mengerucutkan bibir sintalnya.
"Jangan manyun gitu, seperti minta di sosor aja," Endro menyeringai puas.
"Iih..,apaan sih,?" mencubit lengan Endro.
Kepala Endro nyender ke pundak Citra, namun Citra menggeser sehingga jarak mereka menjauh, Endro menatap heran dan Citra seakan tidak perduli.
Endro beranjak dari duduknya dengan meraih gelas kotor lalu membawanya ke dapur, melihat Endro meninggalkannya Citra pun bangkit membuntuti Endro masuk.
Setelah menyimpan gelas dalam wastafel Endro langsung bergegas menaiki anak tangga, untuk ke lantai atas.
Citra hanya memandangi punggungnya, lalu masuk ke kamar tamu, ingin istirahat di sana.
Endro duduk di sofa lantai atas menghadap jendela kaca memainkan ponsel miliknya, nada dering pun berbunyi, dia tengok rupanya Aldo yang menelpon, menanyakan Dimas sudah sampai apa belum nya.
Setelah itu Endro menyandarkan kepalanya di ujung sofa merebahkan badan memejamkan mata.
Citra di kamar tamu merasa gelisah, mengingat Endro yang mendadak mendiamkannya, "Hem.., gak enak juga," dia turun dari tempat tidur mencari keberadaan Endro.
Karena di bawah tidak ada, Citra menaiki anak tangga, sebelum menginjakkan di lantai atas pun sudah kelihatan Endro tengah rebahan di sofa, Citra menghampiri berjongkok dekat Endro.
"Hei.., kok tiduran disini," Citra menepuk pipi Endro, dan Endro hanya melihat sesaat lalu pejam lagi.
"Kalau di lihat-lihat sih manis juga nih orang, bener juga sekilas mirip artis Rendy Pangalila," batin Citra kemudian mendekat kan wajahnya ke wajah Endro lalu memberikan ciumannya di bibir Endro.
__ADS_1
Endro memicingkan matanya setelah merasakan ada yang menempel benda lembab di bibirnya, ya itu ciuman Citra, Endro malah menarik kepala Citra dengan tangannya agar bibir mereka semakin menyatu saling mengeksplorasi di sana.
Citra gak cinta sama Endro tapi kadang sentuhan dengan Endro membuat dia sangat menikmatinya, yang diantaranya ciuman bibir mereka, apa lagi Endro, sangat girang sekali bila di suguhkan macam ini, di ibaratkan mendapatkan hadiah yang amat istimewa, menerima sentuhan bibir dari Citra yang lembut dan hangat, tangan Endro semakin erat menarik tengkuk Citra supaya ciuman nya semakin mendalam, membuat Citra kesusahan untuk bernapas.
"Ehem..,ehem," tiba-tiba ada suara dari belakang membuat mereka berdua kaget melepaskan ciumannya dan menjauh dari satu sama lainnya.
Endro sontak terbangun dari rebahan nya, dan Citra langsung berdiri, tak bisa menyembunyikan rasa gugupnya, rupanya Aldo yang datang mengacaukan semuanya.
Aldo duduk di sofa kainnya, Endro menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali, sementara Citra merapikan rambut, mencoba menetralisir perasaan ya kaget dan gugup lalu duduk si samping Endro.
"Lihat-lihat situasi bro," gumam Aldo ada Endro membuat Endro mati kutu di buatnya.
Endro cengengesan, "I-iya Al, hi..,hi..,hi.."
"Masih mending gak kebablasan," sinis Aldo menatap keduanya, tanpa basa-basi.
Wajah Citra merah padam, marasa malu, lantas ia pamit ke toilet, "Aku ke toilet sebentar," Citra berlalu dengan tergesa-gesa.
Keduanya memandangi kepergian Citra dari belakang, kemudian Aldo mengalihkan pandangan pada Endro, "Ke lapangan sekarang," ajak Aldo sembari berdiri.
Di dalam toilet, Citra membasuh muka dan bibirnya, "kenapa sih gue harus ciuman sama si endro, iya sih cowok gue tapi..," gerutu Citra memandangi wajahnya di cermin, lalu menyentuh bibirnya sembari tersenyum licik.
Di sebuah jalan tengah melesat sebuah mobil mewah milik Dimas yang di kemudikan Dery, suara musik menghiasi gemuruhnya suara mesin, Naya tertidur di bahu Dimas.
"Kau ikut ke rumah dulu atau mau gimana,?" tanya Dimas pada Dery yang asyik menyetir.
"Lain kali aja saya ke rumah, nanti telepon saja kalau proyeknya sudah mulai, saya mau langsung pulang saja," sahut Dery melihat Dimas dari kaca spion.
"Ok lah, sekarang kita ke tempat 'mu saja dulu."
"Tak apa, turun di jalan saja," sambung Dery.
"Nggak-nggak, langsung ke rumah kau saja, biar nanti saya putar balik," ucap Dimas lagi.
"Tapi..,tempat saya jauh"
__ADS_1
"Tidak apa-apa, jalan aja."
"Baiklah kalau begitu, " Dery meluncurkan mobil Dimas ke arah kediamannya, yang lumayan jauh.
"Gimana kalau kita makan dulu, cari makan dulu lah," pinta Dimas yang di balas anggukan oleh Dery.
Mobil menepi di sebuah tempat yang cukup ramai tepat depan restoran, Dimas dan Dery turun dari mobil sementara Naya tertidur dalam mobil, Dimas merasa kasian bila harus membangunkan Naya, lagian Naya sudah mabuk sama nasi, kasian kalau mencium bau nasi hangat, tidak lupa Dimas mengunci pintu mobil.
"Kanaya gak di ajak,?" tanya Dery menatap Dimas yang menitip kan mobil pada penjaga parkiran sembari memberikan selembar uang warna merah pada orang tersebut.
"Nggak, biar di mobil aja, lagian kasian dia sedang mabuk bau nasi kasian juga." sahut Dimas sambil berjalan beriringan dengan Dery masuk restoran.
Setelah berada di dalam, keduanya memesan makanan, tak lama kemudian pesanan pun datang, terus mereka segera melahap makanan yang siap santap tersebut.
Kali ini Dimas makan sendiri tanpa sang istri berada di sampingnya dan menyuapi dirinya, Dimas makan tidak selahap biasanya, dia banyak bengong, melamun, Dery mengerti akan Dimas mungkin dia teringat istrinya yang dia tinggal di dalam mobil.
Dery mempercepat makannya, Dimas sendiri tidak menghabiskan makannya, dia sudah siap balik ke mobil sambil membawa makanan di cap berisi ayam goreng juga kentang buat Naya Dimas membayar bekas makannya bersama Dery, tadinya Dery mau membayar sendiri namun Dimas mencegahnya.
"Yuk balik, Kanaya di mobil sendiri," Dimas bergegas bejalan lebih dulu dari Dery yang lebih santai.
Naya di mobil terbangun, menggosok matanya di dalam mobil cuma ada dia sendiri, "Yang,? kemana sih kok aku di tinggal sendiri," kaca jendela hanya terbuka sedikit agar udara bisa masuk.
Naya melihat suasana sekitar terpampang plang sebuah restoran, "Hem.., mungkin mereka sedang makan di dalam sana," mencoba membuka pintu namun terkunci, Naya mencoba telepon Dimas ponselnya tidak di bawa, ada tergeletak di tas jaketnya, lalu Naya menoleh seseorang mungkin dia seorang penjaga dan tahu akan suaminya.
"Pak,? maaf aku mau tanya,?" pekik Naya pada seseorang itu yang agak jauhhan, kebetulan dia mendengar pekikan Naya dan nyamperin mobil yang di tumpangi Naya.
"Iya.., ada yang bisa saya bantu,?" mengangguk dalam, dan Naya membalas anggukan orang tersebut.
"Maaf pk, aku mau tanya apa melihat dua irang laki-laki dari mobil ini keluar dari mobil ini.?"
"Oh iya Bu, mereka masuk ke dalam resto, mungkin sebentar lagi mereka akan kembali" ucap orang tersebut, "Itu mereka keluar," menunjuk pintu restoran, benar saja dari jauh terlihat Dimas di buntuti Dery keluar dari sebuah restoran.
,,,,
Terimakasih reader ku, sampai saat ini masih mengikuti cerita ini, dan semoga kabar kalian selalu berada dalam lindungan Allah yang maha kuasa, Aamiin..,
__ADS_1
Ayok doong berikan komentarnya, rame'in, jangan biarkan sepi seperti kuburan, karena komentar dari kalian semua membuat author bahagia dan lebih semangat menulis ceritanya 🙏🙏