
"Iya sayang bentar lagi Ayah pulang, hanya ingin memastikan saja permaisuri, bidadari ku baik-baik saja saat ini, jangan capek-capek ya,? ya sudah muach love you Bunda,?" Dimas memberikan kecupan jauh. membuat Naya bergidik namun menarik bibirnya senyum.
Di dapur bi Meri tengah memasak, seperti yang Naya pinta, setelah matang semua di sajikan ke atas meja, kemudian ia berjalan mendekati putrinya yang masih tertidur dengan nyenyak nya, bi Meri mendekati pintu kamar Naya lalu mengutuknya, "Bu.., masakan sudah siap.?"
Bi Meri mendekati jendela, mendengar suara motor yang masuk ke halaman, terlihat seorang pria tampan mengenakan baju kebesaran dokter, membuka helmnya, berjalan mendekati pintu, bi Meri langsung membukakan pintu karena dia pikir pasti yang itu dokter Dimas yang jadi majikan suaminya sekarang.
"Selamat siang pak Dokter,?" bi Meri mengangguk.
Dimas memandangi sebentar, "Siang juga,! oya anda istri Pak Mad kah,?" dengan sorot mata yang penuh tanda tanya.
"I-iya Pak dokter, saya di suruh menemani Ibu di sini.
Dimas melirik anak kecil tengah tidur pulas di sofa, "Itu anaknya, kenapa tidak tidur di kamar sebelah saja.?"
"Iya Pak, tadi.., Ibu juga menyuruh di tidurkan di kamar saja, tapi biarlah, sebentar lagi kan kami pulang.
"Kenapa pulang,?" Dimas duduk di sofa bersandar.
"Kata suami saya, saya di sini hanya sampai pak dokter pulang," ucap bi Meri menjelaskan apa yamg dia dengar dari suaminya.
"Oh iya,"
"Untuk makan siang sudah saya siapkan, sekarang saya mau permisi pulang," bi Meri menggendong putrinya.
"Apa kalian sudah makan,?"
"Belum, biar kami di rumah saja," sahut bi Meri, "Permisi.?
"Ok, oya kalau hari kerja, datang saja, tolong jaga istri saya dia tengah hamil muda.
"Baik Pak," istri Pa Mad berjalan menggendong putrinya yang masih tidur, untuk di bawa pulang.
__ADS_1
Dimas beranjak dari duduknya, berjalan gontai menuju kamarnya, Naya tengah mendengarkan musik, tau suaminya sudah pulang, dari tadi juga sudah terdengar suaranya toh di sini bukan di rumah besar miliknya, jadi obrolan dari depan juga terdengar ke dalam kamar yang ia tinggali.
Naya menoleh suaminya yang masuk dan menutup pintu, wajahnya begitu lelah, "Hem.., kasian sekali suami aku terlihat lelah sekali."
"Assalamu'alaikum..,? cup pipi Naya di kecup nya, menempelkan tangan di pelipis Naya, "Sudah tidak pusing lagi kah.?
"Wa'alaikum salam," Naya mencium punggung tangan Dimas, "Kadang-kadang yang kalau pusing, juga mual, tidak terus-terusan Bapak.?"
"Bagus lah Ibu, kalau seperti itu."
Naya menuangkan air ke dalam gelas lalu dia berikan pada sang suami, "Ini minum dulu haus kan,?" Naya memberikan senyum termanisnya.
Dimas mengambil gelas dari tangan Naya, "Makasih sayang, tapi.., lebih haus lagi melihat senyum Bunda."
"Nggak lucu ah, mandi sana, apa mau makan dulu,? tapi.., sholat dulu gih, pasti belum sholat," Naya dengan lirih.
"Hem.., capek yang,?" tiduran di pangkuan Naya dengan manjanya.
"AW.., mentang-mentang hidung dia pesek, dengan seenaknya menjepit hidung orang," Dimas balas jepit hidung Naya yang tidak pesek, mancung pun tidak.
"Aahh.., sakit, tangan kamu kasar, udah ah, mau apa dulu nih,? Naya sedikit kesal.
"Ok-ok, sayangku, cintaku," Dimas berdiri sembari membuka kemejanya, bergegas ke kamar mandi tuk bersih-bersih terlebih dahulu, Naya menyiapkan pakaian untuk suaminya.
Kemudian Naya pergi ke dapur dengan perlahan, tertatih, ia ingat Rita yang bertanya tentang jalannya, Naya mematung tangannya memegangi kursi depan meja makan, kemudian duduk di sana mengambil piring dan mengambil nasi dan juga lauknya, sambil menunggu Dimas ia memainkan ponselnya.
Kahirnya Dimas menghampiri, duduk di samping Naya, namun Naya bengong pandangannya entah kemana, Dimas melambaikan tangan depan muka Naya, "Sayang bengong, mikirin apa.?"
Suara Dimas membuyarkan lamunannya, mata Naya menggercap, menoleh Dimas yang sudah duduk di dekatnya, Naya menarik napas dalam.
"Sayang bengong, mikirin apa hem,? jangan mikirin yang macam-macam, nanti stres gak baik untuk calon baby kita," mengusap perut Naya.
__ADS_1
Naya senyum samar, "Iya yang, gak mikirin apa-apa kok, tenang saja," Naya membaca Basmalah lalu menyuap, membiarkan Dimas memandangi dirinya, Naya memperlihatkan barisan giginya, dan menyuapi sang suami.
"Aku pikir Bunda lupa, dan membiarkan Ayah makan sendiri,? keluh Dimas sembari mengunyah.
"Kalau Ayah mau sendiri boleh, aku ambilkan ya,?" goda Naya mengambil piring dan Dimas mengambil tanpa ekspresi, namun Naya ambil kembali dan terus menyuapi sang suami bergantian dengan dirinya.
"Selama aku mampu membuat Ayah bahagia, akan aku lakukan meski dengan cara sederhana menyuapi makan, mungkin nanti ada saatnya aku gak bisa menyuapi Ayah, atau aku sibuk, itulah saatnya suamiku makan sendiri," jelas Naya, membuat Dimas terdiam hatinya terasa sedih.
"Sudah lama aku tidak makan di luar atau makan sendiri, selama ini aku sudah terbiasa makan dengan istriku, makan dari tangan istriku, aku tidak bisa membayangkan sesuatu yang tak ingin terjadi, teruslah menemaniku, memberi kebahagian walau sesederhana ini,?" Dimas menggenggam tangan Naya, dengan sorot mata yang begitu sendu dan suara yang bergetar.
Naya menjadi melo melihat mendengar ucapan Dimas, mata Naya menjadi buram pandangannya terhalang air yang berkaca-berkaca di matanya, Dimas mengelus dan mencium punggung lengan Naya, "Sayang sangat berarti bagiku, sebentar lagi kita akan mempunyai buah dari cinta kita, aku sangat bahagia, jaga dia untukku, untuk kita," Dimas merangkul tubuh sang istri.
Beberapa saat mereka berpelukan, dan air mata menghiasi, tiada lagi yang bersuara kecuali suara napas dan debaran jantung yang terpompa dengan teratur, sama sekali Naya tidak tau harus berkata apa, bahkan dengan kehamilannya dia tidak tau yang dia rasakan, bahagia atau sedih kah.?
Bahagia ! wanita mana sih yang tidak bahagia, dengan kehadiran buah hati, yang bisa di bilang sangat dinantikan semua keluarga, siapa sih yang tidak ingin mempunyai keturunan.?
Sedih ! karena ia masih ragu apa ia mampu menjaganya, merawatnya, sementara kondisinya yang kurang normal, hingga membutuhkan asisten yang selalu siap untuk membantunya, sungguh dalam lubuk hati yang paling dalam, ada rasa antara menginginkan dan rasa takut, namun ia pendam tak ingin cerita pada siapa pun meski pada suaminya, khawatir mengecewakan hati sang suami.
Biar ia pendam sendiri dan berharap satu saat nanti ia mampu meyakinkan dirinya, hatinya, bahwa ia bisa menjadi Ibu yang terbaik untuk buah hatinya kelak, istri yang terbaik pula buat sang suami.
Naya merenggangkan tubuh melepas pelukan, mengusap pipinya, tersenyum getir, "Habiskan dulu makannya nanti mubazir kan sayang."
Dimas pun mengusap kembali pipi Naya yang basah, lalu mengusap pipinya sendiri, kemudian mereka menuruskan makannya yang tadi terpotong oleh sebuah drama yang membuat melo, sedih-sedihan, peluk-pelukkan. ah sebuah pasangan yang cengeng dan sangat romantis, setiap saat mesra, ups kan author sendiri yang nulis ya hehehe.
,,,,
Terimakasih reader ku, masih mengikuti cerita ini, dan semoga kabar kalian selalu berada dalam lindungan Allah yang maha kuasa, Aamiin.., ok, jangan lupa selalu lake, komen, rating dan vote nya dong๐๐
Nb..
Para reader yang aku hormati dan aku sayangi, kalau ada tulisan aku yang salah itu di komen dong,,๐ biar aku betulkan atau revisi ulang, agar membangun aku lebih baik lagi๐ dan tidak lupa aku ucapkan selamat menunaikan ibadah puasa, bagi yang umat muslim,
__ADS_1