
Endro merasa haru dia pun mengusap pipinya yang tak terasa basah, Citra berdiri di belakang Endro hanya bengong memandang sinis, obsesi dia tuk dekati Dimas masih ada dalam hatinya walau harapan itu sangat-sangat tipis, namun dia punya harapan pada bu Hesa yang akan mendekatkannya dengan Dimas.
Endro bertepuk tangan, "Wah-wah wah, udah dong jangan membuat meronta jiwa ke jombloan 'ku bro, eh kok gue jomblo sih kan gue ada Citra," nyengir sembari menoleh kearah Citra yang menatapnya, "Jadi iri bos," Endro memeluk Citra.
Mendengar ocehan Endro Dimas melepas dekapannya, dan Naya mencoba menyalakan mesin jahitnya, "Bagus"
"Ya udah, sekarang istirahat dulu, karena hari esok masih ada kejutan yang lainnya," jelas Dimas mengusap bahu Naya.
"Maksudnya masih ada kejutan buat aku,?" Naya menatap Dimas sambil menunjuk dadanya.
"Iya, masih ada, tapi.., nanti besok aja sekarang sudah malam, lebih baik istirahat aja, ayah juga capek," ucap Dimas sambil menguap.
"Baiklah,"
"Kalian mau menginap apa, masih di sini,?" menatap wajah Endro dan Citra.
"Oh tidak, kami pulang saja, takut mengganggu kalian," sahut Endro menyeringai memainkan mata pada Citra yang hanya diam.
"Bagus bah.., saya tidak kalian ganggu," tegas Dimas mengibaskan tangannya.
"Ok, kakak ipar 'ku yang cantik, kami pulang dulu ya,?" Endro mengangguk dan menggandeng tangan Citra melenggang pergi dari tempat tersebut.
"Oya bro, bilang sama Aldo besok sore kita Miting di sini ok,?'' suara Dimas menghentikan Endro.
Tanpa menoleh ke belakang dan seraya mengangkat tangan di atas angin, "Ok boos"
Kemudian Dimas mengajak Naya masuk kamarnya, kini mereka sudah berada di kamar, setelah mengambil air wudu keduanya melaksanakan sholat isya, salam tak lupa berdoa mengucap syukur, hingga Naya berderai air mata.
Setelah itu Dimas merebahkan tubuh duluan di atas tempat tidur, mata sudah lelah sekali, Naya melirik mengikuti gerak Dimas, Naya pun akhirnya mengganti pakaian nya dengan setelan tidur lalu mengikuti Dimas berbaring, Naya menarik selimut supaya membalut tubuh keduanya dan Naya meletakan kepalanya di dada Dimas memeluknya erat terus terpejam menjemput mimpinya.
Pagi-pagi Naya sudah mengemas isi koper mengeluarkan yang semestinya di keluarkan, termasuk semua oleh-oleh, menoleh Dimas kembali nyenyak tidur, habis subuh dia rebahan lagi kebetulan hari ini masih cuti sehari lagi.
Sehabis itu Naya turun menuju dapur, di bawah masih sepi mungkin orang-orang masih berada di dalam kamarnya masing-masing, di dapur wanita paruh baya tengah menyiapkan untuk sarapan.
"Bi, masak apa,?" menghampiri Bibi yang sedang asyik memasak.
Bi Taty menoleh, "Eh Ibu sudah turun, bukannya istirahat capek, ini Bibi masak kesukaan Tuan sama Ibu," sahut Bibi seraya tersenyum.
"Iya Bi, tiap hari juga aku istirahat kok, hi..,hi..,hi oya Bi dekat pintu luar kamar banyak barang-barang tolong bawa ke dapur, semuanya oleh-oleh dari tetangga setempat alhamdulillah, masakan biar aku yang gantikan," Naya mengambil alih tugas Bibi.
"Oh semuanya ya Bu.?"
"Iya, sudah berada di luar depan pintu kok"
"Baik Bu, Bibi ambil dulu," sambil mengelap tangannya yang basah pada bajunya.
Bibi bolak balik membawakan oleh-oleh, yang salahnya semalam di bawa ke lantai atas maklumlah mereka Maria dan Endro tidak hapal.
"Hati-hati Bi, awas jatuh.?"
"Iya Bu, di lihat-lihat Bibi kok Ibu mual terus dari tadi, apa sakit,?" menatap heran.
Naya menengok Bibi, "Hah.., i-iya Bi, cuma mual kok, aku tidak sakit, baik-baik aja ah," tersenyum tipis sambil menutup mulut dan hidungnya.
__ADS_1
Bibi menatap lekat ke arah Naya dari ujung kaki sampai atas kepala, dia merasa ada yang berubah dari Naya maklum Bibi bagaimana pun sudah pengalaman, "Ibu sedang-!" tidak meneruskan ucapannya melainkan memberi isyarat membulatkan dengan gerakan tangan di depan perutnya sendiri, Naya hanya mesem dan mengangguk.
"Masya Allah Ibu," Bibi memeluk majikannya, dan Naya menempelkan jarinya di bibir.
"Kenapa,?" seraya berbisik.
"Sebab keluarga belum tahu Bi, kata Dimas nanti aja kasih kabarnya jangan sekarang," ucap Naya sangat pelan.
"Baiklah, Bibi akan menjaga rahasia ini."
Bibi melanjutkan memasaknya, sementara Naya duduk santai di sofa dapur sambil meneguk susu coklat.
"Kenapa gak minum susu bumil Bu,?" tanya Bibi sembari menatap Naya.
"Nggak mau Bi, yang ada enek semakin bikin mual," Naya menggeleng.
Bu Hesa nyamperin bersama suaminya untuk sarapan, "Wah.., kamu sudah bangun, mana Dimas,?" tanya Bapak mertua.
"Em.., dia masih tidur Pak," sahut Naya sembari menunjuk ke atas.
"Pasti dia kecapean Pak, bawa mobil, mengurus semuanya sendiri kan," timpal bu Hesa.
"Oh, mungkin juga," Bapak mertua singkat.
Akhirnya masakan pun siap santap, "Dimas gak di bangunin dulu buat sarapan,?" Bapak mertua menatap Naya.
"Tidak, kalian duluan aja," jelas Naya mempersilahkan mertuanya sarapan duluan.
"Baiklah"
"Mak jangan, biar aja kasian, mungkin dia capek," cegah suaminya membuat bu Hesa mengurungkan niatnya.
Maria dan putranya nyamperin dan duduk diantara orang tuanya, "Kok kak Naya gak sarapan.?
"Aku belum lapar, biar nanti saja sama Abang, kalian makanlah," jelas Naya.
Maria menoleh oleh-oleh yang menumpuk, "Itu apa kak.?"
"Buka aja, itu oleh-oleh dari para tetangga, gak enak kalau gak aku terima pamali katanya bila menolak rejeki," sambung Naya lagi.
"Oh, nanti Maria buka semua," sambil menyuapkan sendok ke mulutnya, putra nya yang makan sendiri membawa piring ke ruangan televisi mau sarapan sambil nonton.
"Bagai mana selama bertugas, apa ada kendala,?" tanya Bapak mertua pada Naya.
"Selama di sana.., alhamdulillah lancar aja Pak, tidak ada kendala apa pun, orang-orangnya pun baik-baik dan ramah, cuman di sana mayoritas non muslim jadi bagi aku sedikit kesusahan dalam hal waktu, ya untungnya tidak terlalu lama," ujar Kanaya menceritakan selama di luar daerah.
"Oya, kalian kan bulan madu selama seminggu di Batu payung, gimana apa kau senang,?" timpal bu Hesa pada menantunya ini.
Naya mengalihkan pandangan pada Ibu mertua, "Buka senang lagi Mak, aku bahagia banget," senyumnya sangat merekah.
"Kenapa gak mengajak aku sih liburannya,?" ucap Maria cemberut.
"Nanti lain kali kita ke sana sama-sama," Naya melirik Maria.
__ADS_1
"Ok"
"Gimana urusan ranjang kalian baik-baik aja kan,?" tanya bu Hesa menatap tajam.
Naya sementara waktu membalas tatapan bu Hesa, "Baik aja, gak ada masalah kok."
"Mak..,kok soal itu di tanyain sih,?" potong suaminya, bu Hesa hanya mendelik.
"Apa kalian melakukannya setiap malam, atau setiap hari,?" tanya bu Hesa lagi.
"I-iya..," sedikit ragu, "Kenapa harus di bahas sih,? jangankan setiap malam maunya malahan sesering mungkin, batin Naya membuang pandangannya.
"Mak, kata Abang selama di sana kak Naya itu gak bekerja apa pun selain melayani Abang, termasuk dalam hal bercinta di ranjang," ucap Maria dengan polosnya.
Naya menoleh Maria seraya nelotot, "Maria kok bahas itu sih, malu," dengan wajah malu-malu.
"Nggak usah malu kak, emang seperti itu kata Abang juga semalam kan,?" sahut Maria dengan santainya.
"Terus gimana sudah ada tanda-tanda kah,?" bu Hesa kembali bertanya.
"Em.., insyaAllah," hanya itu sebagai jawaban dari Naya.
Bu Hesa menarik napas panjang makan pun seolah kurang berselera.
"Aku ke atas dulu ya,?" pamit Naya sambil berdiri melangkahkan kakinya meninggalkan dapur, Naya menaiki anak tangga.
Kini Naya sudah berada di atas tempat tidur memandangi suaminya yang masih nyenyak tidur, Naya mengecup pipi Dimas, dan orangnya hanya menggeliat kecil tanpa sedikitpun membuka mata.
Naya mengelus-ngelus dada Dimas, "Yang.., bangun, katanya mau menunjukan kejutan lain untuk aku, kok masih tidur sih,?" lirih Naya.
"Hem..," dengan suara paraunya khas bangun tidur, perlahan membuka mata yang rasanya sepet banget maunya terpejam terus, padahal kemarin yang banyak nyetir adalah Dery, dirinya cuma sebentar saja tapi.., capeknya bukan main.
Dimas melek langsung di suguhkan pemandangan yang indah, wajah sang istri yang tengah menatapnya, wajah yang teduh, terutama ada pemandangan lainya, ya itu kancin pakaian sang istri terbuka mengekfos jelas di dalamnya.
"Sayang habis mandi bukan,?" suara Dimas berat orang bangun tidur dan memandangi bawah leher istrinya.
"Tidak, kenapa,?" Naya mengikuti pandangan mata Dimas yang tertuju ke dadanya, "Oow, Naya memasang kan kancingnya, namun Tangan Dimas mencegahnya, dan tangan Dimas malah masuk menyelinap menyusuri kulit yang tersa halus, lembut dan membentuk gunung itu, Naya memejamkan mata ketika telapak tangan tersebut bermain dengan nakal di sana.
Dimas dengan asyiknya bermain di kedua bukit tinggi yang empuk itu, meremas dengan sangat lembut dan memutar puncak gunungnya, sehingga Naya geli-geli asyik, dan menggigit bibir bawahnya, Dimas bertambah gemas ingin rasanya mengisap nya dengan kuat, perlahan Dimas membuka penutupnya kemudian mengisap dan menyedotnya dengan kuat, membuat Naya merasa nikmat yang teramat.
Akhiranya hasrat naik ke ubun-ubun, Dimas menciumi dan ******* bibir sang istri, ciuman pun semakin mendalam, Dimas membaringkan tubuh Naya di tempat tidur, dia sendiri sudah merangkak di atasnya, bersiap meluncur.
Ketika di tengah-tengah aktifitas tersebut pintu ada yang mengetuk membuat mereka berhenti sesaat melihat kearah pintu kebetulan pintu di kunci, suaranya memanggil nama Dimas, "Sepertinya itu Maria," ucap Naya dengan suara berat dan napas berat pula menatapi Dimas.
"Biar saja," sahut Dimas sembari terus berselancar di pulau kecil, namun ke indahannya amat memabukkan sehingga menjadi candu buat yang sudah merasakannya, akhirnya suara yang memanggil pun hilang.
Setelah keduanya bercucuran dengan keringat tubuhpun terkulai lemas, barulah mengakhiri kegiatannya, Dimas menjatuhkan dirinya di samping sang istri, menghujani dengan kecupan, Naya meletakkan kepala di bahu Dimas sambil menarik selimut menutupi dadanya.
Bukannya bangun dan bersih-bersih mereka malah tidur kembali, melupakan sarapan yang terlewatkan di pagi hari ini.
,,,,
Terimakasih reader ku, sampai saat ini masih mengikuti cerita ini, dan semoga kabar kalian selalu berada dalam lindungan Allah yang maha kuasa, Aamiin..,
__ADS_1
Mana dong komentar nya,? bila suka dengan cerita Dimas&Naya ini🙏 agar author tambah semangat pliss bantu author dong..,!!