Bukan Mauku

Bukan Mauku
Batu Payung


__ADS_3

Mereka pun sholat berjamaah, dengan warga setempat, usai sholat Dimas mendekati sang istri dan duduk di sampingnya, berzikir bersama berdoa bersama pula, dan Akhirnya Dimas membawa Naya ke mobil kembali, hari sudah begitu gelap di hiasi hujan gerimis.


"Sebenarnya mau ke mana sih yang,? heran aku, ini bukan jalan pulang, malah menjauh nih gimana sih," mulai gundah.


Dimas yang pegang kemudi melirik sebentar, "Kita cari penginapan dulu," Dimas terus melajukan mobilnya menjauh dari tempat tersebut.


Sekitar pukul sepuluh malam mereka baru sampai di suatu tempat, sebuah hotel di pantai Batu payung, meski gelap namun cahaya lampu yang menerangi di mana-mana membuat masih terlihat indahnya tempat tersebut.


Naya tertegun, melihat pantai yang airnya jernih menggambarkan suasana langit yang cerah, bintang-bintang seolah berkedip, menyambut kedatangan mereka berdua, "Sayang, ini di mana," Naya menoleh Dimas yang memandangi tempat sekitar.


"Ini namanya pantai Batu panjang, kalau siang pasti terlihat lebih indah, jauh lebih indah dari pemandangan sekarang, besok kita jalan-jalan," Dimas tersenyum bahagia.


"Masya Allah, begitu indah ciptaan mu ya Allah..," Naya mendongak, di wajahnya terpancar rasa bahagia, tak terlintas di pikirannya sama sekali kalau dia akan terdampar di tempat ini.


"Yuk masuk,?" capek nih, ingin segera istirahat," Dimas membuka pintu mobil, keluar mengitari depan mobil untuk menjemput istrinya.


Setelah membukakan pintu untuk Naya, Dimas memberikan kunci pada Pelayan hotel untuk di parkir ke tempatnya, Dimas menggendong Naya biar lebih cepat ke kamar untuk beristirahat.


Saat memasuki lobi, langsung di sambut resepsionis hotel dengan ramahnya, setelah mendapat kunci kamar Dimas tak menunggu lama untuk bergegas ke kamar tersebut, Naya melingkarkan tangan di leher Dimas.


"Pijit tombol nomor tiga yang,?" titah Dimas yang langsung Naya turuti.


Rupanya kamar penginapan mereka berada di lantai tiga nomor 208 kini Dimas dan Naya sudah berada dalam kamar yang mewah dan luas, tempat tidur yang empuk bertabur bunga roos, tv yang besar, lemari pendingin yang ada di pojokan, sofa yang panjang, ace, hiasan bunga yang indah, balkon yang lumayan luas juga.


Usai sholat isya, karena kecapean, Dimas langsung baringan dan tak butuh waktu yang lama Dimas menjemput mimpinya, sementara Naya masih terjaga memandangi wajah suaminya yang tampak lelah banget.


Jari Naya mengelus lembut pipi Dimas yang terlelap, "Makasih sayang, atas semuanya,?" cup pipi Dimas Naya kecup dengan mesranya.


Naya memeluk tubuh Dimas, meletakkan kepala di dada sang suami, kemudian Naya pun berlayar ke alam bawah sadar yaitu alam mimpi.


Sinar matahari masuk menyelinap di sela gorden ke dalam kamar memberikan rasa hangat, Dimas membuka gorden hingga sinar mentari masuk menyapa wajah Naya yang sedang tertidur.


Karena merasakan hangatnya serpihan sinar matahari ke pipinya membuat dia menggeliat, perlahan membuka mata, menyapukan pandangan ke sekelilingnya, Naya melihat Dimas berdiri di balkon.


Naya turun dari tempat tidur, nyamperin Dimas di balkon sedang melihat lautan dan pohon yang menghijau di pesisir pantai.


Dengan air yang biru pantulan dari warna langit yang biru nan indah, menambah sejuknya pemandangan laut, "Masya Allah.., indahnya,! sangat indah," Naya begitu terkagum-kagum akan indahnya alam ini.


Dimas menoleh, "Sudah bangun sayang,? Dimas merangkul Naya yang fokus memandangi laut.


"Aku gak menyangka kamu akan membawaku ke tempat ini," Naya mendongak, "Makasih sayang.?"

__ADS_1


Dimas memeluk erat sembari mengusap kepala Naya, "Sama-sama sayang." Ayah bahagia bila Bunda bahagia," cup mengecup kening Naya lama.., nan mesra.


"Mandi sana, habis itu kita turun dan cari makan," lirih Dimas.


Naya mendongak dan berkata, "Emang makan kabur-kaburran ya,? di cari segala."


Dimas tersenyum gemas, "Bukan kabur yang, di sini kan gak ada makanan, jadi harus nyari dulu."


"Pesan yang pesan, bukan nyari, kaya gimana.., gitu," jelas Naya, "Emang sayang dah mandi,? Naya menatap dan mencium bau suaminya.


"Ya terserah sayang ajalah, udah dong, masa gak ke cium wanginya," jelas Dimas.


"Iya sih wangi, tapi.. malas ih mandinya juga," Naya memandangi alam sekitar, langit begitu cerah.


"Mau aku mandikan hem,?" tanya Dimas meraih pinggang Naya.


"Nggak ah, bisa sendiri kok," pandangan Naya tertuju ke laut yang terbentang, Kemudian Naya berjalan memasuki kamar mandi, "Aku mau mandi dulu lah," Naya melengos meninggalkan Dimas.


"Hem.., hati-hati," Dimas menyilang kan tangan di dada, melirik Naya sekilas.


Beberapa puluh menit kemudian Naya keluar dari kamar mandi, dengan penampilan begitu segar, setelah bersolek tipis, tidak lupa Naya menunaikan duha terlebih dahulu, Dimas yang duduk di sofa menunggu sambil menonton TV.


Usai duha Naya merapikan diri, "Ayok yang pesan makan, lapar nih," Naya berdiri menatap Dimas.


Di tempat makan, Dimas dan Naya sudah berada di tempat makan dan memesan makanan, tempatnya di pesisir pantai, menghadap laut, makan sambil melihat deburan ombak.


Dimas dan Istri melahap makanan yang sudah tersaji, "Yang...?"


"Hem..,apa sayang,?" Dimas menatap penuh kasih.


"Mau berapa lama di sini,?" tanya Naya.


"Em.., mungkin beberapa hari, atau juga satu minggu di sini, kenapa gak suka,?" Dimas balik tanya.


"Suka, suka banget," Naya melepas pandangan ke pemandangan sekitar yang indahnya tak bisa di ungkapkan dengan kata-kata.


Dimas meneguk minumnya, "Yuk jalan-jalan," Dimas berdiri mengulurkan tangannya pada Naya.


Naya menyambut tangan Dimas mereka berjalan pelan sambil bergandengan, bagi Naya seumur hidup baru kali ini menapakkan kaki di pasir pantai seperti ini, sesekali Dimas menggendong tubuh Naya, bercanda dan tertawa, bahagianya mereka saat ini serasa dunia milik berdua.


Mereka duduk di atas pasir, kepala Naya bersandar di pundak Dimas, dengan lengan saling pegangan seakan sangat takut berpisah, Dimas mengecup kening sang istri penuh kehangatan.

__ADS_1


"Yang, dalam rangka apa nih kita di sini sekarang,?" Naya mendongak sebentar.


"Dalam.., dalam rangka honeymoon sayang, tanpa ada yang mengganggu siapa pun," sahut Dimas mengelus punggung tangan Naya.


"Em.., emang selama ini ada yang mengganggu kita ya,? perasaan biasa aja," ucap Naya.


"Sayang, di rumah kan sering banyak orang, jadi kita mungkin akan terganggu ketika berduaan, apa lagi bentar lagi aku akan sibuk, begitupun istri Ayah ini, sekarang dia akan membuka usaha, aotomatis akan sama-sama sibuk, waktu berduaan akan lebih sedikit, jadi.., anggap aja ini masanya kita berduaan," ujar Dimas menempelkan tangan Naya di dagunya.


Naya menghela napas dalam-dalam, sembari tersenyum bahagia, "Aku bahagia yang, terimakasih atas semuanya,?" Naya memeluk Dimas menenggelamkan wajahnya di dada sang suami.


"Aku juga sangat bahagia sayang, Ayah sayang Bunda, cinta Bunda sampai bila-bila, I Love you,?" mendaratkan ciuman di pucuk kepala sang istri, "Terimakasih juga sudah memberi calon baby untuk Ayah."


"I Love you too," Naya semakin membenamkan kepalanya di pelukan sang suami.


Perlahan Dimas melepas pelukannya, "Sudah mulai panas balik ke penginapan yuk,? nanti sore balik lagi melihat sunset di sini," ajak Dimas sambil berdiri, Naya mendongak menatap suaminya.


"Aku malas bangun, kaki aku rasanya malas jalan," dengan manjanya.


Dimas tertawa lebar dan berjongkok, "Istriku manja sekali," lalu Dimas meraih tubuh Naya dan menggendongnya, berhenti di tempat tadi bekas makan untuk minum juga mengambil sendal yang tadi di tinggalkan.


Setelah itu mereka berdua berjalan ke lobi, masuk lift menuju kamar mereka, kini keduanya sudah berada dalam kamar, duduk sebentar, "Sudah dzuhur yang, sholat dulu yuk,?" ajak Naya.


"Ok, sayang duluan ambil wudunya, nanti aku susul," titah Dimas.


Naya masuk kamar mandi sebentar lalu balij agi dengan tetesan air wudu di kulitnya, Kemudian Dimas hilang di balik pintu, setelah kedunya siap, melaksanakan solat dzuhur bersama, usai salam tidak lupa membaca doa, kemudian Naya mencium punggung tangan Dimas, dan Dimas mencium kepala Naya.


Naya membuka kerudungnya, tampak rambutnya yang panjang dan lurus, Dimas menatap sang istri, yang duduk di atas tempat tidur melambaikan tangan agar dirinya mendatanginya.


Dimas nyamperin Naya dan duduk di sampingnya, membelai juga mencium rambut sang istri, hidung Dimas bergerak mendekati wajah sang istri, hingga bembusan napasnya menyapu kulit wajah Naya, bibirnya mendarat di bibir sang istri, tangan Dimas menarik tengkuk Naya agar mendekat serta tidak menolak setiap sentuhan bibirnya yang menjelajah ke mana-mana.


Tangan yang satu lagi mengelus bukit kembar yang menjulang di depannya, agar lebih cepat naik, Dimas memberikan rangsangannya bukan cuma di bibir namun juga di tempat-tempat lain seperti bukit kembar itu, tangan Dimas terus bermain-main di sana, sementara pemiliknya, menggeliat geli-geli enak merasakan setiap sentuhan dari sang suami yang terus menaikan moodnya.


Suara sudah mulai parau, hembusan napas yang berat tidak teratur, sesuatu sudah menegang di bawah sana meronta-ronta ingin keluar mencari tempatnya untuk bermanja, Dimas sudah tidak mampu lagi menahan hasratnya, secepatnya dia menyatukan miliknya dengan milik Naya yang entah dari kapan mereka tanpa sehelai benang pun yang melekat di tubuh keduanya, Dimas langsung menarik selimut agar menutupi kegiatannya.


Dimas terus menancap gas, namun dengan perlahan tapi pasti, meski sudah merasakan puncaknya berkali-kali namun ingin lagi dan lagi, suasana yang sangat mendukung semakin membuat bergairah, cuaca yang panas tak sedikitpun mengganggu, karena di kamar tersebut begitu sejuk, Dimas mengisap bibir sang istri dengan sangat lembut namun penuh gairah, lengan Naya melingkar di punggung Dimas menambah tubuh keduanya menempel tak ingin terpisah.


Dimas terus memompa dengan ritme yang teratur, tanpa tergesa-gesa, dan membuat nyaman yang menerimanya, tangan Dimas juga terus bermain di bukit nan indah tanpa pepohonan satupun, begitu mulus tanpa gangguan, saking mulusnya semut yang lewat pun bisa terpeleset di sana kalau kurang hati-hati.


Satu jam kemudian Dimas menghentikan aktifitasnya, karena kelelahan, meski masih ingin dan ingin namun lelah duluan menyapa, keringat bercucuran di tubuh keduanya membuat lengket di badan, Dimas akhiri dengan kecupan lembut di bibir sang istri, lama.., mendarat di sana, "Makasih sayang," dengan suara yang masih berat serta napas ngos-ngosan.


,,,,

__ADS_1


Terimakasih reader ku, sampai saat ini masih mengikuti cerita ini, dan semoga kabar kalian selalu berada dalam lindungan Allah yang maha kuasa, Aamiin.., ok, jangan lupa selalu lake, komen, rating dan vote nya dong🙏🙏 agar aku tambah semangat💪


__ADS_2