Bukan Mauku

Bukan Mauku
Jangan sedih


__ADS_3

Yuk sebelum membaca lake dulu, sebagai penghargaan atas karya seseorang.


******


Naya tengah menyiapkan sarapan sebelum mereka berangkat ke bandara, hari ini Bapak dan kedua adiknya mau pulang ke Sukabumi, tinggallah Naya seorang diri di rumah lumayan megah ini, daerah suami yang sama sekali Naya tidak tahu, dan belum mengenal orang-orang yang di sana.


Sambil menggoreng nasi Naya terus berpikir, gimana caranya supaya ia punya penghasilan walau pun sedikit, seperti sebelumnya.


Dimas berjalan mendekati memasuki dapur, ia lihat istrinya tengah fokus membuatkan sarapan, "Masak apa yang.?"


Naya menoleh kearah suaminya, "Nasi goreng,"


Dimas mendudukkan tubuhnya di kursi, mengawasi sang istri, Naya membalikan badan memandangi Dimas. "Mau di buatkan minum apa yang.? kopi apa--!"


"Susu coklat aja yang.! tapi.. biar aku bikin sendiri saja yang, bunda bereskan saja bikin nasi gorengnya." Dimas beranjak mengambil gelas dan susu coklat.


"Ok," Naya meneruskan kembali tugasnya, setelah matang Nasi goreng Naya bagi menjadi empat bagian, untuk suami, Bapak dan kedua adiknya. "Yang tolong di simpan di meja sana.?"


"Baik sayang," Dimas memindahkan piring berisi nasi goreng tersebut.


Melihat raut wajah sang istri sedih, Dimas mendekati. "Kenapa sayang.? kok sedih.?"


Naya menggeleng pelan, "Kapan berangkat ke bandaranya.? mendongak kan kepala, Dimas mendekap sang istri dengan lembut. "Sayang sedih, karena mereka mau pulang kah.?" Naya pun mengangguk. "Jangan sedih yang..,? kan ada aku." mencium pucuk kepala Naya.


Dari tangga Bapak dan kedua putranya berjalan menghampiri. "Sarapan dulu Pak, dek.?" Naya menetralkan rasa sedih di hatinya.


Dimas melepas dekapannya, lantas duduk menghadapi piring sarapannya. "Loh, yang punya bunda mana.?" memperhatikan cuma ada empat piring di sana.


"Em.., akau gak sarapan yang, aku nanti masak mie aja, rasanya pengen makan mie.! Iya." sahut Naya, sembari mencuci perabotan.


"Baiklah, tapi jangan lupa sarapan.?" kata Dimas sembari memasukan nasi goreng ke mulut. "Yang mau ikut ke bandara.?"


"Nggak ah, aku di rumah saja." sahut Naya yang duduk di dekat Dimas.


Dimas melirik sang istri. "Tapi di rumah sendiri, emang gak apa-apa sendiri.?"


"Emangnya kenapa.? aku biasa sendiri.? lagipula besok atau lusa kau kerja, aku sendiri juga kan.?" membalas lirikan Dimas.

__ADS_1


Dimas mengangguk, "Iya sih," meneguk minumnya.


"Jaga diri baik-baik di sini." kata pak Nanang membuka suaranya.


Naya menatap Bapaknya. "Doain saja Pak"


"Saya titip anak saya sama kamu.? apalagi kita jauh berada, kamu bertanggung jawab akan anak saya." dengan sorot mata yang sangat tajam.


"Saya akan menjaga dia seperti saya menjaga diri saya sendiri, percayalah Pak.?" ujar Dimas menyimpan kedua tangan di meja. "Saya akan usahakan itu, dan saya mohon doa dari kalian semua kebaikan untuk kami."


Naya yang mendengar percakapan suami dan Bapaknya, menetes kan air mata, ia merasa sedih kini dirinya tempat sang suami, jauh sari orang tua, bagai orang terbuang, masalahnya kondisi dia yang tak sebebas orang lain, mampu kemana yang ia mau.


Namun Ia mencoba menyembunyikan rasa sedihnya dengan cara menunduk diam-diam menyeka air di sudut mata, dan kemudian sebuah senyuman menghiasi wajahnya.


"Gak apa-apa di tinggalkan di sini.?" suami Lely menatap kearah Naya. dan kamu Bang jaga istrimu, jangan sampai terjadi apa pun.?" mengalihkan pandangannya pada Dimas.


"Nggak apa-apa, aku akan baik-baik saja," sahut Naya dengan yakinnya.


Tatapan Dimas tertuju pada sang adik ipar. "Aku berjanji, tidak akan menyia-nyiakan Naya, karena dia wanita yang sangat berharga dalam hidupku." jawaban yang sangat mengandung arti.


Selesai sarapan, mereka bersiap untuk berangkat, Naya bersalaman dengan pak Nanang dan kedua adiknya. "Hati-hati, lain kali kalau ada rejeki jenguk aku di sini ya.? semoga kita bisa bertemu kembali." tanpa ijin air begitu deras mengalir dari bendungannya, air mata Naya berjatuhan.


"Ya sudah, Assalamu'alaikum,.?" ujar pak Nanang.


"Wa'alaikum salam." sahut Dimas dan Naya dengan suara seraknya.


"Sayang kan ada aku.? selama aku masih hidup, aku tidak akan pernah menyia-nyiakan dirimu, walau sebentar, tenanglah, I love you sayang." mencium pucuk kepala Naya. "Atau sayang ikut yuk mengantar mereka Bapak.?" namun Naya menggeleng, ia mendongak menjauh dari dada sang suami.


"Yang, pergilah, takut macet, jauh kan.? biar nanti pulang tidak kemalaman." ucap Naya, melihat mereka sudah berada dalam mobil taksi.


"Yakin tak mau ikut.?" tatapan lekat pada sang istri. "Tidak yang, pergilah, aku tidak apa-apa kok, sayang cepat pulang ya.? jangan nginep,?" dengan penuh harap.


"Iya sayang, aku pasti secepat pulang, gak akan nginep kok." Dimas mencium pucuk kepala istrinya.


"Hati-hati yang...,?"


"Ok, sayang juga hati-hati di rumah, oya pintu aku kunci, kalau ada tamu bilang saja besok balik lagi," Dimas beranjak berjalan meninggalkan Naya seorang diri.

__ADS_1


"Ta-tapi.., yang gimana kalau yang datang keluarga kamu.?" tanya Naya. menatap kearah Dimas, yang berbalik badan. "Bilang yang sama."


"Tapi.., kan.? huuh..," mengembangkan pipinya, pintu pun tertutup Dimas kunci dari luar.


Naya melihat dari jendela mobil tersebut melaju dengan cepat. "Ya Allah jaga dan lindungi mereka.? Aamiin ya rabbal'alamiin." Naya mengusap wajah dengan telapak tangan. kemudian perlahan meninggalkan ruangan tersebut menuju kamar pribadinya.


Usai berada di dalam kamar Naya mengambil air wudhu tuk sholat sunat pagi, lantas berdoa memohon segala kebaikan, kepada yang maha kuasa, di lindungi dari segala hal keburukan.


Rumah terasa sangat sepi, begitu hening bagai rumah tiada penghuni, Naya lanjutkan dengan membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an, kata pak ustadz, jika di rumah selalu di bacakan ayat-ayat al-Qur'an, banyak faidahnya, yang diantaranya..?


Rumah akan bercahaya dan sehat


Rumah yang dibacakan alquran akan bercahaya, dalam salah satu riwayat disebutkan. "Terangilah rumahmu dengan membaca alquran".


Al-Qur'an merupakan petunjuk kehidupan, yang apabila di ikuti akan mampu mengeluarkan seseorang dari aneka kegelapan, kegelapan sikap, kegelapan cara pandang, kegelapan keyakinan dan lain sebagainya, al-Qur'an juga di sebut sebagai syifa (obat)


Rumah yang dibacakan al-Qur'an akan menjadi rumah sehat yang bisa mengobati siapapun, yang tinggal di dalamnya.


Suasana Rumah Jadi Hidup


Rumah yang sepi dari bacaan al-Qur'an akan seperti kuburan, penghuni rumah yang tidak menyempatkan waktunya untuk membaca Al-Qur'an di rumah niscaya akan dilanda kekosongan spiritual, membaca al-Qur'an dengan tadabbur dan tartil akan menghidupkan hati sehingga tidak lalai.


Al-Qur'an adalah hidangan Allah yang bisa dinikmati oleh manusia agar mendapat petunjuk dan rahmat dari-nya, Membaca al-Qur'an jadi bagian dzhikrullah untuk selalu mengingat Allah.


Selesai membaca al-quran Naya meraih ponsel yang berada di atas meja kecil, kemudian mengirim pesan singkat pada Dimas.


Naya: "Yang sampai di mana.?"


Dimas: "Baru di pertengahan jalan sayang, ada apa.?"


Naya: "Nggak yang, tanya saja, ya sudah, hati-hati ya.?"


Dimas: "Iya sayang, hati-hati juga di rumah.? I love you."


Naya: "Love you too."


Naya menyimpan kembali ponsel di tempat semula, kemudian membereskan mukena, dan naik ke tempat tidur merebahkan diri di sana, pandangan ke atas langit-langit kamar, tak berselang lama mata pun terasa lelah, akhirnya Naya tertidur lelap.

__ADS_1


,,,,


Terimakasih atas dukungan kalian yang masih berkenan memberi lake ataupun apa. semoga kebaikanmu ada yang membalas. Aamiin.


__ADS_2