
Dimas lagi-lagi menghela napas panjang, Aldo tidak mungkin mau juga. Lagian tidak seiman juga, Dimas mengernyitkan keningnya seakan berpikir. Jalan satu-satunya minta tolong pada Dery.
Dimas berdiri dan menyambar jasnya, berlalu sedikit terburu-terburu mau mengambil tas di ruang kerjanya.
"Kemana bro? kita belum selesai bicara," pekik Endro sambil mengacak rambutnya.
Dimas bergegas langkahnya menyusuri Rumah Sakit, sesampainya di ruang kerja. Langsung membereskan mejanya yang berantakan, setelah itu kembali menyusuri koridor. Banyak berpapasan dengan dokter dan suster, Dimas hanya mengulas senyuman.
Langkahnya semakin di percepat menuju mobil di parkiran, dalam pikirannya. Ingin segera permasalahan Bu Mahdalena ini kelar secepatnya, tanpa melibatkan dirinya lagi.
Keputusannya sudah bulat, sekalipun ia tidak mendapat pria yang mau membantunya. Ia tidak akan mau menuruti permintaan Bu Mahdalena dengan alasan apa pun, sudah cukup istrinya tersakiti dengan jauh dari keluarga semata-mata demi dirinya. Masa mau ia duakan dan membuatnya sakiti hati.
"Pak jalan," titah Dimas pada supirnya setelah ia mengenakan sabuk pengaman.
Pak Mad mengangguk, mengiyakan perintah majikannya.
"Ke jalan xx," ucap Dimas sambil menyandarkan kepalanya.
"Oh bukan pulang?" tanya Pak Mad heran.
"Saya ada urusan dulu di sana," gumamnya Dimas menatap jalanan dari jendela.
Tidak bertanya lagi, pak Mad langsung saja mengarahkan mobil ke jalan yang di tuju oleh majikannya.
"Tak lama di perjalanan, Dimas pun langsung menuju sebuah tempat yang sudah di janjikan dengan Dery. Di parkiran pun terlihat motor Dery berarti orangnya sudah menunggu kedatangan Dimas.
Langkah Dimas berhenti depan Dery yang sudah menunggu. "Sorry, lama menunggu ya?" sambil mendudukkan tubuhnya di kursi tepat depan Dery.
"Tak apa belum lama kok," sahut Dery sambil nyeruput kopinya.
"Hem ..." gumam Dimas.
"Ada apa nih, nampak serius banget nih?" tanya Dery menatap Dimas penuh penasaran.
Dimas meletakkan kedua tangannya di depan meja, sebelumnya menghela napas pelan-pelan dan menghembuskan nya perlahan.
"Begini, saya sedang menghadapi sebuah masalah," lirih Dimas menjeda pembicaraannya.
"Masalah? masalah apa," dengan tatapan tajam.
"Em ... sebenarnya bukan masalahku! dan entah kenapa saya terseret ke dalamnya, putri Bu dewan hamil dan saya di minta--!"
"Apa?" mendengar ucapan Dimas sontak Dery bangun dan mencondongkan tubuhnya ke depan, dengan refleks tangan kiri nya mencengkram kerah kemeja Dimas. "Kurang ngajar, brengsek kau, tega-teganya mengkhianati istri mu ha?" sergah Dery sembari melotot.
Jelas Dimas kaget kalau Dery akan melakukan itu pada dirinya. "De-dengar dulu saya belum selesai."
Dery semakin mengeratkan genggaman nya. "Kau brengsek, tega menyakiti istri mu itu, kau tidak bersyukur punya istri baik. Penyabar apa lagi yang kau cari ha?" tangan kanannya sudah mengayun, bersiap menonjok dada Dimas. Namun dengan gesit Dimas meraih tangan itu, tatapan mata Dery memerah dan rahangnya mengeras menahan amarah pada Dimas yang ia pikir telah berselingkuh dengan wanita lain.
"Sebentar-sebentar," kedua tangan Dimas diangkatnya. "Dengar dulu penjelasan ku, Dery."
"Naya memang bukan siapa-siapa bagiku, tapi dia mengingatkan ku pada calon istriku yang telah tiada. Dan saya tidak pernah rela bila ada yang menyakiti dia, sekalipun kau suaminya," suara Dery semakin tinggi dan menghempaskan Dimas kebelakang. Hampir saja tubuh Dimas terjungkal kebelakang, untung saja dia masih bisa menyeimbangkan diri.
"Sabar Dery, biarkan saya selesai bicara dulu," pinta Dimas dengan suara pelan.
__ADS_1
Mereka akhirnya duduk kembali seperti semula, saling berhadapan Dery meneguk minumnya kembali.
Dimas menarik napas dalam-dalam. "Saya tidak pernah dekat dengan dia, apa lagi macam-macam. Gak mungkin kan?" ujar Dimas.
"Jangan bertele-tele ngomong ke intinya?" Dery tegas.
"Oke, gini! putri bu dewan hamil dan kekasihnya meninggal. Dalam sebuah kecelakaan, sekarang beliau mencari laki-laki yang mau menikahi putrinya itu. Dan dia berani bayar berapa pun laki-laki tersebut asal mau menikahi putrinya. Sampai dia melahirkan, kalau sudah melahirkan. Akan segera mengurus cerai," jelas Dimas meyakinkan Dery.
Dery menatap Dimas. "Jadi kau dipinta menutup aib dia gitu, dan kau mau?" dengan nada kesal.
"Tidak, tentu tidak mau. Saya sudah beristri, tidak mungkin saya mau," tegas Dimas kembali.
"Terus?" tatapan Dery tajam menatap Dimas, si pria bertopi itu memundurkan punggungnya kebelakang dan duduk bersandar.
"Saya di ancam." Dimas menceritakan kalau dirinya diancam, jika tidak mau dan tidak mendapatkan pria pengganti. "Apa kau bersedia menikahinya? sampai wanita itu melahirkan."
Dery menghembuskan napas dari hidung. "Tidak, di bayar berapapun tidak mau. Dan kau bukan anak kecil yang mudah di ancam begitu saja, kau harus tegas punya pendirian juga kau harus pikirkan perasaan istri mu. Apa dia tau ini?" tanya Dery dengan nada datar.
Dimas menggeleng. "Tidak, aku belum cerita apa-apa, masih bingung."
"Kau laki-laki yang harus bertanggung jawab akan istri mu bukan wanita lain yang tidak ada hubungannya dengan mu," jelas Dery kembali.
"Justru itu, aku ingin selesaikan dulu masalahnya dan baru cerita."
"Terus gimana kalau si dewan datang dan cerita pada istri mu, kalau yang menghamili anaknya adalah dirimu?" tanya Dery. "Mampus kau?" Dery geram.
Dengan tenang Dimas tersenyum seraya berkata. "Istriku akan lebih mempercayai ku, dan saksinya supir saya, dia tau seandainya saya kemana saja bila tidak di rumah," sangat percaya diri.
"Tentu saja saya yakin," sahut Dimas kembali.
"Kenapa kau gak mau? dengan tawaran ku, cuman sebentar dan kau juga akan mendapat uang." Dimas menatap kearah Dery.
Sebelum menjawab Dery terdiam tak bergeming sambil menatap lekat wajah Dimas. "Saya tidak sudi, uang bisa saya cari dengan cara saya bekerja."
"Bagus," Dimas mengangguk pelan.
"Dari pada saya menikahi dia hanya untuk menutupi aib, mendingan saya mengambil istri mu, yang jelas-jelas wanita terhormat di mata saya," sambung Dery.
Dimas mendongak, sontak tangannya dengan cepat berbalik mencengkram leher baju Dery sangat erat. Matanya melotot, giginya mengerat. Tangan kiri mengepal rasanya ingin sekali menonjok wajah Dery seketika itu juga. "Kau ..." semakin mengeratkan giginya dengan telunjuk menunjuk hidung Dery.
Ucapan Dery sangat membuatnya marah, rasa kecemburuan yang dulu pernah ada terbangunkan kembali di dalam benaknya Dimas.
Sementara Dery tidak merespon apapun, selain tersenyum puas melihat ekspresi Dimas yang begitu marah padanya.
Sambil merapikan kerah di lehernya Dery seraya berkata dengan tenangnya. "Makanya jangan macam-macam. Jangan sampai membuang permata hanya untuk mendapatkan segelintir tembaga, jangan jadi orang yang bodoh."
Dimas terdiam seribu bahasa, beberapa saat mereka hanya terdiam dengan isi kepalanya masing-masing, pak Mad menghampiri. "Maaf Tuan, ponsel anda ketinggalan dan terus berdering sedari tadi. Sepertinya Ibu yang menelpon," suara pak Mad memecah kecanggungan dan keheningan diantara mereka, lalu dia memberikan ponsel milik Dimas.
"Oh, makasih Pak?" Dimas melirik sekilas pak Mad kemudian melihat Dery yang menatap dirinya, karena ponsel Dimas kembali berdering. Ia berdiri sedikit menjauhi Dery dan menerima teleponnya.
^^^Dimas: "Iya sayang ada apa?"^^^
^^^Naya: "Dimana! kok belum pulang?"^^^
__ADS_1
^^^Dimas: "Ayah sedang mengobrol dengan Dery Bun, sebentar lagi juga pulang. Ini juga mau pulang kok."^^^
^^^Naya: "Oh, ya udah. Kalau gitu hati-hati saja yang? jangan malam-malam pulang nya."^^^
^^^Dimas: "Ok sayang, I Love you."^^^
Kemudian sambungan pun terputus, Dimas memasukan kedalam saku celananya. Lalu kembali menghampiri Dery yang masih duduk di tempat tak bergeming, hanya netra matanya yang bergerak.
"Sudah sore saya mau pulang, maaf sudah menyita waktu mu," ucap Dimas menatap Dery yang hanya menatap dirinya.
"Oke, pulang lah," gumamnya pelan.
Akhirnya mereka beranjak meninggalkan tempat tersebut, sama-sama berjalan gontai menuju parkiran. Di parkiran keduanya berpisah mendekati kendaraannya masing-masing.
Dimas memasuki mobilnya, Dery menaiki motornya. Sama-sama melaju namun berbeda arah.
Setelah setengah perjalanan Dimas bergumam. "Pak kita jalan xx dulu, saya ada perlu dengan Bu Mahdalena."
Pak Mad mengangguk, mengiyakan perintah majikannya itu.
Selang beberapa puluh menit mobil sampai pada tujuannya, Dimas langsung turun. "Tunggu ya sebentar Pak."
"Baik Tuan."
Dimas bergegas menuju tempat yang sudah di janjikan, langkah Dimas berhenti di meja yang sudah ditentukan, dan di sana Bu Mahdalena sudah menunggu.
"Duduk," Mahdalena mempersilahkan duduk. "Mau minum apa?"
Dimas duduk di depan Mahdalena. "Makasih, sudah tadi."
"Gimana apa ada kabar baik untuk saya? saya yakin kau membawa kabar baik untuk saya," tanya Mahda sangat berharap.
"Tidak, saya sudah berusaha mencari orang yang dapat saya percaya. Namun mereka tidak satu pun bersedia," sahut Dimas dengan raut wajah yang tenang.
Seketika roman wajah Mahda berubah masam dan kecewa. "Apa? apa saya tidak salah dengar."
"Tidak Bu, itu benar," timpal Dimas lagi.
Mahda menelan saliva nya yang sulit tertelan dan sulit juga tuk di buang, dengan lesunya ia berkata. "Gimana nasib anak saya? tolong lah dok, tolong saya, saya akan membayar kau berapa pun dan itu cuma sementara dok. Saya mohon?" Mahda memohon pada Dimas.
Dimas menggeleng. "Maaf saya tidak bisa, saya tidak mau. Bukan saya tidak kasian sama anda, sebaiknya anda sembunyikan saja putri anda kalau tidak ingin diketahui orang banyak. Ke luar negeri misalnya," ujar Dimas.
"Yang saya butuhkan adalah anda menolong saya, bukan mengatur saya doktor Dimas," Mahda memainkan telunjuknya, nada bicaranya penuh kecewa dan kesal.
"Bu-bukan saya mengatur, tapi ngasih saran. Dan saya tahu tidak ada hak untuk mengatur anda," timpal Dimas pelan.
"Ingat dokter, saya tidak pernah main-main dengan semua ucapan saya. Semua bisa saya lakukan bila saya mau," seru Mahda sangat yakin ....
,,,,
Apa kabar semuanya? terima kasih masih mengikuti novel recehan ini.
NB ... mampir juga di karya aku yang satu lagi ya di SKM ''Surat Kontrak Menikah'' semoga berkenan🙏
__ADS_1