
Dimas menghela napas dalam-dalam, berpikir gimana caranya agar pujaan hatinya bisa luluh lagi, ia hapal betul di balik kelembutan Naya ada watak yang keras, dan di balik ketegarannya ada sebuah hati yang begitu rapuh..!
"Masih marah kah.?" tanya Dimas, dan mungkin Naya enggan menjawab, sehingga tak ada suara,
"Jangan marah lagi ya.? aku akan buktikan kalau aku sungguh-sungguh tulus mencintaimu.
"Antara kita sudah tidak apa-apa kan.? dan itu sudah jelas, kalaupun kita masih komunikasi itu hanya sebagai teman aja," ucap Naya.
"Gak mau, aku gak mau kita cuma teman, kita balikan ya? aku tak sanggup tanpa kamu. jika tak mendengar suara kamu." rengek Dimas.
"Sudah aku bilang kan.? kita tak mungkin melanjutkan hubungan yang lebih, keyakinan kita berbeda, ngerti gak sih.?" hardik Naya.
Dimas berpikir sejenak. "Kalau itu alasannya.? aku akan ikut keyakinan sayang, dan nanti kalau kita sudah menikah, kita dengan keyakinan masing-masing ya.?" tanpa beban.
"Apa..? kamu bicara apa.?" Naya seolah terperangah, mendengar ucapan Dimas.
"Nggak, nggak, aku tak ingin terkesan mempermainkan Agama, aku akan mengikuti keyakinan kamu yang.." ucap Dimas menyandarkan dirinya pada bahu tempat tidur.
Kalau saja terlihat Dimas pasti melihat mata Naya yang terbelalak. "Kamu yakin.? aku gak mau kau berpindah keyakinan hanya karena aku.!"
Helaan napas Dimas terdengar kasar. "Yang.., kita balikan ya.? aku mohon.? jangan biarkan aku sendiri,"
"Kamu bisa mencari wanita lain kok." ketus Naya ingin mempertahan kan egonya.
"Tidak mau, kalau aku sudah cinta sama seorang, tak mudah lagi berpaling pada lain hati, aku mohon kita balikan lagi, ya..,ya..,ya...?" Dimas benar-benar penuh permohonan.
Sesungguhnya dalam hati, tak tega mendengar Dimas merajuk, memohon, meminta balikan, dan sepertinya dia tulus dengan omongannya, mampu meruntuhkan ego Naya.
Kalau memang merasa nyaman kenapa juga di tinggalkan, kalau memang cinta kenapa harus di putuskan, cinta yang tulus akan selalu mampu meredam amarah menjadi pasrah.
Mungkin cinta juga akan mampu merubah segalanya.
"Dengar..,sekalipun kita menjalin hubungan kembali, itu akan sia-sia, aku tau jarak bisa di tempuh, jika Tuhan mengijinkan, dengan niat, ada Rejeki, dan jodoh pasti akan bertemu," dengan nada mulai lembut Naya.
"Itu kamu tau.?" Sahut Dimas.
"Tapi..,kita gak akan mungkin bisa kenapa.? jika ada perbedaan keyakinan di antara kita.!" tegas Naya.
"Yang bantu aku, aku akan masuk Islam, agar keyakinan kita sama." penuh bujukan.
"Aku gak mau kamu masuk Islam hanya karena aku.? kamu harus benar-benar niat dari hatimu sendiri, bukan karena orang lain ataupun paksaan," ujar Naya tak ingin Dimas masuk Islam hanya kerena dirinya.
__ADS_1
Dimas menggaruk kepala dengan kasar, bingung harus bagaimana menjelaskan niatnya itu.
"Yang..,aku sudah berniat untuk itu, tolong bantu aku,!" rajuk Dimas.
"Kamu itu seorang yang taat, sekarang mau begitu saja meninggalkan Agama kamu sebelumnya.? aku gak yakin.?"
"Aku serius yang..,! ya kita balikan lagi ya, aku tak bisa tanpa suaramu,?" Dimas kekeh.
Naya menjadi terkekeh tertawa kecil, "Kita putus cuma tiga hari.! kau berlagak sudah beberapa bulan saja.!"
"Tau gak.?--! kalimat Dimas terpotong.
"Nggak," sambar Naya.
Dimas mesem, "Belum selesai sayang..,! maksud aku tiga hari ini terasa lama banget buat aku yang.!"
"Dimas..," kalimat Naya terhenti.
"Kenapa.?" Dimas penasaran, mau kan balikan lagi sama aku.? aku tau kamu sangat sayang sama aku kan.? jawab sayang.!" dengan sangat lirih.
"Aku sayang sama kamu.! Baik lah kita jalani lagi hubungan ini." ucap Naya pasrah dengan perasaannya.
"Nah gitu dong yang, makasih sayang, jangan tinggalkan aku lagi ya.?" pinta Dimas dengan hati berbunga-bunga.
"Kok tergantung.?" tanya Dimas tak mengerti.
"Tergantung kamu serius atau nggak." jawab Naya menggoda.
"Hah..,! serius bah.! aku gak akan menyia-nyiakan seperti suami kamu dulu." katanya Dimas melukiskan senyuman.
Mendengar ucapan Dimas, Naya menghela napas dalam, "Buktikan lah,? aku gak butuh janji melainkan bukti."
"Akan aku buktikan satu saat nanti yang, lain kali ajari aku tentang Agama ya.?" pinta Dimas mulai merebahkan tubuhnya.
"Udah dulu ya.? ngantuk nih, sudah malam juga" Naya menguap tak tahan dengan kantuk yang menyerang.
"Ya sudah, tidur aja biar kita tidur bersama." ucap Dimas menyeringai.
"Tidur bersama gimana,?" heran.
"Iya kamu di sana dan aku disini, biar saja telepon tersambung bah," kata Dimas menarik selimutnya.
__ADS_1
"Hemm," Naya pejamkan mata sebelumnya membaca doa mau tidur, dan di akhiri dengan kata Aamiin.
"Yang..,?" panggil Dimas. "Hemm," dengan suara parau Naya.
"Ajari aku doa yang barusan ya.?" pinta Dimas, ia pun memejamkan matanya.
"Ngantuk yang,! lain kali aja ya.?"
"Sayang..,!" Dimas lirih.
"Apa lagi sih.? ngantuk juga ihh..," jawab Naya malas.
"I love you.?" chupp seolah Dimas mengecup pipi Naya.
Naya yang masih sedikit sadar, merasa ada kenyamanan, dan merasa di butuhkan, ketika di perlakukan seperti itu, bibirnya tertarik senyuman simpul.
Hening.. tak ada suara lagi hanya suara deru napas, dari kedua insan yang tengah di mabuk kasih, jarak jauh tak menjadikan sebuah penghalang buat mereka, masing-masing perlahan mulai meninggalkan alam nyata, memasuki gerbang alam mimpi.
******
Suatu siang datang lah dua orang pria berbadan sedang gak gemuk gak juga kurus, berwajah manis, dengan penampilan sederhana, menghampiri Naya yang tengah duduk di teras, satu pria Naya kenal karena dulu menjadi tetangga Naya, yang kini sudah pindah rumah, tapi kalau yang satu lagi ia tak mengenalnya.
"Assalamu'alaikum," kata pria yang baru saja datang.
"Wa'alaikum salam..,! silahkan duduk." Naya tersenyum ramah pada kedua pria itu, lalu meraka berjabat tangan dan naik ke teras dan duduk bersila.
"Teh sendiri aja.? yang lain pada kemana.?" tanya Andi seorang pria yang dulu jadi tetangga Naya, matanya mencari keberadaan penghuni rumah lainnya.
"Iya om Andi, Ibu dan Bapak belum pulang mungkin sebentar lagi mereka pulang." kata Naya, Andi masih muda mungkin usia tak beda jauh dari Naya, namun Ia terbiasa memanggil Andi dengan sebutan om dari waktu jadi tetangga juga,
"Oh, tapi pada sehat kan.? Bapak dan Umi.?" tanya Andi melihat ke arah Naya.
"Alhamdulillah sehat, emm..,keluarga om Andi gimana semua sehat.?"sahut Naya balik menanyakan kabar keluarga Andi.
"Baik teh, Alhamdulillah sehat semuanya juga." jawab Andi senyum tipis, kemudian Andi mengalihkan pandangan pada pria yang bersamanya tadi.
"Dia lah wanita yang aku ceritakan," kata Andi, pria itu hanya mengangguk dan sesekali melirik kepada Naya.
,,,,
Jangan lupa dukung author bila suka dengan karyanya, lake, komen, rating dan vote nya agar author semakin semangat belajar menulisnya.
__ADS_1
Maklum kan author pemula, yang harus banyak belajar.
Terimakasih🙏🙏♥️♥️♥️♥️