
Sebelum cerita, Naya melirik orang-orang yang ada di sana, ia pun harus memikirkan baik dan buruknya kalau cerita dihadapan semua. Atau nanti saja ketika berdua, karena ia takut itu akan menjadi aib untuk suaminya.
Setelah berpikir, akhirnya Naya membuka suara. Namun sebelum bercerita ia mendudukkan tubuhnya di kursi meja makan, barulah ia menceritakan kedatangan Bu Magda dan maksudnya.
Dimas mengeratkan gigi dan mengepalkan tangannya, tampak dia marah, Magda benar-benar membalikan fakta. Mengarang cerita bahwa dirinya yang berbuat, "Sudah gila tuh orang," gumamnya.
"Makanya jangan bermain api, kebakar sendiri bro." Endro seakan menggoda Dimas. "Tapi ... apa benar yang di katakan Bu dewan ya?" sembari mengetuk-ngetuk keningnya dengan telunjuk.
Dimas menatap tajam. "Kau jangan memperkeruh keadaan," sergah Dimas.
Dery dan Aldo menoleh Endro yang nyengir seraya berkata. "Bercanda bro."
Dery menggeleng. "Sudah jelas, kemungkinan besar dia memasukan sesuatu ke dalam gelas berharap Naya minum."
"Iya benar. Pasti seperti itu," ucap Dimas dan Endro berbarengan, Aldo mengangguk, memerhatikan gelas yang baru saja Bibi bawa. Sebuah gelas yang bekas air itu.
"Masukan kantong gelasnya, biar di bawa ke laboratorium untuk diperiksa." titah Aldo pada Bibi.
"Iya Bi, gelasnya akan di jadikan bukti akan kejahatan, Bu dewan terhadap istri saya." sambung Dimas.
Naya menjadi was-was, masih untung tadi dia tak jadi meneguk air itu. Dikarenakan mendengar Arif menangis waktu itu, Allah masih melindungi dirinya.
"Alhamdulillah ... aku masih di lindungi sama Allah, sehingga aku gak sempat meminumnya," gumam Naya, masih bersyukur dengan keadaan sekarang. Dirinya masih sehat wal'afiat.
"Iya, alhamdulillah yang." Dimas merangkul bahu sang istri.
"Saya akan membuat perhitungan, semua ini." Dimas menjadi geram pada Mahdalena.
"Sekarang kita harus membuktikan dulu, membawa gelas itu ke laboratorium. Kalau hasilnya sesuai, baru kita bisa bertindak." Aldo dengan tenang nya.
"Bener tuh," timpal Endro, Dery mengangguk. Sebenernya ia ingin malam ini juga datangi Mahdalena namun apa hak dia? bukan siapa-siapa.
"Ya sudah, baiknya makan dulu lah, dari pada ngelamun gitu, nanti saja mikirnya kalau sudah makan," ajak Naya melihat semua pria di sana bengong. Terdiam dengan pikiran nya masing-masing.
Mereka memakan hidangan yang Bibi dan Naya sediakan, Dimas bengong merasakan hatinya yang gusar.
"Sayang makan," Naya suapi suaminya. Biar satu piring dengannya.
__ADS_1
Tidak lama ritual makannya, Dimas, Aldo dan Endro menyusun rencana tentang klinik yang sebentar lagi diresmikan.
Sementara Dery ia sibuk memikirkan rencananya untuk menjatuhkan Bu mahdalena. Ia tidak terima kalau ada orang yang berniat untuk mencelakai Kanaya.
Dimas melirik kearah Dery. "Kau sedang memikirkan apa Dery."
"Ah, tidak," sahut Dery dengan cepat.
"Apa kau memikirkan tentang air itu?" tanya Dimas menatap tajam Dery yang nampak serius.
Helaan napas Dery terdengar berat. "Saya harus tahu motif apa? sehingga ingin mencelakai istrimu," Dery melirik kearah Dimas dan Naya.
Betapa khawatirnya Dery terhadap Kanaya. Aldo dan Endro bengong, begitu besarnya perhatian Dery sama istri Dimas, Aldo juga menyimpan rasa namun gak berani memperlihatkan nya pada semua orang.
Dimas mengerti perasaan Dery yang sama dengan yang ia sendiri rasakan, takut. Khawatir, jika musibah itu terjadi menimpa sang istri.
Karena sudah malam, ketiganya pulang, semua berpesan pada Dimas dan Kanaya agar senantiasa berhati-hati. Sebab orang yang hatinya jahat akan melakukan apapun demi kepuasan hatinya.
"Makasih atas perhatian semuanya," Dimas menepuk pundak kawan-kawannya.
"Ya ..." jawab Aldo, Endro dan Dery bergantian.
Dimas melirik ke sisinya, sang istri sudah tidak ada di tempat, dia langsung menyusul ke kamar. Benar saja, Naya sedang menidurkan baby twin nya.
Dimas menutup pintu perlahan, dan menghampiri sang istri dan sang buah hati, ia mengelus kepala Arif dan Kayla bergantian.
"Sayang," panggil Dimas.
"Belum salat, kan? salat dulu sanah," Naya menatap suaminya.
"Ya," gumam Dimas lalu pergi ke kamar mandi.
Setelah baby nya tertidur, Naya pun bersiap untuk tidur. Sebelumnya mengenakan wewangian terlebih dahulu biar wangi, barulah berbaring menghadap langit-langit, terlintas di pikirannya. Kalau saja ia meneguk air itu, apa jadinya. Membuat dia bergidik ngeri.
Melirik kearah Dimas yang sedang melipat bekas salatnya, Naya menatap sendu langkah Dimas yang mendekatinya.
Dimas merangkak naik ketempat tidur dan langsung memeluk tubuh sang istri. "Makasih sayang telah percaya padaku, dan tidak mempercayai omongan dia, dan aku sangat bersyukur Allah masih melindungi Bunda dari marabahaya," Dimas masih bersyukur atas keselamatan istrinya.
__ADS_1
"Iya Yang, aku juga bersyukur," sahut Naya sambil mengeratkan pelukannya.
"Yang ... jadikan? bulan depan kita ke kampung ku? rindu rasanya, ingin bertemu langsung dengan mereka," Naya mendongak menatap wajah suaminya.
"Iya, jadi, kalau tidak ada halangan. Pasti kita ke sana," ucap Dimas kemudian mengecup kening sang istri dengan lama sekali.
Kemudian, kecupannya turun ke pipi kanan dan kiri, hidung dan benda kenyal tak bertulang itu, Dimas mengecup dan menyatukannya penuh gairah.
Sejenak Dimas menjauhkan dirinya, menatap sangat lembut, matanya dipenuhi dengan kabut hasrat yang menggelora.
"Bolehkah malam-!"
Naya membalas tatapan sang suami dengan sendu, ia mengangguk pasrah.
Mereka pun akhirnya memadu kasih, melakukan ritual yang amat menyenangkan dan selalu di inginkan setiap pasangan. Sesuatu yang membuat setiap jiwa melayang ketika merasakannya.
Mereka menyatukan tubuh mereka dibalik selimut tebal, Dimas terus mendaki sampai puncaknya. Meski perjalanan cukup melelahkan namun hasilnya sangat memuaskan, sehingga mata pun terpejam merasakan nikmatnya.
Peluh pun bercucuran membasahi tubuh. Setelah puas tubuh pun terkulai lemas, menjatuhkan tubuh di samping sang istri. Sebelumnya memberikan kecupan hangat di kening sebagai tanda terima kasih.
"Terima kasih sayang," bisiknya tepat ditelinga Naya, membuat Naya bergidik merasakan hembusan napas Dimas yang menghangat.
Sesaat melirik baby twins yang menggeliat, keduanya saling pandang dan tersenyum. "Untungnya baby kita tidak pernah mengganggu ritual kita ya Bun," ucap Dimas menyeringai nakal.
****
Beberapa hari kemudian acara peresmian pun diadakan, orang-orang penting pun hadir di sana. Orang tua Dimas pun hadir, Naya sebagai istri tetap setia mendampingi sang suami.
Mulai hari ini PT, KANAYA KLINIK di buka dan mulai beroperasi. Akan siap sedia menerima pasien dari setiap kalangan, bahkan akan menggratiskan bagi yang benar-benar kurang mampu.
Sungguh lega dan bahagia, akhirnya pembangunan Klinik rampung juga dan akan mulai berjuang. Menjadikannya berguna untuk seluruh lapisan masyarakat di sana.
"Saya sangat bersyukur atas terbangunnya klinik ini, semoga bermanfaat untuk semuanya. Dan mohon doa, juga dukungan yang penuh dari rekan semuanya, tak lupa ucapan banyak-banyak terima kasih atas dukungan rekan semua," ucap Dimas di hadapan yang hadir.
Semua nya mengangguk, dan bertepuk tangan. Setelah gunting vita selesai, di akhiri dengan acara makan-makan yang sudah disediakan.
,,,,
__ADS_1
Terima kasih pada reader semua yang masih mengikuti kisah ini, terima kasih yang sudah like n komen meski gak memberi vote nya hehe canda, pokoknya apa yang kalian lakukan untuk novel ini. Terima kasih telah membuat aku tetap semangat.🙏🙏