
Tangis Naya berangsur reda dan hanya meninggalkan isak dalam pelukan sang suaminya, keadaan hening yang terdengar isak bekas tangisan Naya dan Dimas.
Setelah mengikuti serangkaian acara, Dimas dan Naya mengemas barang-barangnya hendak pulang, Dimas menemui sang Ibunda yang berada di kamarnya karena masih sakit dan belum bisa keluar.
"Mak.., Abang mau pulang dulu," ucap Dimas sambil duduk menghampiri Ibunya.
"Apa kau mau pulang,? kau tidak melihat Mama masih terbaring sakit hah," sambil memegangi kepala.
"Abang banyak urusan, lagian Mama juga baik-baik saja dan akan segera sembuh Abang yakin itu." sahut Dimas lirih.
"Kau tega mau ninggalin Mama dalam keadaan seperti ini," nada sedih.
"Mak.., kami gak bisa lama-lama di sini, urusan kami banyak, kami pasti akan sering-sering datang kalau Mama belum bisa datang ke tempat kami," ujar Dimas sambil melirik sang istri.
"Acara nya kan belum selesai, masih sampai malam, gak bisa meninggalkan begitu saja, itu kan acara kalian, kan bisa pulang nya di undur jadi besok.?
Naya melirik Dimas yang juga melihat dirinya, "Kami harus pulang sekarang Mak, Mama cepat sembuh ya?" timpal Naya.
"Saya tidak perduli kau mau pulang tapi jangan cucu 'ku," batin Bu Hesa, "Ya sudah kalau kalian mau pulang, tapi cucu tinggal di sini."
Semua kaget, "Apa? gak bisa lah Mak, dia masih kecil kalau harus menginap tanpa kami," ucap Dimas sambil melirik sang istri.
"Tapi kan mereka pake susu botol jadi gak apa dong mereka tinggal di sini,?" lanjut Bu Hesa.
"Memang, tapi mereka butuh kami Mak," bela Naya sambil menggeleng, ada-ada saja nih bu Hesa mau memisahkan baby dari Ibunya.
"Ibu, jangan egois, Ibu saat ini sedang sakit, bagai mana bisa mengurus dua baby sekaligus," ujar Bapak Dimas pada istrinya.
Bu Hesa melirik suaminya, "Tapi saya ingin mereka di sini Pak," memelas.
"Nanti kalau mereka sudah besar baru suruh nginep, sekarang kan masih kecil dan yang sangat tidak memungkinkan sekarang ini kau kurang sehat," bujuk Suaminya.
Bu hesa berpikir sejenak, "Terserah lah," ucap Bu Hesa dengan nada dingin.
Dimas tersenyum melirik sang istri, "Ya sudah kami pulang dulu takut kemalaman nih," Dimas memeluk Bu Hesa dan mencium punggung tangannya.
"Padahal Mama ingin kau bisa lebih lama lagi, siapa yang akan merawat 'ku,?" Bu Hesa berat.
"Mama kan ada Bapak, lagian sudah agak mendingan, Mama kuat lah," ucap Dimas.
Naya pun melakukan hal yang sama seperti yang Dimas lakukan, dengan malas Bu Hesa membalas pelukan Naya.
Dimas dan Naya berpamitan kepada orang tuanya, dan akhirnya pergi meninggalkan kamar tersebut, anak-anak yang di gendong Tante Lia dan Maria pun diambilnya, Naya merasa lega akhirnya bisa keluar juga dari rumah sang Mertua.
Sebelum keluar Dimas membawa membawa kedua koper miliknya dan anak juga sang istri.
"Naya, yakin mau pulang sekarang? mau magrib nih," ucap Tante Lia menatap Naya.
"Iya Tante, tak apa lah, oya besok kiriman buat Tante akan sampai, kapan Tante akan main ke tempat 'ku?" Naya balik nanya.
"Nanti kapan-kapan Tante ke sana, oya makasih sebelumnya ya?" ucap Tante Liana.
"Oh, aku pamit ya dulu ya Tante," Naya pergi membawa Kayla, di susul Dimas yang menggendong Arif kebetulan tertidur.
Dery yang sudah menunggu sedari tadi di dalam mobil, membukakan pintu untuk Naya dan Dimas.
"Makasih Dery," gumam Naya sambil duduk dengan nyamannya.
"Sama-sama," sahut Dery kemudian membantu Maria menyimpan koper ke dalam bagasi.
"Maria, sering jenguk Mama ya,? kebetulan kan kau gak sibuk, Abang titip Mama ya," Dimas melirik Maria.
"Iya siap Bang, jangan khawatir aku jagain, kalian hati-hati ya, kasih yau kalau sudah sampai," Maria tersenyum.
__ADS_1
"Yuk Mar.., kakak pulang dulu ya,?" Naya mengangguk dan melempar senyumnya.
"Ok kak, hati-hati."
Dery mengangguk pada Maria sebagai kata pamit, kemudian memutar mobilnya meninggalkan halaman rumah Bu Hesa.
Sepanjang perjalanan hanya suara gerungan mesin yang terdengar, penumpang dalam mobil terdiam, anak-anak tertidur begitu pun Naya bersandar ke belakang kursi sambil pejamkan mata.
Dimas termenung seakan sedang memikirkan sesuatu yang sangat serius.
Dery yang fokus menyetir sesekali melirik Dimas dari kaca spion, "Apa ada yang kau pikirkan,?" suara Dery membuka pembicaraan.
Dimas menoleh kearah Dery lalu melirik sang istri yang berada di sebelahnya, "Ah nggak."
"Hem..," gumam Dery dan tak bertanya lagi.
Berada di depan sebuah masjid, mobil yang di kemudikan Dery berhenti, "Apa kalian mau ke masjid dulu,?" menatap kaca spion di sana terlihat pantulan orang-orang yang berada di belakang.
"Ya, belum sholat magrib," sahut Dimas.
"Iya," dengan suara parau Naya, ia membuka matanya setelah merasa mobil berhenti.
"Anak-anak biar saya yang pegang," Dery menawarkan jasa.
"Ya, terimakasih kami turun dulu lah," Dimas turun bersamaan dengan sang istri, namun sebelum turun menunggu Dery dulu yang akan menggantikan mereka menjada baby twins.
"Titip ya om," Naya tersenyum, Dimas berjalan sambil menggandeng tangan Naya memasuki area masjid.
Selepas mengambil air wudhu keduanya melaksanakan kewajiban sebagai umat muslim, tenang, damai sesudah melaksanakan nya.
Dalam perjalanan menuju mobil ada yang minta-minta, seorang laki-laki tua dengan pakaian compang-camping, padahal suasana sudah mulai gelap, dan dia masih berkeliaran, "Kasihanilah saya Pak, Buk, saya belum makan dari pagi," suaranya sangat memelas.
Naya melirik Dimas yang juga melirik dirinya, Dimas mengangguk seolah memberi ijin, dan mengerti maksud sang istri, Naya pun merogoh sakunya mengeluarkan dua lembar uang berwarna merah, dan memberikan pada orang itu, "Ini buat beli makan," Naya sedih jadi ingat orang tuanya, gimana kalau saja dia orang tuanya, alangkah sedih dan menangis hatinya.
"Terimakasih banyak, semoga Tuhan membalas kebaikan kalian, dengan yang lebih-lebih, semoga Tuhan memberi kebahagian pada kalian berdua," ucap orang tersebut mengangguk dalam.
Orang tersebut pun pergi menjauh, Dimas merangkul bahu sang istri mengajak nya berjalan menuju mobil,
Naya tertegun melihatnya, hatinya terhiris, jangan sampai keluarganya mengalami hal yang demikian.
"Yang, apa hukumnya bersedekah pada non-muslim,? tiba-tiba Dimas bertanya seperti itu.
Sesaat Naya terdiam, mengingat orang yang barusan mungkin saja orang non-muslim, lalu tersenyum seraya berkata.
"Allah berfirman,
لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ
“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu.” (QS. Al Mumtahanah : 8)
Sudah jelas silahkan saja, namun yang wajib di berikan pada sesama muslim itu, ialah dua hal, ya itu zakat dan zakat fitrah, itu yang wajib menerimanya adalah orang-orang mustahik yang wajib menerima zakat."
"Mustahik itu apa Bun,?" Dimas mengernyitkan keningnya.
"Mustahik adalah golongan yang berhak mendapat zakat, begitu lah kira-kira," timpal Naya kembali, Dimas pun manggut-manggut.
"Oya yang sering ingin aku bertanya, tapi suka lupa-!"
"Apa tuh,?" Naya menatap sang suami.
"Bunda pernah bilang, kalau sholat ibarat angka satu, berarti ibadah lain, seperti kebaikan dan semacamnya angka nol dong,?" tanya Dimas serius.
"Iya, sholat itu seperti angka satu, ibarat kan nominal uang, sekalipun nol nya berjejer banyak tapi gak ada angka satu nya, apa kah uang itu berlaku.?"
__ADS_1
"Tidak yang, uang itu tidak berlaku sama sekali."
"Sholat adalah hal yang berperan penting, kita membaca ayat-ayat Allah nol di tambahkan ke angka satu, berbuat baik pada sesama nilai nya nol, suami menapkahhi istri atau keluarga bertambah nilai nya nol, istri menurut sama suami bertambah pahalanya nilai nya tambah nol, berbakti kepada orang tua tambah Nol dan seterusnya."
"Hem..," Dimas manggut-manggut.
"Ayok jalan, anak-anak pasti dah bangun, kasian Dery nanti kerepotan," Naya menggandeng tangga Dimas kemudian segera berjalan menjauhi tempat itu.
"Benar saja Dery kerepotan mengurus dua baby sekaligus, yang satu merengek yang satu gak mau diam sambil minum susu.
"Aduh.., kalian nakal ya, bikin repot om nya," Naya melirik Dery yang tampak kebingungan sendiri.
"Istri saja gak punya, sudah harus mengurus baby gak salah nih,?" Dimas mengolok Dery yang melirik dan menyeringai mendengar perkataan Dimas.
"Ayah nih, bukannya berterimakasih sama Dery malah bilang begitu,?" timpal Naya mendelik kearah suaminya.
"Bercanda Bun..," Dimas nyengir memperlihatkan barisan gigi putihnya.
Dery kembali ketempat semula yaitu duduk di belakang setir,
"Bercanda itu bukankah makanan yang di bungkus bentuk kerucut ya yang.?"
"Em.., bacang kali," sahut Dimas.
"Bacang, bukannya yang di iklan ada bacang garuda.?"
"Itu kacang sayang, kacang garuda," jawab Dimas lagi.
"Oh gitu ya,?" Naya nyengir.
"Aduh hampir saja kepala Arif kejeduk kursi depan Bun.., Bunda sih," Dimas memeluk kepala Arif di dadanya.
"Baru hampir yang.., oya yang hampir itu.., yang suka mengisap darah orang ya,?" tanya Naya sembari tersenyum.
"Kalau itu pampir sayang."
"Iih.., pampir mah kalau ada orang lewat, sini-sini dulu," Naya sambil melambaikan tangannya.
"Mampir," sahut Dery tiba-tiba nimrung.
"Om Dery mampir itu bukannya orang yang suka pegang kemudi.?"
Dery dan Dimas terdiam sambil mencari jawaban yang tepat, "Supir," sahut keduanya berbarengan.
"Kalau lalapan yang panjang, ada gerigitnya persegi empat apa namanya,?" tanya Naya lagi sambil tertawa kecil.
"Gak tau ah," sahut Dimas datar.
"Hem..,gitu aja nyerah,?" sambung Naya.
"Kecipir," jawab Dery agak ragu-ragu.
"Hore.., si om pintar ya,?" Naya menepuk-nepuk tangan Kayla.
"Udah ah, jalan Dery, nanti kemalaman, eh.. belum makan malam nih Bun," melirik sang istri.
"Ayah sama Dery saja makan malam sana, aku gak lapar."
"Kita cari makan di depan Dery, jalan lah," titah Dimas.
Dibelakang mobil Dimas ada sebuah mobil mengikuti dari kejauhan, terus memperhatikan Mobil yang ditumpangi Dimas dan yang lainnya, hem..,kira-kira siapa ya..?
,,,,
__ADS_1
Apa kabar semuanya...,? terimakasih masih mengikuti novel recehan ini, semoga Tuhan membalas akan kebaikan kalian, terimakasih yang telah memberikan lake, komen, tapi vote nya mana nih,? hehehe bercanda ! aku gak akan memaksa kalian kok cukup seikhlasnya saja.
NB.... mampir juga di karya aku yang satu lagi ya di SKM ''Surat Kontrak Menikah''semoga berkenan🙏