
"Baik, apa kabar pemuda ku?" tanya pria tersebut sambil menepuk pundak Arief.
"Seperti yang Om lihat, " menaikan kedua bahunya.
"Sudah makan belum kamu?" tanya lagi pria tersebut.
"Sudah, Om." Arief langsung duduk di sofa. Merentangkan tangan dan kepala mendongak.
Pria yang Arief panggil Om itu, tiada lain adalah Deri. Sosok pria baik yang jadi sahabat sang ayah Arief, dia menjadi salah satu sosok orang yang dekat dan mengarahkan Arief.
Orang kedua yang menjadi sandaran adalah dokter Aldo. Orang yang selalu ada dan membimbing Arief dalam setiap hal.
"Kenapa kamu. Seperti orang banyak masalah aja? wajah semrawut kusut, gak ada setrikaan apa ya?"
Arief menoleh. Kemudian terkekeh. "Sembarangan Om ini, Om pikir muka ku selembar kain apa? yang bisa di setrika segala." Arief menggeleng pelan.
Deri menyeringai. "Makanya. Jangan dibikin kusut, sudah tampan begitu di bikin muram. jelek nanti."
"Sekalipun kusut, atau apalah. Tidak akan mengurangi ketampanan ku Om," sahut Arief dengan percaya diri sekali.
"Yakin sekali kamu. Dasar anak muda! tapi mana cewek mu, masa pria tampan ini gak ada cewek nya." cibir Deri.
"Eh, jangan salah. Aku ini di rebutan banyak cewek Om," bela Arief sambil mendelik kan ekor matanya.
"Oya, mana coba? kenalkan sama Om, pengen tahu cewek seperti apa sih yang rebutan pemuda seperti ini." Deri menggeleng.
Arief terdiam. Dia merasa malas untuk membahas itu. Toh dia kesini untuk menenangkan pikiran, bukan bahas yang lain atau apalah.
"Kalau mau istirahat. Sana istirahat, tenangkan pikiran mu." Deri seakan tahu apa yang sedang jadi tujuan anak itu.
Arief. Menghela napas kasar, lalu bangkit dari duduknya menuju sebuah kamar yang biasa ia pakai untuk istirahat.
__ADS_1
Deri menatap punggung Arief yang berlalu meninggalkannya. Ada sebuah rasa yang sulit ia ungkapkan dengan kata-kata. Dadanya terasa sesak dan menyiksa.
Arief. Menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur yang empuk itu. Pandangannya jauh ke langit-langit kamar, pikirannya melayang terbang.
Makin hari ia dibikin pusing melihat kelakuan adiknya yang manja dan keras kepala. Gak di kampus, gak di rumah, sikapnya menjengkelkan, sebagai Abang. Arief ingin sang adik itu nurut, mandiri dan berpikiran dewasa. Namun pada kenyataannya Kayla seperti itu.
Arief mengacak kasar rambutnya. "Arhg! bikin pusing tuh anak." Kemudian ia memejamkan matanya, membuang semua yang ada dalam pikiran.
Waktu sudah menjelang malam. Arief sudah menunaikan salat magrib. Ia berdiri di balkon menghirup udara malam, menatap langit malam yang berhias beberapa bintang nan jauh di sana.
Tiba-tiba pundaknya ada yang menepuk pelan. "Sedang apa di sini anak muda? bengong aja gak ada kerjaan apa!"
Arief menoleh dan sekilas tersenyum tipis. "Om."
"Om, sudah masak. Yuk makan dulu, sepertinya dari siang kau tidak makan. Nanti kau sakit." Timpal Deri, ia pun mendongakkan wajahnya ke langit.
"Gampang Om, oya Om. Aku rindu sama ayah dan bunda, kalau saja mereka ada masih ada. Mungkin--"
"Sudahlah, doakan saja mereka agar tenang di sana. Datangi tempatnya hem, jangan bersedih. Tidak baik." Tangan Deri mengusap punggung Arief.
"Besok hari sabtu, gimana kalau ke sana aja. Om antar gimana?" tanya Deri sambil tersenyum menatap Arief yang berwajah gusar.
"Boleh, Om. Aku akan ajak Kayla tuk ikut, makasih Om?" Arief memeluk pria yang ada di hadapannya itu.
Setelah saling peluk, bak ayah dan anak. Keduanya berjalan menuju lantai bawah untuk makan malam bersama.
Sampai detik ini Diri belum menikah juga. Hidupnya ia warnai dengan turut mengelola Kanaya Klinik bersama Dokter Aldo, mereka mengurus Klinik tersebut. Meneruskan peran Dimas yang tiada dan satu saat nanti akan tertulis di atas kertas kalau Klinik tersebut menjadi hak milik Arief dan Kayla. Sebagai pewaris dari sang ayah.
Deri dan Aldo turut mengasuh Arief dan Kayla, terutama Arief yang lebih banyak diasuh oleh mereka berdua. Sementara Kayla lebih banyak neneknya yang berperan mengasuh dan mendidik Kayla.
"Om Aldo katanya sedang ada urusan di luar kota dalam beberapa hari ini." Di sela makannya Deri berucap.
__ADS_1
"Iya, katanya Om. Aku juga sudah beberapa hari tidak bertemu om Aldo." Timpal Arief sambil menyuapkan makan ke mulutnya.
Makan malam pun selesai. Arief membawa piring kotor bekas mereka berdua, lantas di cuci nya. Deri menatap punggung Arief yang sedang mencuci piring di wastafel.
"Kau mau pulang apa mau menginap di sini?" tanya Deri sambil berdiri menggeser kursinya.
Arief tak lantas menjawab. Sebelumnya menyimpan piring dan gelas bersih di tempat, barulah menjawab pertanyaan Deri. "Aku ... mau nginap di sini saja Om, malas pulang."
"Oh, boleh. Tentu boleh dan baguslah, Om jadi ada temannya." Deri tersenyum senang.
"Om, kenapa gak nikah aja Om? biar ada yang menemani Om. Mengurus Om, emangnya Om mau sendiri sepanjang hidup ya?" ujar Arief menatap Om nya setelah mereka berpindah duduk di ruang keluarga.
Sebelum menjawab, Deri menarik bibirnya tersenyum. "Belum ada niat."
"Masa, belum ada niat Om. Gak mungkin juga kalau gak ada yang mau sama Om." Arief mengernyitkan keningnya.
"Iya, kan sudah Om bilang. Belum ada niat, bukan gak ada yang mau." Deri menggeleng.
"Om, sedekat apa sih hubungan Om sama ayah dan bunda?" selidik Arief, ia ingin tahu. hubungan orang tuanya. Dengan Deri ini.
"Berteman. Kami berteman baik, walau ... belum begitu lama juga saling kenalnya. Kalau sama ayah kamu sih lama, cuma gak dekat. Terus kami dekat setelah saya kerja di rumah ayah mu membuat lift tangga. Setelah mereka menikah. Kemudian kami bertemu lagi di tempat liburan. Kita sama-sama liburan, gak janjian tapi. Setelah itu barulah kami berteman dekat." Kenang Deri memandangi ke arah Arief.
Arief mengangguk-anggukan kepalanya, sangat serius mendengarkan cerita dari Deri.
Deri menguap. "Om ngantuk, sudahlah kita istirahat aja dulu, besok kita ke makam ayah dan bunda mu. Oke?"
Arief mengangguk, sedikit kecewa. Padahal ia masih ingin mengobrol dengan Deri tentang orang tuanya.
"Lain kali kita sambung lagi obrolan kita ini." Deri berdiri dan membawa langkahnya ke kamar.
Setelah Deri menghilang. Arief pun beranjak dari duduknya. Menuntun langkahnya kembali ke kamar. Ia menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur. Menatap langit-langit. Dengan pikiran yang melayang entah kemana ....
__ADS_1
****
Hai ... aku sapa lagi nih para reader yang suka dengan cerita Naya dan Dimas. Ini season 2 apa kalian setuju gak ni? bila "Bukan Mauku" ada season 2 nya?'