
Naya meneguk minum sampai tandas, tak menyahut kalimat-kalimat yang di lontarkan oleh Dimas, "Yang, aku mau ngobrol sama Bapak dan Mama dulu ya.?" namun Naya hanya mengangguk.
Dimas beranjak dari duduknya, mengusap pucuk kepala Naya, lalu berjalan menghampiri orangtuanya.
Naya termangu di tempat yang sama kekenyangan, "Bi.., besok kami berangkat, baik-baik di rumah ya.?"
Bi Taty menoleh, sembari tertegun dan merasa sedih seolah mau di tinggal selamanya, "Iya Bu, jangan khawatirkan Bibi di sini, Ibu yang harus jaga diri baik-baik, jaga kesehatan jangan capek," pesan bi Taty yang sudah tau tanda-tanda kalau majikannya tengah ngidam.
Kemudian Naya pun beranjak, "Bi, aku ngantuk, aku mau tidur dulu ya, sepertinya aku kekenyangan nih.?"
"Hati-hati Bu,?" bi Taty tersenyum.
Naya menaiki anak tangga, hendak ke kamarnya, setibanya di kamar Naya langsung rebahan di atas tempat tidur.
Beberapa jam kemudian Dimas merasakan ngantuk, dai beranjak dari dan pamitan pada kedua orang tuanya untuk tidur duluan, "Huah, ngantuk, aku tidur duluan ya,? sampai jumpa besok."
"Hem, pergilah,?" sahut Bapaknya.
Dimas mempercepat langkahnya, menaiki tangga, dan ketika pintu terbuka nampak istinya sudah terlelap tidur, bahkan tidak mengenakan selimut untuk membalut tubuhnya, Dimas dekati dan memasangkan selimut sampai menutupi dada, tak lupa mendaratkan kecupannya di kening sang istri.
Dimas turun dari tempat tidur dengan niat ke kamar mandi untuk mengambil air wudu, Dimas menunaikan sholat isya sendiri, selepas itu ia merapikan sejadah dan sarungnya, kemudian duduk di tempat tidur membawa laptopnya, sampai pukul 23.00 Dimas sibuk dengan laptopnya, sesekali memperhatikan sang istri yang tidur begitu lelap hingga tak bergerak sedikitpun.
Setelah beberapa kali menguap Dimas menutup laptop lalu menyimpan di atas meja samping tempat tidur, Dimas membaringkan tubuhnya di samping sang istri, dengan tidur menyamping tangan Dimas memeluk perut sang istri.
Pagi-pagi, sinar sang surya menyinari bumi, kicauan burung bersahutan menyambut datangnya pagi yang cerah ini, Naya dan Dimas sudah rapi dan bersiap untuk berangkat, bi Taty menyimpan koper ke mobil, dan arang-barang Dimas yang lain, "Yang jangan sampai ada yang ketinggalan loh,?" Naya melirik suaminya.
"Udah kok, laptop dan handphone, surat-surat semua sudah di bawa yang," sahut Dimas, "Barang sayang apa ada yang ketinggalan.?"
"Aku barang aku cuma ponsel," meraba sakunya, "Dompet yang.?"
__ADS_1
"Sudah aku bawa, laptop sayang mau di bawa gak,?" dengan tatapan teduhnya.
"Nggak usah ah, cukup handphone aja, repot, lagian takut gak di pake juga, lagi mager soalnya," Naya merasa kurang semangat untuk menulis, kebetulan belum ada hasilnya juga.
"Hati-hati bawa mobilnya,? jangan ngebut, dan pandai-pandai membawa diri di daerah orang juga," ucap Bapaknya Dimas.
"Iya Pak,"
"Kau urus suami kau baik-baik, layani dia dengan baik, perhatikan makan dan minumnya,? dan juga yang lain-lainnya," pesan bu Hesa, dan Naya mengangguk.
"Bapak rasa Naya nggak perlu di ingatkan,? dia sudah tau tugasnya, dan seperti kita lihat Naya begitu tanggung jawab terhadap suaminya,? nah kau Dimas, jaga istrimu, jangan buat dia kecapean, apa lagi tengah program kehamilan, harus benar-benar di jaga,?" ujar Bapak mertua, membuat mata bu Hesa mendelik.
Dimas tersenyum dan melirik sang istri yang ada di sampingnya, tangan Dimas merangkul bahu Naya, "Pasti Pak."
"Bik, baik-baik ya di sini, sama Bapak juga Mama,? ingat pesan aku ya,?" Naya melirik bi Taty yang duduk di pojokan.
Bi Taty mengangguk pelan, "Baik Bu, Bibi akan menjaga dan mengurus rumah ini dengan baik seperti Tuan dan Ibu ada, semoga Tuan dan Ibu selamat, cepat pulang, dan membawa kebahagiaan.?"
"Jangan khawatir, kami akan ada di sini selama kalian tidak di rumah," lirih bu Hesa.
Dimas melepas rangkulannya, dia melihat jam di tangannya, "Siang, berangkat sekarang yang.?"
Dimas dan Naya berpamitan pada kedua orang tuanya, lantas Dimas beranjak merapikan pakaiannya, kemudian berjongkok meraih tubuh Naya, Dimas menggendong sang istri, di bawanya ke mobil, bi Taty berjalan mendahului untuk membukakan pintu mobil, kini Naya sudah duduk di depan samping kemudi.
"Ibu jaga diri baik-baik di sana,? jangan kecapean,?" pesan bi Taty pada majikannya.
Dimas mengitari mobilnya, lalu duduk di belakang kemudi, usai memasangkan sabuk pengaman di tubuh Naya dan juga dirinya sendiri, dia melambaikan tangan pada orang rumah yang di tinggalkan, begitupun Naya melambaikan tangannya, ini kali pertama dia akan meninggalkan rumah untuk beberapa waktu.
Dimas melajukan mobilnya dengan kecepatan rendah, Naya menyeka air matanya yang jatuh, Dimas melirik, "Kenapa sayang nangis.?"
__ADS_1
"Nggak, cuma sedih aja meninggalkan rumah untuk pertama kalinya," sahut Naya sembari matanya memandangi keluar jendela melihat jalanan.
Dimas tersenyum, "Sayang, kita secepatnya akan kembali ke rumah, kita pergi hanya satu dua minggu aja kok."
Naya terus memandangi keluar jendela, tiba-tiba oo.., rasa mual mulai menyerang dan kepala pusing, biasanya kalau di rumah jam segini itu tidur di kamar dengan nyaman, kebetulan Naya menyimpan minyak angin di saku, Naya mengoleskannya di pelipis dan menghirupnya.
"Kenapa yang,? mual kah, mau muntah apa,?" Dimas sedikit cemas, namun Naya mengangkat tangan di atas angin.
"Nggak, gak apa-apa kok, gak mau muntah juga, yang aku butuhkan sekarang adalah tidur,? kepala sedikit pusing juga," tutur Naya.
"Bener gak kenapa-napa,?" tanya Dimas dengan tetao fokus pada kemudinya.
"Bener yang.., aku cuma mau tidur, nanti juga hilang,?" sambung Naya dan menyandar di kursi memposisikan kepalanya untuk tidur.
"Ok, tidurlah,?" Dimas mengusap punggung lengan Naya, "Kalau masih sakit bilang ya,? nanti kita cari rumah sakit terdekat."
"Yang.., aku baik-baik saja, jangan khawatir gitu, tenang aja jadilah pengemudi yang baik ok,? penumpang kamu mau tidur," sembari memejamkan mata, di bibirnya mengulas senyum.
Dimas menoleh sesaat, lalu fokus lagi ke jalanan, setelah beberapa jam perjalanan, Dimas merasa lelah, hingga menepikan mobilnya di tepi jalan tepat depan resto, mau membangunkan Naya tak tega, sepertinya lelap sekali, Dimas keluar, tak lupa mengunci pintu mobil, dia berjalan untuk membeli makan dan akan di bawanya ke mobil, biar makan di mobil saja.
Dimas memesan makanan untuk makan siang namun dia minta di bungkus, karena tidak ada waktu untuk di makan di tempat, ketika tengah menunggu pesanannya datang, ada yang menepuk pundaknya, "Hii.., apa kabar lupa nih sama kawan lama.?"
Dimas menatap tajam rupanya dia seorang pria, kawan lama sewaktu masih sekolah, "Hii.., juga, kabar saya baik, gimana sebaliknya.?"
"Baik bah, kau sudah banyak berubah rupanya,?" menatap Dimas dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Ha..,ha..,ha..,! bisa aja, oya sorry,? saya terburu-buru, jadi saya harus segera pergi, ini kartu nama saya," Dimas memberikan sebuah kartu namanya, dan di sambut oleh kawannya itu.
Sebelum pria itu bicara lagi Dimas sudah pergi meninggalkan tempat tersebut, membuat pria tersebut menggeleng dan tersenyum, Dimas yang sebelumnya terlebih dahulu membayar semua pesanan, kemudian langsung pergi menuju mobil, yang dia khawatirkan Naya terbangun dan mencarinya.
__ADS_1
,,,,
Terimakasih reader ku, masih mengikuti cerita ini, dan semoga kabar kalian selalu berada dalam lindungan Allah yang maha kuasa, Aamiin.., ok, jangan lupa selalu lake, komen, rating dan vote nya dong๐๐