
Naya menghentikan langkahnya dan menoleh Bibi sebentar, "Iya Bi," dengan senyum tulusnya, Naya kembali melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga dengan hati-hati, "Aduh.., aku harus terapi lagi nih sam dokter Aldo, aku harus lebih kuat dan sehat," batinnya.
Naya menunaikan ibadah tiga rakaat sendiri, selepas salam membaca al-quran, dan Dimas baru nongol dari balik pintu, Naya menoleh seraya berkata, "Baru pulang, sudah sholat belum.?"
Dimas melirik, "Belum, mau ambil air wudu dulu lah."
"Ok"
Naya keluar kamar berjalan mendekati lemari di samping mesin jahit, memilih dan mengambil bahan lalu ia bentangkan, mengambil meteran juga untuk mengukur, kemudian ia mulai menyibukkan jari jemarinya dengan cekatan mengunakan gunting memotong bahan yang sudah ia bentangkan tersebut.
Saking asyiknya dengan aktivitas baru Naya, sampai tidak memperhatikan bahwa di sofa ada suami dan kawannya tengah berbincang dengan serius, sesekali dan secara diam-diam sepasang mata memperhatikan, "Gimana kalau kita makan dulu lah," ajak Dimas pada Aldo dan juga Endro.
"Iya nih, sudah keroncongan nih, cacing di perut sudah pada demo, minta makan," sahut Endro sambil mengusap perutnya.
"Makan aja yang lu pikirin," timpal Aldo berdiri dari duduknya.
"Apa lagi ? makan itu kan buat bekerja bro, bekerja buat makan hahaha," elak Endro, keduanya turun tuk ke meja makan yang berada di dapur.
Sementara Dimas menghampiri Naya yang begitu asyik dengan kerjaannya, "Yang makan dulu yuk,?"ajak Dimas sembari berjongkok.
Saking asiknya bekerja hingga suara Dimas membuat Naya kaget, "Ya Allah kaget," sontak menoleh Dimas.
Dimas menggeleng, "Sudah waktunya makan malam sayang yuk, nanti ikan nya kehabisan loh," ucap Dimas seperti sedang membujuk anaknya makan.
"Hem..," Naya membereskan kerjaannya, lalu berdiri dan di gandeng Dimas untuk turun ke dapur.
Di meja makan sudah berkumpul menunggu Tuan rumah nya datang untuk makan, mereka duduk gabung dengan mereka Dimas memberi instruksi supaya makan malam di mulai.
"Bapak mana Ma,?" tanya Dimas ada Ibunya.
"Bapak 'mu keluar kota, mungkin besok lusa baru pulangnya."
"Oh"
Naya mengambil ikan goreng untuknya pribadi, dan langsung melahap tanpa menoleh siapa pun, yang lain makan sambil mengobrol sesekali tertawa, namun Naya nunduk begitu serius dengan ikan gorengnya, sampai-sampai menyuruh Dimas untuk makan sendiri.
Selesai makan mereka Dimas Aldo dan Endro berpindah duduk ke ruang TV meneruskan obrolannya, Naya sehabis membantu membereskan bekas makan langsung naik ke atas untuk menunaikan sholat isya lanjut ke pekerjaannya yang tadi ia tinggalkan.
Dalam otak Naya dia harus bisa membuktikan kemampuan dirinya pada semua orang terutama Mama mertuanya yang meragukan akan kemampuan dia dalam soal mendesain dan menjahit pakaian.
Makanya ia sudah tidak sabar untuk membuatkan pakaian untuk Mama mertua satu pakaian santai buat ibu-ibu.
Naya begitu serius menjahit, ia 8ngin malam ini juga selesai atau jadi, rasanya sudah tidak sabar, Naya merasa haus, "Ih.., haus ingin susu coklat yang hangat," gumamnya, karena malas teriak-teriak lalu Naya ngechat suaminya agar menyuruh Bibi buatkan susu hangat.
Tidak menunggu lama Bibi dayang membawakan segelas susu hangat, "Ini Bu Bibi bawakan susu hangatnya, Ibu lagi menjahit apa,?" menatap kerjaan Naya.
"Makasih Bi," Naya mengambil dan meneguknya sedikit, "Aku bikin baju santai buat Mama Bi, semoga dia suka."
"Oh, iya Bu buktikan kalau Ibu bisa, apa pun yang mampu Ibu lakukan, lakukanlah selama itu bermanfaat, atau baik, tunjukkan kemampuan Ibu."
"Iya Bi," pandangan Naya fokus pada kerjaannya.
"Apa ada lagi yang Ibu perlukan,?" menatap majikannya.
"Nggak Bi"
Bi Taty membalikan badan dan turun kembali ke bawah meninggalkan Naya sendiri bersama mesin jahitnya.
__ADS_1
"Oke, sudah malam, obrolan kita lanjutkan lain kali, karena besok kita sama-sama sibuk di rumah sakit," Dimas menatap kedua kawannya.
"Baik lah saya pulang duluan," sahut Aldo beranjak dari duduknya.
"Eh.., saya juga mau pulang," Endro pun berdiri, setelah berjabat tangan keduanya berjalan mendekati pintu di antar Dimas sampai pintu.
Keduanya membawa kendaraan masing-masing, Endro dengan motornya dan Aldo dengan mobilnya, mereka melajukan kendaraannya beriringan.
Setelah mereka tidak ada Dimas masuk dan mengunci pintu.
Waktu sudah menunjukkan pukul 22.00 Dimas naik dan menghampiri istrinya yang masih di depan mesin, cup Dimas kecup pucuk kepala Naya, "Kok belum tidur yang sudah malam juga nih.?"
"Hem.., mereka kemana,? sudah pulang."
"Mereka Aldo dan Endro baru saja pulang, bobo yuk, ngantuk nih,?" sembari duduk di samping Naya.
"Duluan aja, aku ingin menyelesaikan ini bentar lagi, kamu belum sholat isya kan sholat dulu sana, baru tidur," jelas Naya sambil tetap fokus pada tugasnya.
"Emang membuat apa sih,? serius banget istri 'ku ini, baju atau apa.?"
"Membuat pakaian santai buat ibu-ibu, dan 'ku mau malam ini juga selesai, besok sekitar jam 08.00 mau membuka konter kan."
"Sudah siap mau buka besok,? Dimas menatap kearah istrinya.
"Siap dong, harus semangat."
"Baiklah, jaga kesehatan baik-baik jangan terlalu capek juga, emang mau buka sampai jam berapa,?" tanya Dimas lagi.
"Nggak tau juga, gimana besok aja."
"Saldonya sudah siap gitu.?"
Dimas mengusap pundak istrinya, "Ya sudah aku duluan, cepat bobo udah pukul berapa nih," lalu melangkah masuk kamarnya.
Naya melanjutkan kerjaannya sampai selesai, akhirnya rampung juga, melihat waktu di ponsel pukul 23.00 Naya menguap, setelah membereskan semuanya barulah Naya berjalan menuju pintu kamar, lampunya sudah temaram dan nampak Dimas sudah berbaring di tempat tidur rupanya sudah terlelap tidur, Naya mencuci muka dan mengganti pakaiannya dengan setelan tidur.
Sekembalinya dari kamar mandi Naya naik merangkak di atas tempat tidur berbaring dekat suaminya, menarik selimut sampai perut, menatap wajah Dimas yang sangat lelap sekali, Naya mengecup kening sang suami, "Yang nyenyak sayang mimpi indah," Naya membalikan badan menyamping membelakangi Dimas tiba-tiba tangan Dimas memeluk nya dari belakang.
Naya tersenyum kemudian memejamkan matanya, menjemput mimpi, menyongsong esok pagi yang cerah, di mana hari yang harus lebih baik dari sebelumnya.
Pagi-pagi Naya sudah menyiapkan sarapan buat suaminya, "Bi.., tolong nanti siang setrika kan baju yang ada di atas mesin jahit, yang malam aku jahit itu loh," melirik bi Taty di sampingnya.
"Mangga Bu, nanti Bibi kerjakan."
"Bila sudah rapi langsung di lipat terus simpan di tempat semula aja, aku akan berada di samping rumah di konter."
"Mau buka hari ini Bu konternya,? mau Bibi temani gak."
"Kalau Bibi sudah gak ada kerjaan di rumah sih boleh aja ke sana, tapi.., gak perlulah Bibi di rumah aja, nanti kalau aja aku butuh sesuatu aku hubungi Bibi," jelas Naya sembari tersenyum.
"Ya sudah kalau tidak mau Bibi temani, Bibi ngikut aja, cuma jaga kesehatannya jangan lupa apa lagi sekarang berbadan dua jangan lupa itu."
"Iya Bi.., Mamak kemana, udah bangun belum,?" tanya Naya celingukan.
"Sepertinya ibu Hesa nyiram bunga tuh Bu."
"Oh biar aja"
__ADS_1
"Oya Bu, kenapa belum bilang sama keluarga kalau Ibu sedang hamil,?" bi Taty menatap dengan penuh rasa penasaran.
Naya menarik napas sebelum menjawab pertanyaan bi Taty, "Hem.., kata Dimas sebentar lagi Mama ulang tahun, biar kabar itu jadi hadiah untuknya nanti."
"Oh.., begitu ya Bibi baru ngerti," bi Taty mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Pagi..,sayang 'ku.., cinta 'ku."
Naya membalikan badan untuk melihat Dimas yang baru datang dengan penampilan sudah rapi siap berangkat kerja, "Pagi juga, sarapan dulu yang."
"Malas ah, malam juga makan sendiri gak enak," sahut Dimas sambil mencebikkan bibirnya.
Naya memandangi Dimas dengan mengangkat kedua bahunya, "Itukan semalam, bukan sekarang," Naya duduk menggeser susu hangat ke dekat Dimas.
"Susu hangat," Dimas menatap segelas susu coklat yang masih mengepul, "Pagi ini gak ada susu yang dinginnya ya,? sembari menyeringai.
Naya melotot melirik Bibi dengan ekor matanya, "Malu nanti di dengar Bibi."
"Tidak apa, Bibi kan sudah berpengalaman, iya kan Bi,?" Dimas menoleh juga kearah Bibi.
Bi Taty pun melihat Dimas, "Apa Tuan.?"
"i-itu.., kalau wanita hamil itu biasa kan kalau pengennya di manja, di elus-elus ya."
"Oh, itu mah biasa atuh Tuan, wanita hamil mah bawaannya pasti ingin di perhatikan, di manjakan, banyak di sentuh juga," Bi Taty membenarkan.
"Kalau istri saya ini suka banget kalau di raba di elus di bagian intimnya wajar gak Bi,? saya tanya sama Bibi karena Bibi lebih pengalaman," Dimas tanpa ragu, sementara wajah Naya merah padam merasa malu.
"Wajar lah Tuan, malah ada juga tuh ibu hamil suka banget di isap ****** dadanya dan itu baik juga buat nanti si baby nya, menurut orang jaman dulu sih Bibi juga."
"Iya Kah,?" ucap Dimas.
"Udah-udah ah, ngomongin itu pagi-pagi sarapan," Naya sedikit marah, "Masalahnya malu."
"Kenap malu,? hanya ada kita bertiga," elak Dimas sambil mencolek sebuah gundukan di balik pakaian sang istri.
"Apaan sih," Naya menepuk lengan Dimas, dan Dimas semakin usil dan berkali-kali mencoleknya.
"Makanya kasih," menyeringai puas.
"Kasih apaan,? aneh ini orang," cemberut.
Dimas menoleh Bibi, "Oya Bi tolong panggilkan Mama, kita sarapan bersama."
"Baik Tuan," Bibi melengos dari tempat tersebut untuk mencari bu Hesa yang sedang menyiram bunga di depan atau di belakang rumah.
Dimas menatap lembut istrinya, "Semalam gak ngasih jatah, dan hari ini hari pertama bunda turun menjaga konter, artinya mulai hari ini bunda punya kesibukan, di konter juga di rumah, bunda lebih asyik menjahit ketimbang nemenin ayah tidur, jadinya ayah gak sempat minta jatah, iya kan.?"
Sambil menyuapkan sendok ke mulut Naya mendelik, "Baru semalam, lagian kemarin sudah, masih ngoceh soal jatah, gimana kalau aku lahiran, beberapa bulan gak boleh hubungan hah,? ngerti puasa gak.?"
"Ngerti sayang..,cuma masalahnya belum masa lahiran, masa ayah harus banyak puasa juga hanya karena bunda sibuk."
Naya sudah menganga untuk bicara, namun melihat bu Hesa masuk dan duduk di meja makan, membuat keduanya terdiam dan hanya tersenyum pada bu Hesa.
,,,,
Hari ini aku merasa sedih😭😭 nih reader, lv 'ku hari ini turun, entah kenapa, dan bingung harus gimana,? jadi tidak semangat 🤦 bantu aku dong reader 'ku yang tersayang, terlove♥️♥️
__ADS_1
Dan Aku ucapkan makasih banyak bagi yang masih mengikuti novel ini terimakasih banyak aku ucapkan buat kalian semua🙏