Bukan Mauku

Bukan Mauku
Dalam bahaya


__ADS_3

Dimas menepuk pundak kedua kawannya yang tengah asik mengobrol. "Lah ghibah mulu kau, pulang ke rumah yuk. Makan malam di sana, oke? saya duluan," Dimas jalan mendahului Aldo dan Endro yang menatap kearah dirinya.


Setelah mendudukkan tubuhnya di mobil, Dimas menyuruh pak Mad untuk segera jalan untuk pulang. Tunggu 5 menit juga akan nyampe rumah.


Di rumah, Bibi tergesa-gesa menaiki tangga sambil memanggil majikan nya. "Bu, Ibu Naya?" napasnya ngos-ngosan.


Naya menoleh Bibi yang langsung membuka pintu, berdiri dengan dada yang naik turun. Nampak napas nya ngos-ngosan itu. "Ada apa Bi? seperti di kejar orang gila saja nih."


Bibi tak lantas menjawab, dia duduk dekat Naya dengan lesu wajahnya di hiasi kecemasan. Mulutnya menganga, seolah membuang napas dari mulut.


"Hem ... ada apa sih Bi? sampai segitunya nih minum dulu," Naya memberikan segelas air pada bi Taty yang langsung di minumnya.


Sudah agak tenang, barulah bibi bicara. "Bi-bibi tadi menyiramkan air minum yang berada di meja tamu itu."


"Iya, terus," Naya menatap penasaran.


"Yang tadi Bibi suguhkan siang tadi."


"Iya kenapa emang Bi?" tanya Naya begitu lirih.


"Itu, Bibi siramkan ke tanaman bunga, tapi ..." bibi menghela napas sesaat.


"Bunganya bermekaran, menjadi subur gitu?" tanya Naya kembali.


"Bu-bukan Bu," Bibi menggeleng, hatinya menjadi was-was, cemas. Pikirannya jadi berkelana ke mana-mana.


"Terus apa Bi? jangan bikin bingung atuh, aku mau salat Bi, nah sudah terdengar suara adzan," jelas Naya seraya memasang telinganya mendengarkan suara adzan magrib yang sayup-sayup terdengar.


"Bunga nya kering, mati Bu."


"Ah Bibi, gitu-gitu aja kok kaya ada apa aja," ujar Naya dengan ringan nya, "Hah ... langsung mati, semuanya Bi?" Naya berubah kaget.


"Tidak Bu, cuma yang Bibi siram air minum saja. Kebetulan membuangnya ke satu tempat saja, tapi kalau yang satu gelas lagi Bibi siram ke lain tempat tanamannya gak ke napa-napa. Aneh, kan?" sambung Bibi.


Kerena penasaran Naya beranjak ingin melihat apa yang Bibi ceritakan, di ikuti sama Bibi. "Di depan Bu," dan mereka pun ke teras, di sana sudah ada Bi Meri melihat-lihat juga.


"Tutup lagi pintunya Bi?" titah Naya ketika sudah melintasi pintu.


"Mana sih?" Naya mendekati Bi Meri, Bi Meri pun menggeser posisi berdirinya.


"Astagfirullah ..." Naya berjongkok ingin melihat dengan jelas, benar saja bunga yang mulanya subur bermekaran. Berubah kering.


"Nih yang ini nih, Bibi siram pake air dari gelas satunya, gak apa-apa, kan Bu?" Bi Taty menunjuk tanaman lainnya.


Naya pun melihat yang Bibi tunjukkan. Suara gerungan mobil Dimas masuk halaman, Dimas pun turun. "Tumben jam segini di luar," Dimas melihat putaran jam di tangannya.


"Assalamu'alaikum, ngapain magrib berada di sini, ada apa nih? bukannya masuk rumah," cerocos Dimas menghampiri sang istri.


"Wa'alaikum salam," Naya meraih dan mencium tangan sang suami.


"Ini yang, tanaman bunga mati, gara-gara disiram air minum," lanjut Naya.

__ADS_1


"Kok bisa?" Dimas heran.


"Iya, Tuan, Bibi--"


"Cerita nya nanti aja ya, sekarang magrib dulu," ucap Naya memotong perkataan Bi Taty. Ia menggandeng tangan Dimas memasuki rumah.


Semuanya masuk, mengikuti majikan yang sudah lebih dulu masuk.


Naya sudah berada dalam kamar, langsung mengambil air wudu, setelah kembali. "Yang mau mandi dulu apa mau salat dulu?" sambil memberikan segelas air pada suaminya.


"Mau mandi sebentar, gerah nih," Dimas pergi menuju kamar mandi sambil membuka kancing kemeja yang ia kenakan.


"Oya yang, mereka Aldo dan Endro mau makan malam di sini," pekik Dimas dari dalam kamar mandi.


Naya menyiapkan pakaian ganti Dimas dan disimpan di atas tempat tidur, kemudian salat lebih dulu. Karena setelah salat mau ke dapur untuk memberi tahu Bibi agar masak yang agak banyak, dan anak-anak juga sama Bi Meri dan Rita.


Langkah Naya yang menuruni anak tangga terhenti sesaat, ketika melihat kawan suaminya datang. "Hi ..." gumam Naya sembari melempar senyuman dan menyatukan kedua tangannya pada mereka.


"Dimas nya mana?" tanya dokter Aldo mendongak kearah Naya yang masih berada di tangga.


"Ada, masih salat di atas," sahut Naya sambil melangkahkan kakinya menuju dapur.


Sebelumnya melihat si kembar masih bermain dengan Bi Meri dan Rita, Naya langsung terjun dan berkutat di dapur membantu bi Taty memasak.


Aldo menghampiri. "Apa kabar Naya? lama kita tidak bertemu," sapa dokter Aldo mendudukkan dirinya di kursi meja makan.


Naya menoleh. "Oh dokter, alhamdulillah dok, gimana sebaliknya nih?" Naya balik bertanya karena memang dah lama tidak bertemu. Apalagi semenjak berhenti terapi jadi Aldo jarang datang.


"Ngomongin apa nih?" suara Endro yang mendekati dan ikut nimbrung.


"Pengen tahu aja loh," sahut Aldo melirik Endro sekilas.


"Cieellah ... dasar jomblo akut," Endro mencibir.


"Apaan? saya dah anak dua kali ..." timpal Aldo gak mau kalah, "Lu yang jomblo. Sampai sekarang belum nikah juga, mending saya lah."


"Biar aja belum nikah, dari pada jadi duda dari asalnya biasa berdua jadi sendiri lagi. Gak enak tahu."


Naya tersenyum sambil menggeleng, begitu pun bi Taty. "Kebiasaan ... aden dokter kalian berdua itu selalu begitu seperti kucing dan tikus. Mau menang sendiri."


"Biar saja Bi, nanti juga baikan lagi," sambung Naya.


Endro dan Aldo saling lempar lirikan tajam dengan bibir mencibir persis anak-anak yang rebutan mainan.


"Ada apa sih kalian ribut-ribut?" ucap Dimas yang baru saja menginjakkan kakinya di lantai dapur, membuat semua melirik kearahnya.


"Nggak tahu nih yang," sahut Naya sambil melirik kedua sahabat suaminya itu.


"Hem ... kebiasaan?" gumam Dimas.


Di luar teras, Dery yang baru datang bertemu pak Mad dan dia bercerita apa yang dia dengar dari istrinya, Meri. Tentang Kedatangan seorang tamu wanita, dan akhirnya kejadian Bi Taty membuang air minum ke tanaman. Sehingga seketika tanaman itu mati mengering.

__ADS_1


Dery sangat heran dan meneliti apa yang Pak Mad ceritakan, Dery berjongkok dekat-dekat tanaman yang mati, helaan napasnya yang panjang hingga terdengar berat. "Kemungkinan airnya beracun Pak," gumam Dery, hatinya mulai diselimuti ke khawatiran terhadap Naya, dia yakin bahwa target adalah Naya.


Pak Mad mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Gelasnya mana Pak?" tanya Dery melirik supir Dimas itu.


"Kurang tahu Pak Dery. Sebab yang anu Bi Taty bukan istri saya."


"Em ... Dimas tahu tentang ini?" tanya Dery kembali menatap tajam Pak Mad.


"Sepertinya Ibu belum cerita, sebab tadi mau magriban dulu," supir Dimas menggeleng.


Dery berdiri, dan langsung masuk ke dalam rumah, ruang tamu kosong. Ruang keluarga juga kosong, kakinya terus melangkah semakin cepat, ke belakang dan benar saja dia mendapati semua orang berkumpul di sana.


Yang pertama Dery hampiri adalah Naya, seiring ke khawatiran hatinya terhadap Naya. "Kau tidak ke napa-napa Kanaya?" menatap cemas, membuat Semua orang keheranan melihat kedatangan Dery yang langsung menghampiri Naya.


"Aku. Aku baik-baik saja Der, kenapa?" Naya heran dibuatnya.


"Kau harus lebih berhati-hati lagi, Bi mana gelas yang bekas air itu tadi siang?" melirik Bi Taty yang tengah sibuk memasak.


Bi Taty termangu sesaat, belum ngeh akan maksud Dery.


"Kau," Dery menunjuk Dimas, " Kau tidak tahukan kalau istri mu dalam bahaya hah?"


"Bahaya, bahaya apa?" Dimas sejenak bengong, lalu dia ingat soal tanaman yang mati itu. Tadi istrinya belum sempat cerita karena mau sholat magrib. "Yang, tadi katanya mau cerita. Soal tanaman yang mati itu?"


Naya melirik Bibi, "Bibi saja yang cerita."


Bibi melirik semua orang yang menatap dirinya seakan ingin mengintrogasi seorang penjahat.


"Jawab dong Bi, jangan buat kami penasaran," desakan Endro pada bi Taty yang masih terdiam.


Dery merangkul bahu Bi Taty dan dibawanya duduk di sofa yang ada di sana, tak lupa Dery mematikan terlebih dahulu kompor.


"Bibi duduk di sini, dan cerita lah," pinta Dery yang tampak lebih cemas akan hal ini.


Bi Taty mengangguk, kemudian dia menceritakan kedatangan Bu dewan untuk ingin bertemu dengan Naya. Namun dia tidak tahu persis apa yang mereka obrolkan, setelah lama tamunya pulang. Tepatnya sebelum magrib dirinya baru ingat gelas yang di meja belum di bereskan.


Kedua gelas itu air minumnya masih utuh, gak ada yang nyentuh kayanya. Terus dia buang kedua tempat yang berbeda, tepatnya disiramkan pada tanaman yang berbeda, dan hasilnya yang satu tempat itu tanamannya mengering, mati.


Yang mendengar itu saling tatap, mereka berkesimpulan bahwa air tersebut beracun. "Bibi ngambil air itu dari mana, atau siapa yang nuangnya, air dari man?" rentetan pertanyaan Dimas ajukan pada Bibi, hatinya mulai tak karuan. Bingung dan cemas, Mahda yang berbuat itu untuk mencelakai sang istri.


"Bibi yang buat, Bibi yang nuang, dari galon yang sama, kami minum baik-baik saja. Barusan Tuan dokter Aldo baik-baik juga," sahut Bibi, suaranya bergetar.


Dimas, dery, Endro melihat Aldo, dan Aldo memberi isyarat dengan kedua tangan dan matanya bahwa dia baik-baik saja setelah minum air dari galon yang Bibi tunjukkan.


Dimas mendekati sang istri yang menyelesaikan masakan Bibi yang di tinggalkan, "Yang, Bu dewan bicara apa saja sama Bunda?" Dimas menatap penasaran, pikirnya pasti Bu dewan ngomong yang macam-macam pada Naya. Apalagi sampai ada niat mencelakainya, walau tidak ada bukti yang pasti itu yang lakukan Mahda.


Sebelum cerita Naya melirik orang-orang yang ada di sana, ia pun harus memikirkan baik dan buruknya cerita dihadapan semua, atau nanti saja ketika berdua. Karena ia takut itu akan menjadi aib untuk suaminya ....


,,,,

__ADS_1


Terimakasih pada reader semua yang masih mengikuti kisah ini, terimakasih yang sudah lake n komen meski gak memberi vote nya hehe canda, pokok nya apa yang kalian lakukan untuk novel ini terimakasih telah membuat aku tetap semangat.🙏🙏


__ADS_2