
Naya menyimpan piring di meja, dia mencoba mengunci bibirnya yang sudah mulai bergetar, agar tak meluapkan amarahnya, dia hanya menggeleng, dan berpura-pura menonton TV, Dimas menyentuh dagu Naya dan di arahkan supaya melihat kearah dirinya, "Jawab sayang, ada apa,? apa ada yang menganggu hatimu,?" Dimas mendekatkan wajahnya ke bibir Naya, namun Naya memalingkan wajahnya kelainan arah.
Dimas semakin gemas melihat ekspresi Naya padanya, Naya menjauh dari Dimas, "Sebenarnya tadi dari mana,?" tanya Naya dengan tatapan sayu namun tajam.
"Kerja," sahut Dimas singkat, Ekspresi Naya tak puas dengan jawaban Dimas.
"Sepulang kerja, ke perkebunan, kan sudah di bilang, ijinkan kan aku pulang terlambat, selesai urusan, aku langsung pulang," jawab Dimas.
Dengan muka masih di tekuk, Naya mengambil kemeja Dimas yang masih tergeletak di atas kasur, ia berikan pada Dimas, "Ini noda bibir siapa,? kenapa ada di bajumu,?" Naya duduk di sofa sambil melipat tangan.
"Mungkin bibir kamu sayang," ucap Dimas, dengan tatapan datar.
Naya mengedarkan pandangan pada Dimas, dengan "Kau lupa,? aku tidak memakai lipstik,?"
Dimas mengerutkan dahinya, mengambil baju dan ia perhatikan, noda merah gambar bibir tersebut, ia tak habis pikir noda dari mana?
"Mungkin ini noda dari pasien aku sayang," dengan santainya.
Naya memandangi Dimas dengan tatapan semakin nanar, "Benarkah, itu bibir pasien mu,? sejak kapan ayah bohong sama aku,? sejak kapan kamu gak jujur sama aku.?"
Dimas semakin mengingat-ingat, kenapa bisa ada noda tersebut, di bajunya, Dimas mendekati Naya memegangi kedua bahu Naya, "Sayang, aku gak bohong, dari bekerja aku ke perkebunan."
Naya melepaskan tangan Dimas dari bahunya, ia memalingkan mukanya, dengan bibir bergetar, menahan tangis, yang sudah meronta ingin keluar dari bendungannya, hatinya terbakar oleh api cemburu, Dimas semakin dibuat kelimpungan jadinya, tiba-tiba dia ingat suatu kejadian kemarin di rumah sakit, ketika Citra menubruknya.
"Sayang, sekarang aku ingat," sangat antusias, dan Naya menoleh kearah Dimas, "Tadi siang aku berpapasan dengan Citra, tiba-tiba dia terpeleset jatuh menubruk tubuhku, ya, pasti itu bekas bibir dia, percayalah yang aku gak macam-macam dari bunda, dan itu ada saksinya Endro yang, aku gak bohong,?" Dimas dengan penuh kesungguhan.
Tangis Naya menjadi pecah, wajahnya di basahi dengan air mata, membuat Dimas tambah kalut, berharap istrinya percaya karena memang dirinya tidak melakukan apa-apa, "Sungguh yang, aku tidak macam-macam," jangankan melihat dulu ketika masih LDR pun Dimas suka gak kuat, membuat luluh, dan ikut meneteskan air mata pula.
Naya tidak ingin terlalu larut dengan tangisnya, ia menarik napas dalam-dalam, dan mengusap air mata yang membasahi pipi, Dimas pun menghapus air mata di pipi Naya, "Sayang harus percaya, akan ke jujuran aku,?" Dimas menatap lekat netra mata Naya yang masih berair.
Begitupun Naya membalas tatapan dari suaminya, ia percaya pada suaminya, akan tetapi hatinya terasa nyeri bila membayangkan Dimas sama wanita lain, "Yang aku takut, kamu dengan--!" Naya menggantungkan perkataannya.
"Sst.., aku gak mungkin seperti itu sayang,?" Lirih dan menarik tubuh Naya agar dekat dengan tubuhnya Dimas mendaratkan ciumannya di kening dan kepala Naya.
Naya membenamkan kepalanya ke dada Dimas, sebegitu takutnya ia kehilangan orang yang sangat ia sayangi, "Bunda tau kan,? aku pernah cerita kalau ada gadis yang magang mengejar-ngejar ku,? sekarang dia dekat dengan Endro, tadi juga dia bersama Endro."
"Ayah cemburu,?"
Dimas tersenyum lebar, "Siapa yang cemburu,? justru aku senang dia bersama Endro, bukan cemburu, aku lebih cemburu, kalau istri aku ini di pandang orang," Dimas membelai punggung Naya dan lagi-lagi menghujani kening Naya dengan ciuman hangatnya.
"Aku bahagia, istri aku cemburui aku, berarti tandanya dia sangat sayang padaku," ucap Dimas menyeringai.
Naya mengulum senyumnya, "Jelas lah, aku kan istri kamu yang," semakin membenamkan wajahnya malu-malu.
Beberapa saat mereka saling berpelukan, tak perduli keberadaan Ibu dan adiknya di bawah, Dimas mendongakkan wajah Naya dengan jarinya, ia pandangi sangat lekat, "I love you sayang.?"
Naya juga memandangi wajah sang suami yang tampan, "l love you too," pelan namun terdengar jelas oleh Dimas, kemudian Dimas mendekatkan bibirnya dengan bibir Naya yang siap di lahap, wangi tubuh Naya semakin menambah gairah bercinta, hasrat Dimas semakin membakar darahnya, perlahan Dimas mendorong tubuh Naya supaya berbaring di sofa, Dimas mengungkung tubuh Naya yang pasrah.
Namun Naya menggeleng, "Selimut," sambil menahan dada Dimas, lantas Dimas melirik kearah tempat tidur, lalu Dimas beranjak menjauhi tubuh Naya sesaat dan membawa tubuh Naya ke tempat tidur.
Setelah membaringkan tubuh sang istri, Dimas merangkak naik ke tempat tidur, kembali mengunci tubuh sang istri yang menatap sendu, Dimas kembali menghujani Naya dengan ciuman mautnya, membuat yang menerimanya menggeliat ke kanan dan kiri, entah sejak kapan pakaian merekapun terlepas tinggallah selimut yang menutupi tubuh mereka berdua.
__ADS_1
Penyatuan tubuh mereka pun di mulai, Dimas melakukannya dengan sangat lembut, membuat yang Naya sangatlah rileks, desahan-desahan kecil keluar dari mulut mereka, semakin menambah gairah untuk lagi dan lagi.
Hingga keduanya merasakan puncaknya, lenguhan lembut dan panjang mengakhiri penyatuan mereka, Waktu sudah menunjukan pukul 00.00 dari pukul sembilan, barulah aktifitasnya selesai, Dimas menjatuhkan tubuhnya di samping Naya dengan napas yang masih memburu, kecupan hangat di kening Naya membuat Naya memejamkan matanya, "Makasih sayang.?" Naya menjawab hanya dengan senyuman, "Kenapa,? mau lagi kah,?" Dimas pelan sambil menggerayangi lagi, namun Naya menggeleng dan tampak kelelahan sekali.
Dimas tersenyum, dan bangun menggantikan lampu menjadi temaram, Dimas kembali naik ke tempat tidur, menjatuhkan tubuhnya di samping sang istri, sembari memeluk, "Bobo sayang,? sudah malam.
Malam yang indah pun berganti, pukul empat pagi Naya membuka matanya, melepaskan diri dari pelukan Suaminya, Naya menatap wajah Dimas dengan senyuman, "Sayang bangun,? sudah pagi nih," cup.., mengecup pipi sang suami, sontak Dimas memicingkan matanya dan kembali memeluk tubuh Naya.
Naya menolak, "Sudah siang yang.., bangun.?"
"Em.., masih ngantuk yang," dengan nada manja.
"Ya udah, lepaskan aku,? aku mau mandi.
Dimas melirik waktu, lalu membenamkan wajahnya ke dada Naya yang masih polos, dengan suara parau, "Sayang tau kah,? kalau adik kecilku bangun.?"
Naya senyum tipis, ia merasakan di bawah sana ada yang bergerak menyentuh pahanya, lalu memejamkan mata, sesungguhnya ia ingin segera mandi, karena memang sudah waktunya bangun, namun ia tak kuasa dengan tingkah Dimas yang terus mencumbunya hingga ia merasakan desiran-desiran aneh membakar gairahnya kembali, Dimas segera mengungkung sang istri untuk menyatukan miliknya, yang sudah mencari tempatnya sedari tadi.
Tiga puluh menit kemudian Dimas menyudahi olahraga paginya, langsung ia menyambar celana pendeknya, begitupun dengan Naya mengenakan setelan tidurnya, kemudian Dimas membopong Naya ke kamar mandi, untuk bersih-bersih bersama.
Usai bersih-bersih mereka menunaikan kewajibannya sebagai muslim, selepas itu Dimas menghampiri sofa menyetel TV, dan Naya melipat mukena, "Yang aku.., mau siapkan sarapan dulu ya.?"
Dimas duduk di sofa menonton berita pagi, "Sarapan buat aku saja yang, kalau buat yang lain biar Bibi aja yang kerjakan,?" ucap Dimas melirik, "Aku antar ya,?" sambung Dimas.
"Jangan yang biar aku sendiri aja," cegah Naya," sambil mendekati pintu, lalu membukanya dan tak lupa menutup kembali, Naya berdiri dekat tangga, antara keinginannya turun sambil jalan, atau memakai lift, akhirnya Naya memutuskan turun dengan jalan kaki.
Naya menoleh kearah pintu kamarnya masih tertup berarti Dimas tidak keluar, lalu kemudian pandangannya tertuju pada anak tangga, "Bismillah..," Perlahan Naya menuruni tangga satu demi satu, tak ada satu pun orang yang Naya lihat, masih sepi termasuk dapur.
"Ya ampun Bu, maaf Bibi kesiangan,?" tiba-tiba suara bi Taty dari belakang Naya mendekati, lantas Naya menoleh sekilas lalu melanjutkan tugasnya.
"Gak apa-apa Bi, apa Bibi sakit,?" Naya mengaduk-ngaduk nasi gorengnya.
"Ti-tidak Bu, Bibi baik-baik saja, Bibi sehat wal'apiat nih Bu, mungkin semalam Bibi nonton sama Bu Hesa dan Maria, he..,he..,he..," ujar bi Taty.
"Oh ya udah, tolong ambil bekas makan semalam Bi, dan pakaian kotor sudah aku pisahkan, dekat pintu," ucap Naya sambil menuang nasi ke sebuah piring.
"Baik Bu, Bibi ambil dulu ya,?" bi Taty meninggalkan majikannya untuk menuruti perintah.
Naya membuat susu panas untuk suaminya sambil senyum-senyum sendiri, entah apa yang dia pikirkan, setelah siap ia pindahkan ke meja makan, bi Taty sudah kembali membawa cucian dan bekas makan Dimas semalam, Naya melihat banyak cucian perabotan di wastefel, dan Naya langsung mencucinya, baru dapat satu.
"Aduh.., Ibu.., jangan biar Bibi saja yang mencuci semuanya,?" Ibu duduk manis aja, ya ampun, Ibu sudah membuat sarapan, menghangatkan makanan, terus Bibi mau mengerjakan apa ath, kalau semua majikan Bibi yang ngerjakan,? masa Bibi di sini makan gaji buta, malu Bibi malu Bu,?" ujar bi Taty sambil mengambil alih pekerjaan Naya, "Sudah Ibu duduk aja,? bentar lagi Tuan Turun."
Naya senyum samar di buatnya, "Gak apa-apa Bi, kan Bibi bisa mengerjakan seperti mencuci baju, menyapu, mengepel, bersih-bersih rumah ini, menyiram tanaman di luar, menyapu halaman, dan masih banyak loh Bi,? yang bisa Bibi kerjakan."
"Iya, memang itu tugas Bibi, sudah, tuh Tuan sudah turun," ucap Bibi sambil menunjuk Dimas yang menuruni tangga dengan menenteng tas kerjanya, menoleh kearah mereka dengan seulas senyum di wajahnya.
Dimas menghampiri Naya, cup.., mencium kepala Naya, "Sayang...?"
"Hem..," mereka berdua duduk berdampingan, Naya mengambil sendok, dan mengaduk nasi goreng yang masih hangat.
"Ini minum dulu susu hangatnya yang,?" Naya memberikan segelas susu cokelat hangat pada Dimas.
__ADS_1
Sambil menyeringai mengamati susu cokelat di tangannya, "Kan tadi sudah minum susu murni.?"
Naya menoleh bi Taty yang tengah mencuci piring, dan Naya kembali memandangi Dimas sambil mencubit kecil pinggang Dimas.
Dimas memekik, "Sakit sayang, dari semalam kau terus saja menyakiti aku, di gigit, di cakar, sekarang di cubit pula, aduh.., salah apa aku sayang,? hingga kau suka sekali menyiksaku hem..?"
Naya membungkam mulut Dimas dengan tangannya, "Sst.., bisa gak,?--!"
"Nggak,?" sahut Dimas menggoda.
"Bisa gak sih, gak usah ngomongin yang aneh-aneh kalau depan orang,? punya malu gak sih,?" Naya melotot.
"Ha..,ha..,ha.., emangnya aku ngomong apaan sayang,?" Dimas tertawa lebar, bi Taty yang mendengar perkataan majikannya, tertawa kecil dan pura-pura tidak mendengar.
"Sudah ah, cepat minum,?" lirih Naya, sambil mengambil sendok berisi nasi goreng yang ingin dia suapkan pada Dimas.
"Ok, sayangku..," Dimas meneguknya sampai tandas, "Bi Mamak dan Maria belum sarapan kah,? atau belum bangun,?" sambung Dimas sambil melirik bi Taty, dan bi Taty membalikkan badannya.
"Be-belum bangun sepertinya Tuan, biar Bibi lihat Dulu," sembari melangkah menuju kamar yang di tempati bu Hesa dan Maria juga putranya.
Dimas mengalihkan pandangan pada Naya yang menundukkan pandangannya ke piring, lalu mengangkat wajahnya, tangan kanannya menyuapi Dimas, "Bisnillah.., baby besarku.., makan dulu ya,? agar kuat dalam menghadapi kenyataan hidup,? hi..,hi..,hi..," Naya terkekeh sendiri.
Dimas hanya senyum samar sambil membuka mulutnya untuk melahap sarapannya sampai habis, "Kalau ayah baby besarnya bunda, berarti bunda mamy nya ayah," sambil mengusap lembut pipi Naya.
Naya melirik bi Taty dari kamar mertuanya, "Gimana Bi.?"
"Mereka baru bagun Bu, mungkin kalau Bibi tidak bangunkan, belum tentu bangun," sahut bi Taty yang melanjutkan tugasnya.
"Oh," Naya mlihat kearah Dimas.
"Gak apa-apa biar aja," Dimas meneguk minumnya.
"Sayang, selama Mama di sini, sayang sibuk, gak kerjaan, ya denganku, seolah kehadiran Mama tidak ada, kasian kan yang,?" ujar Naya sembari menyuapkan nasi goreng terakhir pada mulut Dimas.
Dengan alis terangkat, Dimas berkata, "Insya'allah hari ini aku akan cepat pulang, lagian dokter Aldo kan mau terapi sayang lagi hari ini,?" Dimas membelai kepala Naya, "Ya sudah aku berangkat dulu," cup.., mengecup kening sang istri.
"Baik lah, hati-hati yang," Naya meraih tangan Dimas dan menciumnya.
Dimas berdiri dari duduknya dan merapikan kursinya, "Assalamu'alaikum..,? jaga diri baik-baik di rumah, Bi titip Ibu,?" Dimas melirik kearah bi Taty.
"Baik Tuan," sahut bi Taty tersenyum dan mengingat kemarin Naya keluar tak ada yang tau membuat dia bergidik membayangkan kalau sesuatu terjadi.
"Wa'alaikum salam..,? hati-hati, yang cepat pulang,?" dengan nada manja, membuat Dimas semakin gemas, cup.., Dimas mendaratkan kecupang ke pipi kiri dan kanan sang istri.
"Ya sudah, aku pasti cepat pulang, ok aku pergi, Dimas segera melangkah meninggalkan Naya yang memandangi punggungnya, sampai menjauh dan tak terlihat lagi, hanya suara motor yang keluar meninggalkan tempat tersebut.
Naya mengambil piring dan gelasnya tuk di cuci, mungkin Dimas lupa untuk mencucinya sebelum berangkat kerja.
,,,,
Terimakasih reader ku, masih mengikuti cerita ini, dan semoga kabar kalian selalu berada dalam lindungan Allah yang maha kuasa, Aamiin.., ok, jangan lupa selalu lake, komen, rating dan vote nya dong๐๐
__ADS_1