
"Bentar ah, perasaan Bunda aja kali lama," mengusap pucuk kepala Naya sambil menyedot minumnya, begitupun Naya menikmati minumnya dan asyik dengan pemandangan di pagi hari yang cerah ini di mana malamnya di guyur hujan pas paginya begitu indah, sejuk, sama sekali tidak menyadari ada seseorang yang mengintai.
"Aku mau mandi di laut ah," Dimas membuka kaosnya,
Naya menatap kearah Dimas, "Iih.., mau, ikut," dengan nada manja, tanpa berkata apa pun Dimas menggendong Naya mendekati air laut, mereka basah-basahan oleh air laut, saling siram, dan bermain dengan pasir.
Dimas begitu menikmati mandi air laut dan Naya bermain pasir sendiri, namun tiba-tiba Naya merasa mual dan kepala pening, pusing, mata berkunang-kunang, akhirnya Naya tergeletak tak ingat apa pun, Naya pingsan.
Seseorang yang dari tadi memperhatikan Naya dan Dimas langsung berlari mendekati, pandangannya bergantian pada Dimas yang asik dengan air laut yang posisinya agak jauh dari Naya, dan kepada Naya yang tergeletak pingsan.
"Woyy.., ada yang pingsan," teriak seseorang itu pada Dimas, mendengar teriakan seseorang, Dimas menoleh dan melihat istrinya yang tergeletak, Dimas langsung berlari, melintasi orang-orang yang juga bermain air.
Pria tersebut berjongkok menempelkan jarinya ke hidung Naya masih bernapas, pria itu menoleh Dimas yang baru sampai, "Dia pingsan."
"Kau,?" Dimas menunjuk pria tersebut, namun Dimas mengalihkan pandangannya pada Naya lalu berlutut, duduk meraih kepala istrinya, menepuk pipi Naya seraya berkata, "Bunda bangun, Bunda..,?" Dimas sangat cemas kemudian menggendong Naya di bantu pria itu, di wajahnya tersirat jelas ada kecemasan, sementara orang-orang di sekitar hanya memandangi.
Dimas membawa Naya ke penginapan, membaringkan tubuhnya di atas kasur empuk, semua pakaian Naya basah dan kotor oleh pasir dari pantai, Dimas memeriksa urat nadi Naya yang lemah.
"Tolong keluar dulu, saya akan mengganti pakaian istri saya," menoleh pria itu yang tidak lain adalah Dery pria yang pernah bekerja di rumah Dimas memasang lift, Dery mengangguk dan melangkah keluar.
Semua pakaian Naya Dimas gantikan, dengan yang kering dan bersih, Dimas sendiri lupa memakai kaosnya yang ia tinggal di pantai tidak sempat membawanya karena panik, lalu dia menghangatkan telapak kaki Naya dan memberikan minyak angin di hidungnya, agar tercium, sebagai dokter setidak nya Dimas tau akan kondisi Istrinya, yang kelelahan dan mungkin karena terlalu lama kena paparan sinar mata hari.
Karena terlalu lama menunggu di luar, dia merasa Sangat cemas akan kondisi Naya, dia memberanikan diri untuk mengetuk pintu, tok..,tok..,tok..,"Maaf, boleh saya masuk,?" berdiri depan pintu.
Dimas menoleh kearah pintu kamar ia baru ingat kalau tadi dia di bantu seseorang membawa Naya ke kamar ini, "Masuk." dan Dery pun membuka pintu lalu menghampiri, pandangannya tertuju pada Naya yang masih belum sadarkan diri.
"Bagai mana keadaan Bu Naya,?" tanya Deri kepada Dimas yang tengah duduk di depan Naya menungguinya sadar.
"Saya rasa cuma di sebabkan kelelahan saja, dan badannya cukup lemah," menoleh Dery.
Dery menarik sofa kecil ke dekat tempat tidur dan duduk di sana, "Yakin, cuma kelelahan,?" matanya menatap wajah Naya.
"Yakin Bah," sahut Dimas, kemudian kepala Naya bergerak, dan membuka matanya.
__ADS_1
"Bunda, alhamdulillah sayang sudah sadar,?" Dimas sangat antusias senang melihat istrinya siuman.
"Emang aku kenapa,?" dengan suara parau dan Naya menatap Dimas.
"Tadi Bunda pingsan, ketika berada di pantai tadi," ucap Dimas mengingatkan Naya.
Naya mengingat yang telah terjadi, Naya pejamkan mata sesaat, tangannya memegangi kepala sambil meringis.
"Kenapa Bunda,?" Dimas ikut memegangi kepala Naya.
"Pusing yang, apa lagi tadi pandangan buram, berkunang-kunang, mual yang amat menyiksa, dan akhirnya aku gao ingat lagi," ujar Naya pelan.
"Hem.., Bunda lemah, mudah lelah dan terlalu lama kena sinar matahari, jadinya Bunda pingsan," sambung Dimas, sambil memberikan minum air mineral pada Naya, kemudian memberikan vitamin kepada Naya.
"Kau sedang apa di sekitar sini,?" Dimas menoleh Dery yang bengong, memandangi Naya, dan tak nyaut pertanyaan dari Dimas.
"Hei.., Dery,?" sedikit ngegas membuat Dery menengok kearah Dimas.
"Iya, taya apa tadi,? maaf."
"Saya lagi liburan, i-iya liburan," jawab Dery agak kikuk setelah bertemu mata dengan Naya.
Dimas melirik istrinya dan juga Dery, "Oh, sama siapa,?" sambung Dimas.
"Sa-saya sendiri, dokter sudah berapa hari di sini,?" balik tanya menatap Dimas.
"Kalau gak salah sih, sekitar dua hari, Kamu.?"
"Saya sudah satu minggu, iya," jelas Dery menunduk, hatinya berdebar tiada menentu, mendapat lirikan dari Naya, Naya sendiri masih mengingat siapa pria ini, pernah ketemu namun lupa di mana.
Namun lama-lama Naya ingat juga bahwa, pria ini yang memasang lift di rumah, dan pria ini pula kata bi Taty ngotot ingin bertemu dengan dirinya.
"Oh iya, dia bernama Dery, pria yang di bilang Bibi ingin ketemu denganku, waktu itu," batin Naya dengan masih terbaring di atas tempat tidur, Naya menghela napas dalam-dalam lalu ia hembuskan dengan panjang.
__ADS_1
Sembari mengangguk Dery tersenyum kepada Naya, "Bu Naya cepat sembuh ya,? jaga kesehatan, saya pamit sulu," Dery berdiri mengulurkan tangan pada Dimas dan Dimas sambut tangan Dery, Dery pun berniat berjabat tangan dengan Naya, namun Naya hanya menyatukan kedua tangannya di dada.
Dery membalikkan badan hendak keluar dari kamar tersebut, namun berapa langkah kemudian suara Dimas menghentikan langkahnya, "Dery, makasih,? atas yang tadi."
Sembari menoleh Dery tersenyum, "Istrinya di jaga dok,?" lalu melanjutkan langkahnya ketika mau melintasi pintu, langkah Dery kembali terhenti dia menoleh kearah Naya dan Dimas yang menatap kepergiannya lalu Dery menghilang di balik pintu.
Dimas dan Naya saling pandang, "Kenapa dia ada di sini,?" lirih Naya pada Dimas yang menggenggam tangannya.
"Tadi ketika kejadian Bunda pingsan, dia yang lebih dulu tau, Ayah sendiri jauh dari kamu, Ayah asyik sendiri di laut tanpa memperhatikan istri Ayah, maafkan aku sayang,?" Dimas mencium punggung lengan Naya.
"Oh gitu."
"Mana lagi yang sakit,? selain pusing hem..,?" tanya Dimas menyapukan pandangannya ke seluruh tubuh Naya.
"Tidak, cuma pusing, mual dan lemas aja nih," sahut Naya mengelus rahang Dimas, "Oya baju aku, tadi pasti basah dan kotor, Ayah yang gantikan.?"
"Iya lah Ayah, masa pria lain, gak mungkinkan," Dimas senyum tipis, "Gak mungkin membiarkan orang lain melihatnya."
Pakaian setelan yang Naya kenakan, memang bukan yang tadi melekat di badannya, kerudungnya pun sudah ganti, Naya hendak bangun namun masih berasa lemas, Dimas segera membantu agar Naya duduk bersandar di bahu tempat tidur.
"Kalau merasa lemas, jangan banyak gerak, istirahat aja," titah Dimas. kemudian mengambil makanan dari meja dan kali ini Dimas menyuapi Naya gantian, "Makan yang banyak, agar cepat sembuh Bunda."
Dimas dan Naya makan siang, lalu menunaikan ibadah sholat dzuhur, meskipun tubuh Naya masih lemas tapi untuk sholat di paksain, dan dibantu oleh Dimas, mengambil air wudunya.
Setelah itu Dimas menyuruh Naya istirahat total tidak boleh ngapa-ngapain, sekalipun ke toilet, Dimas yang bimbing, dia semakin protektif.
Selama dua hari Naya istirahat total dan akhirnya kondisi Naya normal lagi, seperti biasa, saat ini Naya tengah duduk di balkon menghirup udara di pagi hari, Dimas sibuk dengan laptop di pangkuannya, serta ponsel yang terus berdering.
Naya, menghela napas sembari tersenyum melihat ke indahan alam di sekitarnya, laut yang terbentang luas, airnya yang biru pantulan dari warna langit dan awan yang putih, membuat sejuk mata memandang, pepohonan yang hijau, menambah sejuknya udara, tenang, damai jauh dari hiruk pikuknya kota.
Pandangan Naya menyapu tempat sekitar yang di bawah, ada seseorang berdiri di bawah pohon tengah memandangi dirinya, dan ketika bertemu pandang dia mengangguk dengan seulas senyum di bibirnya.
,,,,
__ADS_1
Terimakasih reader ku, sampai saat ini masih mengikuti cerita ini, dan semoga kabar kalian selalu berada dalam lindungan Allah yang maha kuasa, Aamiin.., ok, jangan lupa selalu lake, komen, rating dan vote nya dong🙏🙏 agar aku tambah semangat💪
Mana dong komentar nya,? bila suka dengan cerita Dimas&Naya ini🙏🙏