
Dimas mengangguk lantas menggendong tubuh sang istri dibawanya ke dalam mobil, duduk berdua di jok belakang, sementara Pak Mad sudah bersiap melajukan mobilnya, tangan keduanya saling bertautan di atas pangkuan, dan senyum keduanya begitu merekah, rona bahagia begitu nampak di wajah pasutri ini.
Selama di perjalanan Naya sibuk dengan ponselnya chatan dengan adek nya yang menerima transferan dari Naya, mereka bertanya buat apa kirim uang sebanyak itu, sedangkan mereka tidak meminta.
Naya berusaha menjelaskan kalau itu sebagai hadiah untuk orang tuanya dan terserah mau digunakan apa, bagus-bagus dipergunakan dengan baik atau sesuatu yang bermanfaat, agar satu saat dapat berguna.
Dimas melirik istrinya yang mesem-mesem sendiri, terlihat sangat bahagia, Dimas merogoh sakunya karena ponselnya berdering, lalu Dimas bicara di telepon entah dengan siapa.
Tak selang lama Mobil sampai di sebuah halaman vila, suasana sudah gelap Dimas turun menggandeng istrinya masuk ke dalam vila, Pak Mad mengantarkan tas milik majikannya sampai ke pintu.
"Sudah sampai sini aja, Pak Mad pulang aja nanti ke malam man," ucap Dimas pada Pak Mad.
Pria itu menyimpan tas tepat depan pintu, lalu dia pamit untuk pulang meninggalkan Majikannya berdua di vila tersebut.
Sebelum akhirnya Pak Mad memutar badannya, ia membungkuk hormat terhadap kedua majikannya, "Permisi Tuan, Ibu semoga happy di vila ini."
"Ya Hati-hati Pak, makasih juga," Naya mengangguk sembari mengulas senyumnya.
"Besok jemput jam berapa Tuan,?" menoleh Dimas yang masih berdiri tegak,.
"Em.., gimana besok aja saya kasih info nya."
"Baik," Pak Mad berjalan dan memasuki mobil lalu melaju dengan cepat.
Naya dengan basmalah melangkah melintasi pintu vila yang sudah terbuka, dalamnya sangat mewah dan bikin nyaman, "Assalamu'alaikum.."
"Wa'alaikum salam," Dimas menjinjing tas ke sebuah kamar utama dan menyimpan tas disebelah tempat tidur, kamar yang begitu luas dengan kamar mandi yang terbilang mewah juga.
Naya yang mengekor dari belakang langsung masuk ke kamar mandi sekalian mau ambil air wudu, kebetulan belum menunaikan sholat magrib.
Tak selang lama Naya keluar dari kamar mandinya, "Sholat magrib dulu yang," titah Naya pada Dimas yang sedang baringan di atas tempat tidur lalu menoleh dan bangun bergegas mengambil air wudu.
Naya menyiapkan sejadah untuknya dan Dimas, beberapa menit kemudian Dimas keluar dan bersiap untuk sholat bareng.
Selepas sholat Naya meraih punggung tangan Dimas, "Yang, maafkan aku yang belum bisa menjadi istri yang terbaik untuk 'mu."
Tangan Dimas mengusap Kepala Naya lalu mengecupnya, "Aku juga belum bisa menjadi imam yang baik bahkan jauh dari kata sempurna."
^^^Tidak sedikit pasangan suami istri yang gengsi walau hanya untuk mengucap kan kata maaf sesering mungkin, paling banter kata maaf terucap dua kali ketika lebaran idul fitri dan idul adha saja hi..,hi..,hi..!^^^
Mereka berpelukan, impian sederhana setiap muslim punya rumah tangga yang tenang, nyaman, membahagiakan ketika sedih, menenangkan ketika merasa gundah, dan nyaman ketika diluar ada masalah.
Penjaga vila sudah menyediakan buat makan malam, "Makan dulu yuk lapar nih,? ingat hidup butuh makan, karena menghadapi kenyataan itu butuh tenaga," ucap Dimas sembari beranjak dari tempatnya.
"Iya, duluan aja."
__ADS_1
"Nggak mau, harus bareng," jelas Dimas menarik tangan Naya.
Naya pun menuruti berdiri dan mengikuti langkah suaminya, "Em.., aku makan apa,? masih gak mau makan nasi nih."
"Roti mau,? atau sayur ya," sahut Dimas santai.
Mereka samai di meja makan yang audah tersedia menu-menu makanan, "Tuh ada beberapa sayur, makan sayur aja y,?" Dimas menoleh kearah Naya.
Naya menatap semua makanan yang di meja, rasanya tidak ada yang buat dirinya berselera makan, semua enak-enak namun gak bikin Naya berselera.
Naya menggeleng, dia mengambil piring di isi beberapa menu buat makan Dimas aja, lalu seperti biasa Dimas makan dari suapan istrinya dengan sangat lahapnya.
"Akhir nya kita berdua lagi tanpa ada yang ganggu kita," Dimas tersenyum bahagia, "Rasanya di rumah kurang nyaman aja gitu."
"Di rumah juga tidak ada yang ganggu kok."
"Apaan,? akhir-akhir ini Mama bikin kepala Ayah jadi pusing," tegas Dimas mengusap pipi istrinya.
Naya hanya mesem-mesem, "Mungkin sebentar lagi handphone 'ku akan berbunyi dengan notifikasi dari Mama, kalian di mana,? kan sudah janji Mama akan menginap dengan kalian, hehehe."
"Iya itu pasti, tapi sebelum itu terjadi kita matikan handphone nya, agar tidak ada yang mengganggu kita," menaik turunkan alisnya.
"Terserah Ayah saja lah."
"Apa ya,? em.., mau makan mie tap.., kamu yang bikin kan," ucap Naya agak memelas.
"Boleh, akan Ayah bikinkan kenapa tidak," menyingkirkan lengan bajunya dan mencari mie kali aja ada di situ, kebetulan nemu, dan penjaga Vila entah sedang kemana yang jelas tidak ada disitu.
"Tapi.., abis kan dulu makannya, semangat amat Pak," ucap Naya sembari mengangkat sendok nya.
"Oh iy," Dimas kembali duduk manis menunggu suapan dari sang istri.
Makan selesai lanjut masak Mie permintaan Naya dari pada gak mau makan, sayuran dan telur sebagai toping nya.
Tidak butuh waktu yang lama untuk menunggu mie matang, Dimas langsung menyajikan depan Naya, "Mie ala dokter Dimas sudah siap, selamat menikmati Nyonya,?" dan Naya sangat antusias sekali, menyambut dengan senang hati, langsung mencicipi nya selagi masih panas.
Naya memakan mie nya, sementara Dimas jalan-jalan melihat-lihat semua sudut ruangan yang ada di villa tersebut.
Usai makan Naya hendak mencuci bekas makannya, "Jangan Bu, biar saya saja," cegah penjaga di sana dengan ramahnya.
Naya pun mengurungkan niatnya dengan senyuman yang melukis di bibirnya, dan bergegas masuk ke kamarnya, "Gerah ih, ingin mencoba berendam, enak kali ya,?" setelah melihat keadaan kamar mandi yang cukup lengkap tersebut.
Naya mengisi bath tub dan diberikan aroma terapi di sana, lalu menggelung rambutnya dan memakai kain untuk mandi, masuk ke dalam Bath tub kemudian berendam, "Hem.., segar nya."
Setelah puas melihat-lihat isi villa tersebut Dimas masuk kamar setelah mencari istrinya di dapur tidak ada, ia masuk kamar namun istrinya tak nampak, lalu Dimas membuka pintu kamar mandi, kepalanya nongol ke dalam dan ternyata istrinya sedang berendam dengan santainya.
__ADS_1
"Yang, gak ngajak-ngajak nih," ucap Dimas sambil melangkah masuk mendekati istrinya.
"Dari mana sih,?" tanya Naya menatap suaminya.
"Abis lihat-lihat bangunan ini," sambil memainkan air di bath tub.
Dimas melucuti semua pakaiannya kecuali ****** ********. kemudian masuk ke dalam Bath tub berendam bersama sang istri.
"Berrr.., dingin tapi menyegarkan," beberapa kali mengusap wajahnya nya dengan air.
Dimas menoleh istrinya yang terlihat semakin gemuk, lalu mengusap perutnya yang di dalam air hangat, "Hem.., perut Bunda semakin buncit nih," menyeringai.
"Iya lah, kan tumbuh Bapak makanya membesar, gimana sih,?" sahut Naya menggeleng.
"Iya tau, kan cuma basi-basi aja Bun, sensi aja si Ibu," goda Dimas mendekap tubuh sang istri, suasana malam ini akan Dimas pergunakan dengan sebaik-baiknya, seperti saat ini ada desakan-desakan, ada hasrat yang meronta-ronta dan tidak mampu di tunda lagi, dan itu bisa di lakukan sekalipun di dalam bath tub.
Pertemuan yang begitu indah, bermain di bukit-bukit yang indah, kemudian berenang di lembah madu dan siapapun akan merasa ketagihan bila sudah datang mengunjunginya, membuat mereka pun terlena dan sangat menikmati suasana yang tenang dan nyaman tersebut.
Selepas menikmati indahnya bukit salju dan lautan madu di Bath tub, mereka membersihkan diri di bawah air shower, saling menggosok satu sama lain dengan sabun, kemudian memakai jubah mandi dan Dimas mengenakan handuk.
Kini keduanya tengah duduk santai di sofa, di depannya makanan untuk ngemil bumil dan juga suaminya.
"Yang kenapa memakai jubah handuk, nanti kedinginan," tanya Dimas sambil menarik ujung jubah yang di kenakan istrinya.
"He..,he..,he.., lupa bawa pakaian tidur," nyengir.
"Ya ampun Bunda.., segitunya, tapi gak apa lah, biar aku gak kesulitan nanti," senyum licik.
"Ih.., tadi udah."
"Itu tadi bukan sekarang apa lagi nanti," bisik Dimas di telinga Naya membuat membelalakkan matanya.
"Dasar.., mesum terus di pikirannya."
"Biar ja, nanti juga ada waktunya berpuasa total kan, jadi puas-puaskan sekarang, apa lagi suasananya mendukung nih," sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Naya membuat Naya memundurkan kepalanya kebelakang dan mentok di sandaran sofa.
Dimas tertawa senang, dan semakin gencar dengan aksinya yang kull namun ganas, lagi-lagi ingin mengulang olah raga malam yang beru selesai satu jam yang lalu di kamar mandi, benar-benar ya siapa pun yang pernah berkunjung ke bukit kembar dan lembah madu pasti menjadi candu dan ingin selalu datang bahkan ingin lebih dalam lagi untuk menikmatinya.
Dari Sofa Dimas membopong Tubuh Naya ketempat tidur, di bawah sinar lampu temaram ada dua insan yang tak bosan-bosannya memadu kasih, tidak malu di saksikan seisi kamar, dan benda-benda mati tersebut menjadi saksi dimana dua insan ini bak sedang di mabuk Cinta.
Serasa dunia hanya milik berdua dan yang lain cuma ngontrak guys, tidak boleh ada yang mengganggu, sekalipun suara angin yang berhembus, hening yang terdengar hanya sahutan napas keduanya yang berat karena kecapean.
,,,,
Apa kabar reader 'ku, yang masih mengikuti kisah recehan ini, semoga kabar kalian selalu ada dalam lindungan Allah SWT.., aku mohon dukungannya, dan terimakasih sebanyak-banyak nya, karena kalianlah ada aku yang di kenal sebagai penulis recehan ini, tidak akan ada aku yang sekarang tanpa ada kalian semua🙏🙏🙏
__ADS_1