Bukan Mauku

Bukan Mauku
Demam


__ADS_3

Mata Naya menatap langkah Ibu mertuanya, dan meneguk jus buah sayang bila harus di buang, setelah itu Naya pamit sama asistennya untuk ke atas, kebetulan dari jauh sudah terdengar suara adzan magrib bersahutan.


"Aduh..," rintihan Naya merasakan keram di perutnya, ia menyimpan bekas sholatnya di atas nakas, kemudian menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Tubuh Naya guling kiri dan kanan memegangi perut sambil merintih sesekali menggigit bibir bawahnya, keringat dingin pun keluar dari tubuhnya.


Ia mencoba membaca ayat-ayat Allah, seperti alfatihah, ayat al-kursi, al-ikhlas dan lain-lain sambil terus mengelus perutnya yang keram, alhamdulillah keram nya berangsur berkurang.


Dari luar kamar terdengar syara Bi Meri memanggil dan mengetuk pintu, "Bu, kata Nyonya di tunggu makan."


Naya menghela napas dalam-dalam untuk menetralisir semuanya, Huhh membuang napas panjang.


"Duluan aja Bi, aku belakangan sambil menunggu Abang pulang," pekik Naya dengan suara yang berusaha baik-baik aja.


"Baik lah Bu," suara Bi Meri lagi.


Dengan masih berbaring di tempat tidur dan keringat masih mengucur, Naya terus membaca ayat-ayat sebagai doa untuknya.


Begini rasanya mengandung, sesuatu yang dulu tidak pernah ia bayangkan, dulu kalau di tanya soal mau punya anak berapa, sama sekali tidak ingin membayangkan soal itu.


Tapi sekarang ia merasakan gimana ngidam, mengandung dan menghadapi lahiran yang kadang membuat ia kepikiran, namun sudah menjadi keputusan Dimas sebagai suami, kalau Naya lahiran nanti akan dilakukan sesar apa lagi mengingat kondisi Naya sendiri.


Pukul 21.00 Dimas baru pulang, masukan motornya ke garasi dan memberikan helm ke Pak Mad, melihat mobil Bapak nya tidak ada Dimas menoleh Pak Mad, "Bapak belum pulang kah,? mobilnya gak ada.?"


"Belum."


"Em.., saya masuk duluan Pak,"Dimas mengangguk, lalu bergegas masuk kedalam rumah yang sepi.


Sementara di ruang televisi nampak Bu Hesa sedang menonton televisi bersama Bi Taty dan Bi Meri, "Malam.., Ibu di mana,?" tanya Dimas sambil berdiri menunggu jawaban.


Bu Hesa menoleh, "Daru pulang Dimas,?"


"Iya Mak."


"Oya Istri mu di dalam kamar, sepertinya dia belum makan, katanya mau menunggu kamu."


"Saya sudah makan di luar," ucap Dimas sambil melangkahkan kakinya menuju tangga, "Ya sudah aku naik dulu."


Dimas setengah berlari menaiki tangga, beberapa saat Dimas sampai depan pintu ceklek kenop pintu di putar lalu pintu terbuka, nampak istrinya terbaring di atas tempat tidur.


"Assalamu'alaikum.., sayang aku pulang nih," cup mendaratkan kecupan di kening dan perut sang istri.


Namun Naya hanya bergumam, "Hem."


Punggung tangan Dimas di tempelkan ke pelipis Naya, "Ya Tuhan.., sayang demam," lalu menempelkan temperatur.


"Hem.., demam," kemudian Dimas menyiapkan air buat Kompress.


Dimas menempelkan handuk kecil di kening sang istri yang sebelumnya di celupkan ke air terlebih dahulu.


"Cepat sembuh sayang, jangan lama demamnya," sembari memeluk sang istri, sesaat kemudian Dimas turun dari tempat tidur, dan membuka kemejanya berjalan ke kamar mandi.


Tak selang lama Dimas kembali dengan basah air wudu, melaksanakan isya sebentar selepasnya tidak lupa membaca doa yang terbaik untuk istrinya.


"Ya Allah berikan kekuatan, kesehatan buat istriku, sehatkan juga anak-anak kami, dan lancarkan lahirannya nanti, jadikan kami orang tua yang bijak yang pandai menjaga titipan mu yang amat istimewa itu, jauhkan kami dari segala marah bahaya, Aamiin ya Allah ya rabbal'alamin."


Dimas mengusap muka dengan kedua telapak tangannya, melipat sajadah, terus mendekati tepi tempat tidur, mengecek dan mengganti komresan.


Lalu membaringkan diri di sebelah tubuh sang istri dan memeluknya kembali, sesekali Naya mengigau, bergumam tak karuan, "Semoga lekas sembuh sayang."


Sinar matahari masuk kedalam kamar lewat jendela hangatnya membangunkan Naya yang tertidur dari semalam, matanya melirik kanan-kiri kamar kosong, di sebelah pun sudah tidak ada suaminya.


Tapi di kamar mandi terdengar suara air dari keran mungkin Dimas di dalam sana.


Tangan Naya menyentuh kening dan melepas bekas Kompress, "Di kompres, aku demam kah semalam,?" batinnya sambil bangun duduk bersandar ke bahu tempat tidur.

__ADS_1


Kemudian melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 06.30 pagi, Naya termangu dengan pandangan menerawang, mengingat kejadian semalam, "Astagfirullah.., dari semalam aku tidur dan lupa sholat.," sambil menepuk keningnya.


Dimas keluar dari kamar mandi, dengan mengenakan handuk melilit di pinggang, tetesan air jatuh dari rambutnya.


"Kenapa gak bangunkan aku dari semalam sih,?" menatap kearah suaminya.


Menoleh istrinya, Dimas tersenyum, "Sayang sudah bangun, sudah sembuhkah demamnya,?" mendekati dan menempelkan punggung tangan di beberapa bagian tubuh sang istri, "Syukurlah dah turun."


"Semalam aku demam kah,?" tanya Naya lagi.


"Iya, tidurpun ngigau terus, boro-boro di bangunin," ucap Dimas sambil mengambil pakaian dari lemari.


"Aku baru ingat gak sholat isya dan subuh," Lirih Naya kemudian turun dari tempat tidur bergegas ke kamar mandi.


"Hati-hati Bunda," pinta Dimas melihat Naya sempoyongan dan hampir tumbang, membuat dia panik jantung hampir jatuh rasanya, semantara Naya menoleh dan nyengir kuda setelah tubuhnya hampir terjatuh, Dimas menggeleng dan memegangi dadanya.


Sesudah rapi-rapi Dimas langsung meninggalkan kamar tidak lupa mebawa tas kerjanya, namun mendekati inti kamar mandi dan mengetuknya, "Bunda.., aku sarapan dulu ya, mungkin mau langsung berangkat, jangan lupa makan ya,? hati-hati juga."


"Hem."


Dimas menarik kenop pintu, berjalan menuju tangga dan berpapasan dengan Lisa juga kawannya.


"Pagi Pak,?" Lisa mengangguk hormat begitupun kawannya yang bernama Cici.


"Pagi juga, tumben pagi-pagi sudah datang,?" Dimas menaikan keningnya lalu melihat jam di tangannya karena biasanya juga Lisa datang jam delapan tepat.


"Oh iya Pak, kebetulan banyak kerjaan yang harus selesai hari ini juga.


"Oh gitu kah, selamat bekerja saja, yang semangat, dan kerja yang baik," jelas Dimas sambil meneruskan langkahnya.


Bu Hesa dan suaminya sudah berada di meja makan sedang sarapan melihat Dimas sendiri Bu Hesa menyapa, "Istri mu mana.?"


"Dia masih bersih-bersih, semalam dia demam," sahut Dimas sembari menarik kursi lalu duduk, Bi Taty menyodorkan susu hangat pada Dimas, "Makasih Bi."


"Iya kah demam, semalam baik-baik saja," lirik Bu Hesa menyatukan kedua alisnya.


"Sekarang gimana keadaannya,?" tanya Bapak nya Dimas.


"Alhamdulillah sudah turun, sudah baikan," di sela-sela mengunyahnya.


Bapak nya mengangguk, "Baguslah."


Setelah selesai makan, Dimas meneguk air putih lalu naik kembali untuk berpamitan pada istrinya, bergegas dengan langkahnya sehingga sebentar saja Dimas sudah sampai di kamar, istrinya tengah menyisir rambutnya yang panjangnya di bawah bahu.


"Yang aku berangkat dulu ya," cup mengecup pucuk kepala Naya tidak lupa mengelus perut istrinya.


"Nanti cepat pulang ya," pinta Naya sambil mencium punggung tangan suaminya.


"Iya, apa ada perlu sesuatu yang harus aku ambilkan, makan mungkin," menatap wajah istrinya.


Dengan senyumnya Naya menggeleng, "Nggak, nanti aku turun sendiri."


"Baiklah, hati-hati kalau butuh sesuatu suruh orang saja, jangan di kerjakan sendiri, jangan macam-macam pokoknya," lagi-lagi mengecup kening sang istri lama.., kemudian memutar badan untuk berangkat kerja.


"Assalamu'alaikum...?"


"Wa'alaikum salam, hati-hati."


Dimas melambaikan tangan sejajar kepalanya tanpa menoleh lagi, langkahnya semakin cepat karena takut kesiangan, kebetulan ada jadwal ke tempat yang agak jauhan.


"Pak berangkat sekarang," pinta Dimas setelah duduk manis dan memasang sabuk pengaman.


Pak Mad mengangguk dan segera putar kemudi, melajukan mobilnya sangat kencang melesat diantara kuda-kuda besi lainnya.


Naya turun dengan menggunakan lift, sampai di bawah langsung ke meja makan dan duduk di sana.

__ADS_1


"Kata tuan katanya Ibu demam dari semalam, makanya Bibi buatkan bubur dan baru mau di anterin ke atas eh sudah turun duluan," Bi Taty menghampiri serta menyuguhkan bubur buatannya.


"Iya Bi, tapi sekarang sudah sembuh kok," sambil mengaduk-ngaduk buburnya.


"Ya syukur atuh Bu, kalau sudah sembuh mah, Bibi senang mendengarnya."


"Iya Bi," kemudian Naya memakan sarapannya.


"Katanya semalam kau demam ya,?" sapa Bu Hesa menghampiri.


"I-iya Mak, tapi.., sudah baikan kok."


"Bagus lah, makan yang banyak agar kuat dan sehat, gimana kabar cucu saya,?" menatap tajam.


"Baik aja kok," tanpa menoleh.


"Hari ini saya akan keluar lagi, kalau ada apa-apa telepon saja," Bu Hesa memegangi tas kesayangannya.


"Oh, iya Mak."


Kemudian Bu Hesa pergi entah mau kemana kurang jelas dengan penampilan yang sangat rapi.


"Bi, sudah kenyang buburnya," sambil memegangi perutnya.


"Loh tidak di habiskan atuh buburnya,?" tanya Bi Taty.


"Kenyang."


"Ini buahnya sudah Bibi kupas, buat cuci mulutnya," Bi Meri menyodorkan sepiring potongan buah.


"Makasih Bi, Rita gimana, sudah mendingan,?" Naya teringat bocah gembul Rita.


"Sudah mendingan, cuma masih istirahat, habis dikasih sarapan."


"Hem.., semoga lekas sembuh, oya aku mau ngecek kerjaan di atas dulu," Naya beranjak dengan sangat susah payah.


"Hati-hati," ucap kedua asistennya, "Meri kau antar dulu Ibu keatas," pinta Bi Taty begitu cemas melihat majikannya.


"Tidak apa-apa aku bisa sendiri kok," sembari berjalan menuju lift, namun tetap di ikuti Bi Meri sampai di ruangan kerja.


"Gimana kabar hari ini kalian,?" sapa Naya pada kedua asistennya Lisa dan Cici yang sontak menoleh.


"Oh baik Bu," sahut keduanya.


"Baguslah, gimana apa ada kendala," Naya melihat-lihat barang-barang yang berjejer rapi dan yang sudah di kemas.


"Sementara ini tidak ada, biarpun ada masih bisa di atasi kok," sahut Lisa sambil memotong bahan.


"Ok," Naya manggut-manggut.


****


Hari yang begitu cerah, langit terlihat sangat indah, memayungi bumi ini dimana manusia berbijak dan menjalani kehidupannya.


Naya tengah berada di konter, lama sudah ia tidak ngecek konter meski laporan setiap hari pun masuk ke tangan Naya.


"Gimana kau betah di sini,?" tanya Naya pada penjaga konter yang Naya panggil Zidan, seorang pemuda kawan dari Lisa.


"Betah Bu," mengangguk.


"Syukurlah, kerja yang baik ya,?" pinta Naya.


Di jalan depan konter ada sebuah mobil toyota nangkring, di dalamnya ada beberpa orang laki-laki berbadan tegap dan yang satu bertubuh biasa aja, matanya mengintai ke dalam konter yang di dalamnya ada Naya tengah duduk dan sibuk dengan komputer, Siapa kah mereka sesungguhnya..? author masih memikirkannya.


,,,,

__ADS_1


Apa kabar reader 'ku, yang masih mengikuti kisah recehan ini, semoga kabar kalian selalu ada dalam lindungan Allah SWT.., aku mohon dukungannya, dan terimakasih sebanyak-banyak nya, karena kalianlah ada aku yang di kenal sebagai penulis recehan ini, tidak akan ada aku yang sekarang tanpa ada kalian semua🙏🙏🙏


__ADS_2