
Bibir Dimas menyungging, menerima genggaman tangan dari istrinya, melirik namun mata istrinya terpejam, lalu kemudian ia pun segera terpejam mengingat waktu sudah semakin larut, junior yang sedari tadi bangun ia biarkan begitu saja dan tidur tengkurep untuk menyembunyikan nya😛
Cahaya matahari yang baru saja terbit menghangatkan kulit yang membungkus badan Dimas yang tengah lari-lari kecil di sekitaran rumah, kebetulan di akhir pekan ini ia masuk kerja agak siangan.
Dimas berlari kecil menuju rumahnya, langsung menghampiri Istrinya yang menyiapkan sarapan untuknya.
"Pagi sayang.?"
"Juga, ini susu hangat untuk 'mu," Naya menyodorkan segelas susu pada Dimas yang baru duduk di kursi meja makan.
Dimas pun segera meneguknya,terlintas di pikiran Dimas nanti sore akan mengajak Naya jalan-jalan berdua hanya berdua.
"Bunda, nanti sore kita jalan-jalan yuk, sejak pulang dari luar kota kita gak pernah jalan deh ya,? konter tutup siang-siang," ajak Dimas sambil meneguk lagi minumannya.
"Nanti sore boleh, tapi.., bukan kah nanti sore ada jadwal terapi ya,?" ucap Naya menatap datar suaminya.
"Oh iya, cencel aja lah, lusa aja, nanti pulang nya ke dokter Rosa untuk periksa kandungan."
"Emang sudah bikin janji sama dokter Rosa nya, kan belum bikin janji lagi, lagian waktunya cek kandungan beberapa hari lagi kan."
Dimas celingukan ke kanan dan ke kiri khawatir ada Ibunya, lalu mendekati telinga istrinya, "Sayang, itu untuk alasan aja, biar kita bisa lebih lama di luar, ngerti kan,?" bisik Dimas.
Sejenak Naya terdiam, kemudian senyum-senyum mengerti dengan maksud suaminya itu, Naya menoleh seraya berkata, "Ok, gimana kamu saja."
Bu Hesa dan suami baru keluar dari kamar nya menghampiri Dimas dan Naya yang duduk di meja makan untuk sarapan.
Dimas sengaja berkata pada istrinya, "Nanti sore kita cek kandungan ya yang.?"
"Apa, kalian mau cek kandungan,? Mama ikut ya," sambar Bu Hesa menatap Dimas dan mantunya.
Dimas malah kaget, niatnya kan melabuhi Ibunya, agar bisa berduaan sama istri, "Em.., kan Mama mau nengok rumah di kampung,? ngapain ikut, cuman ngecek kok," ucap Dimas memandangi Ibunya.
"Iya Mak, katanya ingin tengok rumah sudah lama tidak kita tengok, hanya ngandelin Maria sama yang lain, maklum kan anak-anak suka kurang perhatian," jelas Bapak nya Dimas.
"Bener Bapak benar Mak, tengok dulu lah bentar kali aja kenapa-kenapa," sambung Dimas mengangguk membenarkan perkataan Bapaknya.
Bu Hesa cemberut, sedangkan Naya terdiam, gak setuju juga bila Ibu mertua ikut kasian suaminya dari semalam uring-uringan terus.
"Baik lah, tapi gak nginep ya Pak, dan Mama boleh dong nanti malam nginep di kamar kalian lagi,?" melihat suaminya lalu melihat Putra dan mantunya.
Dimas menatap sang istri yang juga menatap dirinya, mereka saling lihat-lihatan, sambil menggaruk tengkuknya Dimas berkata, "Iya boleh."
__ADS_1
Yang penting tidak ikut jalan, "Boleh Mak boleh kok," Naya tersenyum tipis.
Mereka sarapan bersama kecuali Naya, "Bi, bikinkan susu bumil ya buat Naya, biar sehat," titah Bu Hesa kepada Bi Meri.
"Baik Nyonya."
Naya menoleh keduanya, "Tapi.., Mak.?"
"Tidak ada tapi-tapi, harus minum."
Naya memandangi suaminya namun Dimas tak bisa berbuat apa-apa, hanya memberikan senyum pada istrinya, membuat Naya cemberut, belum minum aja sudah merasa enek oo mual.
Susu bumil sudah siap di meja tepat depan Naya, "Aduh mencium baunya aja udah gimana nih," gumam Naya memalingkan pandangan.
"Di minum, itu untuk kebaikan kalian," tegas Bu Hesa pada Naya.
Dengan sangat terpaksa Naya meneguknya sedikit-sedikit, enek mulai menyerang oo mual.
"Paksain, bila perlu tutup hidung, kalau sudah masuk semua gak bakalan keluar lagi kok," titah Bu Hesa lagi.
Kemudian Naya habiskan dengan menutup hidung sampai isi gelas itu tandas sudah, Naya bergidik, "Iiiy."
"Ish ish, lihat ulat bulu aja gak bergidik masa susu bumil kaya melihat sesuatu yang geli aja," ujar Bu Hesa menyunggingkan bibirnya.
Kebetulan sarapan sudah selesai, Dimas beranjak tidak ingin mendengar obrolan Ibu dan mantunya itu, bergegas berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya.
"Masa, gak pernah lihat ulet bulu."
"Nggak," lagu-lagi menggeleng.
"Barang suami 'mu itu bukan ulat bulu namanya,?" Bu Hesa tertawa.
"Hah,?" uhuk uhuk uhuk Naya tersedak batuk air yang ia minum muncrat.
"Kenapa kau,? seperti baru dengar saja," ucap Bu Hesa menggeleng, suaminya hanya mesem mendengar istrinya menggoda menantu yang satu ini.
Wajah Naya merah dan menunduk malu, rasanya kurang sopan bila harus di omongin, kurang sopan, "Mak Aku naik dulu, 'ku lupa menyiapkan pakaiannya buat Abang.
"Baik lah sana sekalian-!
"Mak.., sudah lah, jangan menggoda Naya terus, kasian dia malu.
__ADS_1
Naya mengangguk dan berjalan mendekati tangga bergegas menuju kamar, setelah sampai Naya di kamar langsung menutup pintu, nampak Dimas tengah memakai pakaian kerja dan Naya menghampiri Dimas membantu mengancingkan.
"Kenapa sayang, apa mau lihat ulat bulu,?" Dimas nyengir kuda.
"Apaan sih,?" Naya mencebik kan bibirnya dan tersipu malu.
"Kali aja, sabar ya sayang, nanti ayah lihatin, ha..,ha..,ha..," Dimas tertawa.
Sontak Naya mencubit pinggang Dimas membuat Dimas meringis, lalu meraih tubuh Naya lantas memeluk nya.
"Nanti sore siap-siap ya, kita pergi, Ayah pasti cepat pulang ok,?" Dimas mengecup kening sang istri.
"Tadi aku dah kaget deh, waktu Mama bilang mau ikut," ucap Naya sembari membenamkan kepalanya di dada suaminya.
"Apa lagi Ayah yang, apa jadinya kalau beliau ikut, mana nanti malam mau nginap lagi sama kita, gimana nasib junior Ayah dong,? Masa harus puasa terus," ujar Dimas sambil mengelus kepala Naya.
"Puasa, sebentar aja sudah banyak ngeluh, gimana berbulan-bulan? nanti bisa berbulan-bulan loh kalau sudah mendekati lahiran terus setelah lahiran," jelas Naya.
"Hah.., jangan lama-lama lah, gak tahan yang, gak kuat sebentar juga apa lagi berbulan-bulan yang, bisa mati rasa aku," Dimas menepuk jidatnya.
"Ya gak bisa segampang itu lah, emang nya lahiran bisa sembuh dalam seminggu apa,? di luar sih iya kelihatannya sehat apa lagi dengan obat yang bagus, tapi kan luka yang di dalam memerlukan waktu lama, gak sesimple yang laki-laki pikirkan," jelas Naya dan melepaskan diri dari pelukan suaminya.
"Iya sih, Ayah ngerti, ya udah, Ayah berangkat kerja dulu sudah siang nih," Dimas meraih tasnya, tidak lupa ponsel ia masukan saku.
"Ya udah, hati-hati ya, oya mau bawa motor apa mobil,?" tanya Naya menatap Dimas penasaran.
"Mobil, Pak Mad aja yang nyetir, aku malas nyetir, nanti sore aja kan aku yang nyetir, biar kita cuma berdua, tapi kalau Pak Mad yang nyetir juga gak apa-apa sih, Pak Mad kan gak mungkin ganggu kita."
"Hem..," gumam Naya, sambil mengekor Dimas dari belakang yang berjalan tuk berangkat kerja.
Setelah di Teras, Dimas berdiri depan istrinya, tas di ambil oleh Pak Mad dan di bawanya ke mobil.
Dimas membingkai wajah Naya dengan tangannya, menatap lekat penuh kasih sayang, "Yang, hati-hati ya di rumah, jaga diri baik-baik, jaga baby kita," pandangan Dimas turun ke perut Naya yang mulai ketara dan mengelusnya sebentar dengan sangat embut, lalu menatap kembali wajah sang istri.
"Ya sudah aku berangkat dulu," cup Dimas mendaratkan kecupannya di kening sang istri, tak lupa Naya pun meraih tangan sang suami dan mencium punghung tangannya.
"Assalamu'alaikum.."
"Wa'alaikum salam..."
Naya menatap kepergian suaminya di dalam mobil kesayangan nya, sebelum akhirnya masuk ke dalam rumah untuk siap-siap ke konter, Lisa sudah memberi tahu kalau besok akan ada kawan nya yang bersedia kerja di konter.
__ADS_1
,,,,
Apa kabar reader 'ku, yang masih mengikuti kisah recehan ini, semoga kabar kalian selalu ada dalam lindungan Allah SWT.., aku mohon dukungannya, dan terimakasih sebanyak-banyak nya, karena kalianlah ada aku yang di kenal sebagai penulis recehan ini, tidak akan ada aku yang sekarang tanpa ada kalian semua🙏🙏🙏