
Sonya mendongakkan kepalanya dan melihat sosok Isco mendekat padanya,dia hampir menyalahkan matanya sendiri dan menganggapnya mimpi belaka.
Namun suara itu begitu jelas ditelinga, "tau gak sih kamu itu menyusahkan." Ya sangat jelas suara Isco.
Sonya tak kunjung bangun, hingga akhirnya Isco memapahnya menuju mobil. Di dalam mobil barulah Sonya sepenuhnya sadar. Dia melirik Isco yang mulai melajukan mobilnya.
"Apa liat-liat.." Kata Isco ketus.
Sonya memalingkan wajahnya ke arah jendela kaca mobil, setelah itu tak ada kata diantara mereka.
Hingga beberapa saat kemudian sampailah mereka di rumah Sonya.
Sonya pun turun tanpa bicara, Isco pun mengikutinya.
Dari arah rumah, Bu Hartati datang menghampiri, setelah memberi salam Sonya berjalan menuju kamarnya.
"Terimakasih nak, sudah mengantar Sonya,"kata Bu Hartati.
Isco tersenyum dan menjawab, "bukan apa apa bu, maaf pulangnya terlambat"
__ADS_1
"ibu juga minta maaf tadi itu ibu hawatir jadi nelpon kamu nak, ibu lupa Sonya sedang bersama calon suaminya," kata Bu Hartati sambil tertawa, Isco pun ikut tertawa mengingat kejadian tadi dimana Bu Hartati menelponnya menanyakan keberadaan Sonya. Padahal tadi Isco yang baru tiba di rumahya menyangka Sonya telah tiba di rumah menggunakan kendaraan umum, nyatanya Sonya tak membawa dompet dan ponsel membuat Isco tergesa-gesa kembali ke jalanan sepi tadi berharap Sonya kembali ke sana dan nyatanya memang benar, dia mendapati Sonya di sana tengah menangis tersedu-sedu.
Isco merasa lega karena menemukannya kembali ke sana.
Setelah agak lama berbincang akhirnya Isco berpamitan meski Sonya tak keluar lagi dari kamarnya.
Hari dan tanggal sudah ditentukan tepatnya tiga minggu lagi menuju hari bahagia Sonya.
Namun hubungan calon pengantin itu tak kunjung membaik karena Sonya yang menutup diri pada calon suaminya.
Siang itu di kantor Isco, waktu istirahat makan siang Isco hendak keluar kantor namun saat di lobi dia dihampiri perempuan parubaya seumuran bu Hatati.
Isco membenarkan dan akhirnya mereka melanjutkan pembicaraan di sebuah restoran dekat kantor Isco.
"Apa benar nak Isco akan menikah dengan Sonya?" Tanya perempuan itu saat mereka tengah duduk berhadapan.
Isco mengernyitkan keningnya heran, "maaf, ibu ini sebenarnya siapa?"
"Saya adalah korban dari calon istri anda." Kata perempuan itu, tatapannya berubah nanar.
__ADS_1
Isco semakin tak mengerti, "maksudnya..?"
"Saya sarankan anda batalkan pernikahan anda dengan perempuan itu kalau anda tidak ingin mendapat sial." Kata perempuan itu menggebu.
"Maaf bu, pertama saya tidak mengenal ibu, kedua saya tidak terima anda menjelek-jelekkan calon isteri saya," kata Isco geram.
"Haha.. Ternyata si pembawa sial itu sudah mencuci akal sehat anda,, saya adalah ibu dari Marwan, seseorang yang akan menikahi wanita sialan itu.Namun karena kesialan wanita itu anak saya meninggal." Kata wanita itu penuh amarah hingga mengundang perhatian banyak orang di tempat itu.
"Maaf saya permisi." Kata Isco meninggalkan wanita yang masih berkoar tidak jelas sampai memaki -makinya dengan teriakkan.
Isco merubah niatnya yang awalnya akan makan siang, kini dia memgendarai mobilnya menuju rumah Sonya.
Sesampainya di rumah Sonya, Isco berhenti namun tak langsung turun dia berfikir sejenak, "jadi Sonya pernah akan menikah?" Pertanyaan itu tiba-tiba memenuhi fikirannya.
Rumah Sonya nampak sepi, Isco yang penasaran pun turun dan benar saja pintu rumah terkunci dengan gusar Isco menunggu di teras itu.
Satu jam berlalu datanglah taksi dan Sonya nampak turun bersama ibunya."Sonya, itu seperti calon suamimu." Kata Bu Hartati, ditanggapi gendikkan bahu dari Sonya.
bersambung..
__ADS_1