Bukan Mauku

Bukan Mauku
Terapi lagi


__ADS_3

"Sayang.., itu sudah kewajiban diriku untuk menjaga dan menyayangi dirimu, apa lagi sekarang bunda jauh dari orang tua, kalau bukan aku yang memperhatikan bunda , menjaga bunda dan menyayangi bunda siapa lagi,? selain aku siapa lagi bunda,? lagian..,aku tidak akan membiarkan orang lain memiliki bunda, kecuali aku, dan hanya aku.


"Tapi.., aku takut tidak bisa membahagiakan dirimu," ucap Naya dengan tatapan haru pada Dimas.


Dimas menangkupkan kedua tangan di pipi Naya, dengan tatapan yang sangat lembut dan menenangkan hati, "Sayang.., selalu berada di sisiku saja aku sangat bahagia, sudah, jangan berpikir macam-macam, aku lapar perutku sudah pada demo minta makan," Dimas mengusap perutnya.


"Oh, sayang belum makan,? kenapa tadi gak langsung makan..,?" tanya Naya.


Dimas mengernyitkan dahinya sambil menyeringai, "Aku bisa tahan lapar perutku, ketimbang menahan lapar yang satu lagi."


"Ih,..apaan sih,?" sambil tersenyum malu, Naya semakin membenamkan kepalanya di pelukan sang suami, "Makasih yang," kau sudah menerima aku apa adanya.


Dimas pun memeluk erat tubuh Naya, "Iya sayang,?" sembari menciumi kepala Naya, beberapa saat kemudian Dimas melepas pelukannya, "Yuk makan,?" Dimas memboyong sang istri ke dapur melintasi anak tangga.


Naya merangkul leher Dimas sambil menatap wajah sang suami dengan lekat, wajah yang tampan, yang membuat wanita di luar sana terpesona, dan memuja sosok pria yang menjadi suaminya,


Dimas mendudukkan Naya di kursi meja makan, Naya mengambil piring di isikan nasi, ikan dan sayur bayam, mereka pun makan sepiring berdua melahap makanan yang ada.


Di tengah mereka makan datang bi Taty, baru pulang dari menemui keluarganya, "Assalamu'alaikum..,?" bi Taty masuk menghampiri Naya dan Dimas, "Maaf Bibi baru pulang,?"


"Wa'alaikum salam..,? aku kira Bibi gak jadi pulang kemari hari ini Bi,?" Naya tersenyum ramah.


"Bibi kan sudah janji akan pulang hari ini juga," sahut Bi Taty menyimpan barang bawaannya.


Dimas menghabiskan makannya, lalu meneguk air mineral, "Gimana kabar keluarga Bibi.?"


"Em.., baik, Tuan, Bu kalau mau belanja, biar Bibi belanja sekarang juga,? bi Taty pandangannya tertuju pada Naya.


Naya tersenyum, "Belanja, sudah Bi, tadi aku belanja online, lagian sekarang sudah sore sebentar lagi magrib, dan juga kasian Bibi kan capek, baiknya Bibi istirahat saja."


"Oh, sudah belanja ya,? ya sudah Bibi ke kamar dulu,?" bi Taty melengos ke kamarnya.


Dimas mencuci bekas makannya, dan menaiki anak tangga kembali, membututi Naya yang sudah lebih dulu naik lift, mereka menghabiskan waktu bersama, mengobrol, bermanja-manja, bercerita tentang banyak hal, begitulah keseharian Dimas bila di rumah bersama istri.


Di suatu hari


Di rumah, Naya tengah duduk di sofa ruang tengah lantai atas dekat kamarnya, di samping nya seorang wanita paruh baya, siapa lagi kalau bukan bi Taty yang selalu setia menemani Naya dikala Dimas tidak berada di rumah, tibalah waktunya Naya terapi yang ke tiga kalinya, bersama dokter spesialis tulang berwajah ke Arab-arabian yang bernama Aldo, nama aslinya Abdurahman Aldo.


"Tuh Bi, mungkin dokter Aldo datang, suruh naik aja," titah Naya pada bi Taty, Bi Taty pun beranjak turun ke bawah menemui tamunya.


"Hati-hati Bi jangan tergesa-gesa apa lagi di tangga," sambung Naya.


"Iya Bu, Bibi tinggal dulu ya Bu,? bi Taty berjalan menuruni tangga, dengan hat-hati.


Sampai di bawah, bi Taty membuka pintu, benar saja ada seorang pria tampan berwajah timur tengah, berdiri depan pintu, setelah mengucap salam, bi Taty mempersilahkan tamunya masuk dengan raut wajah yang begitu ramah,


"Ibunya ada Bi,?" tanya dokter Aldo sambil masuk ke dalam rumah.


"Ibu, di atas dok, langsung aja naik, Ibu sudah menunggu di tempat biasa," sahut bi Taty.


Bi Taty dan Aldo menaiki anak tangga, menghampiri Naya, yang sudah menunggu di sofa, "Assalamu'alaikum.., dok,? silahkan duduk, Bi tolong bikinkan minum buat dokter Aldo," Naya sambil menangkupkan kedua tangannya di dada.


"Terimakasih," Aldo duduk depan Naya sembari mengangguk, "Dimas mana.?"


"Suami aku masih di Rumah sakit, belum pulang, katanya hari ini pulang telat," sahut Naya menyimpan ponselnya, tak lama bi Taty kembali dan duduk di sofa yang sama dengan Naya.


"Oh, mungkin dia lagi sibuk," ucap Aldo meneguk minum yang di suguhkan bi Taty barusan, "Gimana kalau kita mulai terapinya sekarang,? sambung Aldo menatap lembut Naya, pria ini semakin ke sini semakin ada rasa salah tingkah, dia semakin mengagumi sosok Naya, bukan sekedar sebagai pasien aja namun ada rasa lain yang dia rasakan.


"Boleh dok," sahut Naya dengan senyum manisnya.

__ADS_1


Aldo memulai terapi kaki dan tangan Naya dengan telaten, di saksikan bi Taty yang dengan setia menunggui, karena Dimas sudah berpesan, jaga Naya dengan baik ketika dia tidak ada.


Sementara Dimas yang dari pagi sibuk di rumah sakit sampai siang, di tengah terik matahari Dimas masih bertugas di lapangan, ia melirik jam di tangannya sudah menunjukkan pukul 12.00.


"Kayanya pulang telat nih, mana hari ini ada terapi lagi, uh.., ck, jadwalnya pukul satu Aldo ke rumah, masa saya membiarkan Naya berduaan sama Aldo, bukan muhrim," gumam Dimas pelan.


Dimas melanjutkan tugasnya kembali, pukul satu Dimas masih belum balik ke rumah sakit, hingga ia menelpon orang rumah akan kepulangannya yang telat.


Dimas balik ke rumah sakit sekitar pukul satu tiga puluh, langsung mengambil barangnya di atas meja kerja, lantas mempercepat langkahnya menuju parkiran tuk mengambil motor, setelah memakai helm Dimas melajukan motor dengan cepat agar dia segera sampai di rumah, benar saja dalam dua puluh menit dengan kecepatan tinggi Dimas sampai di rumah pukul 13.50 menit.


Setelah menyimpan motor ke dalam garasi, Dimas setengah berlari memasuki ruman dan menaiki tangga, dari setengah anak tangga pun sudah nampak Naya tengah melakukan terapi dengan Aldo, di temani bi Taty yang duduk di samping Naya.


"Assalamu'alaikum..,?" Dimas menghampiri Naya, dan semua menoleh pada Dimas lantas menjawab salam dari Dimas berbarengan.


"Wa'alaikum salam..."


"Kok baru pulang yang,?" sapa Naya sambil mencium punggung tangan Dimas, begitupun Dimas mencium kening sang istri tiada perduli depan orang, toh mereka masih dalam batas wajar pikir Dimas.


Namun lain lagi dengan Aldo ia merasa salah tingkah melihat Dimas dan Naya begitu mesra, tetapi dia berusaha menetralkan perasaannya sendiri, dengan seutas senyum terbaiknya.


Dimas begitu lama mendaratkan bibirnya di kening Naya seolah ingin menunjukkan pada Aldo akan kemesraan dia dengan sang istri, setelah merasa puas Dimas melepas ciumannya, "Maaf sayang, aku sibuk, kenapa kangenkah,?" Dimas duduk di samping Naya, sementara bi Taty berdiri berpindah duduk ke sofa lain.


Naya melukiskan senyumnya, "Sudah makan belum.?"


"Sudah yang, tadi menyempatkan makan di kantin," sahut Dimas memeluk bahu Naya.


"Em.., Bi.., tolong buatkan aku jus jeruk ya,? kamu mau gak yang,?" pinta Naya pada bi Taty, sembari melirik Dimas.


"Boleh yang," Dimas melirik bi Taty, "Bikinkan buat saya satu Bi.?"


"Baik Bu, Tuan," Bibi mengundur diri ke dapur, untuk membuat jus seperti pinta Naya da Dimas.


"Baik Dok, sibuk kah,? sampai-sampai baru pulang,?" Aldo balik bertanya, dengan tatapan datar.


"Iya nih, sedikit sibuk," ucp Dimas.


"Gimana, apa perkambangan yang Naya rasakan akhir-akhir ini,?" dokter Aldo mengalihkan pandangannya pada Naya.


"Em.., rasanya badan terasa lebih ringan dari sebelumnya, kaki dan tangan juga gak terlalu gimana gitu, ya mudah-mudahan aja akan ada perkembangan yang lebih baik ke depannya dok," ujar Naya melirik ke Dimas.


"Aamiin..," ucap Dimas dan dokter Aldo berbarengan, usai beberapa saat berbincang, Aldo melanjutkan lagi kegiatan terapi yang tadi terhenti.


Dimas tak ingin meninggalkan Naya berdua dengan dokter Aldo, walaupun badannya sangat lengket ingin bersih-bersih, pasti akan berasa segar kalau di guyur dengan air dingin.


Dimas pun tak ingin menyimpan barang-barangnya ke dalam kamar, ia biarkan saja tergeletak di sofa yang kosong, ia meneguk jus jeruk sambil memperhatikan gerak-gerik aldo yang ia rasa perhatian dan sikap Aldo ada yang aneh, bukan sekedar perhatian dokter sama pasiennya, tatapan Aldo begitu mendalam, seolah menyimpan sesuatu.


Aldo merasakan tatapan Dimas begitu tajam terhadap dirinya, namun dia tetap fokus pada kegiatannya, "Coba di angkat kakinya satu-satu Bu,?" titah dokter Aldo pada Naya, sementara Dimas duduk beraandar pada sofa dengan menyilangkan tangan di dada.


Naya mencoba menaikan kakinya seperti yang diperintahkan Aldo. namun masih masih terasa berat, "Uh, masih berat dok, aku tidak mampu," Naya Meringis.


"Bukan tidak mampu, tapi belum mampu, jangan berputus asa terus berusaha saya yakin akan ada hasil, terus berdoa dan berusaha," ujar Aldo menguatkan hati Naya supaya terus semangat.


Pijatan lembut terus menyusuri aliran darah di kaki Naya, Aldo terus memijat dengan telaten kaki dan tangan karena di situ terletak kurangnya tenaga Naya.


Naya mencoba mencairkan keheningan yang ada, "Dok katanya mau mengajak istri dokter,? kok gak di ajak juga dok,?" ucap Naya pada dokter aldo.


Aldo tak secepatnya menjawab, dia manarik napas terlebih dahulu, "sebenarnya saya sudah berpisah dari beberapa bulan lalu.?"


Dimas tercengang, kaget mendengar jawaban Aldo kalau dia sudah berpisah dari istrinya seolah tidak percaya, "Apa.., gak salah,? bukankah waktu itu kau bilang baik-baik saja.?"

__ADS_1


"Ya, sebenarnya saya sudah pisah," sahut Aldo dengan helaan napas yang berat.


"Anak-anak dokter sama siapa tinggal,?" tanya Naya penasaran.


"Sama saya, hak asuh mereka jatuh je tangan saya," sahut dokter Aldo.


"Masyaallah, kasihan anak dokter, menjadi korban perceraian irang tuanya,?" keluh Naya, di ikuti anggukan dari Dimas.


Dengan helaan napas berat Aldo berkata, "Istri saya selingkuh, dan terbukti perselingkuhannya, hingga jalas anak-anak jadi hak asuh saya sepenuhnya."


"Ya ampun..," Naya menggeleng ia pikir apa sih kurangnya dokter Aldo, hal ekonomi cukup, kerjaan mapan, rupa sangat tampan, wajah timur tengah, kumis tipis, rahang berbulu halus, putih, bibir merah, dan baik juga kalau menurut Naya, "Apa sih yang wanita cari,? sementara punya suami model Aldo,? ah mungkin wanitanya kurang bersyukur kali," batin Naya.


"Mungkin itu ujian dok, untuk rumah tangga kalian," ucap Dimas seikit berpikir positif.


"Mungkin,?" Aldo mengangguk pelan, Aldo merubah posisi dari jongkok menjadi duduk di tepi sofa dengan terus mengterapi Naya.


"Saya iri melihat kemesraan kalian," gumam Aldo sangat pelan.


Dimas menatap tajam, "Apa.?"


"Ti-tidak, yang kemarin kan vitamin Nya pasti sudah habis, ini aku kasih lagi lebih teratur ya minumnya," Aldo memberikan pada Naya dengan tatapan yang sulit di artikan, dan Naya mengambil sambil menunduk, Naya orangnya lebih banyak menundukkan kepala ketimbang memandangi lekat orang lain.


"Terimakasih dok,?" ucap Naya sambil melirik Dimas yang terdiam namun matanya tak pernah lepas dari Naya dan Aldo.


"Berarti Aldo duda ya,?" Dimas melirik jam di tangannya, "Kapan nih orang pulangnya,? lama banget sih" gerutu Dimas dalam hati.


Bi Taty menghampiri membawa minuman jus kagi lengkap dengan cemilannya, "Ini Bibi bawakan minuman jus lagi paati haus kan,? di luar sangat panas, tidak lupa Bibi bawakan kue nya, solahkan di cicipi ya."


Naya melempar senyum pada bi Taty, "Makasih Bi," tau aja kami haus,?" Naya melihat semua galas sudah tandas lalu bi Taty angkut gelas kosong tersebut ke dalam nampan.


"Sama-sama Bu, Bibi tinggal lagi, mau masak," bi Taty membalikkan badan hendak ke dapur lagi.


"Iya Bi hati-hati," seru Naya mengangguk, Dimas dan Aldo juga mengangguk, sama-sam meraih gelasnya masing untuk di teguk.


"Bibi benar, di luar sangat panas, sepanas hatiku yang melihat istriku disentuh orang walau tidak mengenai kulitnya sih, tetap saja aku tidak rela, apa lagi perhatiannya itu lah, yang membuat saya cemburu, awas kalau kau macam-macam,?" batin Dimas.


Aldo memandangi Naya dengan rasa kagum, di balik kesederhanaan Naya tersimpan sebuah ke istimewaan, budi pekerti yang baik, tutur kata yang lembut bahkan sikap pada PRT pun sungguh membuat Aldo begitu kagum, seorang Naya mencerminkan seorang yang bersahaja.


Naya memandangi Dimas bergantian dengan dokter Aldo yang sama-sama tertegun dengan pandangan tertuju pada dirinya, Naya mengernyitkan keningnya, "Heran ini orang ada apa, kok sama-sama melamun dan pandangannya tertuju padaku,? emang ada apa denganku,?" Naya seketika melihat-lihat dirinya mungkin aja ada yang aneh, "Biasa aja kok," sambil merapikan kerudungnya.


"Helo.., Assalamu'alaikum,?" Naya menepuk tangan pada suaminya.


Membuat mata Dimas mengerjap, lamunannya buyar berserakan bagai debu yertiup angin, "Apa sayang.?"


Bagitupun dokter Aldo menundukkan kepalanya, dan memalingkan muka ke lain arah, dia tau rasa ini salah, telah gadir dalam hatnya, yang telah mengagumi istri orang, tapi.., apa salahnya,? toh dia cuma mengagumi, bukanlah cinta pikir Aldo.


"Nggak, memikirkan apa sih yang,? melamun segala,? bukannya mandi, bau juga,?" ucap Naya sambil melihat waktu sudah memasuki pukul empat sore.


"Tidak memikirkan apa-apa yang, hanya berharap sayang cepat sembuh aja,? nantilah mandinya," elak Dimas sambil mencium badannya sendiri.


"Sudah asyar, aku ingin sholat dulu," lirih Naya pada Dimas.


Mendengar ucapan Naya, Aldo melirik, "Boleh, silahkan sholat dulu, nanti di lanjut lagi setelah sholat."


"Loh, kok belum selesai,? biasanya juga paling lama 1 atau 2 jam saja,?" tanya Dimas.


Aldo terdiam mencari jawaban yang pas buat Dimas, "Kan banyak terpotong dengan mengobrol,? lagian lebih lama kan bagus, semoga lebih cepat ada perubahan," ujar Aldo setelah mendapat alasan, sebenarnya dia masih betah berada di tempat tersebut.


,,,,

__ADS_1


Apa kabar reader ku,? semoga malam ini kalian semua dalam keadaan sehat selalu, jika saja ada yang kurang sehat aku doakan semoga cepat sehat seperti biasanya,🤲 tidak lupa aku mengucap terimakasih pada yang masih setia, yang tidak lupa selalu lake, komen, rating dang vote nya, 🙏


__ADS_2