
"Paham, sangat paham, makanya ayah percaya sama bunda, istri 'ku ini pandai mengelola ke uang-ngan hem, gak salah aku memilih istri," ucap Dimas mencubit pipi sang istri.
"Sakit," pekik Naya
Dimas tersenyum gemas, "Ya udah kita pulang yuk, dah sore nih."
"Em..," Naya menyapukan pandangan di sekitarnya, "Itu bangunan buat Klinik itu ya,?" sembari melirik kearah Dimas.
"Iya, aku juga belum ngecek ke sana," memandangi bangunan yang baru tinggi beberapa meter itu, dan terlihat ada beberapa pekerja di sana.
"Kenapa,? cek lah sana."
Dimas kembali menoleh, "Nanti aja sore setelah yang lain datang, kami akan rapat di sana."
"Oh, ya udah pulang sekarang, tapi.., gendong, capek," dengan manjanya.
"Hem..," lalu Dimas meraih tubuh ia membopong Naya pulang ke rumah, sesampainya di sofa Dapur Naya Dimas turunkan.
Maria menghampiri, "Bang aku mau pulang sore ini, Mama katanya mau tinggal di sini aja."
"Iya Mama biar tinggal di sini aja agar banyak istirahat kasian, iya sayang,?" Dimas menoleh sang istri.
Naya menoleh setelah mendengar perkataan suaminya, "Iya, kalau tinggal di sini otomatis Mama gak ke ladang lagi biar orang yang urus itu semua."
"Yaps," Dimas membenarkan ucapan istrinya.
"Sering main ke sini ya mari,?" Naya menatap Maria yang mengambil air minum lalu di teguk nya.
"Iya pasti kak, ya udah aku pamit ya,? anak 'ku sudah nunggu di motor," Maria memeluk Abangnya, kemudian memeluk kakak iparnya mencium pipi kanan-kiri.
Naya dan Dimas memandangi kepergian Maria, "Oya Mama di mana dia,?" tanya Naya menoleh suaminya.
Dimas menarik napas dalam, "Mungkin di kamarnya, kenapa.?"
"Nggak, mau aku bikinkan jus,?"
"Boleh"
Naya mengupas buah untuk di bikin jus, Bibi masih di kamarnya tidur siang, akhirnya jus pun jadi, "Yang nih sudah jadi jus nya," sambil menoleh kebelakang tapi.., Dimas tidak ada di tempat.
"Loh, kemana orangnya,?" Naya simpan gelas jus di meja, lalu ia berjalan mencari keberadaan Dimas, di ruang televisi tidak ada, pandangan Naya menyapu semua sudut tidak ada juga, "Kemana sih.?"
Naya melangkahkan kakinya menaiki anak tangga, menuju kamarnya pas buka pintu kosong juga, "Kemana sih ini orang."
Mendekati kamar mandi terdengar suara air yang mengalir, mungkin Dimas sedang mandi, benar saja tak lama pintu terbuka nongol lah Dimas yang mengenakan handuk, Dimas menoleh Naya tengah duduk di sofa dengan wajah kesal, "Kenapa wajahnya di tekuk begitu,?" sambil mendekati baju di tempat tidur.
"Orang nyari-nyari eh.., orang nya asyik mandi."
"Emang kenapa, mau mandi bareng.?"
"Bukan, kan tadi aku buatkan jus eeh.., orang nya gak ada, kesel deh."
"Tadi kan ayah bilang, aku mau mandi gerah badan lengket banget."
"Kapan.?"
"Tadi waktu bunda bikin jus, gak dengar kali karena suara mesin," elak Dimas dengan santainya.
"Hem.., iya kali," lalu Naya mau ambil air wudu, "Tunggu sebentar, kita sholat bareng."
Selagi menunggu Naya keluar dari kamar mandi, Dimas menerima telepon yang kebetulan berdering, sampai Naya siap sholat pun Dimas masih berbincang lewat telepon.
__ADS_1
"Yang, udah dulu," Naya lirih sambil memberi isyarat mengajak sholat, Dimas mengangguk pelan.
Akhirnya Dimas menutup telepon, nyamperin Naya yang sudah siap untuk mengerjakan empat rakaat, setelah selesai salam tak lupa membaca doa.
Di dapur bu Hesa tengah membantu Bibi memasak, walau sekedar memotong sayuran, "Saya rasa harus secepatnya ada anak kecil di rumah ini, sepi.., banget, terlalu hening."
Bibi melirik, "Ya sabar aja ibu besar, nanti juga akan ada masanya."
"Haaalah.., kapan ? sudah tidak sabar ingin menggendong cucu dari putra sulung saya," sambung bu Hesa lagi.
Bibi tidak komentar lagi dia fokus menggoreng ikan mas seperti yang Dimas suruh.
"Hem.., wanginya bau," Naya menghirup wanginya masakan bi Taty, sampai memejamkan matanya.
Bu Hesa dan bi Taty menoleh ke sumber suara, yang tiba-tiba terdengar dari belakang.
Bi Taty tersenyum merekah, "Bibi masakan ikan mas bumbu nih Bu, katanya Ibu suka."
"Iya kah,?" Naya menatap masakan yang masih dalam wajan ikan besar yang di potong dua, "Ya ampuun Bi, bikin ngiler nih," menelan Saliva nya yang tercekat di tenggorokan.
"Ya jangan ngiler doong Bu.., kan Bibi bikinkan, ngapain ngiler segala ah," sambung Bibi tak lepas dari senyumnya.
Naya nyengir memperlihatkan gigi putihnya.
"Ngapain ngiler, hamil juga nggak kan,?" sambar bu Hesa sinis.
Naya dan bi Taty terdiam, hanya senyum tipis Naya aja yang menghiasi bibirnya, dan terlihat oleh Mama mertua.
"Permisi, nyonya-nyonya yang cantik-cantik, selamat sore menjelang malam.?"
Ketiga wanita itu menoleh ke sumber suara Endro yang memecah keheningan, Aldo dan Endro yang datang mendekati dapur, rupanya mereka masuk tanpa menunggu di bukakan pintu oleh sang punya rumah.
"Eh.., kalian, sore juga," sambut bu Hesa dengan sangat ramah.
"Makasih, sorry kami masuk tanpa ijin,?" Aldo menyatukan kedua tangannya di dada.
"Oh tidak apa, seperti siapa aja, silahkan duduk," lagi-lagi Naya menyuruh duduk tamunya.
"Iya Kak, kita kan bukan siapa-siapa lagi ya, rumah ini bagai rumah sendiri kan, jadi kami bebas lah kapan kami mau masuk, dan kami hafal, kecuali tempat terlarang yang kami masuki, yang artinya persinggahan suami istri di rumah ini, yang lainnya bebas lah," ujar Endro dengan sangat percaya diri.
"Kau percaya diri amat sih, lo siapa di rumah ini babang,?" Aldo menatap tajam Endro.
"Saya-saya kepercayaan orang rumah ini bro, tidak tahu kah,?" menepuk dadanya, uhuk..,uhuk..,uhuk sampai batuk.
"Sukurin, minum bang..," menyodorkan air mineral pada Endro, "Bila perlu masih banyak air kolam," jelas Aldo dengan wajah amat serius.
"Sialan, kau pikir saya ikan yang hidup di air atau minum air di kolam," uhuk..,uhuk.., masih batuk-batuk.
"Kau tahu, kau bukan ikan tapi..,anjing laut, ha..,ha..,ha..," Aldo terkekeh, dan Endro mengepalkan tangannya ke udara merasa kesal dengan candaan Aldo.
Naya hanya tersenyum melihat mereka berdua, ternyata di balik keseriusan dan berwibawa nya seorang dokter di baliknya ada sikap seperti orang biasa, bercanda dan usil.
"Kalian ini ya ada-ada saja," ucap bu Hesa sambil menggeleng.
"Kalian sudah datang rupanya," Dimas menuruni tangga sambil melipat tangan kemeja panjangnya.
Semua melihat kedatangan Dimas yang baru turun dari kamarnya dengan penampilan sangat rapi, namun kepala di tutupi topi.
"Iya bro dari tadi juga," sahut Endro menatap Dimas," mau kemana kau memakai topi segala,?" merasa heran.
"Kenapa gak boleh,? suka-suka saya bah," Dimas duduk di samping sang istri yang menatapnya lekat, "Mana jus saya yang tadi.?"
__ADS_1
"Oh, Bi lihat gelas jus gak,? tadi aku simpan di sini loh," Naya menoleh Bibi yang langsung di respon olehnya, bi Taty membuka lemari pendingin dan mengambil jus yang di maksud.
"Ini, tadi Bibi simpan, takut di tanyain Tuan atau Ibu," Bibi menyimpannya depan Dimas.
"Makasih Bi.?"
Dimas meneguk jus nya lalu di kasihkan sama istrinya, "Ini yang abis kan, aku mau berangkat ke lapangan sebentar magrib juga kembali," Dimas berdiri dan mendaratkan kecupan pada kepala Naya.
Endro menutup muka dengan telapak tangannya namun dengan mata terbuka, "Aduh bikin baper gua, gua harus cium siapa? masa Bibi sih."
Bibi bergidik mendengar ucapan Endro yang nyengir kuda, sementara Aldo pura-pura gak lihat apa-apa dia menunduk, membuang pandangan ke lantai.
"Makanya punya istri bah," ucap Dimas sambil berjalan.
"Citra nya masih belum mau gua kawinin bro," sahut Endro sambil mengikuti Dimas.
"Wanita itu bukan di kawinin tapi.., di nikahin," timpal Aldo yang juga mengikuti langkah Dimas.
"Terserah gua, mau di kawinin, mau di nikahin terserah gua, siapa elu,?" sinis Endro.
"Bro.., kata kawin itu lebih gimana ya, menjurus ke hewan, kalau manusia lebih tepatnya nikah," sambung Dimas sambil berjalan ke bangunan Klinik.
"Iya kah,?" Endro bengong sesaat dan menghentikan langkahnya.
"Wooi.., mau jalan gah,?" Aldo menepuk pundak Endro yang bengong entah apa yang dia pikirkan, Dimas membalikkan badannya melihat Endro yang berdiri lalu jalan kembali.
Setelah kepergian Dimas dan kawan-kawan, bu Hesa menonton televisi, Naya masih duduk-duduk di dapur sambil sibuk dengan ponselnya, menghubungi agen yang ada di Sukabumi, untuk bisnisnya yang lwbih tepatnya usaha yang baru mau di rintis kembali.
Naya mesem-mesem sendiri ia chatan dengan agennya, hingga akhirnya notip pun masuk bahwa saldo sudah masuk ke nomor pribadinya, "Bimsmillah.., semoga lancar ya Allah," Naya mendongak ke langi-langit.
"Kenapa kau mesem-mesem sendiri,?" tanya Mama mertua yang tiba-tiba kembai duduk di dapur.
"Ini, saldo masuk, dan besok insysaAllah aku mau mulai jualan, doain ya Mak," Naya tersenyum dengan ramah.
"Emang kau yakin akan laku, sementara banyak saingan bahkan di indo dan alfa lebih murah kok," seakan mematahkan semangat Naya.
"Mak.., rejeki itu tidak akan tertukar, meski berdampingan atau gimana kalau sudah rejeki kita ya tentu tidak akan kemana, aku yakin itu, yang penting kita yakin dan terus berusaha, maaf bukannya aku mengajari orang yang lebih banyak pengalaman nya, yang lebih merasakan oahit dan manisnya kehidupan maaf.., banget," Naya lirih dan menatap bu Hesa.
"Hem..,terserahlah, asal jangan sampai mengalami kerugian, sayang dengan modal yang sudah di keluarkan, belum apa-apa sudah mengeluarkan modal besar, oya buat apa juga mesin jahit coba,?" dengan nada yang dingin.
"InsyaAllah gaknakan sia-sia Ma, aku akan berusaha, bila perlu aku kembalikan semuanya modal yanf sudah di keluarkan natinya, oh mesin jahit itu untuk ngejahit."
"Bocah pun tahu buat ngejahit, gimana sih," membung pandangannya.
Naya mesem-mesem, "Aku mau belajar bikin pakaian Mak."
"Emang bisa kau membuat baju,? jangan-jangan nati ancur, gak berbentuk, buang-buang bahan aja."
Naya menarik napas panjang.., lalu ia hembuskan dengan kasar, "InsyaAlah aku bisa lihat aja nanti ya,?" sambung Naya lagi.
Bu Hesa tersenyum sinis, seakan tidak percaya akan kemampuan menantunya ini, yang dia tahu menantunya itu apa-apa harus di layani orang.
Dari jauh terdengar sayup-sayup suara adzan magrib, "Ya sudah aku naik dulu Ma, sudah magrib," Naya berdiri dan berjalan pelan mendekati tangga.
"Hati-hati Bu,?" bi Taty mengingatkan dari dekat wastafel.
Naya menghentikan langkahnya dan menoleh Bibi sebentar, "Iya Bi," dengan senyum tulusnya, Naya kembali melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga dengan hati-hati, "Aduh.., aku harus terapi lagi nih sam dokter Aldo, aku harus lebih kuat dan sehat," batinnya.
,,,,
Terimakasih reader ku, sampai saat ini masih mengikuti cerita ini, dan semoga kabar kalian selalu berada dalam lindungan Allah yang maha kuasa, Aamiin..,
__ADS_1
Mana dong komentar nya,? bila suka dengan cerita Dimas&Naya ini🙏 agar author tambah semangat pliss bantu author dong..,!!