
Yuda pun mematikan rokoknya yang baru satu isap, lalu di buang begitu saja, tidak peduli dengan puntung rokok yang berceceran di lantai.
Datanglah anak buah Yuda membawakan air mineral dan makanan, "Ini bos pesanannya."
Yuda mengambil dan memberikan pada Naya, "Makan dan minumlah, mulai sekarang mas tidak akan membiarkan kamu lagi," dengan muka datarnya.
"Apa maksud mas,? aku mau pulang suami 'ku pasti mencemaskan aku, tolong antar kan aku pulang dan aku gak aku akan melupakan kejadian ini," Naya memelas.
"Apa pulang? tidak akan pernah saya pulangkan adek, tetaplah di sini," lalu Yuda pergi meninggalkan Naya.
"Mas..,? antar aku pulang," teriak Naya sambil menangis.
Naya segera mengusap air matanya ia harus jadi wanita kuat dan tegar, ia mengelus perutnya seraya berkata, "Kalian tenang aja Bunda pasti akan membawa kalian pulang, sabar ya sayang," kemudian Naya memakan dan minum yang disediakan.
Di rumah sakit
Dimas tengah istirahat, hatinya mulai merasa gak enak, gundah, gelisah, ingat istri namun ketika menghubungi ke rumah katanya Naya tidak di rumah sedang ngecek konter.
Kemudian menelpon nomer pribadinya belum juga tersambung sudah ada nomer masuk dengan kontak Zidan.
"Halo.., Ibu mana,?" Dimas langsung bertanya tentang keberadaan istrinya tanpa bertanya ada apa.
"I-itu Pak," suaranya gugup.
"Mana, saya ingin bicara dengannya," sambung Dimas sambil membuka lembaran kertas.
"Em.., i-itu Pak, I-ibu..,Ibu anu."
"Kau kenapa sih Zidan gak jelas banget jadi orang," Dimas mau mematikan teleponnya dengan niat akan menelpon Naya namun Zidan bersuara lantang.
"I-ibu di culik orang."
"Apa,? jangan bercanda kau, mana istri saya,?" hardik Dimas meninggikan suaranya.
"Iya-iya Pak saya tidak bercanda," Zidan meyakinkan.
"Saya tidak percaya," Dimas menggeleng tidak percaya.
"Bener Pak, kalau Bapak tidak percaya datang aja kesini," Zidan matikan sambungan telepon.
Dimas langsung berlari keluar ruangannya, berlari sekencangnya dengan perasaan yang tidak menentu, "Pak cepat, kita pulang."
"Ada apa Pak,?" tanya Pak Mad sambil menyalakan mobil dan melajukan nya kencang walau hatinya bertanya ada apa kok tumben.
Wajah Dimas begitu panik, cemas, berita yang ia dapat ini benar apa bohong, "Ke konter langsung," ucap Dimas dengan wajah sangat tegang.
Sampailah di konter Dimas bergegas turun dan berlari kearah konter mendapati Zidan dengan beberapa orang pemuda di sana, Zidan yang bengong dan nampak panik, langsung Dimas hampiri.
"Mana istri saya,?" sergah Dimas.
Zidan gelagapan, "Di-di bawa orang Pak."
__ADS_1
"Kau jangan bercanda,?" Dimas mencengkram kerah baju Zidan, di cegah oleh pemuda di situ dan Pak Mad yang juga turun dan mengikuti majikannya.
Zidan menceritakan apa yang dia lihat, sedetail-detailnya, tak ada yang terlewatkan, kemudian menyerahkan ponsel Naya yang Zidan bilang ketika dia sadar dari pingsan, ponsel Naya masih aktif mengambil video.
Dimas langsung menyambar ponsel istrinya lalu ngecek pembuatan video yang Zidan maksud.
Benar saja, bak pembuatan film, menunjukkan reka adegan dimana istrinya tengah mengecek laptop di hampiri kedua orang berbadan tegap, di bekap dengan sapu tangan sampai Naya pingsan dan di bawanya ke mobil, kemudian Zidan yang kena pukulan pun terekam jelas sampai orang-orang menolong Zidan.
"Semua terekam di sini ! dan Ini bisa di jadikan bukti, untuk yang berwajib," ucap Dimas menoleh Pak Mad yang ngangguk-ngangguk.
Zidan bersimpuh di kaki Dimas dia sangat ketakutan jangan-jangan Dimas mencurigainya sedangkan dia tidak tau apa-apa, "Saya minta maaf Pak saya tidak bersalah, tidak tau apa-apa Pak jangan laporkan saya Pak," menyatukan kedua tangannya.
"Sudah lah, kalau kau kurang fit tutup aja dulu konternya, layani lewat online saja pulang lah," ucap Dimas menurunkan nada suaranya.
Zidan merasa tenang, dan mengangguk atas perintah Dimas, menutup konter dan pulang.
Dimas bingung harus mencari sang istri ke mana, lalu masuk kedalam mobil biar menyusun rencana di sana, dia tidak ingin gegabah dalam mengambil keputusan.
Dimas memintai tolong Dery dan Endro untuk menemaninya, langsung Dimas menelpon kawannya satu-satu dan kebetulan Dery memang sedang di bangunan klinik jadi dengan cepatnya datang, tapi kalau Endro butuh waktu lagi pula dia masih di RS, dan keputusannya bertemu di kantor polisi saja.
Pak Mad melarikan mobilnya ke kantor polisi terdekat terdekat untuk melaporkan kejadian yang menimpa istri Dimas, di mobil Dimas memperlihatkan video yang di ponsel Naya pada Dery membuat Dery geram, marah sampai tangannya mengepal di balik jaketnya.
"Pasti ada dalang di balik ini semua," ucap Dimas dan langsung di ia kan oleh Dery.
"Iya itu pasti, awas saya tidak akan membiarkan orang-orang itu," sahut Dery memukulkan kepalan tangan ke tangannya yang lain.
Apalagi Dimas sebagai suami tidak terima bila istrinya di bawa orang, lebih-lebih kalau sampai menyakiti pisik istrinya, sesampainya di kantor, Dimas langsung membuat laporan penculikan dengan bukti yang ada di tangannya.
"Dengan bukti yang ada kami yakin akan mudah mencarinya," ujar seorang polisi di sana.
"Saya mohon Pak segera temukan istri saya, dia dalam bahaya Pak." ucap Dimas begitu cemas.
"Tenang Pak, sekarang kita sedang melacak keberadaan mobil tersebut, berdoa saja semoga istri anda selamat.''
"Gimana bisa tenang Pak dia istri saya, dia lemah, bahkan tengah hamil besar Pak," jelas Dimas semakin khawatir.
Dery dan Endro menepuk pelan bahu Dimas agar sedikit tenang karena sekarang ini juga pihak yang berwajib tengah mengusahakan.
Setelah menunggu beberapa saat akhirnya AKP memberi instruksi untuk mencari lokasi korban di bawa dan meminta tolong atas kerjasamanya.
Mereka (polisi berangkat duluan dan akan di ikuti oleh mobil Dimas, namun sebelum Berangkat Dimas menyuruh Pak Mad pulang naik taksi.
"Pak Mad pulang aja naik taksi, usahakan jangan bilang bilang kejadian ini, bilang saja kami keluar sebentar, tapi kalau terlanjur tau tolong tenangkan mereka, doa kan saja yang terbaik," ujar Dimas sambil dan Pak Mad pun mengangguk.
"Baik Pak, semoga Ibu selamat dan baik-baik saja," sahut Pak Mad berdiri melihat kepergian Dimas dan yang lain.
Kali ini yang membawa mobil adalah Dery, begitu semangat sehingga mobil melesat mengejar mobil preman yang di dalamnya beberapa orang polisi, Dimas duduk di sebelahnya, Endro duduk di belakang.
Saya tidak mengerti apa maksudnya membawa istri kau yang tengah hamil besar itu,?" ucap Endro merasa heran.
"Saya juga tidak tau," Dimas menggeleng-menggeleng kan kepala.
__ADS_1
"Apa kau punya musuh,?" Endro menatap tajam kearah Dimas.
"Tidak lah, musuh apaan, sembarangan."
Mobil semakin menjauh dari wilayah tempat tinggal mereka, dan mobil polisi masih belum berhenti.
Di sebuah rumah dimana Naya di sekap, Naya duduk memeluk guling di atas tempat tidur, berharap datang keajaiban ada yang menolongnya atau Yuda berbaik hati dan mau mengantarkannya pulang.
Yuda masuk dan mendekati Naya, hendak menyentuh pipinya namun Naya tepis, dia duduk dan menyeringai, "Kenapa sayang, ingat kau masih istri mas."
"Bukan, mas bukan siapa-siapa aku lagi, kita sudah pisah, dan jangan menghayal mas," Naya ketakutan dengan tatapan aneh si Yuda, dan tangannya selalu berusaha menyentuhnya.
"Ha..,ha..,ha.., terserah adek mau bilang apa, yang jelas kamu akan jadi milik saya lagi," lagi-lagi tertawa.
"Aku tak sudi jadi milik mu lagi mas, nanti aku mas buang kembali, dan apa lagi aku ini bersuami," jelas Naya sembari menggeser duduknya.
Yuda terus mendekati, "Adek tambah cantik," bisik Yuda, "Tapi sayang perutnya besar, seperti ikan kecil yang perutnya buncit, ha..,ha..,ha..,lucu."
"Jangan gitu, mas aku istri orang," ucap Naya dengan mata berkaca-kaca, takut Yuda kalap sedangkan ia tak bisa melawan.
Hanya kepada Tuhan Naya menjerit agar diberi keselamatan, dan dijauhkan dari segala bahaya.
"Ha..,ha..,ha..," Yuda tertawa sesekali meniupkan asap rokok ke wajah Naya membuat Naya menutup hidung dan mulut dengan kerudungnya.
Tiba-tiba Yuda menarik kerudung Naya hingga terlepas, nampak lah rambut Naya yang panjang di kuncir, Naya berusaha mengambil kerudungnya namun Yuda lempar ke susut kamar.
"Kamu apa-apaan sih,?" Naya melotot kesal, ingin mengambilnya di halangi Yuda.
"Rambut adek masih saja seperti dulu panjang dan aku kurang suka, kenapa? karena mengganggu ketika tidur."
Naya semakin ketakutan, Yuda menarik tangan Naya yang berusaha Naya lepaskan, "Lepas dan jangan macam-macam, tolong..," Naya menjerit lagi.
"Silahkan kamu menjerit, karena tidak ada yang bisa menolong adek, mendingan kita nikmati hari-hari kita ini."
Naya bergidik jijik, rasa takut semakin menyelimutinya, "Ya Allah tolong aku, yang tolong aku," batin Naya, wajahnya semakin pucat pasih.
Dari luar, pintu di gedor sangat keras membuat Yuda kaget, "Buka pintunya, serahkan diri kalian, karena rumah ini sudah terkepung polisi, menyerah lah."
Naya lega akhirnya ada yang menemukan dirinya, dan siapa tahu ada Dimas juga menolongnya, Naya menjerit, "Tolo-!
Yuda yang semakin kaget, panik mendengar Naya menjerit sontak menarik Naya, mendekap dari samping dan menutupi mulutnya dengan telapak tangan, kebetulan dia membawa senjata ya itu sebuah benda tajam meski tidak ada niat menyakiti sama sekali.
"Jangan coba-coba menjerit, kalau adek sayang sama diri dan anak yang masih dalam kandungan ini," ucap Yuda sambil membekap mulut Naya dari belakang dan tangan satunya memegang benda tajam yang di arahkan ke perut Naya.
"Sayang..,? aku datang," terdengar suara Dimas memanggil Naya, namun Naya tak bisa menjawab, malah semakin merasa panik, cemas, takut, melihat benda tajam yang mengkilat di tangan Yuda.
Karena tidak ada respon dari dalam, di balik pintu orang-orang tengah berusaha mendobrak pintu yang di kunci dari dalam, dengan kekuatan beberapa orang akhirnya brakkkk pintu berhasil terbuka.
,,,,
Apa kabar reader 'ku, yang masih mengikuti kisah recehan ini, semoga kabar kalian selalu ada dalam lindungan Allah SWT.., aku mohon dukungannya, dan terimakasih sebanyak-banyak nya, karena kalianlah ada aku yang di kenal sebagai penulis recehan ini, tidak akan ada aku yang sekarang tanpa ada kalian semua🙏🙏🙏
__ADS_1