Bukan Mauku

Bukan Mauku
Merindukan kekasih


__ADS_3

Tanpa terasa buliran air mata pun jatuh lagi, membasahi bantal, "Apa aku tak pantas tuk mendapat kebahagiaan.?" batin Naya, "Aku juga seperti yang lain yang ingin di cinta dan mencinta, aku ingin bahagia dengan orang yang aku sayangi." memejamkan matanya, yang terbayang hanyalah sebuah nama Dimas, mengisi ruang hatinya.


"Naya..!" panggil bu Nina dari dapur, membangunkan Naya dari tidur, menoleh jam di layar ponselnya.


"Sudah jam tiga sore." Naya bangun dan keluar kamar menuju toilet.


"Tidur mulu, siang malam bagai kebo." ketus bu Nina.


Naya hanya diam membisu, tak sepatah kata pun yang ia keluarkan dari bibirnya.


Naya terus berjalan menuju toilet, tuk mengambil wudhu, setelah sholat baru balik ke dapur untuk memasak.


Rasa yang gundah dan gelisah, masih menyelimuti hati Naya sehingga sikapnya banyak diam, tak banyak bicara.


"Kenapa kamu gak banyak bicara.? memikirkan apa, bengong aja.?" tanya bu Nina pada Naya.


"Gak ada apa-apa.!" sahut Naya dengan cepat. "Lagian rus ngomong apa.? gak ada yang harus di bicarakan" pikirnya.


Dalam tiga hari ini setiap saat kalau ingat pasti meneteskan air bening di sudut matanya.


Sementara di tempat kerja, Dimas hanya duduk melamun disela kesibukan nya, merasa hari-harinya tak bersemangat, tiada pesan apalagi telepon dari Naya, ia memandangi ponsel jadulnya, entah kenapa ia lebih suka ponsel jadul ketimbang ponsel yang lebih bagus, Android misalnya.


"Gak ada pesan, gak ada apa, sudah lupa kah sama aku.?" Gumam Dimas.


Sekarang ia akan membuat sebuah keputusan yang mungkin sangat penting, untuk dirinya,


Ia menoleh jam di tangannya sudah menunjukkan jam 13.30 sudah waktunya pulang, ia beranjak menggeser kursi mengambil ponsel dan kunci motor di meja, berjalan keluar menelusuri lorong Rumah sakit


"Siang Sus.?" Dimas menyapa suster yang berpapasan degannya.


Yang di sapa hanya manggut dan tersenyum, setibanya di parkiran, Dimas naik motornya, setelah memakai helm ia melajukan motor dengan cepat.


Tak selang lama Dimas telah sampai di rumah, masuk dengan langkah santai.


"Sudah pulang Abang.?" tanya Maria menatap tajam.


"Belum, masih di jalan." dengan cepat dan sekilas melirik Maria.


Maria menyeringai mendengar jawaban dari Abangnya.

__ADS_1


Dimas menaiki anak tangga menuju kamarnya di lantai atas, Dimas yang sudah di dalam kamar, menjatuhkan tubuhnya di atas kasur. helaan napas yang panjang, dan ia hembuskan kembali.


Ia beranjak dari tidurnya, berjalan ke kamar mandi, membuka pakaian kemudian menguyur tubuhnya dengan air dingin, sejenak memanjakan tubuhnya dalam air.


Beberapa menit kemudian ia keluar dari kamar mandi, bertelanjang dada hanya handuk yang terlilit di pinggang.


Menghampiri lemari tuk mangambil pakaian, pikirannya kosong melayang entah kemana, sampai-sampai suara ketukan pintu yang di ketuk Maria dari luar nyaris tak terdengar.


Tok, tok, tok, "Abang...,?" panggil Maria sembari terus mengetuk pintu.


Dimas yang sudah memakai baju pun tersentak kaget, seketika lamunannya buyar, berserakan.


"Hah, ganggu kesenangan orang saja." gerutu Dimas kesal.


"Ada apa sih?" teriak Dimas masih di depan cermin.


"Ada tamu, karanya minta bantuan Abang, cepat dia sudah nunggu dari tadi." Maria dari Luar.


Dimas diam seraya berpikir. "Suruh aja masuk kemari, biar aku tangani disini." ucap Dimas mengemasi handuk, dan di simpan lagi di kamar mandi.


Selang beberapa menit, pintu ada yang mengetuk lagi, "Masuk tak Di kunci." sahut Dimas, duduk di kursi sebelah tempat tidur.


Masuklah dua orang Bapak-bapak yang di antar Maria, Dimas memandang salasatunya yang mungkin tengah terluka, karena terlihat di kakinya di balut kain dan berdarah, dan mukanya meringis menahan sakit.


"Terimakasih dok, tolong kawan saya terluka robek di kakinya"


Tanpa bertanya kenapa.? Dimas langsung saja menangani pasiennya. beberapa menit kemudian pembersihan dan penjahitan selesai.


"Sudah paman, dan ini obatnya jangan lupa di minum ya.?" ucap Dimas memberikan kantong obat.


"Terimakasih dokter,?" kedua laki-laki itu pergi yang sebelumnya membwrikan uang sebagai bayaran.


Di sebuah balkon tengah berdiri seorang pria tampan, mengenakan kaos putih dan celana krem selutut, dia lah Dimas yang berdiri di sisi balkon, kedua tangannya memegangi pagar balkon, pandangannya yang jauh, melihat sanset di sore yang indah ini.


"Taukah enkau, bahwa di tempat yang jauh ini ada aku yang sangat merindukanmu.? mencintaimu dan cintaku tak butuh tahu siapa kamu." Dimas menunduk dalam dadanya begitu sesak mengingat yang ia rasakan.


"Tak sanggup, jika selalu tanpa suaramu, tunggu aku sayang, kau pasti ku miliki, aku akan berjuang demi cinta kita.!" batinnya yakin.


Jam menunjukkan 08.45 menit, Dimas sedang makan bersama keluarganya, usai makan Dimas ke balkon, dan duduk termenung disana.

__ADS_1


Lama....,ia melamun hingga tak bergeming, "Dimas..?" suara lirik tepat di belakangnya, Dimas menoleh ke sumber suara itu. "Mak."


"Beberapa hari ini kami melihat kau begitu muram, ada apa.?" bu Hesa dengan tatapan lembut.


Dimas menoleh sesaat dan langsung mengalihkan pandangan nya. "Gak ada apa-apa Mak, aku biasa aja."


Bu Hesa duduk di sebelah Dimas. "Kalu gak ada apa-apa kenapa muram aja seolah tak bergairah, tak semangat, sedikit bicara juga." mengusap bahu Dimas.


Dimas tersenyum tipis, "Gak ada yang penting kok Mak, cuma capek aja kali."


"Kau gak sakit.?" menyentuh pelipis Dimas, kali aja dia kurang sehat.


"Bener Mak, aku baik-baik aja." Dimas meyakinkan, dan beranjak ke sisi balkon berdiri di sana.


"Ya sudah, kalau memang begitu." bu Hesa berdiri meninggalkan Dimas.


Dimas menoleh bu Hesa yang keluar dari kamarnya, dan Dimas pun masuk ke kamarnya, ia meraih ponsel yang di atas meja.


Setelah menekan kontak my love, sambil menunggu tersambung, Dimas duduk di tempat tidur.


Setelah beberapa kali panggilan mungkin di abaikan, akhirnya di angkay juga.


"Halo..,sayang apa kabar.?" sapa Dimas yakin kalau yang angkat telepon adalah Naya.


"Halo..,kenapa telepon.? ketus Naya.


"Sayang, kok ngomong begitu sih.?" dengan lembut Dimas merayu.


"Ada apa.? bicara lah, kalau gak ada, matikan.!" Naya tetap ketus, sok marah, padahal di lubuk hati yang paling dalam, ia tak ingin bersikap seperti itu.


"Apa kabar.?"


"Baik." Naya semakin jutek. hatinya masih marah,


"Sedang apa.? belum tidur kah.?" tanya Dimas, masih dengan nada lembutnya ia tak ingin meninggikan suaranya


"Belum, kenap.? cuma itu aja kan yang mau di omongin.?" ucap Naya.


Dimas menghela napas dalam-dalam, ia berpikir gimana caranya agar pujaan hatinya bisa luluh lagi, ia hapal betul, di balik kelembutan Naya ada watak yang keras, di balik ketegarannya ada hati yang begitu rapuh.!

__ADS_1


,,,,


Hi..., apa kabar reader ku semua.? semoga ada dalam lindungan Yang Maha Esa, terimakasih masih berkenan mampir di novel ku ini, jangan lupa lake, komen, dll lov lov lov untuk kalian.


__ADS_2