
Di jalan depan konter ada sebuah mobil toyota nangkring, di dalamnya ada beberapa orang laki-laki berbadan tegap dan yang satu bertubuh biasa aja, matanya mengintai ke dalam konter yang di dalamnya ada Naya tengah duduk dan sibuk dengan komputer, Siapa kah mereka sesungguhnya..? author masih memikirkannya.
Beberapa pasang mata mengintai Naya, ketika zidan masuk ke toilet, kedua orang yang bertubuh kekar tersebut bergegas turun sari mobil masuk konter, sontak Naya kaget karena gelagatnya aneh bukan seperti orang baik-baik atau pun mau membeli pulsa.
Naya kaget, "Siapa kalian,?" mata Naya menatap mereka dengan rasa takut.
Bukannya menjawab salah satu dari mereka dengan cepatnya menempelkan sapu tangan ke hidung Naya membuat tubuh Naya terkulai dan langsung di bopong orang tersebut.
Ketika Zidan membuka pintu toilet sangat kaget melihat Naya di bopong orang yang ia tidak kenal, "Hei.., siapa kalian dan apa yang kalian lakukan pada bos saya,?" Zidan segera keluar setengah berlari ingin mengejar orang yang membawa Naya namun buukk.., ada orang yang memukul pundaknya sangat keras tak ayal Zidan pun sempoyongan dan terjatuh pingsan.
Naya di bawa ke mobil dan mobil pun melesat menjauhi tempat tersebut, "Bos mau di bawa ke mana wanita hamil ini,? untuk apa juga kita menculiknya," tanya seorang yang berbadan besar pada majikannya.
"Bawa saja, jangan banyak tanya dan jangan ada yang menyentuhnya," sahut orang yang di panggil bos itu sambil membuang asap rokoknya.
Orang satu lagi mendongak merasa heran dengan ucapan bos nya, "Apa bos, jangan menyentuhnya,? terus bagaimana caranya dia ada di mobil ini, sedangkan dia tak sadarkan diri," menggaruk tengkuknya.
Orang yang di sebut bos oleh kedua orang itu melotot, "Dasar bodoh.., maksud saya jangan menyakiti," hardik nya.
"Hehehe maaf bos."
Mobil mereka terus melaju menuju sebuah rumah, sementara Naya masih belum sadarkan diri tergeletak di jok mobil.
Sesampainya di sebuah rumah sepi, Naya dibawa ke dalam kamar dan di baringkan di sana, "Sekarang gimana bos, mau di apakan dia, tapi.., dia sedang hamil bos gak mungkin bila di tiduri juga," mengetuk-ngetuk dagunya sendiri dengan jarinya.
Bosnya berdiri dan menatap Naya sangat lekat, bibirnya melukiskan senyum sinis, "Setelah sekian lama tidak berjumpa kini kau hadir di depanku dengan tampilan yang sudah jauh berbeda."
Dia berpangku tangan, terus memandangi Naya, melirik kedua bhodigar nya dengan tingkah yang sama memandangi Kanaya, "Kalian sedang apa.?"
"Memandangi wanita itu," dengan wajah datar menoleh bosnya bersamaan.
"Bodoh, keluar.., dan kunci pintunya," sergahnya sambil keluar dari kamar tersebut.
Kedua anak buahnya saling pandang lalu mengekor bosnya keluar dan mengunci pintu sesuai permintaan bosnya.
Setelah di luar, bosnya memberi perintah pada salah satu anak buahnya, "Kau jaga di sini takutnya dia kabur atau ada yang menyusul."
"Tapi bos, gimana dia bisa kabur, kan dia pingsan,?" tanya orang yang diperintahkan itu.
Ck ck ck.., "Nanti kan dia bangun, gak pingsan terus, lu pikir dia mati yang selamanya tidak bisa apa-apa hah.,?" giginya mengerat merasa geram dengan anak buahnya yang satu ini, "Nanti kalau dia sadar kasih tau saya."
"Kasih tahunya gimana bos,?" tanya nya lagi menatap bosnya.
__ADS_1
"Caranya kau cari tower lalu naik dan berteriak memanggil saya," kesal banget.
"Tapi.., disini tidak ada tower bos."
"Terserah lah," lalu si bos pergi di buntuti oleh anak buah yang satunya lagi, yang menoleh pada kawannya yang di suruh berjaga.
"Mikir..,!" menunjuk dengkulnya sambil menyeringai dan mengekor bosnya.
Selepas mereka keluar Naya tersadar dan membuka matanya perlahan, bangun dan duduk bersandar ke bahu tempat tidur, "Aku dimana nih,?" mengingat-ingat kejadian sebelumnya, di mana ia sedang di konter namun tiba-tiba ada dua orang yang datang dengan gelagat kurang baik.
Mereka menempelkan sapu tangan, dan akhirnya ia berada di sini, "Ya Allah aku di mana,?buat apa aku di sekap di sini," panik, cemas, bercampur aduk, merogoh saku ingin menghubungi suaminya namun tak ada ponselnya, "Ya ampun ponsel 'ku, mungkin tertinggal di konter," hatinya semakin gelisah, panik.
"Gimana caranya menghubungi Dimas," wajahnya pucat pasih, mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan dan perlahan turun mengecek sebuah pintu dan ternyata itu pintu toilet.
Membuka gorden jendela, sepertinya dia berada di sebuah rumah berlantai dua dan di bawah begitu sepi, Naya menutup kembali gordennya.
Naya melirik satu pintu lagi, lalu ia hampiri namun beberapa kali kenop pintu di utar dan di tarik tidak bergeming sama sekali, kemudian Naya menggedor dengan telapak tangannya, "Tolong.., buka pintunya, tolong.., apa ada orang di luar,?" namun tidak satu pun suara menyahut apa lagi membuka kan pintu untuknya.
"Tolong.., buka pintunya," terus menggedor daun pintu itu sampai telapak tangan Naya memerah.
Hik.., hik.., hik..,hik Naya duduk simpul di lantai dan menangis tersedu tak habis pikir kenapa ia bisa berada di tempat ini, kalau ada yang membawa apa maksudnya, "Apa sih yang mereka harapkan,?" gumam Naya.
Penjaga yang mendengar suara teriakan Naya langsung pergi untuk memberi tahu bosnya bahwa Naya sudah sadar.
"Hem.., baguslah kalau sudah sadar," sambil beranjak dari duduk, jarinya masih menjepit sebatang rokok dan dari mulutnya mengeluarkan asap.
Mereka bergegas berjalan menuju kamar yang ada Kanaya di sana, pintu di buka tampak Naya tengah duduk bersimpuh dekat tempat tidur, matanya merah di sebabkan menangis.
Naya menoleh orang yang datang dan masuk deg Naya kaget melihat salah satunya berasa kenal namun siapa dan dimana, pria itu tersenyum menyeringai, semakin mendekati Naya dan Naya bergeser duduknya merasa gak nyaman, ia termangu mengingat siapa orang ini.
"Tentunya adek masih ingat aku kan, suami mu,?" ucap pria itu, yang duduk di tepi tempat tidur.
Naya menggeleng, ya Ia ingat pria ini adalah orang yang telah menyia-nyiakan nya, tapi tidak habis pikir kenapa ada di sana.
"Apa kabar istriku,? sekarang penampilan mu banyak berubah, lebih cantik, wangi, sangat jauh berbeda dengan Kanaya yang dulu," hidungnya mendengus seolah mencium wangi tubuh Naya.
Wajah Naya semakin cemas ketakutan, "Kenapa aku disini,? dan apa maksud mu, antarkan aku pulang," air mata Naya berjatuhan.
"Ha..,ha..,ha.., apa pulang,? pulang kemana sayang, tempat kamu adalah bersamaku," menepuk dadanya dengan bangga.
"Kamu bukan siapa-siapa 'ku lagi, maksud kamu apa hah, kita tidak punya ikatan sama sekali, pulangkan aku, hik..hik..hik.."
__ADS_1
Pria itu mencengkram dagu Naya dan Naya berusaha melepasnya namun kalah kuat, "Saya tidak pernah menceraikan adek, mas tidak pernah menandatangani surat cerai kita, jadi kau masih sah istri mas," melepas kan tangannya dari dagu Naya.
Mata Naya membulat dan bersuara lantang walau agak parau, "Kamu lupa, tiga bulan saja bila suami meninggalkan istri dan istri tidak ridha maka jatuh lah talak satu, dan masih terngiang di telinga aku kamu sudah mengucapakan kata pisah di telepon dan berjanji akan mengurus surat cerai kita, namun pada akhirnya kamu tidak sanggup mengurusnya, ingat itu, jadi aku bukan istri mu lagi."
Lagi-lagi dia tertawa lepas, "Tetap saja antara kita tidak ada bukti bercerai, dan Kamu sudah lancang menikahi laki-laki lain."
"Terserah kamu mau bilang apa yang jelas aku ini istri orang dan aku minta pulangkan aku," teriak Naya.
"Nggak usah teriak-teriak sayang, kita akan bersenang-senang di sini, hidup bahagia seperti dulu."
"Apa bahagia seperti dulu,? salah besar, dulu aku gak pernah bahagia, yang ada kamu sia-siakan aku, kamu suami yang tidak bertanggung jawab."
Yuda berusaha menyentuh Naya namu Naya selalu berusaha menepisnya, "Adek pikir bisa melawan mas,? tidak, mas bisa melakukan apa pun terhadap kamu kapanpun mas mau," mengernyitkan dahinya.
Naya semakin ketakutan, "Tolong..," teriak Naya berharap ada yang mendengar dan sudi menolongnya, tidak tau harus dengan cara apa agar ada yang menolong membawanya dari tempat ini.
Yuda tertawa lagi dan lagi, "Berteriak Lah cantik, karena tidak akan ada yang bisa mendengar suara mu, biarpun ada itu adalah anak buah 'ku, hem.., perut mu sudah besar, mana anak mas,? bukankah dulu adek mengandung anak mas," menatap tajam.
Naya mendongak, "Kenapa kamu pertanyakan sekarang, dulu ke mana aja hah,? aku tidak sudi mengandung anak orang yang tidak bertanggung jawab, dulu aku memohon-mohon, membujuk, namun tidak pernah kamu pedulikan."
"Sekarang mas sudah kembali sayang," mari kita membuka lembaran baru lagi mau kan,? saya yang pertama meniduri adek bukan suami mu yang sekarang, dan mas akan menerima anak yang masih dalam kandungan itu sebagai anak 'ku."
"Tidak, aku tidak mau," teriak Naya.
"Berteriak Lah sampai suara adek habis, tidak apa-apa, aku akan sabar menunggu," ujar Yuda membuang asap rokoknya ke depan wajah Naya membuat Naya terbatuk-batuk di buatnya, selama ini di rumahnya bebas dari asap rokok dan di sini bau rokok membuat dada Naya sesak.
Naya tertegun sambil berpikir, ia sadar percuma teriak-teriak hanya buang energi saja mending berpikir, hadapi dengan kepala dingin, "Ya Allah lindungi aku," batinnya.
"Aku sesak dan aku haus perlu minum," lirih Naya sambil menutup hidung, Yuda terus-terusan merokok dan puntungnya di buang begitu saja berserakan di lantai kamar.
"Adek perlu minum,?" Yuda menoleh dengan tatapan datar, "Baiklah."
Kemudian Yuda memanggil anak buahnya untuk membawakan air dan makanannya sekalian buat Naya.
Satu dari anak buahnya pergi untuk memenuhi perintah majikannya dan yang satu lagi berjaga di pintu.
"Tolong, berhenti merokok, aku tidak bisa menghirup asap nya, lagian bahaya buat janin 'ku," pinta Naya tanpa menoleh sedikitpun.
Yuda pun mematikan rokoknya yang baru satu isap, lalu di buang begitu saja, tidak perduli dengan puntung rokok yang berceceran di lantai.
,,,,
__ADS_1
Apa kabar reader 'ku, yang masih mengikuti kisah recehan ini, semoga kabar kalian selalu ada dalam lindungan Allah SWT.., aku mohon dukungannya, dan terimakasih sebanyak-banyak nya, karena kalianlah ada aku yang di kenal sebagai penulis recehan ini, tidak akan ada aku yang sekarang tanpa ada kalian semua🙏🙏🙏