
Acara sudah selesai tinggallah keluarga besar Naya, yang masih berkumpul di sana, namun satu persatu pulang paman dan bibi Naya, berpamitan, tinggallah keluarga Naya berkumpul.
"Pak, saya akan membawa Naya bersama saya, saya tidak akan meninggalkannya di sini, sementara saya berada di mana-mana." Dimas menatap penuh arti pada mertuanya. "Sekalipun di sini bersama keluarganya namun saya suaminya, lebih bertanggung jawab terhadap Naya."
Pak Nanang mengangguk, sebenarnya ragu jika membiarkan Naya di bawa jauh, namun kalau itu yang terbaik meskipun berat, harus merelakannya.
"Kalian tak perlu cemas, ataupun khawatir, Naya akan saya jaga seperti saya menjaga diri sendiri, dan menyayanginya sampai kapan pun," sambung Dimas sembari melirik istrinya, sebenarnya juga berat, banyak yang di khawatirkan oleh Naya, namun ia pun tak sanggup jika harus di tinggalkan.
"Kapan.? emangnya harus secepat itu.?" tanya mertua Dimas, menatap berharap jawaban.
"Mungkin lusa Pak, saya akan membeli beberapa tiket untuk kita, berangkat ke sana." sahut Dimas, melirik istrinya.
"Yang, ke kamar yuk.?" menggenggam lembut tangan istrinya, Naya pun mengangguk, Dimas beranjak berdiri membopong Naya ke kamar.
Setelah di kamar Naya turun dari tempat tidur, Dimas heran. "Mau kemana.?"
"Kamar mandi, mau ngambil air wudu, nah sudah adzan magrib." sahut Naya menatap lekat suaminya.
"Oh, iya..! aku antar ya, kenapa gak bilang tadi, biar aku antar langsung ke kamar mandi." gerutu Dimas.
"Gak usah, apa lagi gak ikhlas gitu." kata Naya mencebikkan bibirnya.
"Yang.., ikhlas kok." Dimas mengikuti Naya di belakang.
Selesai sholat magrib, berzikir sebentar, lanjut membaca Al-Qur'an, Dimas mendengarkan, sambil duduk tak jauh dari sang istri, sejuk, tenang, mendengarkan Naya mengaji.
"Yang..,? sini bawa ponselnya." Naya melirik Dimas yang asik dengan ponsel milik Naya, Dimas pun mendekati memberikan ponsel yang Naya minta.
Naya membuka internet mencari, huruf hijaiyah, terus mengajarkannya pada Dimas, dengan senang hati Dimas mengikuti Naya memperkenalkan huruf-huruf hijaiyah padanya, memperkenalkan gimana caranya berwudhu, adzan isya pun terdengar.
"Sudah dulu ya.? lain kali kita sambung lagi, sekarang aku mau sholat dulu, kamu juga belum makan kan.?" Naya menyudahi, dan menyimpan ponselnya.
__ADS_1
Abis sholat isya baru Naya beranjak membuka mukena, "Makan dulu yang."
"Hem, tapi aku bisa ambil sendiri kok yang." sembari melangkah ke dapur, mengambil piring lalu mengambil nasi dan sayur, juga ayam yang tersedia di sana. Dimas membawanya ke kamar sebelum Naya mengikutinya ke dapur.
Tadinya Naya mau ke dapur tapi.. Dimas sudah kembali membawa piring dan segelas air. "Yang air minum kan ada tuh di botol,"
"Tak tau yang, biar aja buat nanti, kita makan bareng ya.?" Dimas duduk di tepi tempat tidur di sampingnya sang istri.
Naya mengambil alih piring yang di tangan Dimas, kemudian Naya menyuapi Dimas dengan tulus. "Yang aku gak minta kau menyuapi aku.?" Dimas menatap lekat istrinya sembari mengunyah.
"Gak pa-pa yang, selagi aku bisa, kenapa tidak.? lagian yang mengambil kan kamu, nanti juga kalau mau nambah lagi kamu juga yang ngambil." Naya mengedipkan matanya.
"Hem..," Dimas mengusap pipi istrinya. "Sayang juga makan dong." Naya hanya menyuap kan dua sendok saja ke dalam mulutnya.
"Nambah lagi nggak yang.?" Naya tersenyum. "Gak sudah cukup, kalau aku kekenyangan, pasti aku langsung tidur." jawab Dimas, meneguk air minumnya.
"Ya bagus lah berarti nanti tidurnya nyenyak yang." Naya memberikan piring kosong tersebut.
"Rugilah saya kalau cepat tidur," Dimas menyimpan piring kotor ke dapur.
"Yang..,?" panggil Dimas membelai rambut sang istri.
"Hem..,?" bisik nya lembut.
"Nanti kalau di Kalimantan, kamar mandi di dalam kamar, gak usah keluar segala yang.?" dengan belaian di pipi istrinya. "Jadi kalau abis bulan madu gak perlu capek-capek keluar dulu, jadi bunda hanya akan diam di kamar, gak perlu ngapa-ngapain bah, cukup melayani aku saja." dengan senyum menyeringai.
"Berarti aku tak usah masak, tak usah mencuci, apa lagi beres-beres rumah, iya kan.?" Naya tersenyum manja.
"Hah, memasak boleh, karena kalau tak masak, aku makan apa yang.? beres-beres rumah biar aku aja yang kerjakan, mencuci ada mesin cuci yang, jadi gak repot," ucap Dimas menyandarkan punggungnya di bahu tempat tidur.
"Lah.., katanya tadi jangan ngapa-ngapain, sekarang suruh masak mencuci juga belum nyetrika kali, gimana sih.?" Naya memanyunkan bibirnya.
__ADS_1
Dimas meraih kepala Naya ke dadanya. "Sayang..,yang jelas jangan kerja yang berat-berat itu aja, karena aku gak mau istri aku kecapean, apa lagi sampai--!" perkataan Dimas terpotong oleh sang istri.
"Sampai apa yang.?" Naya mendongakkan kepalanya melihat wajah Dimas.
"Hem, apa lagi kalau sampai kecapean, dan tak mau melayani aku." dengan senyuman jahilnya, membuat Naya mencubit perut Dimas.
"AW.., sakit sayang.?" pekik Dimas pelan, lantas menangkup kedua pipi sang istri dengan tatapan lembut penuh kasih. "I love you sayang.? I love you."
Naya memegang kedua tangan suaminya erat. "I love you too yang..!" sahut Naya dan membenamkan dalam kepalanya di dada Dimas.
Dimas memeluk begitu erat Naya, tak ingin sedikit pun terlepas dari pelukannya, Naya begitu menikmati dengan kenyamanan di dalam dekapan suaminya, hanya helaan napas yang terdengar, diantara mereka berdua, tanpa ada suara yang bicara, kecuali dari ruang tengah dan entah suara obrolan dari mana yang sayup-sayup terdengar.
"Yang..?" panggil Dimas di telinga Naya berbisik.
"Hem..,apa.?" suara Naya tak kalah pelannya dari suara Dimas.
Suara napas Dimas sudah memburu, seperti abis maraton, padahal dari tadi hanya memeluk istrinya, ia merasa desiran ke kulitnya bagai tersengat listrik, darah di sekujur tubuh, sudah mulai panas, ada keinginan yang sangat menggebu di rasakan nya, suaranya pun bertambah berat, "Yang..,aku gak kuat."
Jantung Naya sudah berdebar tak karuan, ia pun merasakan yang tak beda jauh dari yang di rasakan Dimas, Naya berpikir Dimas sudah sudah ingin memulai sesuatu yang akan di lakukan sebagai mana sepasang suami istri.
"Gak kuat apa yang.?" tanya Naya dengan manja, dan suara yang sedikit gugup.
"Nggak kuat pengen pipis.!" Dimas turun dari tempat tidur, berlari kecil keluar kamar menuju kamar mandi, Naya menggeleng pelan sembari menggigit bibir bawahnya, sembari tersenyum. "Aku kira apa.? hi..hi..hi.." gumam Naya.
Naya baru mau memejamkan mata, Dimas kembali. "Yang bisa mulai sekarang.?" menatap istrinya dengan memelas.
"Udah nggak mut lagi ah, ngantuk." sahut Naya memejamkan matanya, Dimas berbaring di samping Naya dan memeluk tubuh tersebut, "Ayo lah yang, nanti aku gak bisa tidur.?" terus menghiba sembari menempelkan dagunya di bahu Naya.
Sang istri menyeringai puas, "Kan aku dah bilang, aku sudah gak mut lagi," aku lelah, capek, ngantuk yang..,"
Dimas menggigit kecil bahu istrinya. "AW.., sakit, kenapa sih,? tidur ah...,ngantuk." memeluk selimut, dengan posisi wenaknya, Dimas merasa kesal, namun tak ingin memaksa istrinya, ia hanya memeluk erat sang istri hingga kantuk menyerang memasuki alam bawah sadar.
__ADS_1
,,,,
Jangan lupa terus lake, komen, rating dan vote nya ya.? agar aku tambah semangat untuk belajar menulis, mohon kritikannya bila ada kata atau nama yang salah dalam penulisannya.🙏