
Terlihat ada seseorang berjalan menuju konter, seorang pria bertopi hingga wajahnya tertutup oleh topinya, Dimas mengenalnya makanya Dimas beranjak dari duduk dan menyambut orang tersebut, siapa kah dia...?
Dimas berbincang beberapa saat dengan orang tersebut depan konter, namun mata pria itu terus mengamati wajah Naya yang sibuk dengan laptopnya, seolah-olah dia mengenal Kanaya.
"Ada apa,? mau beli pulsa kah," Dimas menoleh kearah Naya dan orang tersebut bergantian.
"Ti-tidak, kalau gitu saya pergi dulu."
"Ok"
Pria itu membalikan badan, meninggalkan Dimas, beberapa langkah kemudian menoleh lagi ke belakang seakan berusaha mengingat sesuatu.
Setelah orang tersebut tidak ada, Dimas menghampiri Naya kembali.
"Siapa..,? tanya Naya melirik Dimas dengan ekor matanya.
"Itu, mandor pekerja di pembangunan," sembari duduk di samping Naya.
"Oh, ada apa kemari,?" sambung Naya lagi.
"Membicarakan, bahan-bahan yang kurang"
"Hem.."
"Yang, ayah minta maaf soal yang tadi, maaf banget, ayah tidak maksud membentak bunda, gak ada niat sama sekali buat bunda meneteskan air mata," Dimas memohon serta menyatukan kedua telapak tangannya di Dada.
Naya menatap kedua netra mata Dimas seakan mencari ketulusan di sana.
Kerena Naya terdiam sambil terus menatapnya, Dimas berjongkok di sisi Naya dengan wajah memohon, "Mau kan memaafkan 'ku.?"
"Sebenarnya aku kaget baru kalo ini ayah bersuara tinggi, sebelumnya gak pernah tuh," Naya memalingkan mukanya, lalu menatap lagi, "Namun aku sadar, mungkin aku juga yang salah, jadi gak perlu minta maaf, tapi gak perlu juga bernada tinggi lagi aku gak biasa dapat itu dari kamu," dengan tatapan lembut dan penuh harap.
Dimas menggenggam lengan Naya dan mengecupnya, "Aku janji gak akan lagi berkata nada tinggi apa lagi kasar, i love you istri 'ku.?"
"Aku harus nunggu pul satu bulan dulu untuk mengetahui hasil dari konter ini, setelah itu.., aku akan minta kamu untuk mencarikan 'ku orang yang dapat di percaya yang amanah dan mau menunggui konter, biar aku lebih fokus di rumah aja, mendesain dan membuat sempel," ujar Naya dengan tatapan sendu.
"Yah.., aku mengerti yang di maksud bunda, dan..kalau boleh ayah ngasih usul, kan ada kamar kosong tuh di atas gimana kalau di bikin ruangan kerja untuk bunda, ruang mesin, jadi tidak di depan kamar kita, jujur aku risih yang, apa lagi bunda tidak ada, ngerti kan,?" kali ini Dimas sangat lembut sembari mengelus pipi sang istri.
Naya mengangguk, "Emang gitu rencana 'ku juga, cuma belum sempat ngomong, iya aku setuju sangat setuju dengan usul ayah itu."
"Ok"
Keduanya saling bertatapan sangat lekat, dan saling melempar senyuman manisnya, lalu berpelukan mesra..,banget seolah lama tidak bertemu, dan ini masanya melepas rindu, lama Naya menenggelamkan wajahnya di dada Dimas.
Hingga akhirnya Naya menjauh kan diri di sebabkan ponsel berbunyi, "Ganggu aja nih, gak tau orang lagi kangen-kangen nan," ucap Dimas menggaruk tengkuknya yang tidak terasa gatal.
"Yang pesan pulsa"
"Udah belum, pulang yuk,?" ajak Dimas sembari memegangi pundak sang istri.
"Em.., udah, ya udah kita pulang aja bentar lagi juga ashar," Naya menutup laptopnya, merapikan mejanya, dan merapikan pakaiannya yang kusut.
Dimas berdiri dan menggandeng tangan Naya keluar dari konter, tidak lupa mengunci pintu.
Mereka berjalan dengan santainya, menuju rumah yang tidak jauh dari konter, tangan Naya bergelayut mesra di lengan atas Dimas, dari dekat bangunan baru, ada seorang pria memandangi Naya, dalam otaknya terus berputar mengingat siapakah wanita yang di gandeng bosnya tersebut.
Dimas dan Kanaya masuk rumah, di ruang tamu ada bu Hesa bersama suaminya tengah duduk santai sambil menonton televisi.
"Kalian sudah pulang,?" sapa Bapak mertua sambil melempar senyumnya.
"Iya Pak," sahut Dimas duduk di sofa yang kosong begitu pun Naya duduk di samping Dimas.
"Gimana laku.?"
Dimas menoleh istrinya, agar Naya sendiri yang menjawab, "Alhamdulillah Pak, ada aja," jawab Kanaya sembari melirik suaminya.
"Bagus lah, semoga Tuhan selalu menjaga keluarga kita," sambung Bapak mertua.
"Iya Pak," Naya mengangguk.
"Oya, Bapak suka sangat dengan pakaian buatan kamu Naya, di pake sama Mama mu, jadi.., lebih terlihat lebih muda."
__ADS_1
"Ciee ielah.., bapak bisa aja," sambar bu Hesa malu-malu.
Naya tersenyum samar melihat tingkah kedua mertuanya, "Syukurlah kalau Bapak juga suka, nanti kapan-kapan aku buatkan kemeja buat Bapak dengan bahan batik Kalimantan, mau gak.?
"Wah.., maulah, di bikinkan sama menantu Bapak ini, masa gak mau, bapak gak mau kalah sama Mama dong, ha..,ha..,ha..," Bapak mertua terkekeh, dan bu Hesa mendelik sambil mencubit paha suaminya.
"Ya udah kami ke kamar dulu lah," Dimas beranjak dari duduknya di ikuti oleh Naya.
Tangan Dimas meraih tangan Naya, menuntunnya naik tangga, setelah Di atas Dimas langsung masuk kamar, Naya menghampiri Angelica dahulu untuk mengecek kerjaannya.
"Gimana Lisa apa ada kendala lagi,?" tanya Naya berdiri di belakang Lisa.
Lisa menoleh ke belakang, mencari sumber suara, "Tidak Bu."
"Syukur lah, nanti Peking kan beberapa baju ini, dan ini juga, bungkus yang rapi, terus paketkan ke alamat yang nanti aku chat kan ke kamu, ok,? aku mau mandi dulu."
"Baik Bu," singkat dan padat.
Naya melengos ke kamarnya, tidak lupa menutup pintu, ia langsung masuk kamar mandi, di sana sudah berada Dimas tengah mengisi bathub dan memberinya aroma terapi.
Keduanya berendam bersama di bathub yang sama, Dimas meraba lembut perut Naya yang sudah semakin ketara berisi, "Hem..,baby ayah apa kabarnya nih,? kangen nih sudah lama gak di tengok nih."
Kanaya menaikan alisnya, "Tengok, tengok kemana, apa maksudnya," pura-pura polos.
Dimas menatap Naya gemas, "Kan lama Ayah gak sentuh Bunda."
"Lama gak di sentuh,? ini kan kita sentuhan, jadi bingung," menggaruk kepalanya.
Dimas menggeleng, "Bunda..,sayang ! maksud Ayah tidak bulan madu," bisik Dimas di telinga sang istri, membuat Naya tersipu malu.
"Oh, itu maksudnya."
"Gimana kalau kita cek kehamilan ya nanti malam, mau ya,? kita ke klinik dokter Rosa aja kawan Ayah."
"Apa dia dokter kandungan,?" Naya menatap sendu Dimas.
"Bukan yang, dia tukang jagal daging ! hah iya lah dokter kandungan, masa bukan, aneh deh," Dimas nyengir kuda.
"Ya kali aja," Naya mengerucut kan bibirnya, membuat Dimas gemas dan mengecupnya.
Dimas membersihkan diri di bawah guyuran shower, Kanaya sudah lebih dulu mengenakan jubah mandi dan menyiapkan pakaian buat Dimas.
Setelah berpakaian rapi mereka menunaikan kewajiban sebagai muslim terlebih dahulu.
Usai melaksanakan sholat Dimas mau turun, mencari keberadaan Bibi untuk menyuruhnya membereskan kamar yang satu lagi, untuk ruang kerja Naya mendesain.
"Jangan dulu yang biar besok aja, sekarang Bibi lagi masak loh, biar besok pagi aja beberesnya," cegah Naya karena melihat Dimas mau keluar kamar.
"Iya sih," Dimas kembali dan duduk di sofa membuka laptop.
Naya menerima notif di ponselnya dari seseorang, Naya mesem-mesem, "Yang.?"
"Hem..," tanpa menoleh.
"Pak Mad dan bu Meri mau kerja di sini loh," ucap Naya merasa senang.
Dimas dengan cepat mendekat pada Naya, "Apa benar.?"
"Benar ini chat nya, besok mereka mau datang, dan cuma Rita yang mereka bawa, anak-anak yang lain di asrama untuk sekolah, dan rumah yang pernah kita tempati katanya di tempati sama Adam, makanya mereka pak Mad dan bu Meri bisa ikut kita ke sini," ujar Naya sangat antusias.
"Bagus lah, senang amat bunda menyebut nama Adam,?" Dimas sinis.
Kanaya menoleh, "Kenapa, biasa aja kok cemburu ya,?" goda Naya mencolek hidung mancung Dimas.
"Oh iya dong masa nggak,?" sambil mendekap tubuh Naya dengan sangat erat, hingga Naya merasa pengap.
"Iih.., jangan terlalu napa mendekapnya, pengap nih, nanti debay nya sulit bernapas."
Dimas menaikan alisnya, "Iya kah.?"
Naya menyunggingkan bibirnya, sambil ia sendiri memeluk Dimas dan menempelkan pipi di dada suaminya.
__ADS_1
Jari Dimas mengelus rambut Naya yang tidak di tutupi kerudung, "Aku harus menghubungi Dery nih, aku butuh tenaganya buat pembangunan klinik kita."
"Ya telepon lah," dukung Naya mengelus dada Dimas.
"Iya nanti malam akan Ayah hubungi, aduh sudah lama aku gak ngecek lapangan, sepertinya besok 'ku harus kesan deh, pulang kerja ayah langsung ke perkebunan, ijin ya.?"
Naya mendongak, "Em.., jangan lama-lama tapi.."
"Nggak lah, seperti biasa malam juga pulang."
"Ok"
Naya beranjak meraih kerudungnya, "Mau kemana,?" tanya Dimas penasaran.
"Keluar, banyak yang harus di kemas untuk pengiriman paket, intinya di cek lagi takut salah kan,?" Naya melangkah, namun tangan Dimas menggenggam pergelangan Naya, membuat langkah Naya terhenti.
Perlahan Dimas menarik Naya agar duduk du pangkuannya, "Kenapa nih,?" Naya heran.
"Nggak kangen aja."
"Ha..,ha..,ha..," Naya tertawa kecil merasa lucu dengan ucapan Dimas," setiap hari ketemu, masih bilang kangen, gak salah tuh,?" memandangi wajah Dimas dengan tatapan datar.
Dengan muka tanpa ekspresi Dimas seraya berkata, "Nggak boleh tah.?"
"Nggak"
"Jahat sekali, ya udah sana kalau mau menyiapkan paket, namun harus janji pukul 20.00 harus sudah berada di kamar, habis makan malam langsung masuk kamar, tidak mau tau."
"Aduh.., habis makan aku mau motong desain baru yang, kasih waktu satu jam ya..,?" Naya menyatukan tangan depan dagunya.
"Pesanan bukan.?"
"Bukan sih, tapi kan buat persiapan," jawab Naya masih menyatukan tangannya.
"Ya udah terserah, pergi sana,?" Dimas cemberut sambil membuka laptopnya kembali.
Naya terdiam melihat suaminya lagi-lagi merajuk, " Ya sudah, iya.., habis makan malam kita masuk kamar ok, puas.?"
"Nggak usah"
"Hemm., serba salah jadinya, bilang iya salah, nolak apa lagi," gerutu Kanaya pelan.
"Sudah 'ku bilang gak usah."
"Ya.., terserah yang jelas aku mau tidur ketika masih sore ti..ti..k, dan jangan ganggu aku ya.?"
"Terserah lah."
"Ya udah," Naya mendekat kan wajahnya ke wajah Dimas yang masih cemberut, Naya mencoba menggoda dan mengedip-ngedip kan matanya, namun Dimas tidak menghiraukan.
"Baiklah, aku tinggal dulu ya,?" Naya meninggalkan Dimas yang merasa kesal, Dimas menoleh ketika Naya sudah melintasi pintu.
"Keras kepala," gerutu Dimas.
Naya ngecek barang yang mau di kemas, takut ada yang salah barang maupun alamatnya.
"Bu, i-itu Bu,?" bi Taty nyamperin Naya.
Kanaya menoleh, ke sumber suara ya itu bi Taty yang tergesa-gesa berjalan mendekati dirinya, "Ada apa Bi.?"
"I-itu Bu, di.., di luar o-orang," gugup.
"Bibi duduk dulu di sofa, tarik napas dalam-dalam, barulah bicara," ucap Naya lirih.
Bi Taty mengikuti yang di suruh kan majikannya, setelah itu baru di berkata lagi, "Itu Bu.., ada pria yang kurang ngajar, nanyain Ibu, katanya gini, wanita yang berkerudung warna krim itu Kanaya bukan,? kok sekarang lebih cantik dan elegan ya,? katanya gitu Bu."
Memang benar pria itu dari tiga puluh menit yang lalu mondar-mandir di sekitar rumah, kira-kira🤔 siapakah pria misterius tersebut...??
,,,,
Terimakasih reader 'ku, sampai saat ini masih mengikuti cerita ini, dan semoga kabar kalian selalu berada dalam lindungan Allah yang maha kuasa, Aamiin..,
__ADS_1
Mana dong komentar nya,? bila suka dengan cerita Dimas&Naya ini🙏 agar author tambah semangat, bantu author dong..,!!
Nb.., menurut kalian, lebih suka cerita yang ada cerita dewasanya atau nggak sama sekali..,?? tolong jawab dengan jujur ya,? đź¤đź¤đź¤-