
"Ya, baik-baik, jangan ngebut yang,?" Naya pun meraih lengan Dimas lalu menciumnya, Dimas berjalan meninggalkan Naya di meja makan, melihat jam di tangannya, membuat Dimas bergegas, mempercepat langkahnya untuk mengambil motor, akhirnya Dimas melajukan motornya dengan kecepatan rendah.
Dimas senyum-senyum sendiri, mengingat momen semalam yang selalu penuh gairah, meski istrinya tak secantik wanita-wanita yang mendekatinya, namun Naya tetap permaisuri di hatinya, aura yang terpancar dari Naya mengalahkan pesona wanita lain, tak selang lama Dimas sampai di tempatnya bekerja, seperti biasa Dimas menjalankan aktifitasnya.
Di rumah
Setelah sholat duha Naya baru keluar kamar, di ruang tengah Rita tengah bermain bersama Ibunya, "Hi.., anak manis,?" Naya mencubit pipi gembul nya, "Bi, Pak Mad mana,?" mengalihkan pandangan pada bi Meri.
"Ada di belakang, sedang bersih-bersih rumput," sahut bi Mari, memandangi Naya.
"Em.., kita cari ATM bentar, Bibi dan Rita ikut juga, Rita mau ikut gak jalan-jalan,?" Naya melirik Rita.
"Mau ikut tante, mau,?" Rita bersorak, "Asyik Rita mau di ajak jalan-jalan."
"Oh baik Bu, Bibi panggilkan suami saya," Bibi pergi ke belakang untuk memanggil suaminya.
Naya tersenyum, melihat tingkah Rita, lalu Naya mengecek isi sakunya, ponsel dan kartu ATM sudah mengisi sakunya, dia belum suka membawa dompet apalagi tas, cukup saku aja yang berisi.
Pak Mad menghadap di buntuti oleh sang istri, Pak Mad mengangguk dan berdiri depan Naya, "Ada apa Bu, apa yang bisa saya bantu,?" menunduk.
"Em.., aku mau ke ATM antar ya Pak,? Bibi dan Rita ikut juga kok," ucap Naya sambil merapikan kerudungnya.
Pak Mad menoleh anak dan istrinya, "Apa sudah minta ijin sama Pak dokter,?" Pak Mad menatap Naya.
"Sudah dong Pak, kita keluar pake mobil, ini kuncinya,?" Naya memberikan kunci mobil kepada Pak Mad, yang langsung di ambilnya, "Tapi.., di cek dulu mesin dll nya Pak, sebab selama di sini belum pernah di pake kan, santai aja Pak," ujar Naya.
"Baik Bu, Pak Mad mengangguk dan pergi ke luar untuk mengecek mobil.
Naya dan bi Meri masih duduk di sofa menunggu Pak Mad mengecek mesin mobil, beberapa menit kemudian Pak Mad muncul dari balik pintu, "Mobilnya sudah siap Bu, mari,?" kata Pak Mad pada Naya.
"Oh, Bi yuk berangkat,? Rita kita jalan-jalan yeyyy..," ucap Naya, beranjak dari duduknya, Rita berlari menghampiri Ayahnya Pak Mad.
"Hati-hati Bu, oya Ibu tidak bawa apa-apa tas misalnya,?" ucapan Bi Meri menghentikan langkah Naya.
Naya menoleh, "Tidak Bi, cukup aku bawa ponsel dan kartu aja di saku," dengan seutas senyum nya.
__ADS_1
"Oh, Bibi kira membawa tas," bi Meri tersenyum lalu mengunci pintu.
"Pak, bantu Ibu naik mobilnya,?" pinta bi Meri pada suaminya.
"Nggak, jangan repot-repot," sahut Naya, namun Pak Mad membukakan pintu dan bi Meri membantu Naya naik ke dalam mobil, Naya duduk di belakang, sementara bi Meri dan Rita di depan.
Setelah memasang sabuk pengaman, mobil perlahan meninggalkan tempat tersebut untuk mencari ATM terdekat, setelah menemukan tempat yang di cari Naya dan Bi Meri turun, kebetulan tempatnya lengah membuat Naya leluasa dan segera mengambil sejumlah uang, kemudian kembali ke mobil.
Rita begitu bahagia sepanjang perjalanan, "Pak, kita mampir ke toko pakaian dulu.?"
"Baik Bu," sahu Pak Mad melihat Naya dari kaca spion di atas kemudi.
Sesampai di toko Naya di gandeng Bibi masuk ke dalam toko, yang sebelumnya membeli minuman dan juga cemilan, Naya memilih baju tidur untuk suami dan dirinya, juga membeli baju buat Rita, tak lupa untuk Bibi juga suaminya, Pak Mad dan istri awalnya menolak namun akhirnya memilih apa yang mereka suka, pelayan di toko itu begitu ramah, dan semua paper bag Pak Mad yang jinjing.
"Oh iya, hampir aku lupa tujuan aku kan membeli pakaian dalam," Naya bertanya pada pelayan toko tempat dalaman di simpan, Naya memilih beberapa dalaman untuknya juga buat Dimas, kebetulan dari rumah tidak membawa banyak, "Bibi mau beli dalaman juga,? pilih saja."
"Tidak Bu, lain kali aja," ucap Bibi sambil melihat lihat semua barang-barang yang ada.
"Bener,?" tanya Naya matanya juga memandangi semua yang ada di toko tersebut.
"Ya sudah kita pulang saja," Naya menggandeng tangan bi Meri, Rita yang asik makan cemilan di tuntun Bibi dengan tangan kanannya, mereka pun masuk ke dalam mobil dan bersiap pulang,
"Kita pulang bukan Mah,?" Rita menoleh Ibunya, yang ada di sampingnya.
Pak Mad sudah siap mengemudi menoleh ke belakang, "Sudah siap Bu.?"
Naya melirik sembari memasang sabuk pengaman, "Iya Pak jalan."
Pak Mad langsung melajukan mobil, menuju jalan pulang, Naya duduk bersandar serta sibuk dengan ponselnya, "Halo..,? Bi uangnya sudah aku kirimkan tadi pagi, tolong berikan pada Bibi di sana, untuk belanja keperluan dapur, aku belum pasti kapan pulang Pak, em..,dia kerja, ya sudah dulu ya Pak,?" Naya menyimpan ponsel di pangkuannya.
Pak Mad dan istri hanya saling lirik, sementara bocah kecil itu lagi asik mengunyah, sepanjang jalan Rita tunjuk ini, tunjuk itu, ingin di beli ini itu, membuat laju mobil terhambat, dikit-dikit berhenti, atas permintaan Naya, karena Naya yang membelikan semuanya, orang tuanya hanya menggeleng melihat tingkah Rita.
Dan akhirnya mereka sampai di rumah, "Assalamu'alaikum..,?" biarlah malaikat yang menjawab, batin Naya melangkah dengan gontai dan duduk di sofa ruang tengah.
Di tempat kerja Dimas
__ADS_1
Dimas tengah memainkan laptop di ruangan pribadinya, dari pintu dokter Sonia menghampiri, "Permisi dok,?" Sonia duduk depan Dimas sebelum di persilahkan oleh Dimas.
Dimas menoleh, "Iya ada apa,?" menatap tajam.
"Ini dok aku bawakan makanan buat makan siang, ini spesial masakan tanganku dok," Sonia menunjukkan apa yang dia bawa dan menyimpan di meja.
Dimas memandangi bungkusan makanan tersebut, "Makasih, tapi gak perlu repot-repot dok," Dimas mengalihkan pandangan pada Sonia.
"Repot, nggak kok aku dengan suka rela membuatnya, dan semoga kamu suka,?" dengan senyuman terbaiknya.
Dimas menarik napas panjang dan di hembuskan dengan perlahan, Dimas terdiam sesaat.
"Aku bukakan ya dok,?" Sonia hendak membuka makanan yang dia bawa itu.
"Jangan, gak-gak usah," cegah Dimas.
Sonia menatap lekat Dimas, "ya sudah tapi..,jangan lupa di makan ya,?" senyuman masih menghiasi wajahnya.
"Jujur, saya tidak terbiasa makan di luar tanpa istri, dan saya juga gak pernah makan sendiri, saya selalu makan dari tangan istriku, jadi sebaiknya bawa kembali makanan mu,? dari pada di sini mubazir, tidak ada yang makan, atau berikan pada yang lain," ujar Dimas memandangi makanan tersebut.
Mendengar perkataan Dimas barusan seolah mengiris luka dalam hatinya luka yang tak berdarah, perhatiannya di tolak mentah-mentah oleh seorang Dimas, namun dia tetap tersenyum, "Oh, romansa sekali ya kau sama dia, wah saya jadi iri, saya pasti bahagia kalau punya suami macam kau, tidak seperti-! Sonia menggantung perkataannya.
"Sudah lah, saya lagi sedikit sibuk,? soal makanannya dengan berat hati Sorry,?" jelas Dimas.
Sonia berdiri dengan tatapan kecewa mengambil bungkusan tersebut, "Ok, tak apa," dengan wajah muram, dia pergi dari ruangan tersebut dan ketika melintasi tong sampah dia buang makanan yang dia bawa.
Dimas merasa tidak enak hati, namun bagaimana lagi, dari pada kebaikannya di anggap memberi harapan, yang jelas-jelas itu tidak boleh terjadi dirinya beristri, tidak baik terlalu dekat dengan wanita lain apa lagi sampai di anggap ngasih harapan yang tidak seharusnya, Dimas merasa kedekatannya dengan Sonia hanya sebatas rekan kerja namun pada kenyataannya, lain bagi Sonia, terlihat jelas dari mata dan gerak tubuhnya Sonia yang mungkin mengharap lebih.
,,,,
Terimakasih reader ku, masih mengikuti cerita ini, dan semoga kabar kalian selalu berada dalam lindungan Allah yang maha kuasa, Aamiin.., ok, jangan lupa selalu lake, komen, rating dan vote nya dong๐๐
Nb..
Para reader yang aku hormati dan aku sayangi, kalau ada tulisan aku yang salah itu di komen dong,,๐ biar aku betulkan atau revisi ulang, agar membangun aku lebih baik lagi๐ dan tidak lupa aku ucapkan selamat menunaikan ibadah puasa, bagi yang menjalankannya.
__ADS_1