Bukan Mauku

Bukan Mauku
mulai bimbang


__ADS_3

Hari minggu saatnya Lely kembali dari tempat suaminya yang sudah tiada, di antar sama mertua dan saudara suaminya, Naya langsung menyambut keponakannya, mungkin karena lama tak bertemu bocah itu pun menghindar dari Naya.


Setelah makan-makan, mertua Lely pun berpamitan dan mewanti-wanti agar cucunya terjaga dengan baik di sana.


"Tentu aja di sini juga akan terjaga dengan baik Besan, jangan khawatir..,disini juga nenek dan kakeknya." kata bu Nina ketus.


Mungkin kerena mereka merasa yang akan mengasuh Anisa adalah Naya yang kondisinya terbatas.


Kemudian mereka pulang, tinggallah keluarga Naya berkumpul mengasuh Anisa yang baru menginjak usia 1,5 tahun itu sudah di tinggal ayahnya.


Naya mengajak Anisa bermain boneka, dangan si bungsu yang berbeda usia 1 tahun lebih di atas Anisa, Naya tersenyum melihat kelucuan mereka.


Setiap hari Lely pergi bekerja di toko, dan Anisa di tinggal dengan Naya di rumah jika nenek nya pun bekerja.


Kini Naya ada kegiatan baru ya itu mengasuh Anisa, setiap Dimas telepon, Anisa selalu berceloteh di telepon bersama Dimas. membuat Dimas merasa gemas mendengarnya.


"Anisa mau di belikan apa kalau om ke sana.?" tanya Dimas.


"Mau," dengan khas anak kecilnya.


"Iya nanti kalau om main ke sana, kita beli ya bonekanya.? kata Dimas.


"Hore..,!" Anisa berjingkrak dan bertepuk tangan.


Sebagai janda tentu Lely banyak yang melirik, banyak yang ingin memikat, hatinya, janda muda anak satu itu, banyak yang datang kerumahnya walau untuk sekedar berkunjung, atau bersilaturahmi.


******


Suatu saat Di ruang tengah Dimas orang tuanya tengah berbincang, dan Bapak nya Dimas memulai pembicaraan. " sebentar lagi Sandi akan menikah, terus kamu gimana.?"


"Aku gak gimana-gimana pak.!" sahut Dimas. Bu Hesa menatap lekat pada Dimas, "Kamu itu sudah dewasa gak mungkin sendiri terus, kan kamu juga pasti ingin mempunyai pendamping,? gak mungkin selamanya sendiri.!" kata bu Hesa lirih.


Dimas hanya diam mendengarkan kan kalimat demi kalimat dari Mamaknya.


"Setidaknya bawalah calon istrimu ke mari.!" tambah bu Hesa menatap sendu.


"Emangnya kamu gak ada calon juga .? tanya Bapaknya Dimas. yang duduk di hadapannya.


Dimas duduk membungkuk dengan kedua tangan saling bertaut. "Aku ada calon" singkat.


"Nah, kenapa tak kau bawa pertemukan dengan kami.?" bu Hesa masih dengan tatapan menyelidik putranya.

__ADS_1


"Bapak setuju, kenapa tak kau Karmila ke mari.?" tambah bu Hesa, Simas yang mendengar ucapan Bapaknya menoleh tajam, mungkin beliau kira Karmila adalah calon istrinya.


"Bukan Pak, bukan Karmila" ucap Dimas.


"Bukan.? Bapaknya penasaran.


"Aku sangat mencintai seseorang.! tapi..,dia jauh, tinggalnya di Sukabumi Jawa Barat." setau aku dia lumpuh, gak bisa jalan dengan normal." Dimas menghela napas dalam.


Yang mendengar, sedikit kaget, langsung terbayang di ruang mata, kalau wanita seperti dia kurang pantas bila harus mendampingi Dimas.


"Kau itu bisa mendapat wanita yang lebih baik dari dia, kenapa harus wanita seperti itu,?" Abu Hesa sedih tak mau bila Dimas mendapatkan jodoh, seperti wanita yang diceritakan Dimas.


Dimas yang mulai merasa orang tuanya menentang Hubungan dengan Naya.


"Mak, emang kenapa kalau aku mencintai dia.? apa salahnya Mak? apapun kondisinya kan sama aja dengan kita juga.?" Dimas menunduk hatinya mencelos.


"Dimas lihat dirimu, apa kurangnya kau.? kau bisa mendapatkan wanita yang mana aja, bukan wanita lumpuh, Mamak gak merestui itu." tegas bu Hesa menyilang kan tangan di dada.


"Apa kepercayaan kalian sama.?" pandangan Bapak Dimas tajam.


"Tidak.! Dia muslim." kata Dimas.


Bu Hesa membalikkan mukanya pada Dimas. "Apa.? dia muslim.? gak salah.? tapi apa dia bersedia mengikuti kau? kau akan menjadi kepala rumah tangga, jadi dia istri harus ikut suami.!" ujar bu Hesa. memalingkan mukanya kelainan tempat.


Bu Hesa dan suami hanya saling pandang, selepas Dimas pergi meninggalkan nya.


Suatu malam Dimas tengah berbincang lewat pesawat telepon.


"Sayang lagi apa.? kangen.!" kata Dimas.


"Lagi baring aja, ini lagi bicara, kok kangen sih.? kangennya simpan aja dulu buat nanti kalau ketemu." ucap Naya.


"Gak mau, ingin sekarang, emmuah.., I love you." Dimas ngasih kecupan jauhnya.


"Ih, apaan sih.?" Naya malu-malu." aku juga sayang sama kamu." tambah Naya.


"Balas dong sayang.?" Dimas merajuk manja.


"Apaan sih..? gak ngerti ah." Naya berpura-pura polos.


"Yang...,kasih aku kecupan dong.?" masih merajuk manja.

__ADS_1


"Gak mau ah," Naya dengan seutas senyuman di bibirnya.


"Cuman kecupan jauh, kenapa sih.? susah amat sih, heran aku.?" kata Dimas.


"Biar dari jauh, gak mau jagan di paksa dong.? Heran aku.?" balas Naya.


"Yang..,sayang aku kan..?" tanya Dimas.


"Nggak," jawab Naya.


"Nggak sedikit.? tambah Dimas.


Sejenak Naya Diam, "Yang, gimana kabar orang tua kamu.? kok aku merasa cemas ya.? Ayah dan Ibu kamu tak mungkin merestui kita.? gak akan." Naya menggeleng kepala, sendu.


Dimas deg ia ingat betul dengan apa yang di perbincang kan beberapa waktu lalu, bahwa orang tuanya, terutama Mamak Dimas menentang keras hubungan mereka.


"Yang..,aku wanita lumpuh, tak ada yang bisa di harapkan dari aku.? pasti orang tua kamu kecewa dengan hubungan kita?" Naya dengan nada lembut.


"Jangan bicara seperti itu sayang.? orang tuaku tak seperti yang kau bayangkan." elak Dimas.


"Tapi aku rasa seperti itu." Naya semakin sendu..


"Nggak kok yang mereka merestui kita, mereka memberi kebebasan aku tuk memilih wanita yang sangat aku cintai." Dimas berbohong.


Naya tak menjawab lagi hanya terdiam dan mengusap air mata yang berlinang di sudut pipi,


"Yang..,mau gak kalau sayang ikut kepercayaan aku.? tanya Dimas penuh selidik, dengan cepat Naya menjawab. "Tidak, aku akan tetap dengan keyakinan ku, tak akan pernah menyimpang ke jalur yang lain." ucap Naya, mulai bimbang.


"Tapi..kan aku laki-laki yang akan memimpin dalam sebuah rumah tangga, bukan wanita, jadi aku yang harus memimpin kan.?" kata Dimas.


"Ya sudah cari aja wanita lain, bukan aku.? kesal.


"Yang.., bukan begitu, aku akan menikah hanya dengan kamu., bukan dengan yang lain," jelas Dimas.


Dengan bibir bergetar, menahan rasa, yang bergemuruh, air mata yang memang tak mampu terbendung dari tadi, "Aku tau kita tak mungkin bersatu, keyakinan kita berbeda dan aku tak mungkin di nikahi pria non muslim," tangisnya pun pecah.


"Tidak sayang, jangan bicara seperti itu, aku gak bisa hidup tanpa kamu" Dimas dengan suara bergetar, ia sellu tak tahan kalau mendengar wanitanya menangis.


"Orang tuamu tak mungkin juga merestui aku jadi istrimu," tambah Naya tersedu.


"Orang tuaku tak seperti itu yang..," elak Dimas dengan suara seraknya.

__ADS_1


,,,,


Kira-kira apa ya🤔🤔 kelanjutannya.? Apa ada yang bisa menebak.? yuk jangan lupa meninggalkan jejak ya para reader ku love love love buat kalian


__ADS_2