
"Iya, kalian sedang apa berduaan,?" lagi-lagi bertanya, menatap curiga pada Naya dan Dery bergantian.
"Kan tadi aku udah bilang, bahkan mengajak kamu untuk kesini eh.., kamu nya gak mau, aku tinggal, gak sengaja ketemu sama Dery di sini," ujar Naya pada Dimas.
"Iya kah.?"
"Kenapa,? apa kau curiga," tanya Dery menatap datar pada Dimas yang memandang curiga.
"Ah nggak," sahut Dimas singkat sembari menarik tangan Naya membantu tuk berdiri.
"Makasih," senyum Naya merekah setelah berdiri di samping suaminya itu.
"Ya, oya apa buah-buah ini tak pernah kau petik sehingga lebat begini,?" tanya Dimas pada Dery dengan matanya melihat-lihat buah-buah yang siap panen.
"Kadang di panen, kadang siapa aja boleh metik sapa yang mau ambil," jawab Dery sambil mendongak pohon buahnya.
"Hem."
"Coba di halaman kita banyak pohon buahnya," ucap Naya melirik Dimas.
"Iya nanti di pinggirnya di tanam pohon buah, pengennya buah apa,?" Dimas menoleh istrinya yang memakan buah apple.
"Em.., mangga dan apple aja," sahut Naya.
"Hem.., baiklah sayang 'ku," Dimas mencubit pipi Naya yang cabhi.
Dery berasa pihak ketiga diantara mereka, "Jangan cuma berduaan, karena yang ketiganya syetan," sambil menyeringai dan melengos pergi.
Dimas menoleh, "Iya.., yang syetan nya kaulah."
Naya tertawa samar, "Udah makan balum yang,?" menghabiskan gigitan terakhirnya.
"Belum, makan yuk pulang,?" ajak Dimas sembari menggandeng lengan istrinya yang menurut.
"Tapi aku kenyang loh makan buah," bergelayut mesra pada suaminya.
"Nggak apa, temenin aja."
"Yang...?"
"Hem..,?" sahut Dimas tanpa menoleh.
Naya menghentikan langkahnya dan menatap punggung suaminya, "Gendong."
Dimas pun berhenti berjalan dan memutar badan menatap lekat wajah istrinya, "Baiklah istriku, setiap permintaanmu akan aku laksanakan," lalu membungkuk menggendong tubuh mungil sang istri.
Senyum di wajah Naya begitu merekah, kemudian membenamkan wajahnya di bawah leher suaminya untuk menghindari teriknya sinar matahari, tangan pun sangat kencang melingkar di leher Dimas.
Tak selang lama mereka sampai ke villa dan Dery sudah menunggu di meja makan, Dimas mendudukkan tubuh istrinya di kursi, ketiganya duduk di satu meja yang sama.
"Kau tidak mengajak siapapun kesini,?" tanya Dimas pada Dery yang tengah makan.
Dery mendongak lalu menelan makanan di mulutnya, "Tidak."
"Sekali-sekali ajak cewek kau lah temui kita," ucap Dimas mengalihkan pandangan pada makanan.
Dery menatap Naya, yang di tatap menunduk merasa gak enak menerima tatapan dari Dery, "Tidak, tidak ada cewek."
__ADS_1
"Masa sih,?" mengernyitkan dahinya, "Kau cakep, ganteng, masa gak ada cewek yang mau sama kau, aku aja kalau cewek mau sama kau," sontak Naya dan Dery menoleh ke arah Dimas.
Sadar dengan tatapan dua pasang mata Dimas menoleh keduanya bergantian, "Ha..,ha..,ha.., iya, kalau saya cewek pasti suka sama kau Der, jelas kau cakep, dalam hal ekonomi mapan, apa lagi coba, iya gak sayang itu kan yang di cari wanita,?" melihat wajah Naya.
"Em.., gak juga sih, kalau suka gak harus cakep dan mapan kok, lagi pula harta bisa di cari bersama dari nol gitu, wajah tampan, cantik pun tidak menjamin hati."
Semua terdiam menatap Naya, membuat Naya melirik keduanya, "Makan, kenapa kalian diam sih,?" senyum samar dan menggeleng.
Dery menerawang mengingat kekasihnya yang telah tiada, dia pernah berkata persis seperti yang Naya katakan barusan, "Ucapan Naya barusan persis sama dengan yang dia katakan padaku waktu itu," batin Dery menghela napas dalam menyatukan kedua tangan di meja.
Sore-sore Pak Mad sudah datang menjemput Dimas serta istri, "Pak gimana Mama bertanya tentang saya tidak,?" tanya Dimas sambil memasang sabuk pengaman.
Pak Mad mengangguk, "Iya dok, malah marah-marah."
"Iya kah,? untung tidak nyusul."
"Tidak ada yang bilang kalian kemana pada Nyonya."
"Oh," Dimas membantu memasang kan sabuk pengaman Naya.
"Berangkat sekarang dok,?" Pak Mad melihat dari kaca spion depan.
"Jalan Pak," titah Naya.
"Baik Bu."
"Buah-buahan di bawa gak yang,?" Naya ingat tadi mengemas buah-buah yang di petik langsung dari pohon untuk dibawa ke rumah.
"Di bawa, sudah di ada di belakang," Dimas menyilang kan tangan di dada dan kepala bersandar di sandaran jok, Naya malah menyandarkan kepalanya di bahu Dimas.
Sepanjang jalan hanya terdengar suara mesin saja tanpa ada yang membuka suara sedikit pun, apalagi Naya merasakan mual-mual dan sedikit pusing lalu menghirup minyak angin dan menggosokkan di perut, pelipis batang hidungnya.
Dimas dan Naya berjalan berdampingan, tangannya di tuntun oleh Dimas, "Assalamu'alaikum..?"
"Bagus ya,? kabur tidak bilang-bilang apa lagi mengajak saya,?" sambut Bu Hesa yang duduk di ruang televisi.
"Ya, kalau bilang-bilang dan ngajak bukan kabur namanya Mak he..,he..,he..," Dimas terkekeh sendiri.
"Senang ya gak ada yang ganggu," Bu Hesa menatap tajam.
"Senang banget Mak, maaf mendadak," sahut Dimas.
Naya menghampiri dan mencium tangan Bu Hesa, "Bapak mana Mak,?" Naya celingukan.
"Ada di dalam."
Naya melirik suaminya, "Bentar lagi magrib, ke kamar yuk.?"
"Yuk, Mak kami ke kamar dulu ya,?" Dimas dan melangkahkan kaki menuju tangga, di ikuti Naya dari belakang, Bu Hesa hanya diam dan meneruskan kembali nonton acara kesukaannya di televisi.
Keduanya sudah berada di kamar, "Jadi kan yang ke dokter kandungannya malam ini,?" tanya Naya sembari duduk di sofa.
"Jadi sayang, Ayah sudah bikin janji sama dokter Rosa nanti malam, pukul tujuh kita berangkat," jelas Dimas sambil melucuti pakaian untuk menggantinya.
Sementara Dimas ke kamar mandi, Naya duduk santai di sofa mengelus perutnya, "Sayang, sehat-sehat ya di sana, nanti setelah lahir kau pun harus sehat, normal dan jadi anak saleh atau saleha, mudah rejeki juga, doakan Ayah dan Bunda agar sehat selalu, di limpahkan rejeki pula, Bunda tidak ingin kau susah sayang seperti yang pernah Bunda alami dulu."
Naya terus mengelus perutnya dan mengajak ngobrol anak yang masih dia kandung, "Semoga lahiran nanti Allah mudahkan, di lancarkan tidak ada halangan apa pun, terkadang Bunda takut, jujur Bunda takut," tanpa terasa air matanya menetes, entah apa yang membuatnya gundah dan was-was.
__ADS_1
"Ya Allah, beri aku kekuatan dan ikhlas hati, lancarkan lahiran 'ku nanti ya Allah aku takut tidak bisa mengurus anak 'ku kelak, atau aku tidak bisa mendidik titipan mu ya Allah," menarik napas panjang lalu ia hembuskan kasar.
Dimas keluar dari kamar dengan sudah mengganti kostum, Naya sontak mengusap air matanya dan menunduk, Dimas sekilas melihat pipi istrinya basah ia merasa heran dan mendekati.
"Bunda kenapa menangis,?" duduk di sampingnya.
"Ah nggak, gak nangis, mata 'ku tiba-tiba kelilipan tadi, iya kelilipan yang," elak Naya dan berdiri, "Aku ambil air wudu dulu ya tunggu," melengos.
Dimas tidak habis pikir, "Apa iya kelilipan, kan biasanya kalau kelilipan suka minta tolong untuk di tiupin," batin Dimas, namun Dimas segera menggelar sajadah untuk berdua menunaikan sholat magrib.
Setelah sholat selesai keduanya bersiap untuk pergi lagi ke dokter kandungan untuk cek up, Dimas sudah meraih ponselnya, "Yang Ayah tunggu di bawah ya.?"
"Iya," sahut Naya yang masih merapikan kerudungnya.
Dimas membuka pintu lalu keluar dan menuruni anak tangga, di bawah mendapati Ibunya sudah bersiap membawakan susu bumil untuk Naya, "Mama mau kemana,?" sapa Dimas.
"Eh, kau sendiri mau kemana sudah siap gitu,?" mata Bu Hesa mengeker penampilan putra sulungnya.
"Mau cek up kehamilan, itu minuman apa dan buat siapa,?" Dimas kembali bertanya.
"Ini, susu buat istrimu," Bu Hesa menunjuk susu yang di bawanya, kalau begitu Mama boleh ikut, boleh ya,?" Bu Hesa memelas.
Dimas terdiam memandangi Ibunya, "Boleh ikut aja," sembari menarik kursi dan duduk.
Bu Hesa menyimpan gelas susu di maja makan, "Kalau begitu Mama mau siap-siap dulu, tunggu sebentar," melengos kedalam kamarnya.
Anggukan Dimas mengiyakan ucapan Ibunya, lalu memainkan ponselnya, Bi Taty mendekati, "Mau makan tuan.? apa mau di buatkan minum apa.?"
Dimas menoleh, "Tidak Bi, sepertinya kami makan di luar malam ini sebab ada janji dengan dokter tuk cek up Ibu."
"Oh, di antar Pak Mad gak,?" tanya Bi Atay lagi.
"Iya, di mana sekarang Pak Mad nya,?" Dimas menyapukan pandangan ke seluruh ruangan.
Bi Taty ikut celingukan, "Tadi ada di depan sedang ngopi."
"Oh biar lah."
Dari tangga nampak Naya turun dengan penampilan simpel dan rapi, wanita hamil itu memang cuek soal penampilan, kesederhanaannya tidak mengurangi keanggunan dan aura tersendiri terancar dari dirinya serta membuat pria kagum, termasuk suaminya.
"Sudah siap yang,?" sapa Dimas ketika Naya menghampirinya.
"Sudah, berangkat sekarang,?" lirih Naya dan menatap susu bumil di meja, "Siapa yang membuat itu dan untuk siapa.?"
"Itu, Nyonya yang bikin Bu, sengaja buat Ibu katanya seharian ini Ibu gak minum susu bumil," sahut Bi Taty.
"Iya, katanya Ibu tidak memperhatiakn kehamailan, tidak perduli dll," tambah Bi Meri.
"Hem..," Naya menghela napas.
"Terus saja kalian ngomongin saya,?" sambar Bu Hesa yang tiba-tiba datang dan sudah siap tuk ikut mereka.
Semunya menoleh kearah Bu Hesa dan saling melempar senyum, "Nggak ngomongin jelek kok Mak," jelas Naya.
"Susunya diminum dulu, seharian kau tidak minum susu nanti cucu saya kurang nutrisi, kurang asuan vitamin dan macam-macam," menunjuk gelas susu yang masih hangat.
,,,,
__ADS_1
Hi..., apa kabar reader 'ku semua,? semoga baik-baik aja ya, setelah beberapa hari aku bertapa he..he..he.., canda, semoga kalian di beri kesehatan, di mudahkan rejeki juga, di gampang kan setiap urusan, dan jangan lupa kalau membaca novel jangan lupa tugas rumah ya bun..,? terimakasih juga bagi yang sudah menunggu novel ini up lagi🙏